Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Bapak Ajo Duta serta dunsanak2 diPalanta.

Yah makanya di USA calon2 presidentnya musti dari keluarga yang berada..... ada 
benarnya.

Tetapi disisi lain, kalau semua orang kaya yang tua2 menjadi volonter, wah 
generasi muda yang berpotensi pada nganggur atau lari keluarnegeri, jadi TKW 
jual diri, eh maaf jual otak. 
"Lugila..", kata Cina Medan (rugilah), yang rugi siapa ya??

Semoga bisa terjalin dengan syncron antara yang tua, muda serta latarbelakang 
status sosial yang menyimpul menjadi tupang menopang saling bantu. 
Tentunya yang utama, tujuan yang berlandaskan logika dan agama, tidak "angek2 
cik ayam" ataupun mau terkenal dan mengharumkan nama saja.
Semoga juga tidak sudi didikte oleh sponsor/lobby.

Wassalam,
Muljadi.
-------- Original-Nachricht --------
> Datum: Wed, 26 May 2010 07:52:19 -0400
> Von: ajo duta <[email protected]>
> An: [email protected]
> Betreff: Re: [...@ntau-net] Koran Tempo: "Sampai Kapan Kami Bersabar?"

> Soal pemimpin tua dan muda. Yang tua disamping ada pengalaman dia
> sudah tak memikirkan
> lagi masa depan mau jadi apa, mau beli apa, mau rumah bagaimana.
> Sementara waktunya ada.
> Yang muda masih menapak hidup, membina keluarga, memperhatikan
> pendidikan anak, mengejar
> karir dan sebagainya.
> 
> Jadi saya tak aneh kalau banyak urusan kerja sosial sukarela, jarang
> yang muda mau terjun, dengan
> alasan seperti diatas. Ini kecuali yang punya semangat tinggi,
> sehingga terpaksa mancilok cilok
> waktu kantor atau waktu keluarganya.
> 
> Disini teori kebutuhan Winslow berlaku. Bagaimana sesorang mau
> memimpin organisasi sosial/sukarela
> kalau kebutuhan fisiknya belum terpenuhi. Kalau dipaksakan bisa dia
> memakan uang organisasi alias
> korupsi.
> 
> Kembali ke Anas, kalau dia akan berhenti jadi anggota DPR berarti dia
> tak ada income pasti untuk
> keluarganya. Apakah sebagai Ketum PD dia akan diberi gaji? Entahlah.
> Stahu saya dia berasal dari
> keluarga sedrhana tanpa warisa kekayaan. Sama halnya dengan kemanakan
> saya Indra Piliang,
> setelah dia berhenti dari CSIS dan tak berhasil jadi DPR, hati saya
> galau bagaimana dia memberi
> nafkah keluarganya secara pasti. Saya tahu kepiawaiannya menulis bisa
> menjadi sumber incomenya.
> Tapi itukan income yang tak pasti. Banyak juga para aktifis terpaksa
> diback-up isterinya demi
> mempertahankan kesenangannya sebagai aktifis. Ini tentu tak benar.
> Jadi soal pemimpin tua atau muda, biarlah mengalir
> saja..........jangan dipaksakan.
> 
> 2010/5/26 Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>:
> > Bung Andrinof, kebetulan saya tidak bisa akses SUNTV. Bisa dilewakan di
> RN ini? Terima kasih.
> >
> > Wassalam,
> >
> > SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
> > -----Original Message-----
> > From: [email protected]
> > Sender: [email protected]
> > Date: Wed, 26 May 2010 10:27:46
> > To: <[email protected]>
> > Reply-To: [email protected]
> > Subject: Re: [...@ntau-net] Koran Tempo: "Sampai Kapan Kami Bersabar?"
> >
> > Nanti malam, pk 20, bagi yg bisa mengakses SUN TV, insya Allah,  akan
> saya tampilkkan data Tokoh-tokoh Muda bakal Capres hasil survei nasional
> CIRUS Surveyors Group, di acara Dialog Indonesia.
> > Selamat menyimak.
> > Andrinof A Chaniago (L, 47)
> >
> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "Dr. Saafroedin Bahar" <[email protected]>
> > Sender: [email protected]
> > Date: Wed, 26 May 2010 08:52:46
> > To: Rantau Net<[email protected]>
> > Reply-To: [email protected]
> > Subject: Re: [...@ntau-net] Koran Tempo: "Sampai Kapan Kami Bersabar?"
> >
> > Setuju penuh, bung Indra. Pimpinan partai politik harus dijabat kaum
> muda yg lebih idealis (walau kelihatannya tidak semua).
> >
> > Bidang lainnya masih bisa ditangani 'urang gaek-gaek'. Demikianlah,
> setelah pensiun dari tugas Negara th 2007 sebagai orang tua  saya konsentrasi
> jadi dosen, menulis artikel dan makalah, menerbitkan buku, dan kini
> 'tunggang tunggik' membantu mempersiapkan Kongres Kebudayaan Minangkabau.
> >
> >  (Saya sudah lama ingin mundur dr tugas sebagai ketua MAPPAS, biar
> digantikan yg muda-muda yg lebih bersemangat.).
> >
> > Wassalam,
> > SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
> > Sender: [email protected]
> > Date: Wed, 26 May 2010 01:30:12
> > To: <[email protected]>
> > Reply-To: [email protected]
> > Subject: [...@ntau-net] Koran Tempo: "Sampai Kapan Kami Bersabar?"
> >
> > Karena ada bbrp kalimat yg hilang di artikel sebelumnya, kami kirimkan
> naskah aslinya....
> >
> > Koran Tempo, 26 Mei 2010
> > Sampai Kapan Kami Bersabar?
> > Oleh
> > Indra Jaya Piliang
> > Fungsionaris DPP Partai Golkar
> >
> > Pada Musyawarah Nasional Partai Golkar di Pekanbaru pada 3-8 Oktober
> 2009, saya berperan menjadi manajer kampanye Yuddy Chrisnandi. Tema yang kami
> usung adalah regenerasi. Yuddy mendapatkan nilai 0 (nol) dari 538 suara.
> Itulah harga regenerasi di tubuh Partai Golkar. Usia Yuddy 42 tahun saat itu.
> >
> > Kemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam
> Kongres Bandung mengonfirmasi alasan majunya Yuddy di Partai Golkar.
> Regenerasi tidak bisa ditolak. Anas masih berusia 41 tahun. Gairah kehidupan 
> politik
> di kalangan anak-anak muda membuncah. Sekalipun memiliki figur sentral,
> Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Demokrat telah menyiapkan jenjang
> kepemimpinan nasional yang tangguh.
> >
> > Sekarang, bagaimana dengan partai-partai politik lain? Ketua Umum Partai
> Golkar, Aburizal Bakrie, berusia 63 tahun. Ketua Umum PDI Perjuangan,
> Megawati Soekarnoputri, berusia 63 tahun. Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa, 
> berusia
> 57 tahun. Sementara Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, berusia 59 tahun.
> Partai Demokrat menjadi satu-satunya partai politik paling besar yang
> dipimpin oleh anak muda di negara demokrasi ketiga terbesar di dunia ini.
> >
> > Memang, di jajaran kepengurusan partai politik masih terdapat sejumlah
> anak muda. Tetapi relatif sedikit dibandingkan dengan keseluruhan
> fungsionaris. Terdapat nama Fadli Zon (39 tahun) di Partai Gerindra. Juga 
> nama-nama
> lain, sepeti Bima Arya Sugiarto di DPP PAN atau Puan Maharani di DPP PDI
> Perjuangan. Namun, Budiman Sudjatmiko (40 tahun) gagal menjadi pengurus DPP
> PDI Perjuangan, sekalipun mewakili generasi paling otentik dalam riwayat
> perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi. Jangankan untuk menjadi Ketua Umum
> PDI Perjuangan, masih diperlukan lima tahun lagi bagi Budiman masuk DPP PDI
> Perjuangan.
> >
> > Reshuffle Kepengurusan
> > Apa yang bisa dilakukan dalam menatap kehidupan politik 2014-2019,
> termasuk dalam konteks regenerasi kepemimpinan nasional? Partai Demokrat telah
> selangkah di depan, namun partai lain bukan berarti ada dalam posisi
> tertinggal. Saya kira, inilah saat yang tepat bagi seluruh partai politik 
> untuk
> menyusun ulang barisan kepemimpinan di tubuh masing-masing kepengurusan.
> Caranya, segera melakukan langkah reshuffle. Daun-daun yang berwarna coklat 
> dan
> kuning sebaiknya dipangkas, agar udara tersedia bagi daun-daun hijau dalam
> pohon politik.
> >
> > Bukan berarti kami yang muda-muda diam. Saya mengikuti dengan dekat
> aktivitas kalangan muda di setiap partai politik. Dalam bentuk eksperimentasi,
> sejumlah politisi muda lintas partai menyusun Kabinet Indonesia Muda (KIM)
> yang kaya akan gagasan. KIM diisi oleh anak-anak muda lain dari kalangan
> ilmuwan, pengusaha, aktifis lembaga swadaya masyarakat, kaum profesional dan
> analis-analis handal. Gerak KIM bagi bangsa ini memang belum maksimal,
> tetapi sebagai komunitas yang heterogen dan dinamis sungguh terasa. Sekalipun
> tidak menggunakan nama KIM, pemikiran anggota-anggota KIM tersebar di banyak
> media.
> >
> > Pada level yang lain, dalam perjalanan ke banyak daerah, saya menemukan
> aktivitas kalangan muda politik itu. Sebagai generasi yang bergairah, tentu
> menjelajahi wilayah Indonesia yang luas adalah bagian dari semangat kami.
> Penjelajahan dunia pemikiran juga menjadi wajib. Setiap masalah bisa
> ditelisik dengan informasi yang lebih valid dan beragam. Di dunia maya, 
> terutama
> twitter dan facebook, kaum muda politisi dan aktivis ini paling berisik.
> Semua hal bisa ditanggapi dengan posisi beragam, namun juga bisa berubah
> dalam semalam, tanpa harus merasa sakit hati atau misuh-misuh.
> >
> > Partai hakekatnya mencari talenta-talenta yang baik ini, lalu memasukkan
> ke dalam satu sistem organisasi yang lebih rapi. Partai selayaknya
> menampung upaya pengorganisasian pemikiran dan aktivitas, hingga berwujud 
> menjadi
> program yang bertujuan bagi kepentingan rakyat dan negara. Dan partai tidak
> selamanya menjadi organ kekuasaan, mengingat pemilu tidak tiap hari
> digelar. Bagi saya, reshuffle kepengurusan di seluruh partai politik adalah 
> cara
> agar terdapat dinamika politik yang lebih segar.
> >
> > Bukan Hanya Politisi
> > Ini juga bukan semata-mata di level politisi. Terlalu mengada-ada kalau
> regenerasi hanya soal politik. Saya menemukan banyak sekali nama tua dan
> lama di kalangan ilmuwan yang bicara di media, begitu juga di kalangan
> lembaga swadaya masyarakat dan bahkan dunia pengusaha. Mereka seperti Candi
> Borobudur yang merasa paling mampu menciptakan keindahan, ketika anak-anak 
> muda
> justru mengoleksi benda-benda lain seperti komik atau piringan hitam.
> Mereka menjadi sosok yang nyinyir, ketika sumberdaya anak-anak muda lain 
> menjadi
> gagu dalam jumlah banyak dan menumpuk.
> >
> > Saya tentu tidak menggugat, melainkan memaparkan realitas. Sejumlah
> kawan saya, bahkan yunior saya, sudah berhasil meraih gelar doktoral dan
> profesor di kampus. Namun, mereka seperti kehilangan elan akademis, ketika 
> hanya
> beraktivitas di dunia kampus. Beberapa yang mengambil pilihan keluar dari
> dunia kampus itu, misalnya menjadi aktifis, lalu harus berhadapan dengan
> beragam peraturan akademik yang menyebabkan mereka harus memilih yang satu dan
> meninggalkan yang lain. Mereka tidak boleh menjalankan dua hal sekaligus,
> sekalipun mereka sangat mampu.
> >
> > Coba cek nama-nama pemimpin di banyak organisasi, mulai dari organisasi
> pengusaha, olahraga, kesenian, media massa, perguruan tinggi, lembaga
> swadaya masyarakat, sampai komentator dan analis. Yang muda-muda paling-paling
> terdapat di kalangan pengamat pasar atau ekonomi mikro. Sisanya, mereka yang
> terus-menerus tampil sejak saya masih anak sekolah menengah.
> >
> > Sampai kapan hal ini akan terus menjadi bagian dari realitas
> kepemimpinan di Indonesia? Kepala-kepala daerah, menteri, sampai presiden, 
> adalah
> contoh lain. Jarang yang muda diberi kesempatan, mengingat yang tua memiliki
> segalanya. Padahal, dunia sudah banyak berubah. Apa bisa kalangan senior itu
> bermain di twitter selincah anak-anak muda yang mudah mengadopsi teknologi
> baru?
> >
> > Idealnya, usai menjadi pensiunan, seorang pemimpin masih bisa
> menjalankan aktivitas lain, seperti menulis buku atau memberikan pelatihan 
> tentang
> kepemimpinan berdasarkan pengalaman. Yang terjadi di Indonesia bukan seperti
> itu, lebih banyak kita menemukan kabar-kabar sedih tentang seseorang yang
> baru saja melepaskan jabatan publik. Kalau bukan kabar tentang kematian,
> maka kabar lain adalah tidak ada kabar sama sekali. Untuk apa pengabdian yang
> lama itu, kalau tidak ada yang mereka tularkan setelah pensiun?
> >
> > Sungguh, saya bertanya: sampai kapan kami bersabar?
> >
> > http://www.indrapiliang.com/2010/05/26/sampai-kapan-kami-bersabar/

-- 
GRATIS für alle GMX-Mitglieder: Die maxdome Movie-FLAT!
Jetzt freischalten unter http://portal.gmx.net/de/go/maxdome01

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke