sebagai anak muda yang lahir di ranah minang, namun besar di rantau, sering sekali ayah saya bercerita bahwa orang minang itu kemana dia pergi selalu disukai oleh masyarakat, karena sedari kecil diajarkan bagaimana melakukan hal-hal positif untuk masyarakat. Namun ketika saya kembali ke ranah minang tepatnya ke padang sejak 2000, apa yang selalu diceritakan oleh ayah saya itu banyak yang melenceng pak Saaf. Agustus nanti tepat sudah 10 tahun saya di Padang.
Penilaian saya mungkin hal ini disebabkan krisis ekonomi 98 yang menurunkan kualitas moral masyarakat & kualitas kesadaran sosial di masyarakat. Sebagai contoh selama saya berusaha di sini, banyak saya perhatikan individu-individu yang menunda-nunda utang, padahal sebenarnya dia mampu untuk mengansur. Dibanding kota-kota yang sudah pernah saya kunjungi di sumatera, polisi di padang yang menurut saya paling agresif kalau kalender sudah mulai di angka 20. Soal tertib lalu lintas ini yang sedikit unik, kendaraan disini memang tidak terlalu banyak dibanding pekanbaru atau medan, cuma untuk jarak tempuh yang sama memakan waktu lebih lama apabila kita berkendara di Padang. Istri saya waktu pertama kali saya ajak ke Medan menjenguk orang tua sampai heran dengan begitu padatnya kendaraan di jalanan kota medan, tapi selalu teratur & tertib dalam berlalu lintas. Untuk pelayanan publik jangan ditanya, pernah saya ke balai kota untuk mengurus akte kelahiran anak saya (waktu itu hari rabu jam 13.30 wib) petugas menyuruh saya memfotokopykan formulir yang harus diisi. Anehnya dari 10 lembar yang saya fotokopy, saya hanya perlu mengisi 2 lembar saja (8 lembar lagi tidak digunakan), dan petugas menyuruh saya kembali esok hari karena sebentar lagi pegawai balai kota akan segera pulang. Namun yang membuat saya takjub adalah, taraf ekomi PNS di padang jauh lebih baik dari pada di Medan. Padahal kalau dari segi harga komoditas rumah tangga, lebih mahal di bandingkan di Medan. Ada junior saya sewaktu sekolah di medan yang kebetulan bermukim di padang ikut dengan suaminya yang berkerja di salah satu provider seluler sering mengeluhkan biaya hidup yang tinggi di padang, mulai harga barang, upah tukang, ongkos dll. Ada pameo di padang yang sering didengungkan oleh masyarakat, sebagai orang minang kita harus cerdik, karajo saketek pitih nak banyak. Mengingat kembali pada komentar pak Saaf mengenai YA, yang mengartikan keminangankabauan sama dengan kelicikan........ -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
