Saya percaya bahwa  ancaman bencana belum akan berakhir dengan gempa 30
September 2009 itu,  oleh karena menurut para pakar, pertemuan dua
lempeng geologi di depan  pantai daratan Sumatera Barat belum stabil,
dan masih berpotensi  menimbulkan bencana yang cukup besar.
>  Bagaimanakah caranya agar episoda tragis yang demikian tidak terulang
lagi di saat bencana melanda  ?
> Wassalam,
>  Saafroedin Bahar

Yah Agku Saaf, katastropi itu belum brakhir, itu baru mulai...
Itulah barangkali instink saya mengetengahkan "Hoyak-hoyak Gampo" di
Lapau kita ketika terlihat berita gerak-gerik gempa di setiap saat.
Maksudnya supaya kita tidak lupa marabahaya dan selalu siap sedia jika
malapetaka besar menimpa, supaya kita sempat bersedia waspada dan
berdoa.

Kekhawatiran Angku Saaf mengenai bencana yang cukup  besar,  SEANDAINYA
  episoda tragis yang  demikian  TERJADI, mungkin serentak di saat itu
tidak akan ada orang  di Padang lagi ...

Namun, sebelum katastropi itu terjadi, baik lah kita menjaga hati
nurani, belajar kembali menegakkan solidariti yang tinggi, yang sering
disuarakan Nenek Moyang Kita di Ranah ini...

Semoga katastropi ngeri itu tidak akan terjadi,
mari kita berdoa kepada Ilahi Rabbi ...


Salam,
--Nyiak Sunguik
Di Tapi Riak nan Badabua


--- In [email protected], "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf10...@...>
wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
> Sewaktu tim sosialisasi Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010
mengunjungi redaksi harian Singgalang bulan lalu, Pimpinan harian
Singgalang Khairul Jasmi menyerahkan sebuah buku tentang musibah gempa
besar yang melanda kota Padang pada bulan September 2009. Buku yang
disuntingnya dari bahan-bahan yang ditulis oleh Trio Jenifran dan Sawir
Pribadi itu berjudul Duka Lara Gempa Padang, diterbitkan oleh Pemerintah
Kota Padang bulan Desember 2009.
> Buku ini bukan hanya memuat laporan pandangan mata secara padat –
lengkap dengan foto-foto – seluruh pengalaman sebelum, selama, dan
setelah gempa dengan kekuatan 7,9 skala Richter itu, tetapi juga memuat
data-data statistik lengkap tentang jumlah korban manusia serta korban
harta benda yang dialami oleh kota Padang.  Selain itu juga dilaporkan
betapa -- dalam suasana duka itu -- banyak fihak yang mengambil
kesempatan dalam kesempitan, seperti perusahaan penerbangan yang
menaikkan harga tiket ke Padang, atau naiknya harga bensin secara
gila-gilaan.
> Yang ingin  saya tampilkan dalam kesempatan ini adalah salah satu sisi
kemanusiaan dalam musibah itu, yang mungkin belum banyak kita dengar
atau kita baca, yaitu masih berlangsungnya alek pernikahan, lengkap
dengan musik orgen tunggal. Saya kutipkan secara lengkap halaman 72-73
dari buku itu, untuk kita renungkan bersama. Begini.
> "              Perilaku wisatawan bencana itu belumlah seberapa.
Jika dibandingkan dengan perilaku yang dipertontonkan orang Padang yang
beradat itu empat hari pasca gempa, yakni melakukan helat pernikahan.
Meski gempa besar baru saja meluluhkan seisi kota, namun tidak
menyurutkan keinginan warga melakukan pesta perkawinan lengkap dengan
orgen tunggalnya. Baralek jalan terus. Sementara mereka tengah
arak-arakan dengan alunan talempong, tim evakuasi masih berusaha
mengeluarkan ratusan mayat dari puing runtuhan. Ambulan masih juga
bersilweran.
>                 Ratusan orang relawan datang dari luar negeri,
menolong dunsanak awak yang menimpa [mestinya tertimpa, SB] musibah,
sementara itu di daerah musibah, tenda baralek berdiri gagah. Mereka
tertawa-tawa di bawah tenda tersebut.
>                 Di Padang,, yang warganya terkenal ramah dan suka
menolong, punya etika dan sopan santun, memiliki nurani dan toleransi,
digelar puluhan pesta perkawinan. Padahal, daerah itu tengah berduka.
Lantaran 500 jiwa lebih warganya meninggal dunia dan ratusan lainnya
masih terjebak gedung dan rumah yang ambruk.
>                 "Malu saya melihat ulah orang kampung saya
sendiri. Saat orang-orang asinf datang membantu para korban di
negerinya, mereka malah bergembira ria. Sungguh tak punya hati
nurani," kata seoarng warga Andalas, Ridho Firdaus, 25.
>                 Di kala orang lain dan warga asing berlomba-lomba
mereka datang membantu, atau setidaknya menyumbangkan uangnya untuk para
korban, di saat itu pula sebagian warga masih berderai tawa. "Orang
Sumbar sendiri malah bersenang-senang dalam situasi dan kondisi begini.
Tidak peduli dengan penderitaan umat manusia yang ada di depan hidungnya
sendiri," keluhnya.
>                 Sepanjang hari Minggu itu memang banyak warga yang
menggelar pesta perkawinan. Mereka tidak saja memajang tenda pelaminan
yang mewah, tetapi juga melakukan arak-arakan. Tradisi Minang memang
demikian. Kedua mempelai diarak dari rumah pria ke rumah wanita atau
dari rumah bakonya. Rombongan diiringi kedua keluarga dan kelompok music
talempong.
>                 Namun, alangkah indahnya di saat bencana datang
melanda, acara pesta seperti itu diundur, atau menggelar pernikahan yang
sederhana saja. Setidaknya sekedar menunjukkan simpati dan empati
terhadap ribuan korban di ranah Minang itu.
>                 "Sejak awal, kami sudah sudah coba melarangnya.
Tapi kedua memplai memaksa untuk tetap arak-arakan. Apalagi undangan 
sudah tersebar semua. Tidak mungkin perkawinan ini diundur," dalih
salah seorang keluarga pengantin yang tidak ingin disebut namanya.
>                 Dalam pepatah Minang, perbuatan baik seperti
perkawinan memang sebaiknya tidak diundur-undur. Tapi solidaritas dan
toleransi antara sesama manusia juga perlu. Agama kita mengajarkan
seperti itu."
> Demikian tertera dalam buku tersebut.
> Saya hampir tak percaya sewaktu membaca dua halaman buku itu, karena
memang belum pernah terdengar atau diberitakan selama ini. Lagi pula,
rasanya tidak ada media massa yang memuat foto baralek  di tengah
musibah itu, yang dari segi pers sesungguhnya akan merupakan berita yang
menarik. Namun karena kisah ini terdapat dalam buku yang diterbitkan
oleh pemerintah kota Padang sendiri, mau tak mau saya harus percaya.
> Yang menjadi pertanyaan saya adalah: sedemikian rendahkah solidaritas
sosial dari mereka yang hendak baralek ini terhadap sesama warga kota
yang sedang ditimpa bencana yang sedemikian dahsyat ?  Apakah kejadian
ini hanya terjadi di kota Padang saja, atau juga di daerah bencana
lainnya, seperti di kabupaten Pariaman, kota Pariaman, atau kabupaten
Agam ? Adakah kejadian serupa di daerah yang tertimpa bencana di daerah
lainnya, seperti di Yogyakarta ?
> Banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di kepala saya, tetapi itu
sajalah dahulu yang saya utarakan. Yang menjadi keprihatinan saya adalah
kesan bahwa solidaritas sosial telah jauh merosot, setidak-tidaknya di
kota Padang. Saya percaya bahwa ancaman bencana belum akan berakhir
dengan gempa 30 September 2009 itu, oleh karena menurut para pakar,
pertemuan dua lempeng geologi di depan pantai daratan Sumatera Barat
belum stabil, dan masih berpotensi menimbulkan bencana yang cukup besar.
> Bagaimanakah caranya agar episoda tragis yang demikian tidak terulang
lagi di saat bencana melanda  ?
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta)


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke