Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu


Katiko heboh harago lado maha, takana ado dulu carito nan 'nyerempet-nyerempet' 
urusan lado..... Kalau indak salah caritoko tarinspirasi katiko almarhum mak 
Ban 
bacarito baliau ampia kanai copet........ (Nan sabanano ado juo di 
http://www.palantalembangalam.blogspot.com).

 

PENCOPET PASAR ATAS …….
 
Hari Rabaa pukuah satu, Sadang rami di Bukiktinggi, Urang manggaleh barang 
mudo. (= Hari Rabu jam satu. Sedang ramai di Bukit Tinggi. Orang berdagang 
palawija). Begitu bunyi awal sebait pantun. Bukit Tinggi di hari Rabaa, alias 
hari Rabu sebagaimana juga di hari Sabtu ramai allahurabbi. Orang datang dari 
seputar Agam, bahkan dari Tanah Datar, Lima Puluh Koto dan dari Pasaman. Bahkan 
dari Padang dan Pekan Baru. Di Bukit Tinggi orang penggalas (=pedagang) kebat 
mengebat, pakuk memakuk, sayat menyayat. Heboh sebenar-benar heboh. Orang 
berserak di tengah balai. Yang menjual, yang membeli. Di pasar lereng jalan 
penuh oleh pedagang di bawah payung besar. Bukan…., tidak ada yang menyebutnya 
pedagang kaki lima. Orang yang ingin lalu harus berselingkit-selingkit 
(=berdesak-desak), di sela barang galas para pedagang, di sela ketiak orang 
lain, di sela kambuik (= keranjang dari anyaman mensiro atau sejenis pandan) 
gadang yang disandang amai-amai. Pasar itu heboh allahurabbi, oleh sorak dan 
sorai, oleh bunyi parang yang menetak dan memakuk. 

 
Begitu pula di jenjang yang bertingkat-tingkat. Orang menggalas belaka dimana 
saja ada tempat terbuka. Menggalas apa saja, jarum penjahit dan peniti, kain 
lap 
dan saputangan, pisau dan lading buatan Sungai Pua. Atau yang menggalas kerupuk 
jangek balatua (= kerupuk kulit yang sudah diproses) mentah, atau tulang 
cancang 
(=cencang), atau dadih di dalam sambang (=tabung bambu). Semua serba ada. 
Menggelar galas di sela-sela jalan orang lalu di jenjang gantung yang sempit 
berselingkit. Tidak ada yang menggerutu. Cara orang sekarang, tidak ada yang 
komplain. Semua berlapang dada saja. Semua mencari untung serupiah dua rupiah. 
Kenapa pula harus digerutui.
 
Di puncak pasar di Pasar Atas, sesudah melalui jenjang yang bertingkat-tingkat, 
sesudah melalui bau amis darah di pasar bantai, sesudah melalui bau anyir di 
pasar maco, menguap bau harum sate yang bukan sate Padang karena yang berjualan 
orang Pakan Kamih. Sate mak Mamuik (Mahmud) dan sate mak Aciak. Asapnya 
menjulang ke udara. Baunya yang semerbak menimbulkan rasa lapar. Ada pula bunyi 
bakalentongpentong orang mengaduk es di sampingnya. Es batu yang baru saja 
diketam untuk dicampurkan ke mangkuk es te bak yang sekarang diaduk dengan 
suara 
bakalentongpentong. Entah kenapa namanya es te bak. Tapi yang jelas rasanya 
bukan main nyaman, penawar pedas sesudah menyantap sepiring sate. Ada lagi soto 
bang Karto dan soto Haji Minah bersebelah-sebelahan. Bukan........, keduanya 
bukan soto Padang. Orang yang membuatnya saja namanya bang Karto.
 
Pasar Atas ramai, idem ditto. Berselingkit pingkit orang lalu di antara jualan 
dan dagangan. Boleh masuk ke dalam los demi los. Yang di antaranya ada yang 
bernama los bergalung. Tempat orang berjualan kain dan alas kaki. Berjualan 
tikar dan lapik pandan. Berjualan segala macam rempah yang baunya harum 
menyebar 
kemana-mana. Berjualan tembakau dan daun terusan ataupun  daun enau, untuk 
digulung jadi paisok, yang bukan rokok.
 
Di lapangan di hadapan mesjid raya, di samping panggung (bioskop) Irian ada 
orang berjualan obat. Entah obat apa, tidaklah penting sangat. Yang berjualan 
suaranya parau. Banyak ceritanya. Berseleperan mulutnya. Kadang-kadang 
dibuatnya 
atraksi seperti tukang sulap. Berkerumun orang menonton dalam sebuah lingkaran 
besar. Penjual obat beraksi di tengah-tengah. Berjalan hilir mudik sambil 
mulutnya tidak henti-henti berceloteh. Mengiklankan obat pencahar yang 
dijualnya. Gelarnya konon Datuk Dalu. Obat yang dijualnya adalah untuk yang 
bermasalah dan sulit ke belakang. Kalau sudah memakan obat Datuk Dalu, puuut 
bunyi kentut, ceeer bunyi isi perut menyemprot sampai sejauh tiga meter. Meski 
yang berkerumun berbilang puluhan, yang membeli hanya empat lima orang tidaklah 
penting bagi Datuk Dalu. 

 
Beberapa puluh meter ke arah sana ada pula kerumunan yang lain. Tukang obat 
juga. Agak sedikit jelas obat yang dijualnya. Air racikan daun-daunan yang 
nanti 
dicampurnya dengan telur ayam dan madu untuk diminum para pembeli. Iklannya 
terdengar lebih pasti. ‘Obatku obat istimewa, bukan omong kosong. Obat orang 
Jerman hanya elok untuk orang Jerman. Obat orang Jepang hanya elok untuk orang 
Jepang. Obatku boleh untuk semua makhluk. Orang Jerman boleh meminumnya. Orang 
Arab boleh meminumnya. Orang Jepang boleh meminumnya. Sedangkan diberikan ke 
kuda pun jadi obat bagi kuda. Diberikan ke gacik (=anjing) jadi obat bagi 
gacik. 
Ha, singgahlah disini. Minumlah obat sitawa sidingin penyembuh sakit kepala. 
Penyembuh sakit hulu hati.’ Begitu katanya. Tentu saja dia benar, karena telur 
dan madu memang diminum setiap bangsa untuk jadi obat.
 
Di tempat orang berkerumun menonton tukang obat itu ada pula yang sedang 
mengail 
rejeki. Caranya dengan merosok kantong orang diam-diam. Bagi yang serawarnya 
besar dan dompet diletakkan di kantong serawar besar itu alamat akan jadi 
makanan empuk si tukang rogoh. Si tukang copet ini biasanya berkawan, dua atau 
tiga orang. Tampangnya itu ke itu juga. Orang banyak yang tahu. Si tukang copet 
biasanya mencari tampang-tampang baru. Orang yang baru datang dari jauh. Orang 
kampung yang baru saja menjual hasil bumi. Orang merubung menonton penjual obat 
biasanya jadi sasaran enteng bagi pencopet. 

 
Barudin Sutan Bagindo pagi ini membawa 40 kilo lado (cabai merah) ke pasar 
Bukit 
Tinggi. Panen lado sedang elok-eloknya dan harganyapun sedang elok-eloknya 
pula. 
Dari hasil panen kali ini Barudin berniat akan mengganti atap ijuk rumah gadang 
dengan atap seng. Uang hasil penjualan lado itu dibaginya dua. Separo 
diletakkannya ke dalam puro (=kantong khusus) kain yang diikatkannya dengan 
tali 
di pinggang celana. Yang separo, yang akan dibayarkannya sebagai uang muka 
pembelian seng diletakkannya dalam saku baju gunting cina. Sesudah menerima 
uang 
pembayaran beli lado Barudin berjalan santai menuju pasar atas melalui jenjang 
empat puluh. Jenjang ini tidak seramai jenjang yang lain. Hal pertama yang akan 
dilakukan Barudin sesampai di pasar atas adalah pergi makan ke lepau nasi 
langganannya.
 
Di jalan yang sempit berselingkit di antara puncak jenjang empat puluh dan 
kedai 
nasi, Barudin terhalang oleh seorang laki-laki yang membungkuk mengambil 
saputangan jatuh. Tercatat juga di otaknya, bahwa agak aneh perbuatan orang 
laki-laki bersaputangan itu. Sempat terlihat olehnya roman muka orang itu yang 
berumur sekitar tiga puluh  tahun, yang tersenyum kepadanya. Barudin tidak 
berprasangka apa-apa. Dia terus melangkah ke lepau.
 
Barudin makan enak sampai berpeluh-peluh. Makan dengan gulai cancang kambing. 
Barulah dia terperangah ketika merogoh saku baju gunting cina untuk membayar. 
Saku itu sudah kosong melompong. 

 
Kapundung, katanya dalam hati. Ini rupanya arti tingkah si Kurapai yang 
membungkuk mengambil saputangan tadi. Uangnya sudah dicopet. Uang seharga 20 
kilo lado sudah raib digondol si pencopet.
 
Barudin tidak mau merisaukan diri gara-gara uangnya dicopet. Dikeluarkannya 
uang 
dari puro yang terikat di ikat pinggangnya untuk membayar nasi orang lepau. 
Uang 
yang diniatkannya akan diserahkan kepada istrinya. Barudin adalah seorang 
laki-laki ninik mamak di kampung, yang menenggang dunsanak perempuan dan 
bertanggung jawab kepada anak istri.
 
Dia tidak jadi singgah ke toko yang menjual atap seng. Biarlah besok hari Sabtu 
saja. Sesudah dia menjual lado pula di hari itu nanti. Dan mudah-mudahan dia 
bisa bertemu lagi dengan tukang copet kurapai tadi. Akan dijebaknya manusia 
jahil itu. Akan ditagihnya piutang kalau orang itu berjumpa lagi. Dia bergegas 
saja pulang ke kampungnya. Masih banyak kerja yang akan dikerjakan.
 
 
                                                                        ***
 
Sesuai rencana hari Sabtu berikutnya Barudin berangkat lagi ke pasar. Panen 
lado 
sedang naik. Hari ini hampir lima puluh kilo yang dibawanya. Alhamdulillah 
harganyapun bertambah elok. Lebih banyak bilangannya dari hari Rabu kemarin 
untuk sekilo lado. Barudin tidak perduli bahwa harga naik itu karena nilai uang 
kertas memang merosot terus dari sehari ke sehari. Ketika menerima uang harga 
lado dilakukannya persis seperti yang dikerjakannya tiga hari yang lalu. Uang 
itu diperduanya. Separo masuk puro dan separo masuk saku baju gunting cina. 
Hanya yang terakhir ini, kali ini dimasukkannya dulu ke dalam sebuah amplop. 
Kantong baju gunting cina menggelembung dengan amplop berisi uang kertas. 

 
Barudin mampir sebentar ke peturasan di dekat surau di pasar bawah. Seperti 
orang akan buang air kecil. Di kakus itu dikeluarkannya kembali uang yang di 
dalam amplop dan dimasukkannya semua ke dalam puro. Amplop itu diisinya dengan 
kertas sehingga tetap menggelembung dalam sakunya. Barulah dia melangkah keluar.
 
Hatinya berdetak bahwa dia sudah diamati orang sejak dia menerima uang 
pembelian 
lado tadi. Sekarang dia melangkah menuju jenjang empat puluh. Seperti hari Rabu 
kemarin. Melalui jalan yang sama. Dia akan menuju lepau yang sama. Persis 
ketika 
akan menjejak jenjang empat puluh yang sebenarnya, dia di dahului tiga orang 
laki-laki. Satu dari ketiga laki-laki itu mengatakan ‘daulu saketek, mak’ 
(=saya 
duluan, paman) dengan sopan. Dan orang itu adalah yang waktu itu mengambil 
saputangan jatuh.
 
Barudin bergumam dalam hati. Akan kuterima piutang, katanya.
 
Dia sampai di puncak jenjang. Di hadapannya adalah keramaian pasar dengan orang 
yang sangat banyak. Barudin berjalan saja menekur seperti biasa. Tapi kali ini 
dia sedang berhitung dan berencana. Akan menagih piutangnya.
 
Benar saja. Beberapa langkah menjelang lepau nasi. Di jalan yang sempit seperti 
kemarin. Tiba-tiba saja Barudin sudah berada di antara dua orang laki-laki. Di 
depannya adalah orang yang kemarin mengambil saputangan jatuh. Saat ini dia 
memegang sebungkus rokok Kansas. Di belakangnya terasa ada orang yang 
menyelingkit-nyelingkit sambil mendorong. Barudin sedang waspada penuh.
 
Nah, inilah saatnya. Yang di depan menjatuhkan bungkus rokoknya. Barudin 
melihat 
itu dengan jelas karena memang sudah ditunggunya dari tadi. Berikutnya orang 
itu 
membungkuk mengambil rokok dengan mukanya seperti kemarin lagi, melengah ke 
belakang ke arahnya sambil tersenyum. Tangan orang yang di belakangnya secepat 
itu pula merogoh ke dalam kantong baju gunting cina Barudin. Inilah yang 
ditunggunya dari tadi. Secepat kilat, tangan yang sedang berada di saku bajunya 
itu ditangkapnya dengan tangan kanannya. Cap, tertangkap. Orang itu berusaha 
melepaskan tangannya dengan muka ketakutan. Barudin tidak mengambil banyak 
tempo. Dengan sekelebatan yang hanya berbilang detik, tangan orang itu 
dikeripukkannya sampai berbunyi seperti tulang patah. Pada saat yang sama si 
tukang halang di depannya yang baru bangkit dari mengambil rokok disepohnya 
dengan kaki sehingga jatuh terjengkang.
 
Si perogoh melolong kesakitan. Telunjuk dan jari tengahnya patah 
terkulai-kulai. 
Si penghalang yang jatuh terjengkang luka, keningnya terhempas ke jalan. 
Barudin 
melihat orang ketiga. Dia sudah mengenalinya sejak menaiki jenjang tadi. Dia 
berbaju berwarna biru. Ketika orang ketiga ini berusaha menghindar, Barudin 
menarik pinggang celananya. Orang itupun pucat pasi ketika menoleh kepadanya. 
Dengan gerakan secepat kilat pula diraihnya tangan orang itu dan dipelintirnya 
dengan gerakan sangat cepat. Terkeripuk pula dengan bunyi tulang patah. Diapun 
melolong kesakitan.
 
Semua itu berlangsung dalam waktu tidak sampai lima belas detik. Orang di 
tengah 
balai yang ramai itu terheran-heran menyaksikan dua orang yang meraung-raung 
kesakitan. Tidak ada seorangpun yang tahu entah apa sebenarnya yang terjadi. 

 
Barudin mendekat ke si kening berdarah sebelum berlalu. ‘Ba karilahan wak yo,’ 
(=Saling mengikhlaskan kita, ya) katanya. Si kening berdarah hanya bisa 
menyeringai. Jual beli itu memang sudah selesai. Barudin mengambil untung 
sedikit dari ketiga sekawan yang kemarin sudah lebih dulu menerima uangnya. 
Hari 
ini giliran Barudin menerima piutang.
 
Barudin melanjutkan langkahnya ke lepau nasi. Makan nasi dengan gulai cancang 
seperti kemarin dulu. Bahkan dua kali bertambuh. Habis juga tenaganya sesudah 
bersilat tiga jurus tadi. Barulah sesudah itu dia pergi ke toko seng.
 
 
                                                                        *****
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke