Home <http://cetak.kompas.com/> *TRADISI* Balimau, Membuka dan Menutup Ramadhan Kamis, 12 Agustus 2010 | 02:49 WIB
KOMPAS/INGKI RINALDI Warga Kelurahan Sungai Pisang Teluk Kabung Selatan, Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (9/8), mengarak nampan berisi gelas dengan air limau pada tradisi Balimau. Acara ini diselenggarakan menjelang Ramadhan.. Meldawati (26) dan Nebdawati (27), Senin (9/8), sibuk membereskan tumpukan dua nampan yang di tengahnya disisipi jambangan logam. Pasangan adik-kakak dari kaum Jambak dalam masyarakat Minangkabau itu bersiap mengikuti tradisi Balimau yang diselenggarakan di Kelurahan Sungai Pisang Teluk Kabung Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, yang berjarak 35 kilometer dari pusat Kota Padang. Tidak semua warga sekitar tahu bahwa tradisi Balimau dilangsungkan pada hari itu. Sungai Pisang berada di depan sebuah teluk dan terletak sekitar 5 kilometer dari jalan raya lintas Padang-Painan. Sebagian besar jalan menuju tempat itu didominasi tanah dan batu sehingga tidak banyak kendaraan mau menembus keterisolasian itu. Padahal, tradisi Balimau diadakan rutin tiap tahun. Dua nampan, dengan jambangan logam sebagai penghubung, dilengkapi dengan dua atau tiga gelas berisi air limau dan bedak tepung beras berhias janur kuning dan kain merupakan inti tradisi Balimau. Tradisi Balimau, menurut sejumlah pemuka adat, biasa diadakan sehari sebelum bulan suci Ramadhan dan beberapa jam sebelum shalat Idul Fitri digelar. Balimau dilakukan sebagai penghormatan anak kemenakan terhadap para ninik mamak atau pemangku adat yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak kemenakan. Setiap set Balimau disiapkan dan dibiayai oleh anak kemenakan. ”Tidak mahal, hanya Rp 10.000 per Balimau,” kata Meldawati. Setiap anak kemenakan dalam satu kaum atau suku wajib menyediakan empat Balimau. Masing-masing untuk datuk atau penghulu, orangtua, dubalang, dan imam suku tersebut. Hari itu ada 35 Balimau disiapkan. Kata Asman Malin Kuniang (42), imam di Sungai Pisang, ada 28 orang ninik mamak terlibat dalam prosesi itu. Nurhayalis (60), yang menjabat sebagai Bundo Kanduang atau pemimpin adat dan penguasa harta pusaka milik kaum atau suku dalam sistem matrilineal Sungai Pisang, mengatakan, tradisi Balimau juga berfungsi untuk silaturahim. Ada kebiasaan saling bersalaman dan bermaafan seusai Balimau. ”Banyak perantau pulang pada saat Balimau,” katanya. Nurhayalis mengatakan, setelah tradisi Balimau, malam harinya warga langsung shalat tarawih. ”Saat Lebaran, sebelum shalat Idul Fitri, pukul 05.30 akan dilakukan lagi Balimau,” kata Nurhayalis. Prosesi Balimau dimulai dengan pengumpulan Balimau di suatu lokasi. Setelah itu, para pemuka adat berunding soal rute yang akan ditempuh saat mengarak Balimau. Perbedaan antara Balimau sebelum bulan puasa dan pada saat Lebaran adalah arah yang dijalani. Pada Balimau sebelum bulan puasa, iring-iringan berjalan dari barat menuju timur. Sebaliknya, Balimau sebelum shalat Idul Fitri diarak dari timur ke barat. Kata Asman, filosofi arah arak-arakan pada Balimau pertama adalah membuka bulan suci Ramadhan, yang diartikan sebagai meninggalkan kegelapan menuju terang benderang. ”Balimau penutup adalah kebalikannya,” katanya. Setelah diarak dengan cara dijunjung oleh setiap anak kemenakan di atas kepala, iring-iringan berhenti di titik yang ditentukan. Hari itu rombongan Balimau mengambil rute membelok ke arah utara setelah berjalan dari barat ke timur untuk melewati sebuah jembatan sebelum berhenti di jalan utama. Pukulan pemusik pada talempong, gendang, dan tiupan pada pupuik darek menghasilkan harmonisasi nada yang terkesan mistis. Komposisi musik yang digarap indah membuat arak-arakan berlangsung dalam irama yang terjaga dengan gerak langkah konstan. Jarak total yang ditempuh sekitar 500 meter. Kemudian ada sambutan dari para pemuka adat, lurah, atau ninik mamak. Selanjutnya, setiap ninik mamak menerima Balimau dan mengusapkan air limau yang dibawa dalam gelas di atas nampan tadi ke keningnya. Setelah itu, setiap anak kemenakan bergantian mengusapkan cairan air limau ke kening masing-masing. ”Hal itu merupakan tanda untuk menyucikan diri,” kata Asman. (Ingki Rinaldi) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
