Menurut saya dari sudut pandang "politik dan demokrasi" kita masih bermain 
uang, kekuasaan, kroni dan trah politik maka memang tidak ada ruang bagi yang 
muda2 yang hanya mengandalkan kecerdesan otak dan intelektualnya adapun alasan 
saya adalah

1. Melihat fakta yang ada seperti Megawati dengan PDI-P secara de facto boleh 
dikatakan adal miliknya, kerajaannya yang mudapun baik yangcerdas, intelektual 
dan oportunis mumpuni tidak bisa apa dan gamang yang sangat tinggi untuk 
menggantikannya karena mereka sadar sebagai elit dipusaran Megawati jika PDI P 
tidak menjadi ketua maka mereka akan habis dan tidak akan menikmati kekuasaan 
dan jabatan ditingkat elit (anggota dewan). Ini adalah trah politik (pokoke 
Mega) di tingkat grass root yang setia dengan ideologi Bapaknya, sudah berapa 
banyak orang2 yang dulu ingin mendongkel mega atau keluar dari PDI-P membuat 
partai lain sebut saja Laksamana Sukardi, BB Roy Janis hasilnya pembaharuan dan 
keintelektualan mereka berpolitik dan berdemokrasi hancur total ditingkat grass 
root, logikanya jika Megawati (kaum tua) inbi buat partai lain misalnya Partai 
Ibu Mega maka suara setia di tingkat grass sekitrar 14 persen dari pemilih 
total akan memilih partainya, PDI-P saya jamin akan hancur

Jadi disini terlihat bukan masalah tua dan muda tapi sosok Mega dengan Bapaknya 
Soekarno yang masih banyak di tingkat grass root penggamgumnya yang "pokoke"

2. Para anak muda kita yang cerdas dan intelektual yang ingin pembaharuan dari. 
Dunia politik dan demokrasi kita mereka hanya populer di mata kaum perkotaan 
dan terpelajar yang melek multi media, mereka memang cerdas dengan segala 
pemikirannya melalui tulisan, menulis buku, debat di stasiun swasta populer 
tapi ditingkat masyarakat banyak (grass root) seperti di pedesaan dan pelosok 
mana mereka mengenal sosok anak muda yang digadang2kan menjadi pemimpin negeri 
di kota2 besar, mereka gagap teknologi jangankan bisa mengakses internet (dunia 
maya) televisipun tidak ada, jikapun ada bagi mereka yang saya amati mereka 
lebih tertarik menonton sinetron fovorit yang menina bobokan mereka atau 
menonton artis dangdut mereka yang heboh dengan goyangan mautnya,

3. Menjadi pemimpin di negeri ini adalah sebuah pertarungan uang, jaringan 
kekuasaan bukan pertarungan kecerdasan dan keintelektualan yang dimiliki oleh 
anak-anak muda kita, ini dibutikan dari berbagai pilkada seperti Bupati dan 
wali Kota banyak "anak tua" yang menang bahkan usia yang telah uzur kepala 70 
an tapi orang tua ini sungguh sakti dengan uang serta jaringan kekuasaannya. 
Jualan uang bagi masyarakat bawah (pemilih) adalah sesuatu yang menarik 
ditawarkan sedangkan anak muda yang menjual kecerdasan dan keintelektualan di 
tingkat masyarakat bawah yang saya perhatikan jangankan sekedar melihat2 apa 
yang dijual anak muda ini, melirikpun tidak, tapi ketika orang tua dengan 
uangnya dan jaringan kekuasaanya ahaaa..ini baru dagangan yang laku di tingkat 
grass root.Kalau diperkotaan dengan kaum pelajarnya dan melek teknologi multi 
media, anak muda yang cerdas dan intelektual calon pemimpin ini bisa jadi 
pertimbangan untuk di pilih

Saya baru sadar faktanya memang uang, kekuasaan dan trah politik yang masih 
laku di negeri ini, apa kurangnya ketika saya memilih wakil saya di DPRD 
orangnya cerdas, intelektual, masih muda, energik idealis tinggi, tamatan univ 
terkenal dengan tambahan gelar ilmu manajemen tapi tetap saja kalah dari orang 
tua yang sakti banyak uang dan dekat dengan jaringan kekuasaan yang bisa 
mengatur segala sesuatu yang terkadang semudah membalikan telapak tangan

3. Menjadi pemimpin dilevel manapun dinegeri ini melalui jalur politik sekali 
lagi ini sebuah pertarungan uang, kekuasaan, jaringan kekuasaan, kroni dan trah 
politik, 

Bahkan seorang Obama yang relatif muda terpilih menjadi Presiden Amerika dan 
mempunyai ikatan emosional masa anak2nya di Indonesia tidak sanggup 
menginspirasi masyarakat indonesia ditingkat grass root untuk memilih lebih 
cerdas pada anak muda untuk pemimpin negeri ini yang pintar, intelektual dan 
semangat yang idealis tentang sebuah demokrasi yang sehat 


4. Kalau Aburizal menjadi pemimpin Golkar ahaaa bukan hal yang aneh lagi jika 
bicara politik uang dan kekuasaan, tidak ada cela Aburizal Bakri dalam hal ini, 
mmm..uangnya wah jangan ditanya untuk pesta perkawinan anaknya dengan salah 
seorang selebritis muda cantik Indonesia dikabarkan pesta termewah dan biaya 
termahal di Indonesia, kekuasaan dan pengaruhnya udah deh jangan ditanya, 
seorang Sri Mulyaniu saja bisa didepak dari Indonesia dan Presiden tidak bisa 
berbuat apa2, ualih2 mempertahan SMI  eh malah Aburizal diperjaya menjadi 
sekretariat bersama..apaan tuhh lupa..apa ya kepentingannya

Jadi jika anak muda seperti Yuddi Crisnandi kalah di golkar sesuatu yang biasa 
dan dingin2 saja nggak ada anehnya belum ada tempat buat anak muda ini, ingin 
melangkahi Aburizal, itupun harus melangkahi orang kuat uang dan jaringan 
kekuasaan yaitu Surya Palloh dan Tommy (nggak usah deh diceritain siapa dan 
bagaimana kedua orang tua pesaing kuat Aburizal Bakri ini)

Jika Anas menang sebagai anak muda yang cerdas dan intelektual di Demokrta 
syukurlah membawa pencerahan dalam berdemokrasi, paling tidak orang2 di 
Demokrat yang punya hak pilih sudah cerdas dan memperjayai sosok anak muda jadi 
pemimpin 

Jadi memang anak muda yang cerdas, intelektual dan idealis tidak ada tempat di 
negeri ini untuk menjadi pemimpin selagi alam politik dan demokrasi kita masih 
berbicara kekuatan uang, kekuasaan, jaringan kekuasaan berupa kroni dan trah 
keluarga politik (yang pokoke)

Kalaupun ingin mungkin anak muda yang cerdas dan intelektual ini jika jadi 
pemimpin tidak saja cukup populer didebat dan talk show di televisi perlu 
kiranya "mendadak" menjadi pedangdut, pesohor sinetron, artis komedi seperti si 
Jupe, Ayu Azhari, Rano Karno, Dede Yusuf dll nah itu baru melek di tingkat 
grass root untuk dipilih

Jadi sudahlah jangan bermimpi lagi anak muda jadi pemimpin, tunggu saja nanti 
ketika anak muda menjadi tua dan "anak tua" sudah uzur dan masuk kubur selagi 
iklim politik ldan demokrasi kita masih carut marut, sikut menyikut penuh 
intrik jahat dengan permainan uang dan kekuasaan

Itu menurut saya, nggak tahu juga menurut yang lain

Wass-Jepe
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke