PADANG | RABU, 04/08/2010 10:12 WIB
JPNN - Padang Today

Yopi Arianto Pimpin Indragiri Hulu, Riau

Gubernur Riau H M. Rusli Zainal SE MP kemarin (3/8/2010) melantik Yopi
Arianto SE sebagai bupati Indragiri Hulu (Inhu) yang baru. Yang istimewa,
saat dilantik, usia Yopi 30 tahun lebih tiga bulan. Itu sebabnya, Museum
Rekor Dunia Indonesia (Muri) mencatat Yopi sebagai bupati termuda di
Indonesia.
 
 Wajah Yopi tampak tegang saat pelantikan dirinya sebagai bupati Inhu
berlangsung. Tak ada senyum mengembang di bibirnya. Dia terlihat begitu
konsentrasi mengikuti tahap demi tahap prosesi pelantikan oleh Gubernur Riau
H M. Rusli Zainal SE MP di hadapan rapat paripurna DPRD Inhu.
 
Bisa dimaklumi bila sikap Yopi seperti itu. Sebab, itulah jabatan politik
tertinggi yang pernah dia gapai pada usia "belia". Sebagai bupati, di
pundaknya kini terpikul amanat rakyat yang mahaberat. Apalagi, dia belum
mempunyai pengalaman di birokrasi. Karena itu, tak heran bila gubernur
mewanti-wanti masyarakat Inhu untuk mendukung kepemimpinan Yopi bersama
Wakil Bupati H Harman Harmaini SH MM.
 
Senyum Yopi baru mengembang begitu prosesi pelantikannya selesai. Dia tak
habis-habisnya mengucapkan terima kasih kepada para pejabat dan tokoh
masyarakat yang menyampaikan ucapan selamat kepadanya. Setelah pelantikan,
dia menerima sertifikat Muri yang diserahkan J. Ngadri, perwakilan museum
rekor yang digagas budayawan Jaya Suprana itu.
 
"Saya tidak pernah membayangkan akan dilantik menjadi bupati di tanah
kelahiran saya seperti ini. Apa lagi di usia yang kata orang masih terbilang
muda," ucap Yopi.
 
Yopi lahir di Rengat, Inhu, pada 10 April 1980. Dia dilantik menjadi bupati
pada usia 30 tahun, tiga bulan, dan 23 hari. Sebelumnya, rekor Muri dipegang
Sunarno, bupati Klaten, Jawa Tengah, yang dilantik pada usia 32 tahun 2
bulan pada 25 November 2005. Yopi-Harman memenangi pilkada Inhu pada 3 Juni
lalu. Mereka diusung Partai Golkar. Naiknya Yopi menggantikan bupati lama
Drs H Mujtahid Thalid. "Ini amanat yang harus kami emban dengan baik. Doakan
kami mampu menjalankannya," tuturnya.
 
Yopi mengaku tidak mempunyai cita-cita menjadi bupati, apalagi berambisi
untuk merebut kekuasaan tertinggi di kabupaten seluas 8.198 km persegi
dengan penduduk 352.800 jiwa (berdasar Sensus Penduduk 2010) itu. Dia
menjalani kehidupan ini apa adanya seperti air mengalir. "Saya hanya
mengikuti perjalanan hidup seperti yang digariskan Yang Mahakuasa," kata
bupati yang masih melajang itu.
 
Yopi menjalani pendidikan TK, SD, dan SMP di Kota Rengat. Setelah itu, dia
melanjutkan sekolah di SMAN 10 Padang (dulu SMA 11). Sejak itu, dia sudah
mulai berlatih mandiri, jauh dari orang tua. Dan, kemandirian itu makin
terasah begitu dia memutuskan untuk merantau ke Jawa untuk melanjutkan
kuliah. Dia melanjutkan studi di STIE YKPN Jogjakarta.
 
Saat kuliah itulah, dia terlibat dalam beberapa organisasi. Misalnya,
menjadi ketua Ikatan Pelajar Riau Jogjakarta (1998/2001), Ikatan Pelajar
Jogjakarta Komisariat Inhu (2001/2003), dan ketua Freedom Community
Automotif Club Jogjakarta.
 
Setamat kuliah, Yopi pulang kampung. Dia langsung melibatkan diri dalam
banyak aktivitas sosial-politik dan olahraga. Di antaranya, menjadi pengurus
KONI Riau, wakil ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia), dan
menjadi ketua DPD Partai Golkar Inhu (2010/2015). Di Golkar itulah, dia
banyak mendapatkan suntikan wawasan politik yang kemudian mengantarkan
dirinya menjadi anggota DPRD Inhu periode 2009/2014.
 
"Terus terang, saya banyak belajar dari Bapak (H Soegianto, mantan ketua
Partai Golkar Inhu) dan teman-teman di Golkar," ujar bupati yang sebelumnya
juga menjadi pengusaha itu.
   
Yopi mengakui bahwa tantangan ke depan makin berat. Terlebih, selama ini ada
kendala komunikasi dengan provinsi sehingga pembangunan kabupaten dengan
sembilan kecamatan dan 157 desa itu kurang lancar. Tapi, dia menolak bila
Inhu dikatakan sebagai daerah tertinggal. "Insya Allah, ke depan saya
bersama Pak Harman membawa Inhu lebih baik dan maju dalam pembangunan,"
paparnya.
   
Menurut dia, krisis keuangan Inhu dalam dua tahun terakhir ini terjadi
karena sistem manajemen yang kurang tepat. Padahal, potensi Inhu cukup
besar. PAD (pendapatan asli daerah) Inhu pada tahun anggaran 2009 hanya Rp
13 miliar dari Rp 25 miliar yang ditargetkan. "Kami kira, bila dikelola
dengan benar, potensi pertanian dan perkebunan Inhu bisa mendongkrak PAD
(pendapatan asli daerah, Red) secara bertahap. Itu memang fokus kami ke
depan," tegas dia. (*/ari)

http://padang-today.com/?today=news&id=19275


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke