Assalamualaikum niniak mamak salingka nagari. Ulasan yang menarik pak darwin. Di indonesia pun ajaran kaum sufi dari dulu alah banyak ado nan ditarimo ado indak.
Sangat menarik bahwa ternyata para pencari tuhan ini menunjukkan betapa cintanya seseorang pada sang khalik, namun terkadang ado yang maninggalkan duniawi dan ndak manenggang urang sakitar. Salam Sent from BlackBerry® on 3 -----Original Message----- From: "Darwin" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 03 Sep 2010 18:53:07 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] [SUPERKORAN] “Guru, apakah Tasawuf it u?” (bagian pertama dari dua tulisan) Suatu hari di tahun 932 M di Baghdad, ibukota Dinasti Abbasiah yang sedang resah. Temali telah mengikat erat tubuhnya yang tirus ke tiang eksekusi, tetapi Sufi besar Manshur Al-Hallaj, masih sempat berucap: "Ana al-Haqq!" Ketika pedang Algojo mengayun menebas kakinya, ia tersenyum. "Kaki ini hanya kuperlukan untuk berjalan di muka bumi, padahal aku selangkah lagi ke langit." Ketika kemudian pedang algogo menebas lengannya, darah segarpun kembali muncrat membasahi bumi, dia masih tersenyum. Seorang murid setia yang duduk terpana dipojok menyempatkan diri untuk bertanya dengan terbata-bata: "Guru, apakah Tasawuf itu?" "Inilah tasawuf itu," jawab Sang Guru yang masih tetap tersenyum dalam keadaan yang mulai melemah karena kehilangan darah. "Ana al-Haqq", "Akulah Kebenaran", ujar Al-Hallaj berkali-kali dalam keadaan ekstase. Banyak para ahli agama terperangah, menyangka dengan pernyataannya itu dia mendakukan dirinya sebagai Tuhan, Sang Mahabenar, dan menganggap itu bidah. Tetapi sejauh manakah kita paham terhadap pendakuan dari seorang pencinta dan pencari Tuhan tanpa lelah, yang mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan hidup dalam kezuhudan yang keras, yang merasa segala hijab yang menutup segenap rahasia telah terangkat dan tersingkap, yang bagi sebagian kita dianggap waham? Ungkapan Al-Hallaj tersebut, serta pernyataan-pernyataannya keinginan dan hasratnya untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadikan dirinya "hewan kurban" serta keberpihakan berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa, yang dari dulu sampai sekarang, selalu lebih mendahulukan stabilitas ketimbang keadilan, tidak paham apapun kecuali bahasa kekuasaan, tidak mencintai apapapun kecuali dirinya, kemewahan dan kehidupan duniawi Pada 918 M ia diawasi, dan pada 923 M ia ditangkap. Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, dan sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi. Eksekusi yang justru sudah lama dihasratinya. Kepalanya dipenggal sehari kemudian. Sesudah itu tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Keesokan harinya debunya dibawa ke menara di tepi sungai Tigris, dicampakkan keluar dan diterpa angin lalu serta hanyut di sungai itu. Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Maulana Jalaludin Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman." Rumi, tidak menjemput dan menginginkan kematian secara tragis seperti Al-Hallaj. Tetapi seperti ditulis Majalah TEMPO 23 Desember lalu, Ia menyebut hari kematiannya `malam pengantin' atau `Seb-I Arus' Saat itulah, tak ada lagi yang dapat menghalanginya bertemu Sang Kekasih. Sufi besar itu wafat dengan sebuah pesan: jangan ratapi kematianku. Itu sebuah reuni dengan pencipta. Tetapi apakah Tasawuf itu? Wassalam, Darwin Banda Aceh, Desember 2007 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
