Asslamualaikum wr wb
Angku, mamak, bundo & dunsanak sapalanta rantau net

pada dasarnya saya setuju dengan pak Saaf, begitu juga dengan pak Ami
Aziz karena orang minangkabau itu pada dasarnya sama, naik yang di
ranah atau pun di rantau, hanya beda KTP saja, karena KTP cuma
menunjuk domisili dimana orang tersebut berada.

Kembali pada kajian "civil society" untuk meningkatkan kualitas
masyarakat di ranah minang, saya berpikir tentu ada wadah yang
diperlukan untuk konsep tersebut. Syukur alhamdulillah kultur
minangkabau memberikan warisan budaya berupa sistem kenagarian
berserta perangkat & tata tertibnya. Tinggal bagaimana kita sebagai
orang minangkabau/anak nagari, baik yang dirantau maupun yang di ranah
sama-sama saling bahu membahu mengisi kemajuan untuk di ranah minang.

Dan dengan ini saya juga mengucapkan terima kasih sekali pada angku,
mamak, bundo & dunsanak yang selama ini sudah lama bergabung di
rantaunet (berhubung saya masih baru disini) untuk saling silaturahim,
berdiskusi, mengemukakan ide, memberi tanggapan dengan tetap
mensuarakan 1 minangkabau yang tidak terpisah-pisah antara satu nagari
dengan nagari yang lain.

Ada 1 konsep yang saya pikir (ini hanya pemikiran saya saja) bahwa
merantau merupakan salah satu konsep yang sangat baik dalam budaya
minangkabau. Yang selama ratusan tahun sudah dilakukan oleh jutaan
(kalau saya boleh mengatakan jutaan) anak nagari untuk mengembangkan
diri, mencari ilmu, pengalaman, materi demi kemaslahatan nagari. Ada
catatan pada Tambo Minangkabau yang menceritakan bahwa Jatang Sutan
Balun melakukan tradisi merantau karena berselisih dengan abang seibu
Sutan Paduka Besar (Dt Ketemanggungan) dalam memahami undang "tarik
balas". Daerah rantau yang di datangi adalah, aceh, melaka, indo cina
hingga ke tanah Tiongkok.

Karatau madang daulu
Babuah babungo alun
Marantau bujang dahulu
Di kampuang baguno alun.

Setelah hidup dirantau sekian lama, ada rasa rindu mendalam pada
kampung halaman. Walaupun kondisi senang hidup dirantau namun hati
terpaut pada kampung halaman

Satinggi-tinggi tabangnyo bangau
Sampai mancapai langik biru
Baliaknyo ka kubangan juo
Walau bajalan jauh ka rantau
Iduik sanang satiok waktu
Kampuang halaman takana juo

Demikian pula saya kira apa yang dirasakan oleh seluruh angku, mamak,
bundo & dunsanak sapalanta rantau net nan ado di rantau kiniko. Salah
satu bukti kongkrit wujud kerinduan itu adalah ada rantau net ini.

Namun ada yang saya rasakan kurang dalam pelaksanaan budaya merantau
(ini hanya hipotesa saya pribadi - mohon pencerahan) yang terjadi
sejak puluhan tahun belakangan ini. Dimana Jatang Sutan Balun (pada
masa kepulangannya ke ranah minang mendapat gelar Datuk Perpatih nan
Sabatang) setelah lama merantau kembali ke ranah minang & menetap di
ranah minang. Hal ini yang amat sangat jarang terjadi pada saat ini.
Ditenggarai kurangnya contoh dari tokoh-tokoh minang dimasa lalu
(Hatta, H. Agus Salim, Buya Hamka, dll) yang kembali menetap di
kampung halaman setelah lama merantau.

Mengapa demikian? saya kira ada beberapa masalah yang berkaitan dengan
pusako tinggi sehingga apabila kembali ke Kampung halaman akan terjadi
polemik sosial (terkecuali pasangan suami istri berasal dari nagari
yang sama) mohon lihat artikel di :

http://www.facebook.com/notes/pituah-adat-minangkabau/marantau-cino-kontraproduktif-dalam-budaya-minangkabau/132431666772108

Mengapa sangat diperlukan kembalinya para perantau untuk menetap
dikampung halaman? Karena (lagi-lagi ini hanya pendapat saya pribadi -
mohon pencerahan) laki-laki di minangkabau berfungsi sebagai Ayah
sekaligus Mamak bagi anak & kemanakannya.

Fungsi sebagai ayah adalah meberikan nafkah lahir bathin hingga si
anak bisa berdiri sendiri (berkeluarga & berusaha sendiri) sehingga
disebut laki-laki yang dewasa (bukan anak-anak lagi).

Fungsi sebagai mamak adalah membimbing kemanakan dalam mentransfer
falsafah budaya minangkabau, mengatur pengelolaan pusako, dan
mensiasati keberlangsungan hidup keluarga-keluarga yang ada dalam kaum/
paruik tersebut. Selain itu mamak juga membagi ilmunya & pengalamannya
selama dirantau untuk anak & kemanakan yang ada di kaum sebagai bekal
melanjutkan tradisi merantau dalam budaya minangkabau. Jadi disini
kita melihat pola kaderisasi pada generasi yang lebih tua kepada
generasi penerus. (proses kaderisasi)

Namun hal ini tidak bisa berlangsung sebagai mana mestinya karena
adanya perbedaan persepsi dalam meninjau hal ulayat /pusako tinggi
kaum dimana laki-laki di ranah minang mengalami kebimbangan untuk
menetap di kampung halaman setelah berpuluh tahun bakureh dirantau
urang. Terlebih lagi bagi pasangan suami istri yang tidak berasal dari
nagari yang sama, atau nagari yang saling berjauhan sehingga
komunikasi antara mamak dengan kemanakan, antara tuo kampuang dengan
limbago adat nagari.

Terlebih sulit lagi apabila laki-laki di minangkabau menikah dengan
istri yang bukan berasal dari ranah minang. Hal ini meilihat dari cara
pandang bahwa hanya wanita yang bisa menghuni rumah di kampung
(walaupun rumah itu sudah kosong belasan tahun), mengelola sawah,
ladang, parak dsb.

Saya pribadi menilai cukup aneh, karana menurut saya laki-laki pun
berhak menghuni, menggunakan, mengelola pusako tinggi kaumnya namun
tidak mewariskan kepada keturunnanya. Sebab alam takambang jadi guru,
dimana Allah SWT telah menciptakan apa-apa yang ada di dunia ini
secara berpasangan.

Jadi laki-laki di minangkabau berkewajiban mengatur pusako tinggi
kaumnya untuk kepentingan seluruh anggota kaum, dan juga berhak
menggunakan  pusako tinggi tersebut (mengambil hasilnya).
-----------------------------------------------------------------------
Sebagai contoh kongkrit yang bisa saya berikan adalah seorang anak
nagari minangkabau yang bernama H. Yusri Darwis asal nagari kubang 50
koto. Mungkin angku, mamak, bundo & dunsanak sapalanta rantaunet
mengenal beliau, sebagai pemilik usaha Martabak Kubang yang cukup
punya nama dikalangan perantau minangkabau. Sudah lama usaha tersebut
diserahkan kepada anak beliau, dan saat ini beliau menetap di kampung
halaman untuk memberikan sumbangsih tenaga & pemikiran untuk memajukan
nagari.

http://www.facebook.com/video/video.php?v=111864912158316

http://www.facebook.com/photo.php?pid=344902&id=100000044240842


Dengan memanfaatkan momentum babaliak kanagari yang selama 20 tahun
terhapus dalam sendi-sendi masayarakat minangkabau & bersyukur dengan
rencana akan diadakannya KKM 2010 saya saya berharap akan membawa
dampak signifikan dalam mewujudkan masyarakat minangkabau kembali ke
pola budayanya sehingga bisa mewujudkan nagari sebagai "civil society"
yang jumlahnya ratusan di ranah minang

Namun untuk mengembangkan konsep membangun nagari, lebih efektif
apabila kita berada ditengah-tengah nagari & saya pikir tidak harus
perantau yang sukses saja yang dibutuhkan oleh nagari, yang tidak
sukses maupun yang gagal juga diperlukan dan saya kira dari sebuah
kegagalan kita bisa belajar banyak.

Tulisan tidak bermaksud menyindir atau pun menyalahkan siapa pun,
hanya sebagai bahan pemikiran yang bisa saya sampaikan. Mohon
pencerahan dari angku, mamak, bundo & dunsanak sapalanta
apabila ada kata yang kurang berkenan, saya mohonkan maaf yang sebesar-
besarnya.

Wasalamualaikum wr wb

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke