Takana di ambo Inyiak Pi'i (Muhammad Sjafe'i Kayu Tamam)almarhum, wakatu sempat basuo dan maota panjang pribadi jo liau baduo sajo sasudah sumbayang luhua di pondok ketek di tapi rimbo gadang tahun 1958. Katu tu awak sadang diparangi Soekarno dan kami sadang diburu-buru tantarano sampai tarerek-rerek masuak rimbo.
Antaro lain-lain baliau mangatokan ka ambo tantang Soekarno nan suko "mahanden". Kato "mahanden" ko, kecek baliau, indak ado dalam konotasi Bahaso Indonesia doh, tapi asli tapi dalam konotasi gambaran pribadi sasurang dalam Bahaso Minang. Satantangan kato "cipuik" nan indak buliah disabuik di suatu daerah, takana pulo di ambo kato "kantuik". Di Panampuang, Ampek Angkek, "kantuik" ko punyo arati lain salain dari "buang angin". Iko dapek kito verifikasi jo Angku Taufiq Rasjid di Lapau ko. Kok dikana-kana iyo "nagia" na tadanganyo carito ko yo Angku Taufiq? Salam, --MakNgah Sjamsir Sjarif --- In [email protected], ksuhe...@... wrote: > > Aden Tewas > Oleh K Suheimi > > Kata Aden dan kata Tewas menjadi aral pertengkaran yang merusak tali > Silaturrahim kita di milis ini > > Padahal semua orang ingin menyampaikan sesuatu yang baik dan berguna untuk ke > mashlahatan bersama > > Atas perbedaan persepsi dan berbeda sudut pandang sehingga ada yang terluka > Bahkan ada juga yang baganyi. Dan ada juga juga yg patah hati dan patah arang > > Bermula karena ingin ber minang-minang dan ingin berbahasa asli kampungnya. > > Aden untuk orang Banuhampu adalah biasa indah dan bagus karena berasal dari > kata "Raden". Kalau di Sunda Raden dipakai sebagai panggilan kehormatan pada > seseorang. Adeen dan Aden. > > Aden juga berasal dari kata2 Denai, agaknya utk lebih pas ada baiknya kalau > selama ini ada yang tak enak mendengar kata Aden, yah di ganti saja dengan > kata "Denai" lebih santun. > > "Tewas" saya juga sering menggunakan kata ini. Teringat ketika kecelakaan > dilembah anai saya tulis artikel yang juga dimuat koran dengan judul "Sebeles > tewas terlindas" > Bagi yang meninggal kerna kecelakaan atau perdarahan bahasa medianya > menyatakan tewas. > > Kalau di Bengkulu, kata tewas digunakan bagi mereka yang meninggal ketika di > operasi. > > Guru saya mengajarkan orang yang meninggal dg cara begitu dikatakan syahid > sehingga di sebut Syuhada. > > Apalah arti penamaan kata orang; lain padang, lain hilalang, lain lbuk lain > ikan" > > Janganlah sampai karena satu istilah bisa merusak Tali silaturrahim yang > selamaini tak mudah kita bina > > Si Jepe mengatakan cipuik untuak langkitang. > Pengetian yang sama, tapi di satu daerah itu adalah sebutan yang ndak boleh > di ucapkan > > Maka kata orang bijak "kalau kita mengerti sesuatu, kita akan mudah memaafkan > sesuatu" > > Maka saya teringat bait sebuah lagu > > Pada bintang dan rembulan > Kuberjanji setia selalu > Setulus hati hatimu, > semuni cintamu > Sayang percayalah aku > > Kau kan kusayang > Selama hidupku > Sayang percayalah aku > > Untuk sanak di palanta yang saya cintai > > Pekanbaru 3 Mai 2010 > Powered by Telkomsel BlackBerry® > -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
