Bung IJP, dengan penuh hormat kepada anggota-anggota kepolisian yang masih 
berpegang pada kode etik Tribrata, lama kelamaan saya menjadi ragu juga 
terhadap profesionalisme kepolisian sebagai suatu lembaga kenegaraan. Apalagi 
demikian sering terjadi 'cover up' terhadap borok-borok kepolisian, paling 
akhir tentang 'rekening gendut', dimana fihak polisi memilih untuk bungkem 
saja, atau menyatakan rekening itu 'wajar' Masya Allah.. Mestinya kan majalah 
'Tempo' dituntut karena mencemarkan 'nama baik' kepolisian ?
Sungguh amat jauh situasi kepolisian sekarang dari standar kejujuran seorang 
Hugeng Iman Santoso dahulu. Saya jadi teringat pada dalil Ibnu Chaldun, bahwa 
kadar idealisme para negarawan suatu negara hanya bertahan selama tiga 
generasi, sekitar 60 tahun. Indonesia sekarang memang 'dipimpin' oleh generasi 
ketiga, baik dalam bidang legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Sedihnya, tak ada seorangpun yang berkualitas 'statesman' dengan wawasan luas 
dan berperspetif jangka panjang. Semuanya terlibat dalam kasus-kasis bejangka 
pendek belaka. Masih ingat dengan kasus Bank Century ? Mana itu 'macan-macan 
muda DPR' ? Sudah tidur kekenyangan ?
Siapa yang seharusnya membenahi kepolisian ini ? Siapa lagi selain Presiden, 
karena kepolisian berada di bawah Presiden.
Soalnya lebih lanjut: maukah -- atau beranikah -- beliau ini ? Wallahua'lam 
bissawab.
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) Taqdir di tangan 
Allah, nasib di tangan kita.


--- On Wed, 8/11/10, Indra J Piliang <[email protected]> wrote:

From: Indra J Piliang <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Fw: TERORISME: Cerita Besar, Miskin Fakta Pendukung
To: "Forahmi" <[email protected]>, "RantauNet" 
<[email protected]>
Date: Wednesday, August 11, 2010, 10:33 PM















~~."IJP".~~From:  Satrio Arismunandar <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Wed, 11 Aug 2010 06:05:04 -0700 (PDT)To: news Trans 
TV<[email protected]>; kampus tiga<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; ex menwa UI 
2<[email protected]>; HMI Kahmi Pro 
Network<[email protected]>; ppiindia<[email protected]>; 
nasional list<[email protected]>; Indonesia 
Rising<[email protected]>; sastra 
pembebasan<[email protected]>; Forum 
Kompas<[email protected]>; Syiar 
Islam<[email protected]>; AJI 
INDONESIA<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Subject: [ppiindia] TERORISME: Cerita Besar, Miskin Fakta Pendukung

 



  


    
      
      
      

       

        TERORISME: Cerita Besar, Miskin Fakta Pendukung      

    

    Posted by:      "Farid Gaban"      

      [email protected]      

               

        

          faridgaban 

        

          

    

      Tue Aug 10, 2010 10:06 pm        (PDT)    



(dikutip dr milis jurnalisme:)



Cara polisi melebih-lebihkan drama penggerebegan dan ancaman terorisme

justru memunculkan kecurigaan ketika polisi sendiri nampak tak peduli

pada barang bukti yang katanya penting.



Pada 7 Agustus lalu, polisi menggerebeg sebuah rumah di Cibiru,

Bandung. Di samping menangkap penghuni, Humas Polri Edward Aritonang

mengatakan polisi juga menyita sejumlah bahan kimia dan mobil

Mitsubishi Galant sebagai barang bukti. 



Bahan kimia dengan daya ledak lebih dahsyat dari C4, kata polisi, akan

dipaket dalam mobil sedan itu untuk meledakkan sasaran-sasaran yang

fantastis: iring-iringan rombongan presiden, markas polri, markas

Brimob, kedubes-kedubes asing, hoten-hotel internasional.



Cerita yang hebat dan fantastis. Tapi, bahkan polisi sendiri tak percaya pada 
kebenaran ceritanya.



Hari ini (11 Agustus), empat hari setelah kejadian, polisi ternyata

belum menyita mobil yang akan digunakan untuk kejahatan dahsyat tadi.



Jawa Pos hari ini menulis bahwa mobil Mitsubishi Galant Nomor Polisi B

1600 KE yang dimaksud masih ada di depan rumah yang digerebeg. Ada foto

sedan itu dan juga kutipan dari ketua RT setempat yang tak tahu kapan

sedan akan diambil polisi.



Jika seperti klaim Aritonang, mobil itu benar merupakan bukti kejahatan

yang demikian dahsyat dan luas, kenapa penyidikannya demikian ceroboh?

Barang bukti yang demikian penting belum diambil sampai hari keempat?



Atau polisi sendiri sebenarnya memang tak percaya pada cerita-cerita yang 
kedengaran "too good to be true" tentang terorisme?



Atau mereka terlalu sibuk membuat cerita-cerita baru, tentang Abu Bakar

Baasyir dan terorisme Aceh misalnya, yang membuat mereka lupa pada

detil yang membuat cerita mereka janggal.



Mereka takkan risau dituduh melakukan kebohongan, karena jarang sekali 
wartawan/media mempertanyakan kejanggalan itu.



fgaban



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    __._,_.___

        
  
   
    
      
        
          Reply to sender |
        
          Reply to group |
                  Reply via web post |
                Start a New Topic
      

                Messages in this topic
          (1)
           






      Recent Activity:

    
            
      New Members
      5
    
                                              
    
  
    Visit Your Group
  


      
      


      
***************************************************************************

Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia

***************************************************************************

__________________________________________________________________________

Mohon Perhatian:



1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)

2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.

3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 

4. Satu email perhari: [email protected]

5. No-email/web only: [email protected]

6. kembali menerima email: [email protected]

      


    
  

  
  Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use




   

  
  
  



     




     

  .


   


__,_._,___


 



  











-- 

.

Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting

- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.




      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke