http://www.indrapiliang.com/2010/05/18/borneo/
Borneo
(Catatan Perjalanan IJP)
Dari ketinggian 30.000 kaki. Hutan seperti lumut. Hijau. Menggurat seperti
tulang-tulang kerangka. Pada tiap lekukan tanah. Batas hijau, agak hijau, tapi
tetap hijau. Kadang seperti cakar rajawali. Atau tampak bergerak ke aras
horison.
Awan-awan putih di atasnya. Seakan memagut dari jauh. Dekat, tapi berjarak.
Koloni awan dan hutan, tanpa hujan.
Sungai-sungai melingkar ular-ular kecil dan besar. Bergelung, berkelok, tanpa
kedinginan. Dari entah menuju laut.
Dulu, Borneo adalah kabut. Adalah Barbar berisi manusia-manusia kanibal. Kata
antropolog yang bermonolog.
Kini, Borneo adalah benteng bagi setiap manusia-manusia kanibal yang memakan
planet ini.
Kuridukan Avatar, di sini, dengan seekor Rajawali. Kurindukan cinta yang
mengalir dari pohon kehidupan.
Suara-suara ratiban. Gerak-gerik ayunan berlanggam.
Tuhan, Kau tahu isi hatiku.
Borneo, pada kisah pertama bagiku adalah pesawat kecil yang mengempeskan perut.
Takut pada awan. Seperti naik naik halilintar di Ancol sana yang tak pernah
kunaiki. Borneo menjadi cerita rapat-rapat penting di Bukit Soeharto. Kini
bukit itu tandus, mengejar gurun di Timur Tengah. Borneo adalah malam-malam
gelisah dikejar bayangan, pengungsian dari satu tempat pertemuan ke tempat
pertemuan berikut, pada 1997. Borneo jadi legenda pelarian sejumlah aktivis
mahasiswa.
Pada kisah-kisah berikutnya, Borneo sedang menata daerah. Menjiplak Syney,
Melbourne, dari sisi bangunan. Kaya menjangkau langit. Miskin menghalau
suku-suku Dayak di hutan-hutan.
Lalu Borneo menjadi lautan darah. Panglima Burung, puasa, hening,
manusia-manusia yang melompat dari pohon ke pohon, menebas leher siapapun yang
berbau lain. Borneo menjadi medan tugas tentara-tentara muda tanpa pengalaman.
Dan di kisah berikutnya, Borneo adalah gelombang para raja. Gelombang
orang-orang yang ingin memberi nama. Kisah-kisah pemekaran. Kisah-kisah
perbatasan. Penyeludupan. Pengungsi ratusan ribu orang. Kisah-kisah pengusiran.
Dan tambang yang luka. Dan illegal logging. Dan wartawan yang kena culik dan
patah-patah tulang kena hantam. Dan bangunan rumah mirip istana bernuansa emas.
Borneo juga kisah kekasihku. Kisah anakku. Kisah energi langit yang turun bagai
angin limbubu.
Pada batas peradaban kini, dimana tempatmu? Kemana kamu? Apa yang kau cari?
Borneo, hanya pada tiap patahan siang dengan malam, ceruk malam dengan pagi,
terdapat keajaiban.
Di Atas Langit Palangkaraya dan Di Tanah Palangkaraya, 17-18 Mei 2010
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe