Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sewaktu tim sosialisasi Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 mengunjungi redaksi 
harian Singgalang bulan lalu, Pimpinan harian Singgalang Khairul Jasmi 
menyerahkan sebuah buku tentang musibah gempa besar yang melanda kota Padang 
pada bulan September 2009. Buku yang disuntingnya dari bahan-bahan yang ditulis 
oleh Trio Jenifran dan Sawir Pribadi itu berjudul Duka Lara Gempa Padang, 
diterbitkan oleh Pemerintah Kota Padang bulan Desember 2009. 
Buku ini bukan hanya memuat laporan pandangan mata secara padat – lengkap 
dengan foto-foto – seluruh pengalaman sebelum, selama, dan setelah gempa dengan 
kekuatan 7,9 skala Richter itu, tetapi juga memuat data-data statistik lengkap 
tentang jumlah korban manusia serta korban harta benda yang dialami oleh kota 
Padang.  Selain itu juga dilaporkan betapa -- dalam suasana duka itu -- banyak 
fihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, seperti perusahaan 
penerbangan yang menaikkan harga tiket ke Padang, atau naiknya harga bensin 
secara gila-gilaan.
Yang ingin  saya tampilkan dalam kesempatan ini adalah salah satu sisi 
kemanusiaan dalam musibah itu, yang mungkin belum banyak kita dengar atau kita 
baca, yaitu masih berlangsungnya alek pernikahan, lengkap dengan musik orgen 
tunggal. Saya kutipkan secara lengkap halaman 72-73 dari buku itu, untuk kita 
renungkan bersama. Begini.
“              Perilaku wisatawan bencana itu belumlah seberapa. Jika 
dibandingkan dengan perilaku yang dipertontonkan orang Padang yang beradat itu 
empat hari pasca gempa, yakni melakukan helat pernikahan. Meski gempa besar 
baru saja meluluhkan seisi kota, namun tidak menyurutkan keinginan warga 
melakukan pesta perkawinan lengkap dengan orgen tunggalnya. Baralek jalan 
terus. Sementara mereka tengah arak-arakan dengan alunan talempong, tim 
evakuasi masih berusaha mengeluarkan ratusan mayat dari puing runtuhan. Ambulan 
masih juga bersilweran.
                Ratusan orang relawan datang dari luar negeri, menolong 
dunsanak awak yang menimpa [mestinya tertimpa, SB] musibah, sementara itu di 
daerah musibah, tenda baralek berdiri gagah. Mereka tertawa-tawa di bawah tenda 
tersebut.
                Di Padang,, yang warganya terkenal ramah dan suka menolong, 
punya etika dan sopan santun, memiliki nurani dan toleransi, digelar puluhan 
pesta perkawinan. Padahal, daerah itu tengah berduka. Lantaran 500 jiwa lebih 
warganya meninggal dunia dan ratusan lainnya masih terjebak gedung dan rumah 
yang ambruk.
                “Malu saya melihat ulah orang kampung saya sendiri. Saat 
orang-orang asinf datang membantu para korban di negerinya, mereka malah 
bergembira ria. Sungguh tak punya hati nurani,” kata seoarng warga Andalas, 
Ridho Firdaus, 25.
                Di kala orang lain dan warga asing berlomba-lomba mereka datang 
membantu, atau setidaknya menyumbangkan uangnya untuk para korban, di saat itu 
pula sebagian warga masih berderai tawa. “Orang Sumbar sendiri malah 
bersenang-senang dalam situasi dan kondisi begini. Tidak peduli dengan 
penderitaan umat manusia yang ada di depan hidungnya sendiri,” keluhnya.
                Sepanjang hari Minggu itu memang banyak warga yang menggelar 
pesta perkawinan. Mereka tidak saja memajang tenda pelaminan yang mewah, tetapi 
juga melakukan arak-arakan. Tradisi Minang memang demikian. Kedua mempelai 
diarak dari rumah pria ke rumah wanita atau dari rumah bakonya. Rombongan 
diiringi kedua keluarga dan kelompok music talempong.
                Namun, alangkah indahnya di saat bencana datang melanda, acara 
pesta seperti itu diundur, atau menggelar pernikahan yang sederhana saja. 
Setidaknya sekedar menunjukkan simpati dan empati terhadap ribuan korban di 
ranah Minang itu.
                “Sejak awal, kami sudah sudah coba melarangnya. Tapi kedua 
memplai memaksa untuk tetap arak-arakan. Apalagi undangan  sudah tersebar 
semua. Tidak mungkin perkawinan ini diundur,” dalih salah seorang keluarga 
pengantin yang tidak ingin disebut namanya.
                Dalam pepatah Minang, perbuatan baik seperti perkawinan memang 
sebaiknya tidak diundur-undur. Tapi solidaritas dan toleransi antara sesama 
manusia juga perlu. Agama kita mengajarkan seperti itu.”    
Demikian tertera dalam buku tersebut.
Saya hampir tak percaya sewaktu membaca dua halaman buku itu, karena memang 
belum pernah terdengar atau diberitakan selama ini. Lagi pula, rasanya tidak 
ada media massa yang memuat foto baralek  di tengah musibah itu, yang dari segi 
pers sesungguhnya akan merupakan berita yang menarik. Namun karena kisah ini 
terdapat dalam buku yang diterbitkan oleh pemerintah kota Padang sendiri, mau 
tak mau saya harus percaya.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah: sedemikian rendahkah solidaritas sosial 
dari mereka yang hendak baralek ini terhadap sesama warga kota yang sedang 
ditimpa bencana yang sedemikian dahsyat ?  Apakah kejadian ini hanya terjadi di 
kota Padang saja, atau juga di daerah bencana lainnya, seperti di kabupaten 
Pariaman, kota Pariaman, atau kabupaten Agam ? Adakah kejadian serupa di daerah 
yang tertimpa bencana di daerah lainnya, seperti di Yogyakarta ? 
Banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di kepala saya, tetapi itu sajalah 
dahulu yang saya utarakan. Yang menjadi keprihatinan saya adalah kesan bahwa 
solidaritas sosial telah jauh merosot, setidak-tidaknya di kota Padang. Saya 
percaya bahwa ancaman bencana belum akan berakhir dengan gempa 30 September 
2009 itu, oleh karena menurut para pakar, pertemuan dua lempeng geologi di 
depan pantai daratan Sumatera Barat belum stabil, dan masih berpotensi 
menimbulkan bencana yang cukup besar.
Bagaimanakah caranya agar episoda tragis yang demikian tidak terulang lagi di 
saat bencana melanda  ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta) 



      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke