Alhamdulillah, akhirnya saya dapat menunaikan amanah dari Rang Dapua (Nakan 
Nofend) untuk melewakan kembali catatan perjalanan yang pernah saya lewakan ke 
Palanta sepulang menunaikan ibadah haji dengan isteri pada musum haji tahun 
1423H yang bertepatan dengan tahun 2003 Masehi yang lalu.

Adanya beberapa tanggapan positif dari sanak kamanakan terhadap catatan 
sederhana tini menggembirakan saya, artinya posting ulang tersebut merupakan 
pekerjaan yang tidak sia-sia. 

Bahan-bahan yang saya lewakan tersebut saya `preteli' dari edisi e-book yang 
saya edit tahun 2005 (sama dengan yang dilewakan di situs Cimbuak. Sebelum 
dilewakan saya baca ulang dengan teliti dan saya koreksi sejumlah ungkapan yang 
tata bahasanya saya anggap kurang tepat, mencoret beberapa ungkapan yang kurang 
perlu serta mengubah dan menambah beberapa detil untuk memberikan aksentuasi 
dan kejelasan. Tidak dinyana—Alhamdulillah—kegiatan tersebut seakan-akan 
membawa saya kembali ke berbagai peristiwa yang terjadi lebih dari tujuh tahun 
yang lalu yang tidak jarang pula menerbitkan rasa haru.

Perjalanan haji yang sebagian besar saya jalani dalam keadaan sakit melatih 
saya untuk tidak hanya yakin kepada `keberadaan' Allah, tetapi juga semakin 
yakin akan kekuasaanNya, kasih sayang dan pengampunanNya yang tiada terbatas 
bagaikan samudera tiada bertepi, sebagaimana firmanNya, bahkan kepada 
hamba-hambaNya yang melampaui bataspun diseruNya untuk tidak berputus asa akan 
rakhmatNya, melatih diri agar jangan berburuk sangka kepadaNya apapun yang 
terjadi menimpa diri. Saya menjadi lebih tabah dan optimis menghadapi berbagai 
ujian dan cobaan kehidupan, bahwa sesuai dengan janjiNya, " pada setiap 
kesempitan ada kelapangan". Dan ini merupakan modal yang sangat berharga bagi 
saya pada saat usia semakin menua, kemampuan mencari nafkah semakin menurun 
tetapi kebutuhan dan keperluan hidup malahan semakin meningkat :).

Insya Allah koreksian tersebut di atas akan saya masukkan ke edisi e-book dan 
setelah selesai akan saya kirim ulang ke situs Cimbuak guna mengganti edisi 
2005. Jadi jika sanak kamanakan di Palanta ada yang ketinggalan atau terhapus 
dapat mengopinya di sana.

Perlu saya tambahkan, bahwa saya dulu termasuk kelompok gelombang kedua yang 
langsung ke Makkah dan melaksanakan umrah haji dan haji terlebih dahulu, baru 
10 hari sebelum kepulangan ke Tanah Air baru berziarah dan melakukan arbain di 
Madinah. Sedangkan kelompok haji gelombang pertama ke Madinah dulu setelah 
selesai berziarah dan melakukan arbain baru menuju Makkah untuk berumrah dan 
berhaji dengan bermiqad di Bir Ali. Bagi yang menggunakan Garuda turun di 
Jeddah dan dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Madinah, sedangkan yang 
menggunakan Saudia Air langsung terbang ke dan turun di Madinah. 

Selain itu, seperti saya baca di media berbagai perubahan sudah banyak terjadi, 
bukan ke arah yang lebih baik; pemondokan semakin jauh dari Masjidil Haram, 
fasilitas transportasi yang semakin kurang memadai, pembagian makanan di ruang 
kedatangan sudah tidak ada lagi, penyediaan katering secara prasmanan di Arafah 
dan Mina—menyebabkan sebagian jemaah ada yang tidak kebagian makanan—yang sukar 
bagi saya untuk menalar alasannya. Namun yang cukup menjengkelkan saya adalah 
belum dilengkapinya Terminal Haji di Bandara Sukarno-Hatta dengan garbarata 
yang memberatkan jemaah yang sudah agak uzur untuk boarding atau turun dari 
pesawat. Apalagi kalau hujan. Perubahan yang positif justru yang dilakukan 
Pemerintah KSA seperti pembangunan fasilitas pelemparan jamarat dengan biaya 
yang tidak kecil guna (sangat) memperkecil risiko terjadi kecelakaan yang tidak 
jarang menyebabkan timbulnya banyak korban jiwa serta ketentuan tanpa kompromi 
bahwa setiap calon jemaah haji wajib memperoleh vaksinasi meningitis sebelum 
berangkat. Meningitis adalah penyakit yang sangat menyakitkan dan mematikan 
serta membuat yang terkena sangat menderita

Allah SWT bukan berhala yang demi untuk memulyakannya mengorbankan diri dan 
nyawa manusia sah-sah saja.

Sebelum mengakhiri catatan ini, saya ingin mengulangi lagi apa yang telah 
sampaikan sebelum ini, bahwa saya sangat berterima kasih jika ada sanak 
kamanakan di Palanta yang dapat membantu mencarikan penerbit yang bersedia 
menerbitkan catatan sederhana ini dalam bentuk buku agar dapat dibaca oleh 
lebih banyak lagi para calon  haji dan/atau yang ingin mengetahui lebih banyak 
mengenai pelaksanaan Rukun Islam kelima ini.

Semoga. 

Wabillahi Taufiq wal Hidayah 

Wassalam, HDB-SBK (L, 67-)
Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat  


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke