Asslamualaikum WR.WB. Terima kasih atas respon yang cepat dari bapak BAHAR, serta perbaikan kalimat dari pertanyaan saya, dan saya mohon maaf jika saya belum menerakan umur saya.
Dengan demikian saya hendak menanggapi beberapa hal yang menjadi jawaban bapak dari bentuk pertanyaan yang saya paparkan.. 1) "Pernahkah kita apa yang melatarbelakangi kenapa hal ini bisa terjadi?" *Jawab : Mungkin yang Sanak maksud 'pernahkah kita 'mempelajari' apa yang melatarbelakangi kenapa hal ini bisa terjadi' ? Sudah barang tentu, Sanak. Bisa Sanak perhatikan, bahwa orang Rantau tidak kalah intensifnya mempelajari sejarah dan perkembangan sosial Minangkabau. Bukan hanya tentang yang terjadi hari ini, tetapi juga paling tidak yang terjadi 200 tahun yang lalu, yang diperkirakan merupakan awal dari jati diri Minangkabau ABS SBK. Gebu Minang, misalnya, memprakarsai sseminar ejarah Perang Paderi bersama Arsip Nasional R.I. pada bulan Januari 2007, dan secara konsisten menindaklanjutinya dengan mendorong Gubernur Sumatera Barat untuk merumuskan ABS SBK, dan sekarang ini memprakarsai Kongres`Kebudayaan Minangkabau tahun 2010 tanggal 7-8 Agustus 2010 di Bukit Tinggi.* *Sekedar masukan bagi Sanak, saya lampirkan Kerangka Acuan Kongres `tersebut sekedar untuk menunjukkan bahwa orang Rantau benar-benar mempelajari latar belakang Minangkabau. Jika Sanak ingin mengetahui lebih dalam persiapan apa yang telah dilakukan dalam melaksanakan Kerangka Acuan tersebut, saya persilahkan Sanak melihat page 'KONGRES KEBUDAYAAN MINANGKABAU' dalam Face Book ini, yang dikelola secara sukarela oleh Sanak Armen Zulkarnain, yang juga berdomisil di Padang. Jika perlu silakan menemui beliau secara langsung. Buat perjanjian melalui Face Book ini. **jawab*: Saya sangat senang dapat mendengar informasi bahwa masyarakat rantau telah melakukan hal yang sangat baik untuk mempelajari sejarah dan perkembangan sosial Minangkabau semenjak 200 tahun yang lalu, namun saya ingin bertanya apakah tolak ukur kebudayaan berawal dari 200 tahun yang lalu?.oh ya disini saya memakai masyarakat karena saya yakin bahwa pelaksananya bukan satu orang :). Atas masukan yang bapak berikan berupa bentuk ToR Kebudayaan Minangkabau yang salah satu targetnya adalah memperkenalkan ABS-SBK sebagai jati diri dan identitas kebudayaan minangkabau??? sampai saat ini saya masih mempertanyakan bagaimana kita menetapkan jati diri dan identitas karena hal itu perlu di kaji secara mendalam dan dapat disepakati berdasarkan ontologi, epistomologi dan metodologi/aksiologi?, tentu bapak bisa memahami itu karena bapak seorang pengajar :) 2) "Jika dikaitkan dengan pendidikan para pelajar yang mencicipi pendidikan di ranah minang apakah para pelajar yang merupakan bibit generasi mendatang telah mendapatkan bekal/pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai yang semestinya?" *Jawag Itu yang sedang diperjuangkan kembali melalui Kongres Kebudayaan Minangkabau ini, Sanak. Bukan hanya memuat pokok-pokok ABS SBK saja, tetapi juga tentang lembaga, etika, serta bahan kajian lebih lanjut tentang ABS SBK sebagai 'roh' dari Kebudayaan Minangkabau ini. Untuk rinciannya, sya persilakan Sanak membaca Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres yang sudah saya sebut di atas.* *Jawab*: saya sangat senang akan ada kongres kebudayaan ini, selain telah dirintis sejak waktu yang cukup panjang hingga realisasi yang akan terlaksana pada tanggal 7-8 agustus 2010 mendatang. apalagi muatannya bukan hanya tentang ABS-SBK ada juga lembaga, etika, yang menjadi pertanyaan saya apakah draft 16 kesepakatan tentang ABS-SBK tersebut telah bapak baca dengan seksama? saya yakin bapak sebagai steering committe telah membacanya, begitu juga saya yang mengunduh file tersebut saya menemukan beberapa hal yang kurang pas, nanti saya akan kirimkan kepada bapak file tersebut dengan dilengkapi komen dari saya jika bapak berkenan. bagaimana dengan lembaga! apakah ada kesalahan dengan lembaga yang ada saat ini? apakah akan dibentuk lembaga dengan susunan yang baru lagi sesuai dengan yang tertulis didalam draft tersebut, berapa banyak lagi lembaga yang hendak kita buat sehingga distorsi sistim kebudayaan Minangkabau menjadi sangat besar?. lalu bagaimana dengan etika, apakah etika keadatan sesuai dengan nilai kebudayaan telah rusak? kenapa itu bisa terjadi apakah karena lembaga yang ada tidak mendidik masyarakatnya untuk beretika atau hal lain yang menyebabkannya??? 3) "Memang mudah melihat kekurangan dari luar sana, dan jangan melihat bahwa masyarakat tidak mengakui kekurangan/kesalahan!!! Enak bagi manusia yang telah mencapai kemakmuran untuk dirinya, namun biasanya lupa dengan lingkungannya atau sengaja melupakan identitas dirinya karena merasa dirugikan dengan apa yang ditawarkan sistem masyarakatnya!!!" *Jawab: Pendapat Sanak bahwa seluruh orang Rantau hanya melihat dari luar atau sudah mencapai kemakmuran adakah salah besar. Jangan lupakan bahwa orang Rantau itu orang Minang juga, yang bukan saja sesekali pulang kampung, tetapi juga hidup dalam sistim nilai Minangkabau, dan mengirinkan sebagian penghasilannya kepada sanak saudaranya ke Sumatera Barat. Menurut seorang perantau -- Ami Aziz dari Pariaman -- beda orang Ranah dan orang Rantau hanya pada KTP dan tempat tidur saja. Jangan pernah menganggap orang Rantau itu sebagai orang asing !* *Jawab*: Saya yakin bahwa Dunsanak yang ada dirantau sesekali pulang tapi tetap saja hidup dirantau dan tidak terlibat langsung dengan sistim yang berjalan didaerah lingkar kebudayaan terdekat. salah besar yang bapak nilai dari pendapat saya karena bapak memotong rangkaian kalimat yang saya tuliskan. saya menulis *Enak bagi manusia yang telah mencapai kemakmuran untuk dirinya, namun biasanya lupa dengan lingkungannya atau sengaja melupakan identitas dirinya karena merasa dirugikan dengan apa yang ditawarkan sistem masyarakatnya!!!"* begitulah pertanyaan saya tidak seperti yang bapak tuliskan * bahwa seluruh orang Rantau hanya melihat dari luar atau sudah mencapai kemakmuran adakah salah besar.* *Berikutnya, jangan Sanak pernah mengira bahwa semua orang Rantau 'telah mencapai kemakmuran untuk dirinya'. Sebagian kecil tentu saja iya, sudah tapi untuk sebagian besar masih harus berjuang untuk mencari nafkah. Jangan lupakan bahwa Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang ydi Jakarta, ang dahulu bagaikan 'dikuasai' oleh pedagang orang Minang, telah lama beropidah tangan. Para pedagang kaki lima -- yang sebagiannya adalah orang Minang juga --di Jakarta terbirit-birit dikejar oleh Satpol PP, seperti di Padang ini juga. [ Saya yang sudah berumur 73 tahun dan sudah pensiun ini juga belum dapat berleha-leha, dan masih harus mengajar di sana sini untuk menambah pensiun !]. **Jawab*: saya tidak menyebutkan seluruh perantau sudah mencapai kemakmuran untuk dirinya, sudah saya berikan pada jawaban sebelumnya. terkait dengan kasuitik yang bapak angkat itu adalah hal yang lumrah karena pedagang dari minang merasa menguasai dalam tanda kutip pada penjelasan bapak... semestinya pedagang minang menguasai sehingga tidak harus lari terbirit-birit dikejar Satpol PP "tolong artikan positif". umur bapak yang 73 th bukan alasan bapak untuk berleha-leha itu adalah hal yang dianjurkan Rasulullah bapak tentu pernah tahu hadistnya saya bukan Alim Ulama jadi saya tidak akan membahas ini. 4) "Apakah bapak-bapak menyadari bahwa sistim sosial masyarakat minang telah dikikis habis oleh budaya yang datang karena kepentingan-kepentingan golongan/pihak tertentu, lihatlah kembali sejarah yang tertulis dan tidak tertulis tanpa membatasi pada skala umur yang kita miliki. kadang umur kita tidak berbicara sejarah." *Jawab: Jalan fikiran yang selalu menyalahkan fihak luar ini yang saya khawatirkan, bukan saja oleh karena sebagian penyebabnya itu justru berasal dari dalam sendiri, tetapi juga oleh karena agama kita Islam mengajarkan bahwa nasib kita tak akan berubah jika bukan kita sendiri mengubahnya [Q:13:11]. Sanak perlu mencoba untuk juga mawas diri.* *Jawab*: saya telah mengakui bahwa tidak hanya pihak luar yang mengakibatkan perubahan yang terjadi pada nilai kebudayaan Minang! namun biasanya pengaruh perubahan besar pada tataran sosial masyarakat karena nilai yang dibawa dari luar kedalam itulah faktor utamanya kita bisa bertolak ukur pada kebudayaan banten, ada luar dan dalam atau bali! "jangan diartikan salah saya menuliskan tentang proses" saya akan mengingat pesan bapak untuk mawas diri saya terima kasih atas pesannya. 5) "kritik tanpa kearifan didalam diri berarti menghancurkan." *Jawab : Rasanya , dalam melancarkan kritik, orang Rantau juga sudah cukup memadai dalam menimba rangkaian kearifan yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran dan Hadits; pepatah petitih, rangkaian undang-undang, dan 125 buah buku, seperti dapat dibaca dalam Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres yang saya sebut di atas.* Jawab: Pada kutipan ini saya bermaksud untuk mengingatkan diri saya dan pembaca sekalian! tidak ada bermaksud untuk men-cap siapa-siapa :). *Sudah barang tentu, saya sebagai Ketua Steering Committee Kongres Kebudayaan Minangkabau akan menyambut baik tambahan kearifan yang akan Sanak sampaikan.* Pada 6 Juni 2010 00:54, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis: > Waalaikumsalam ww Sanak Alfa Noranda di Padang, > > Saya telah membaca baik-baik tanggapan Sanak terhadap *thread *yang saya > angkat, yaitu tentang tetap baralek di tengah musibah. Saya berterima kasih > Sanak tidak membantah kenyataan tersebut, oleh karena materinta selain > merupakan kutipan dari buku yang diterbitkan oleh pemerintah kota Padang, > juga dikukuhkan oleh saksi mata, Sanak Lembang Alam, yang menyaksikan > sendiri kenyataan itu. > > Yang Sanak permasalahkan adalah hal-hal di luar itu, yang saya kutipkan > kembali di bawah ini, dan saya coba menanggapinya semampu saya, sebagai > berikut. > > 1) "Pernahkah kita apa yang melatarbelakangi kenapa hal ini bisa > terjadi?" > > > *Jawab : Mungkin yang Sanak maksud 'pernahkah kita 'mempelajari' apa yang > melatarbelakangi kenapa hal ini bisa terjadi' ? Sudah barang tentu, Sanak. > Bisa Sanak perhatikan, bahwa orang Rantau tidak kalah intensifnya > mempelajari sejarah dan perkembangan sosial Minangkabau. Bukan hanya tentang > yang terjadi hari ini, tetapi juga paling tidak yang terjadi 200 tahun yang > lalu, yang diperkirakan merupakan awal dari jati diri Minangkabau ABS SBK. > Gebu Minang, misalnya, memprakarsai sseminar ejarah Perang Paderi bersama > Arsip Nasional R.I. pada bulan Januari 2007, dan secara konsisten > menindaklanjutinya dengan mendorong Gubernur Sumatera Barat untuk merumuskan > ABS SBK, dan sekarang ini memprakarsai Kongres`Kebudayaan Minangkabau tahun > 2010 tanggal 7-8 Agustus 2010 di Bukit Tinggi.* > ** > *Sekedar masukan bagi Sanak, saya lampirkan Kerangka Acuan Kongres > `tersebut sekedar untuk menunjukkan bahwa orang Rantau benar-benar > mempelajari latar belakang Minangkabau. Jika Sanak ingin mengetahui lebih > dalam persiapan apa yang telah dilakukan dalam melaksanakan Kerangka Acuan > tersebut, saya persilahkan Sanak melihat page 'KONGRES KEBUDAYAAN > MINANGKABAU' dalam Face Book ini, yang dikelola secara sukarela oleh Sanak > Armen Zulkarnain, yang juga berdomisil di Padang. Jika perlu silakan menemui > beliau secara langsung. Buat perjanjian melalui Face Book ini.* > > 2) "Jika dikaitkan dengan pendidikan para pelajar yang mencicipi > pendidikan di ranah minang apakah para pelajar yang merupakan bibit generasi > mendatang telah mendapatkan bekal/pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai > yang semestinya?" > *Jawag Itu yang sedang diperjuangkan kembali melalui Kongres Kebudayaan > Minangkabau ini, Sanak. Bukan hanya memuat pokok-pokok ABS SBK saja, tetapi > juga tentang lembaga, etika, serta bahan kajian lebih lanjut tentang ABS > SBK sebagai 'roh' dari Kebudayaan Minangkabau ini. Untuk rinciannya, sya > persilakan Sanak membaca Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres yang sudah > saya sebut di atas.* > ** > > 3) "Memang mudah melihat kekurangan dari luar sana, dan jangan melihat > bahwa masyarakat tidak mengakui kekurangan/kesalahan!!! > > > Enak bagi manusia yang telah mencapai kemakmuran untuk dirinya, namun > biasanya lupa dengan lingkungannya atau sengaja melupakan identitas dirinya > karena merasa dirugikan dengan apa yang ditawarkan sistem masyarakatnya!!!" > *Jawab: Pendapat Sanak bahwa seluruh orang Rantau hanya melihat dari luar > atau sudah mencapai kemakmuran adakah salah besar. Jangan lupakan bahwa > orang Rantau itu orang Minang juga, yang bukan saja sesekali pulang kampung, > tetapi juga hidup dalam sistim nilai Minangkabau, dan mengirinkan sebagian > penghasilannya kepada sanak saudaranya ke Sumatera Barat. Menurut seorang > perantau -- Ami Aziz dari Pariaman -- beda orang Ranah dan orang Rantau > hanya pada KTP dan tempat tidur saja. Jangan pernah menganggap orang Rantau > itu sebagai orang asing !* > ** > *Berikutnya, jangan Sanak pernah mengira bahwa semua orang Rantau 'telah > mencapai kemakmuran untuk dirinya'. Sebagian kecil tentu saja iya, > sudah tapi untuk sebagian besar masih harus berjuang untuk mencari nafkah. > Jangan lupakan bahwa Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang ydi Jakarta, ang > dahulu bagaikan 'dikuasai' oleh pedagang orang Minang, telah lama beropidah > tangan. Para pedagang kaki lima -- yang sebagiannya adalah orang Minang juga > --di Jakarta terbirit-birit dikejar oleh Satpol PP, seperti di Padang ini > juga. [ Saya yang sudah berumur 73 tahun dan sudah pensiun ini juga belum > dapat berleha-leha, dan masih harus mengajar di sana sini untuk menambah > pensiun !].* > > 4) "Apakah bapak-bapak menyadari bahwa sistim sosial masyarakat minang > telah dikikis habis oleh budaya yang datang karena kepentingan-kepentingan > golongan/pihak tertentu, lihatlah kembali sejarah yang tertulis dan tidak > tertulis tanpa membatasi pada skala umur yang kita miliki. kadang umur kita > tidak berbicara sejarah." > *Jawab: Jalan fikiran yang selalu menyalahkan fihak luar ini yang saya > khawatirkan, bukan saja oleh karena sebagian penyebabnya itu justru berasal > dari dalam sendiri, tetapi juga oleh karena agama kita Islam mengajarkan > bahwa nasib kita tak akan berubah jika bukan kita sendiri mengubahnya > [Q:13:11]. Sanak perlu mencoba untuk juga mawas diri.* > ** > > 5) "kritik tanpa kearifan didalam diri berarti menghancurkan." > *Jawab : Rasanya , dalam melancarkan kritik, orang Rantau juga sudah cukup > memadai dalam menimba rangkaian kearifan yang terkandung dalam ayat-ayat > Al Quran dan Hadits; pepatah petitih, rangkaian undang-undang, dan 125 buah > buku, seperti dapat dibaca dalam Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres yang > saya sebut di atas.* > ** > *Sudah barang tentu, saya sebagai Ketua Steering Committee Kongres > Kebudayaan Minangkabau akan menyambut baik tambahan kearifan yang akan Sanak > sampaikan.* > > Mohon maaf, karena dalam Rantau Net ini diharapkan para netters juga > menyebutkan umurnya, boleh saya bertanya berapa umur Sanak ? > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta) > > > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta) > > > > --- On *Sat, 6/5/10, fosil73 <[email protected]>* wrote: > > > From: fosil73 <[email protected]> > Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] TETAP BARALEK DI TENGAH MUSIBAH > To: [email protected] > Date: Saturday, June 5, 2010, 11:22 AM > > Assalamualaikum WR.WB. > > Tauik tangan manakan sambah, > Salam untuk urang salingka adaik. > > cukup menarik posting yang bapak-bapak bicarakan dalam posting ini, bentuk > refleksi perantau dalam memandang keadaan wilayah utama Minangkabau baik > darek ataupun rantaunya. > sebuah interpretasi tajam dalam memunculkan kritik terhadap masyarakat yang > masih berada dekat didalam lingkaran kebudayaan aslinya. > ada yang menyampaikan bahwa masyarakat tidak mempunyai raso pareso, tidak > punya etika, tidak ada soliodaritas dan deskripsi lainnya tentang masyarakat > Minang. > hal yang lumrah saya pikir, hakikat manusia yang selalu melihat dalam > perspektif negatif, menganggap sesuatu yang terjadi menjadi kesalahan... > > pernahkah kita berpikir bahwa bila yang dibahas dalam posting adalah diri > kita, keluarga kita atau lingkungan kita? > > Pernahkah kita apa yang melatarbelakangi kenapa hal ini bisa terjadi? > > Jika dikaitkan dengan pendidikan para pelajar yang mencicipi pendidikan di > ranah minang apakah para pelajar yang merupakan bibit generasi mendatang > telah mendapatkan bekal/pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai yang > semestinya? > > Memang mudah melihat kekurangan dari luar sana, dan jangan melihat bahwa > masyarakat tidak mengakui kekurangan/kesalahan!!! > > Enak bagi manusia yang telah mencapai kemakmuran untuk dirinya, namun > biasanya lupa dengan lingkungannya atau sengaja melupakan identitas dirinya > karena merasa dirugikan dengan apa yang ditawarkan sistem masyarakatnya!!! > > Apakah bapak-bapak menyadari bahwa sistim sosial masyarakat minang telah > dikikis habis oleh budaya yang datang karena kepentingan-kepentingan > golongan/pihak tertentu, lihatlah kembali sejarah yang tertulis dan tidak > tertulis tanpa membatasi pada skala umur yang kita miliki. kadang umur kita > tidak berbicara sejarah. > > kritik tanpa kearifan didalam diri berarti menghancurkan. > > sekian, > maaf jika ada kata-kata yang salah dan menyinggung. > -- > Alfa Noranda > (Basuku Koto Generasi ke-8 dari Ranji Kaum suku Koto Aur Duri) > > Alamat : Nagari VIII Suku Kota Padang > Email : > [email protected]<http://us.mc575.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > Blog :http://fosil73.wordpress.com > mobile :+62 819 775 068 04 > > > -- > . > Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di > tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E> > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting > - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. > -- Alfa Noranda, 25 th (Basuku Koto Generasi ke-8 dari Ranji Kaum suku Koto Aur Duri) Alamat : Nagari VIII Suku Kota Padang Email : [email protected] Blog :http://fosil73.wordpress.com mobile :+62 819 775 068 04 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
