Oleh: Marthias Dusky Pandoe*

Syekh Abdul Karim Amarullah (1879-1945)

Lahir di Sungai Batang Maninjau. Semula  bernama Mohammad Rasul. Nama
tersebut ditukar setelah menunaikan ibadah haji tahun 1894. Di Makah selama
tujuh tahun, menimba ilmu pada Syehk Ahmad Khatib. Beliau orangtua Buya
Hamka, dan mertua mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah Abdul Rasjid
Sutan Mansyur. Berani membuang hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan
sunnah. Bersama Syekh Abdullah Ahmad memperoleh gelar doktor honoris kausa
dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Ketika aliran Ahmadiyah dari India masuk Minangkabau, beliau menerbitkan
buku Al Qaulul shahih (kata yang sesat) untuk menyerang faham tersebut,
mencegah perkembangannya di daerah ini. Sebaliknya membawa  Muhammadiyah
dari Jawa. Tahun 1930 beliau semarakkan kongres perserikatan ini di
Bukittinggi. Beliau tak setapak pun kompromi dengan Pemerintah Belanda. Bila
sudah ada di mimbar, sekali-kali jangan disensor pidatonya.

Terang-terangan pula menantang pemerintah Fasis Militer Jepang yang
menduduki Indonesia tahun 1942-1945 untuk melakukan sei keire, yakni
menundukkan kepala  ke arah matahari terbit (Tokyo) tanda memberi hormat
kepada Kaisar Hirohito  tempat tahta raja Jepang itu.

"Biar saya digantung tinggi-tinggi atau dibuang jauih-jauih, saya tidak mau
melakukan," kata Karim Amarullah tegas.

Syekh Daud Rasyidi (1880-1948)

Lahir di Balingka, Kecamatan IV Koto Agam. Beliau orangtua kandung Mansyur
Daud Datuk Palimo Kayo, yang dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet
terakhir ulama-ulama besar Minangkabau. Inyiak Daud tak ada menempuh
pendidikan formal di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah. Pernah
jalan kaki dari kampungnya ke Kota Padang, dibekali ketrampilan menjahit,
mengaji di beberapa surau Sumatera Barat. Akhirnya  pada Syekh Ahmad Khatib
di Mekah selama empat tahun, untuk ilmu tasauf, fiqih, tauhid dan bahasa
Arab.

Tahun 1903 membuka pengajian di masjid Jembatan Besi Padangpanjang. Masjid
ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib. Waktu itu penyakit kolera dan
cacar mewabah disini. Puluhan korban meninggal setiap hari. Dikubur begitu
saja, tanpa dimandikan, dikafani dan disembahyangkan. Kata beliau,  

"Umat Islam akan menerima dosa karena tidak melaksanakan fardhu kifayah".
Dengan berani beliau menyuruh bongkar kembali kuburan mayat-mayat tadi.
Namun, ditantang Asisten Residen Padangpanjang sebagai penguasa. Tapi
akhirnya tuntutan Syekh Daud  dikabulkan. Sebelum dikubur kembali, semua
diproses menurut ajaran Islam. Beliau menantang membayar pajak (belasting)
kepada Pemerintah Belanda.

Syekh Ibrahim Musa (1882-1963)

Lahir 12 Syawal 1301. Setelah menjadi ulama besar, nama kampungnya melekat
pada beliau, dan tersohorlah sebagai Inyiak Parabek. Beliau sebelumnya
mengaji di beberapa surau di Sumatera Barat, tahun 1320 Hijriah menyambung
ke Makkah belajar selama 6,5 tahun pada Syekh Ahmad Kathib. Belum puas,
tahun 1333 kembali lagi kesitu untuk memperdalam ilmu.

Waktu perang dunia pertama pecah, beliau kembali ke Parabek Bukittinggi dan
singgah lebih dulu di India. Di Parabek bersama dengan murid-murinya
membentuk persatuan pelajar Muzakaratul Ikhwan, wadah untuk memperdebatkan
berbagai masalah.

Wadah ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib School. Pesantren
termasyhur ke seantero nusantara. Sistem belajar dari halaqah menjadi sistem
klasikal, berkelas-kelas. Disamping ilmu pengetahuan agama, diajarkan pula
bahasa Inggris dan bahasa Belanda, ilmu ukur, aljabar, kopersi dan
lain-lain. Para guru tidak pakai sarung, disuruh pakai pantalon. jas, dasi
dan sepatu. Pemerintah Belanda menawarkan sejumlah uang subsidi, namun
Inyiak Parabek menolak mentah-mentah.

Syekh Abbas Abdullah (1883-1957)

Dilahirkan, dibesarkan dan mengabdi di negeri sendiri, Padangjapang
(Suliki), Payakumbuh. Nama negeri tersebut melekat pada kepopuleran nama
beliau  Inyiak Abbas Padang Japang. Ayah beliau Syekh Abdullah pernah
terlibat dalam Perang Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Ketika Abbas
berusia 13 tahun, ikut paman ke Tanah Suci. Usai menunaikan ibadah haji,
Abbas tidak mau pulang, minta tinggal sendirian, lalu belajar dengan Syekh
Ahmad Khatib selama delapan tahun. Tahun 1924, sebelum pulang ke tanah air,
mengembara ke Mesir, Palestina, Libanon, Siria dan Swis di Eropa. Pulang
mengangkut buku-buku besar. Di kampung ditugaskan ayahnya jadi guru bantu
Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Haji Agus Salim (1884-1964)

Lahir 8 Oktober 1884 di Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi. Dengan
nama yang diberikan ayahnya Masyhudul Haq. Negeri ini penuh melahirkan kaum
intelektual. Selain H Agus Salim, banyak lagi pemimpin bangsa asal negeri
ini, seperti Perdana Menteri Pertama RI Sutan Sjahrir, Emil Salim, dan
lain-lain. Orangtua Inyiak Agus, Sutan Mohammad Salim, seorang Jaksa.

Beliau ulama jenius. Mahasiswa Cornell Uniuversity (Amerika) Harry J Benda
waktu beliau memberi kuliah disana langsung  mengggelari  Grand Old Man,
bisa diterjemahkan sebagai Orang Tua Cemerlang. Delapan anak beliau tidak
pernah masuk sekolah formal, tapi diajar sendiri di rumah. Seorang di
antaranya Kolonel Islam Salim, pernah jadi atase militer Indonesia di Cina.

Mula masuk sekolah di Europesche Lager School (ELS) Kotogadang dan tamat
tahun 1898. Terus menyambung ke Hoogere Burger School (HBS) di Jakarta, tapi
gagal meneruskan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandshe). Kegagalan
masuk sekolah pamong ini menimbulkan kebenciannya terhadap Pemerintah
Belanda. Dendamnya bekerjasama dengan Belanda beliau nyatakan: "Biar makan
krekel dari pada menerima tawaran bekerkja dengan Belanda."
Tapi pada satu kali ibunya memaksa  bekerja di konsulat Belanda di Saudi
Arabia, maka kesempatan itu dimanfaatkan mendalami agama pada sepupunya
Syekh Ahmad Khatib, yang lebih dulu  menetap di Masjidil Haram. 

Awal kemerdekaan RI beliau memimpin misi ke beberapa negara Timur Tengah.
Hasilnya  RI memperoleh pengakuan de jure dari negara-negara tersebut.
Beliau pernah beberapa kali jadi Menteri Luar Negeri.

Syekh Zainuddin Labay el Yunusy  (1890-1924)

Lahir di Lubuk Mata Kucing, Padangpanjang, 12 Rajab 1308. Labai, panggilan
terhormat bagi seorang yang alim, sedang Yunusy, nama orangtuanya Yunus.
dikenal sebagai Tuanku Pandai Sikek, desa asal beliau di kaki gunung
Singgalang. Beliau anak sulung  pasangan Yunus dan Rafi'ah, sedang adik
kedua Rahmah yang kemudian populer dengan nama Sitti Rahmah el Yunusiyah,
pendiri sekolah Diniyah Puteri Padangpanjang. Zainuddin mendirikan sekolah
Diniyah School tahun 1916 ketika berusia 26 tahun. 

Nama sekolahnya kombinasi bahasa Arab dan Belanda, untuk memberi gambaran
ide pembaharuan  Sistem pendidikannya, gandrung  modern. Beliau pun
merevolusikan sistem halaqah ke sistem klasikal. Guru tidak pakai sarung
lagi. berkopiah tarbusy, dan sandal, tapi pakai pantalon, jas, dasi, dan
bersepatu. Beliau  pun menolak tawaran uang subsidi Pemerintah Belanda.

Syehk Abdul Hamid Hakim (1893-1959)

Beliau kemudian populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Lahir di Sumpu, tepi
danau Singkarak tahun 1311 H atau 1893 M. Ikut ayah seorang pedagang ke Kota
Padang. Disini ia masuk Sekolah Dasar (SD) dan setamatnya kembali ke kampung
belajar tulis-baca Al Quran, lalu melanjutkan dua tahun di Sungayang belajar
pada Syekh Mohammad Thaib Umar.

Ketika berusia 16 tahun, belajar ke Maninjau pada Syekh Karim Amarullah.
Ketika itu tahun 1910, dengan Syekh Amarullah juga, pindah ke Padang, dimana
orangtuanya  berdagang di kota ini. Waktu Amarullah pindah lagi ke
Padangpanjang, Hamid tetap ikut. Diangkat jadi guru bantu di masjid Jembatan
Besi. Sejak itulah beliau dipanggil sebagai Angku Mudo. Ahli fiqih (hukum
Islam) ini kemudian diangkat jadi Guru Kepala, mengganti Syekh Abdul Karim
Amarullah karena  doktor ini pindah ke Jakarta.

Pernah seorang reserse bertanya kepada beliau: "Kenapa murid aktif dalam
dunia politik? Entahlah, saya juga heran. Satu saya ajarkan, empat mereka
dapat. Saya tak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik," jawab Angku
Mudo.

Murid beliau antara lain; Sutan Mansyur, mantan Ketua Pucuk Pimpinan
Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad mantan Wakil Ketua Parlemen, Buya Datuk
Palimo Kayo, ulama/sastrawan besar Hamka, Muchtar Yahya, guru besar IAIN
Yogya, Ali Hasymi mantan Gubernur Aceh, dan tokoh politik singa betina
Rasuna Said.

Syeikhah Rahmah el Yunusyiah (1900-1969)

Lahir 26 Oktober 1900. Beliau adalah adik kandung Zainuddin Labay el Yunusy.
Tahun 1915 mendirikan lembaga pendidikan khusus puteri Diniyah Putri.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam seperti ikut jejak kakaknya.
Murid-muridnya datang dari seantero Sumatera Barat. Juga dari provinsi lain,
bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura. 

Beliau tidak menutup pintu untuk ilmu pengetahuan modern. Disini  tidak
hanya diajarkan pengetahuan agama, juga keterampilan jahit-menjahit dan
masak-memasak, sehingga kelak mereka jadi ibu rumah tangga Islami. Tahun
1955 Rektor Universitas Al Azhar Kairo, pernah mengunjungi Diniyah Puteri.
Kunjungan ini dapat balasan. Tahun 1956, Rahmah diundang  ke Mesir.

Syekh Zainuddin Hamidy (1907-1957)

Setelah tamat sekolah Governement (Sekolah Dasar lima tahun) di Payakumbuh,
melanjutkan pendidikan di Madrasah Darul Funuin  Padangjapang, Suliki.
Beliau murid terpandai di madrasah tersebut. Tahun 1927 lebih kurang lima
tahun melanjutkan  ke Mahad Islamy  Makkah.  Beliau siswa Indonesia pertama
disini. Karena pintar, beroleh pula beasiswa.

Tahun 1932, Zainuddin pulang kampung ke Payakumbuh. Dalam usia 25 tahun
dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai ilmu.  Hafal Al Quran
(hafizh), ahli hadist, tafsir, tauhid dan fiqih, sehingga beliau dapat
julukan Angku Mudo. Beliau membuka perguruan Mahad Islamy, nama kenangan
tempat beliau belajar di Makkah dulu.

Mahad Islamy berkembang dengan pesat. Selain siswanya datang dari berbagai
negeri di Sumbar, juga banyak  dari Malaysia, dan Riau. Masyarakat  ringan
memberi bantuan wakaf dan beberapa orang sebagai donatur. Namun, sebaliknya
datang hambatan  pihak pemerintah jajahan.  Cemburu karena sukses. Ada di
antara gurunya Johar Arifin  dikenakan tidak boleh mengajar. Bila menghadapi
masalah yang amat sulit, pendapat Zainuddin Hamidy jadi qaulun fashlun (kata
pemutus).

Syekh Nazaruddin Thaha (1908-1979)

Lahir 4 Maret 1908 di Payakumbuh, putera tertua Syekh Thaha Arsyad. Setelah
tamat Sekolah Dasar Sambungan, melanjutkan ke Madrasah Sumatra Thawalib
Darul Funun Padangjapang. Tahun 1926 masuk perguruan tinggi Darul Ulum dan
Universitas al Azhari Kairo, seangkatan Mahmud Yunus, Muchtar Yahya dan
lain-lain.

Selama lebih kurang tujuh tahun di Mesir, beliau  aktif di Persatuan Pelajar
Indonesia-Malaysia (Perpidom), organisasi pergerakan untuk merebut
kemerdekaan tanah air. Pulangnya sebagian besar putera-putera Minang tahun
1930-an, membawa angin segar dunia pendidikan di daerah ini.

Tahun 1946, Nazaruddin Thaha ditunjuk  pertama kali mengepalai Kantor Agama
Sumatera Tengah, meliputi daerah kerja Sumbar, Jambi dan Riau. Beliau
membentuk Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah-daerah. Pada waktu itu pulalah
pengarang buku-buku agama dalam bahasa Arab ini, merancang Undang-undang
Perkawinan. Buku-buku tersebut antara lain Abthalul Islam, al Mahfuzadzat,
Fanuttarbiyah, dan lain-lain. (*)

Penulis adalah Wartawan senior tinggal di Padang, Sumatera Barat

http://padang-today.com/?today=article
<http://padang-today.com/?today=article&id=1279> &id=1279 

RABU, 15/09/2010 14:03 WIB

 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke