Assalamualaikum Wr Wb
Dunsanak dipalanta, Mamak, BUndo, Kawan jo Karean dan Milister yang berbahagia
Kemaren sore, ketika menemani calon induak bareh mencari buku di Gramedia
Pejaten Village, mata saya tertumbuk pada sebuah buku berwarna hitam dengan
siluet patung Bhairawa Adityawarman, bertajuk Maharaja Diraja Adityawarman.
(sinopsis buku bis a dilihat disini ).
Terlepas dari plus minus penyajian dan tekni penulisan maupun gaya bahasa yang
menurut saya kurang enak untuk baca, (saya sendiri cenderung mn skip beberapa
halaman yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan kisah Adityawarman
dan Minangkabau), tapi paling tidak banyak gambaran dan beberapa keterhubungan
sejarah antara Minangkabau sebagai tanah asal leluhur bangsa Melayu, yang
diteruskan dengan era Minang Tamwan, Melayu Chanpei (Jambi) di Muara Takus, dan
Puncak Kerajaan Sriwijaya dan terakhir di Dharmasyraya yang kemudian menjadi
Swarnabhumi dan menjelma menjadi Pagaruyung.
sedikit kebanggaan sebagai orang Minang terbesit di hati saya, ternyata dari
Minangkabaulah hulu segala peradaban di tanah Sumatera (meskipun saya yakin
pendapat ini tidak akan serta merta disetujui oleh propinsi lain, spt Aceh akan
ngotot dengan Kandis sebagai Hulu peradaban Sumatera, Jambi dengan Muara
Takusnya dan Sumsel dengan Sriwijayanya).
Tapi disayangkan, buku ini lebih banyak mengulas prahara di Majapahit ketimbang
kemelut pemindahan Pusat Istana Melayu pura dari Siguntur ke Saroaso dan
berakhir di BUkit Gombak, tidak ada cerita dengan Upacara pengangkatan
Adityawarmans ebagai Bahirawa, atau perdebatan seluruh nagari dan rantau ketika
Adityawarman di jadikan daulat yang dipatuan.
Kisah Tambo Bundo Kanduang, Cindua Mato dan Dang Tuanku juga tidak terlukis
dalam novel ini. Padahal legenda inilah yang sangat melekat dalam benak
masyarakat Minangkabau. Penokohan Dara Jingga yang kemudian dianalogikan
sebagai bundo kanduang dan Adityawarman dengan Dang Tuanku (meskipun tidak
eksplisit), tetap saja masih mebuat selimut kelabu antara Adityawarman yang
memang terpatri namanya dalam puluhan prasasti dan naskah dengan Bundo Kanduang
yang terpatri dalan sanubari orangminangkabau.
Saya kemudian berhayal lagi, andaikan urang saya banyak, dan saya berniat
memfilmkan kisah Adityawarman, paling tidak kisah ini dapat dibagi menjadi
Tetralogi epik sejarah:
1. masa Pamalayu sampai kelahiran Adityawarman di istana Darmasyraya)
2. Masa Muda dan Pengembaraan Adityawarman
3. Masa Kembalinya Adityawarman ke Dharmasyaraya dan Penyatuan Minangkabau dan
berdirinya Pagaruyung
4. Masa Kejayaan Pagaruyung dan Peristiwa Padang Sibusuk
Mungkin apabila penulis cerita membagi Novel Adityawarman dalam Tetralogi
tersebut, tentu akan lebih menarik dan lebih dalam makna novel tersebut.
Salam Hangat
Wassalam
Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.