Rabu, 21 Juli 2010 Padang, Singgalang. Sumbar memiliki ekosistem kawasan pesisir yang beragam dan kaya potensi. Fungsinya juga sungguh luar biasa, baik sebagai pelindung hingga sumber ekonomi. Tak pelak, kepedulian untuk mengelola ekosistim tersebut adalah sebuah keharusan. "Pemerintah provinsi (Pemprov) Sumbar menyadari akan hal itu. Makanya, kepedulian untuk mengelola ekosistim kawasan pesisir dituntut benar. Berbagai upaya diterobos agar pengelolaannya bisa lebih optimal oleh semua elemen masyarakat," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sum bar Ir. Yosmeri kepada Singgalang, Selasa (20/7) di Padang.
Misalnya, mangrove atau bakau. Keberadaan ekosistim mangrove semakin terancam kelestariannya. Dari tahun ke tahun luas kawasan mangrove mengalami degradasi yang sangat signifikan dalam hitungan waktu yang cepat. Ia mengungkapkan, terjadinya hal tersebut adalah konsekuensi logis dari desakan pertambahan jumlah penduduk dan pesatnya kegiatan pembangunan di segala sektor. Antara lain, maraknya pembangunan galangan kapal, pelabuhan/dermaga, tempat pelelangan ikan, pabrik es, pemukiman, perkebunan sawit hingga kepada tempat penampungan limbah. Dibiarkan kondisi ini, tentulah mengancam keberadaan mangrove itu, apalagi fungsinya sangat penting sebagai pendukung fungsi keseimbangan ekosistim. Yang jelas, mangrove juga berfungsi sebagai pencegah terjadinya abrasi pantai, penangkal instrusi air laut, angin dan pengendali meluapnya air pasang ke daratan. Karena multifungsi, dalam konteks pengembangan kawasan pantai sebagai daerah jalur hijau dan lestari sekaligus memulihkan kondisi mangrove, Pemprov Sumbar melalui DKP melakukan penanaman pohon pelindung dan rehabilitasi mangrove. Penanaman pohon mangrove secara bertahap sudah dilakukan sejak tahun 2005 di Kota Pariaman dengan jumlah 10 ribu batang. Hingga 2009 lalu, sudah ditanami 47.500 batang mangrove. Meliputi Kota Pariaman, Kota Padang dan Kab. Pasaman Barat. Keberhasilan penanaman mangrove, katanya, mencapai 75 persen. Ini disebabkan oleh jenis tanah lokasi rehabilitasi dilakukan kurang bagus (banyak pasirnya). Sedangkan mangrove cocoknya ditanam di tanah jenis lumpur berpasir. Ia tidak menampik di kawasan pesisir Sumbar, potensi sumberdaya mangrove diperkirakan mencapai 39. 365,5 hektare. Berada di tujuh kabupaten/kota yang memiliki kawasan pesisir yaitu, Kab. Pasaman Barat, Agam, Padang pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, Pessel dan Kab. Kep. Mentawai.(101) http://www.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=71 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
