Yth Pak Syamsir... Sewaktu saya ke Pekanbaru, seorang sahabat saya putra pekanbaru berdarah Minang, juag berkata demikian. Candi Muara Takus yang selama ini digadang-gadangkan identik dengan Jambi, ternyata berada di wilayah Administratif Propinsi Riau. Setelah saya cek peta, memang demikian adanya. Namun kesininya saya mengambil kesimpulanberbeda. Untuk memahami sejarah, khususnya sejarah Melayu (konteks melayu disini lebih luas, bukan hanya Melayu versi Pesisir yang menjadi mainsteam image Melayu), kita harus melepaskannya dari sekat-sekat batas teritorial propinsi. Wilayah Melayu Chanpei (atau Jambi), bisa saja bukan berada pada kota Jambi saat ini atau sebaliknya. Tapi keberadaan wilayah kekuasaan melayu Chanpei berada tepat ditengah2 perbatasan ketiga propinsi (Sumbar - Riau - Jambi), atau tepatnya didaerah sekitar lubuk Jambi dan cerenti, dan pusatnya mungkin disekitar muara takus) dan sepanjang aliran hulu Batanghari dan . Atau bisa jadi, komplek Muara Takus adalah pusat peribadatan, sedangkan pusat pemerintahan dan pelabuhannya berada di kota Jambi saat ini. Kalau buat saya sih, saya cenderung melepaskan diri dari konstruksi propinsi dan identitas yang bernama propinsi. Buat saya, propinsi tidak mencerminkan apapun kecuali pembatasan wilayah administrasi kenegaraan, budaya adalah entitas yang tidak bisa dikotak-kotakkan oleh konstruksi tersebut.
Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 --- On Mon, 7/5/10, sjamsir_sjarif <[email protected]> wrote: From: sjamsir_sjarif <[email protected]> Subject: Re: [...@ntau-net] Novel Historiography Maharaja Diraja Adityawarman To: [email protected] Date: Monday, July 5, 2010, 1:00 AM Setidak-tidaknya saya lihat ada dua kali Jambi dan Muara Takus di sebut-sebut, (1) "Melayu Chanpei (Jambi) di Muara Takus" dan (2) "Jambi dengan Muara Takusnya". Seperti ada kekeliruan, setidak-tidaknya dalam pengertian saya membacanya: 1. Apakah Jambi di Muara Takus? 2. Ataukah Mura Takus kepunyaan Jambi. Merujuk peta, Jambi (sebagai kota) dan Muara Takus (sebagai tempat Candi) mungkinkah ada kekeliruan pula dalam penulisan dan interpretasi? Kebetulan saya sudah pernah ke Muara Takus yang jaraknya jauh dari Jambi. Salam, --MakNgah -- Sjamsir Sjarif --- In [email protected], "Riri Mairizal Chaidir" <riri.chai...@...> wrote: > > Bot, > > > > Silahkan dimulai Tetraloginya. Saya bersedia jadi pembantu > > > > Riri > > Bekasi, l, 48 > > > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On > Behalf Of Bot S Piliang > Sent: Monday, July 05, 2010 11:03 AM > To: [email protected] > Subject: [...@ntau-net] Novel Historiography Maharaja Diraja Adityawarman > > > > > Assalamualaikum Wr Wb > > Dunsanak dipalanta, Mamak, BUndo, Kawan jo Karean dan Milister yang > berbahagia > > Kemaren sore, ketika menemani calon induak bareh mencari buku di Gramedia > Pejaten Village, mata saya tertumbuk pada sebuah buku berwarna hitam dengan > siluet patung Bhairawa Adityawarman, bertajuk Maharaja Diraja Adityawarman. > (sinopsis buku bis a dilihat disini > <http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=6455> > ). > > Terlepas dari plus minus penyajian dan tekni penulisan maupun gaya bahasa > yang menurut saya kurang enak untuk baca, (saya sendiri cenderung mn skip > beberapa halaman yang menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan kisah > Adityawarman dan Minangkabau), tapi paling tidak banyak gambaran dan > beberapa keterhubungan sejarah antara Minangkabau sebagai tanah asal leluhur > bangsa Melayu, yang diteruskan dengan era Minang Tamwan, Melayu Chanpei > (Jambi) di Muara Takus, dan Puncak Kerajaan Sriwijaya dan terakhir di > Dharmasyraya yang kemudian menjadi Swarnabhumi dan menjelma menjadi > Pagaruyung. > sedikit kebanggaan sebagai orang Minang terbesit di hati saya, ternyata dari > Minangkabaulah hulu segala peradaban di tanah Sumatera (meskipun saya yakin > pendapat ini tidak akan serta merta disetujui oleh propinsi lain, spt Aceh > akan ngotot dengan Kandis sebagai Hulu peradaban Sumatera, Jambi dengan > Muara Takusnya dan Sumsel dengan Sriwijayanya). > Tapi disayangkan, buku ini lebih banyak mengulas prahara di Majapahit > ketimbang kemelut pemindahan Pusat Istana Melayu pura dari Siguntur ke > Saroaso dan berakhir di BUkit Gombak, tidak ada cerita dengan Upacara > pengangkatan Adityawarmans ebagai Bahirawa, atau perdebatan seluruh nagari > dan rantau ketika Adityawarman di jadikan daulat yang dipatuan. > Kisah Tambo Bundo Kanduang, Cindua Mato dan Dang Tuanku juga tidak terlukis > dalam novel ini. Padahal legenda inilah yang sangat melekat dalam benak > masyarakat Minangkabau. Penokohan Dara Jingga yang kemudian dianalogikan > sebagai bundo kanduang dan Adityawarman dengan Dang Tuanku (meskipun tidak > eksplisit), tetap saja masih mebuat selimut kelabu antara Adityawarman yang > memang terpatri namanya dalam puluhan prasasti dan naskah dengan Bundo > Kanduang yang terpatri dalan sanubari orangminangkabau. > Saya kemudian berhayal lagi, andaikan urang saya banyak, dan saya berniat > memfilmkan kisah Adityawarman, paling tidak kisah ini dapat dibagi menjadi > Tetralogi epik sejarah: > 1. masa Pamalayu sampai kelahiran Adityawarman di istana Darmasyraya) > 2. Masa Muda dan Pengembaraan Adityawarman > 3. Masa Kembalinya Adityawarman ke Dharmasyaraya dan Penyatuan Minangkabau > dan berdirinya Pagaruyung > 4. Masa Kejayaan Pagaruyung dan Peristiwa Padang Sibusuk > > Mungkin apabila penulis cerita membagi Novel Adityawarman dalam Tetralogi > tersebut, tentu akan lebih menarik dan lebih dalam makna novel tersebut. > > Salam Hangat > Wassalam > > Bot Sosani Piliang > Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream > www.botsosani.wordpress.com > Hp. 08123885300 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
