Talempong, alat musik Minang tradisional yang berupa gong kecil itu, hanya 
punya tiga nada. Sebagaimana alat musik perkusi lainnya di dunia ini, irama 
talempong tidak terpola kepada tangga nada, tetapi kepada cara menabuhnya.

Talempong ditabuh pada prosesi adat atau keramaian seperti pasar malam dan pacu 
 kuda. Ditabuh dari dulu sampai sekarang. Bunyi tetap sama, nuansa jauh berbeda.

Sewaktu saya kecil di kota kelahiranku Padang Panjang lima puluh tahun silam, 
irama talempong terdengar begitu ceria. Saat itu masyarakat Minang berada di 
puncak kejayaannya sebagai civil society atau masyarakat Madani.

Egaliterianisme (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi), demokrasi (bulat air 
dek pembuluh, bulat kata dek mufakat; kemenakan menyembah lahir, mamak 
menyembah batin), ketaatan pada agama (adat bersandi syarak, syarak bersandi 
kitabullah), tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga cerdas dan 
arif karena gandrung terhadap ilmu dan pengetahuan. Selain menuntut ilmu itu 
perintah agama, masyarakat Minang juga punya suatu filosofi: "alam terkembang 
dijadikan guru"

Tatkala ada yang mengusulkan agar Hatta, sang proklamator dan mahaputera 
berdarah Minang diberi gelar Datuk Payung Panji Kito Basamo, tidak disetujui 
kerapatan adat, karena tidak adanya sendinya dalam adat Minang. Hatta sang 
demokrat itu tidak memberikan komentar apa-apa, karena yang menginginkan bukan 
beliau. Kalau disetujuipun barangkali beliau akan menolak. Tidak ada demo pro, 
tidak ada demo kontra.

Sejak peristiwa Sumpah Pemuda, sebelum dan menjelang dan di awal-awal 
kemerdekaan Masyarakat Minang banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang 
terkenal demokratis, egaliter, agamis tetapi inklusif. Dari tiga Triumvirat 
pemimpin Bangsa di awal kemerdekaan: Soekarno, Hatta dan Syahrir, dua yang 
terakhir adalah putra Minang. Bahkan Hatta adalah orang pertama di PPKI yang 
setuju mencoret tujuh kata "dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi 
pemeluknya" dari Piagam Jakarta.

Pada Pemilu 1997 Golkar memenangkan 94% suara di Sumatera Barat. Hebat nian 
!!!!. Mudah-mudahan Gubernur  Sumatera Barat ketika itu, sampai saat ini masih 
puas dan bangga, mengenang keberhasilannya menghilangkan kata "Minang" dari 
budaya "Minangkabau".

Talempong ditabuh dari dulu sampai sekarang. Bunyi tetap sama, nuansa jauh 
berbeda

(bersambung)

[*] pertama kali dilewakan di Palanta tahun 2002. Dikirim ulang sebagai catatan 
kecil menjelang perhelatan besar Kongres Kebudyaan Minangkabau di Bukittinggi 
Agustus 2010.


-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke