Selasa, 27 Juli 2010 Padang, Singgalang Rencana pembangunan short cut (jalan tembus) kereta api Padang-Solok, kini memasuki tahap pembuatan detail engineering disain (DED). Diharapkan tuntas akhir 2010, sehingga pembangunan dapat segera dilaksanakan. “Kita berharap proses perencanaan ini bisa diselesaikan Desember 2010, sehingga kita dapat segera merealisasikan pembangunan short cut Padang- Solok pada 2011,” kata Erni Basri, utusan Direktorat Teknik Prasarana Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan RI, di sela-sela pertemuan lintas dinas dengan konsultan di ruang rapat Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar, Senin (26/7).
Hasil akhir dari proses perencanaan itu akan menjadi titik tolak pembangunan short cut sepanjang 28 Km tersebut. Namun, baik Pemprov Sumbar maupun Dirjen Perkeretaapian tetap optimis rencana ini berhasil diselesaikan. Sementara dalam pembahasan DED yang dimoderatori Amran dari Dinas Perhubungan Sumbar, terungkap berbagai persoalan yang masih harus dihadapi dalam rencana pembangunan jalan pintas dengan sistem terowongan tersebut. Diperkirakan terowongan itu berada di kawasan suaka alam wisata, sehingga memerlukan izin dari Kementerian Kehutanan RI. “Ini harus menjadi perhatian kita bersama, sehingga rencana ini nantinya tidak terganjal kelak,” kata utusan Dinas kehutanan Sumbar dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Retno dari Bappeda Sumbar juga menyatakan, meski terowongan itu kelak dibangun di bawah kawasan hutan suaka alam wisata, tetap saja harus memperhatikan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang kehutanan, dimana hutan lindung atau suaka alam wisata tidak bisa digunakan untuk apapun juga, kecuali untuk masalah penelitian. “Jadi ini memang perlu diperhatikan,” kata Retno. Pada kegiatan yang dihadiri dinas teknis di Sumbar tersebut, Meihendri dari Dinas Prasjal Tarkim Sumbar menyoroti keamanan terowongan, terutama dari gempa yang sering mengguncang Sumbar akhir-akhir ini. “Apakah dalam pembua tan DED oleh PT Jasa Kons Putra Utama ini sudah memperhatikan masalah gempa dan juga kekuatan tanah yang belakangan ini labil akibat sering dilanda gempa?, ujarnya mempertanyakan. High economic value Wakil Ketua II Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar (MPKAS), Kurnia Chalik yang turut memberikan presentasi mendukung rencana pembangunan short cut Padang-Solok. Karena pembangunan itu memberikan high economic value (nilai ekonomi yang sangat tinggi) bagi daerah ini. Apalagi, kini DPR RI se-Sumatra terus mengupayakan agar Trans Sumatra Railway (TSR) yang sudah direncanakan sejak 1970 lalu terealisir. Short cut ini nantinya dapat dijadikan penghubung dengan TSR, sehingga menjadi suatu interkoneksi yang akan memberikan nilai lebih bagi perekonomian daerah ini. “Hasil-hasil produksi, tambang dan lainnya di daerah tetangga seperti Jambi, Riau dan daerah lainnya bisa diangkut ke Teluk Bayur dengan mudah, sehingga pelabuhan Teluk Bayur bisa berkembang lebih baik lagi, termasuk juga BIM dengan dukungan kereta api bandara,” sebutnya. Tidak hanya itu, TSR nantinya akan terhubung pula ke Pulau Jawa dengan pembangunan jembatan selat sunda yang memiliki doble track untuk jalur kereta api yang berada di antara jalan raya di atas jembatan tersebut. “Pembangunan jembatan ini sudah ada MoU antara Gubernur Jawa Barat dengan Gubernur Lampung. Rencananya pembangunan akan dimulai 2014 dan membutuhkan waktu 10 tahun dengan dana mencapai Rp10 triliun,” jelasnya. Akan halnya, rintangan seperti status terowongan yang diperkirakan berada di kawasan suaka alam wisata diyakini dapat dihadapi sepanjang ada sinergi bersama. MPKAS sendiri menurutnya, akan ikut membantu dengan meminta izin kepada Kementerian Kehutanan RI, bila memang jalur short cut tersebut berada di kawasan hutan suaka alam wisata. Sebelumnya, team leader PT Jasa Kons Putra Utama, Samuel S.Sormin sebagai konsultan pembuatan DED short cut Padang-Solok me nyampaikan beberapa alter natif. Salah satu dengan sistem pemboran yang sudah digunakan Malaysia untuk membuat terowongan. Pem bangunannya dengan perala tan yang canggih memakai biaya sampai Rp750 miliar. “Itu untuk pemboran saja, tapi waktunya lebih cepat dibandingkan sistem manual yang memiliki resiko besar,” sebutnya. Sistem pemboran tersebut hanya membutuhkan paling tidak dua tahun. Bahkan, bisa lebih singkat tergantung pendanaan. (104) http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=205 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
