Maaf kalau salah pak DB, Ana Al Haq bukannyo  itu berarti  " saya  
Tuhan/representasi Tuhan" ujung dari mangana diri dan roh dan Chalik


Wassalam
Erinos Muslim Tanjung Bgd Rajo (53), Pondok Gede


________________________________
Dari: Darwin <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sab, 4 September, 2010 01:53:07
Judul: [...@ntau-net] [SUPERKORAN] “Guru, apakah Tasawuf itu?”

(bagian pertama dari dua tulisan)

Suatu hari di tahun 932 M di Baghdad, ibukota Dinasti Abbasiah yang sedang 
resah.

Temali telah mengikat erat tubuhnya yang tirus ke tiang eksekusi, tetapi Sufi 
besar Manshur Al-Hallaj, masih sempat berucap:

"Ana al-Haqq!"

Ketika pedang Algojo mengayun menebas kakinya, ia tersenyum. "Kaki ini hanya 
kuperlukan untuk berjalan di muka bumi, padahal aku selangkah lagi ke langit." 
Ketika kemudian pedang algogo menebas lengannya, darah segarpun kembali muncrat 
membasahi bumi, dia masih tersenyum.

Seorang murid setia yang duduk terpana dipojok menyempatkan diri untuk bertanya 
dengan terbata-bata:

"Guru, apakah Tasawuf itu?"

"Inilah tasawuf itu,"

jawab Sang Guru yang masih tetap tersenyum dalam keadaan yang mulai melemah 
karena kehilangan darah.

"Ana al-Haqq", "Akulah Kebenaran", ujar Al-Hallaj berkali-kali dalam keadaan  
ekstase. Banyak para ahli agama terperangah, menyangka dengan pernyataannya itu 
dia mendakukan dirinya sebagai Tuhan, Sang Mahabenar, dan menganggap itu bidah.

Tetapi sejauh manakah kita paham terhadap pendakuan dari seorang pencinta dan 
pencari Tuhan tanpa lelah, yang mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan hidup 
dalam kezuhudan yang keras, yang merasa segala hijab yang menutup segenap 
rahasia telah terangkat dan tersingkap,  yang bagi sebagian kita dianggap waham?

Ungkapan Al-Hallaj tersebut, serta pernyataan-pernyataannya keinginan dan 
hasratnya untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadikan dirinya 
"hewan kurban" serta keberpihakan berikut pandangan-pandangannya tentang agama, 
menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa, 
yang dari dulu sampai sekarang, selalu lebih mendahulukan stabilitas ketimbang 
keadilan, tidak paham apapun kecuali bahasa kekuasaan, tidak mencintai apapapun 
kecuali dirinya, kemewahan dan kehidupan duniawi

Pada 918 M ia diawasi, dan pada 923 M ia ditangkap.  

Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk 
sementara 
berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama 
sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap 
sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di 
Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. 
Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan 
istana khalifah.

Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, dan 
sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas 
al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Eksekusi yang justru sudah lama dihasratinya.

Kepalanya dipenggal sehari kemudian. Sesudah itu tubuhnya disiram minyak dan 
dibakar. Keesokan harinya  debunya dibawa ke menara di tepi sungai Tigris, 
dicampakkan keluar dan diterpa angin lalu serta hanyut di sungai itu.

Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi 
sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai 
pelajaran yang diajarkannya.

Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Maulana Jalaludin Rumi mengatakan, "Kata-kata 
'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah 
Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman."

Rumi, tidak menjemput dan menginginkan kematian secara tragis seperti 
Al-Hallaj. 
Tetapi seperti ditulis Majalah TEMPO 23 Desember lalu, Ia menyebut hari 
kematiannya `malam pengantin' atau `Seb-I Arus' Saat itulah, tak ada lagi yang 
dapat menghalanginya bertemu Sang Kekasih. Sufi besar itu wafat dengan sebuah 
pesan: jangan ratapi kematianku. Itu sebuah reuni dengan pencipta.

Tetapi apakah Tasawuf itu?

Wassalam, Darwin
Banda Aceh, Desember 2007


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke