Mungkin di  RN iko ado juo... mungkin pak A Ridha..?



________________________________
Dari: Ibnu Mas'ud <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 17 September, 2010 10:00:39
Judul: Re: [...@ntau-net] Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar

Assalamu'alaikum w.w.

Kabatulan ambo waktu di Bukittinggi hari Selasa mambali koran Padang Ekspres. 
Nan ado tulisan di palegakan dek dunsanak awak. Ambo pun baulang-ulang mambaco 
tulisanko. Karano ado babarapo info nan sabalumnyo indak ambo ketahui.

Kerisauan penulis mungkin juo samo jo kerisauan urang awak salamoko. Siapo 
ulama 
nan batua-batua ulama nan ka malanjutkan kaderisasi nan buliah dikatokan ampia 
taputuih.

Sabananyo kiniko Alhamdulillah untuak tingkat Doktoral alah ado urang awak nan 
tigo tahun lalu manyalasaian kuliah di Islamic University Madinah. Namo beliau 
Dr. Ali Misri. Beliau putra Solok. Dari S1 sampai S3 kuliah di Madinah. Sadonyo 
disalaikan dengan predikat cumlaude. Ampia 12 tahun beliau tingga dan baraja jo 
ulama-ulama besar di Madinah. Alah menulis babarapo buku. Dan dicetak 
dibabarapo 
negara Arab. Kini beliau menetap di Jember mamimpin Sekolah Tinggi Islam nan 
beliau dirikan jo babarapo  alumni Madinah. 

Kalau indak salah baru surangko lulusan S3 urang awak nan lulusan Madinah. Kok 
salah tolong koreksi ambo.

Universitas Madinah tiok tahun manarimo calon mahasiswa dari Indonesia. Tahunko 
labiah 50 urang. Namun sayang nan urang awak sajak limo tahunko yo 
jarang-jarang. Kalau nan dari Riau jarang nan kurang dari ampek urang. Mungkin 
kito paralu makian an jalan kalua nyo.

Wassalam,

Ibnu Mas'ud


2010/9/17 Arman Bahar <[email protected]>

Assalamualaikum ww
>
>Siapakah Pelanjut Ulama Besar?
>
>Agar pertanyaan ini tidak menggantung di awang2, harus segera dijawab!
>Lhaa, kenapa tidak kita saja masing2 menjawabnya dengan tegas dan lugas  
>"Saya"!?
>
>Mereka memang ulama2 besar dan kita tentu sangat hormat kepada mereka artinya 
>Minangkabau dari dulu sampai sekarang tidak pernah kekurangan ulama sejak yang 
>kelas kampung sampai ber level mancanegara
>
>Tentu saja yang berani menjawab "ya" tadi sebelum menjadi ulama kelas kakap 
>itu 
>tentu harus meniti jenjang dari pangkal dulu, mulai dari kultum dimesjid atau 
>surau sebelah rumah saja dulu atau lewat temu bulanan orang sekampung dulu 
>misalnya, yaa dimulai dari kelas teri dululah, makanya jangan segan2 untuk 
>menjawab pertanyaan besar tersebut dengan "yaa, sayalah  pelanjutnya" githuu 
>lhoo
>
>
>Terlepas dari kebesaran ulama2 Minangkabau masa lalu itu, dengan timbulnya 
>pertanyaan besar diatas sepertinya kita sedang men-cari2 sesuatu yang pernah 
>ada 
>yang sekarang kok rasanya tidak kita temukan
>
>Bisa jadi ada yang terlupakan oleh para ulama besar kita itu dahulunya, saya 
>mencurigai yang terlupakan itu adalah sistem pengkaderan yang tidak jalan 
>karena 
>bila pengkaderan tertata apik tentu pertanyaan itu tidak muncul dan boleh jadi 
>juga penerapan ABSSBK kita itu tidak sebermasalah seperti sekarang ini 
>
>
>Berbagai permasalahan dalam penerapan ABSSBK ini tentunya tidak menjadikan 
>kita 
>ciut nyali lantas menjadi bingung apa yang mesti dikerjakan, sehingga kita 
>selalu disibukkan membahas ini itunya bahkan sampai gini hari belum juga tentu 
>apa solusinya
>
>Ibarat kapal yang akan karam juragan dan para officers sibuk meeting  
>sementara 
>kapal semakin karam juga, eh,... mirip juga yaa, dengan erruption & blowout di 
>Jawa Tengah itu sementara para eksekutifnya di Jakarta tidak langsung turun ke 
>lapangan malah sibuk meeting ini itu membahas blowout yang akhirnya 
>menenggelamkan negeri itu  
>
>
>Jangan ragu2, segeralah jawab "yaa, saya"
>
>wasalam
>abp58
>
>
>
________________________________
Dari: Nofend Marola <[email protected]>
>Kepada: [email protected]
>Terkirim: Kam, 16 September, 2010 20:50:26
>Judul: [...@ntau-net] Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar
>
>
>Oleh: Marthias Dusky Pandoe*
>
>Syekh Abdul Karim Amarullah (1879-1945)
>
>Lahir di Sungai Batang  Maninjau. Semula  bernama Mohammad Rasul. Nama
>tersebut ditukar setelah menunaikan ibadah haji tahun 1894. Di Makah selama
>tujuh tahun, menimba ilmu pada Syehk Ahmad Khatib. Beliau orangtua Buya
>Hamka, dan mertua mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah Abdul Rasjid
>Sutan Mansyur. Berani membuang hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan
>sunnah. Bersama Syekh Abdullah Ahmad memperoleh gelar doktor honoris kausa
>dari Universitas Al Azhar, Kairo.
>
>Ketika aliran Ahmadiyah dari India masuk Minangkabau, beliau menerbitkan
>buku Al Qaulul shahih (kata yang sesat) untuk menyerang faham tersebut,
>mencegah perkembangannya di daerah ini. Sebaliknya membawa  Muhammadiyah
>dari Jawa. Tahun 1930 beliau semarakkan kongres perserikatan ini di
>Bukittinggi. Beliau tak setapak pun kompromi dengan Pemerintah Belanda. Bila
>sudah ada di mimbar, sekali-kali jangan disensor pidatonya.
>
>Terang-terangan pula menantang  pemerintah Fasis Militer Jepang yang
>menduduki Indonesia tahun 1942-1945 untuk melakukan sei keire, yakni
>menundukkan kepala  ke arah matahari terbit (Tokyo) tanda memberi hormat
>kepada Kaisar Hirohito  tempat tahta raja Jepang itu.
>
>“Biar saya digantung tinggi-tinggi atau dibuang jauih-jauih, saya tidak mau
>melakukan,” kata Karim Amarullah tegas.
>
>Syekh Daud Rasyidi (1880-1948)
>
>Lahir di Balingka, Kecamatan IV Koto Agam. Beliau orangtua kandung Mansyur
>Daud Datuk Palimo Kayo, yang dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet
>terakhir ulama-ulama besar Minangkabau. Inyiak Daud tak ada menempuh
>pendidikan formal di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah. Pernah
>jalan kaki dari kampungnya ke Kota Padang, dibekali ketrampilan menjahit,
>mengaji di beberapa surau Sumatera Barat. Akhirnya  pada Syekh Ahmad Khatib
>di Mekah selama empat tahun, untuk ilmu tasauf, fiqih, tauhid dan  bahasa
>Arab.
>
>Tahun 1903 membuka pengajian di masjid Jembatan Besi Padangpanjang. Masjid
>ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib. Waktu itu penyakit kolera dan
>cacar mewabah disini. Puluhan korban meninggal setiap hari. Dikubur begitu
>saja, tanpa dimandikan, dikafani dan disembahyangkan. Kata beliau,  
>
>“Umat Islam akan menerima dosa karena tidak melaksanakan fardhu kifayah”.
>Dengan berani beliau menyuruh bongkar kembali kuburan mayat-mayat tadi.
>Namun, ditantang Asisten Residen Padangpanjang sebagai penguasa. Tapi
>akhirnya tuntutan Syekh Daud  dikabulkan. Sebelum dikubur kembali, semua
>diproses menurut ajaran Islam. Beliau menantang membayar pajak (belasting)
>kepada Pemerintah Belanda.
>
>Syekh Ibrahim Musa (1882-1963)
>
>Lahir 12 Syawal 1301. Setelah menjadi ulama besar, nama kampungnya melekat
>pada beliau, dan tersohorlah sebagai Inyiak Parabek. Beliau  sebelumnya 
>mengaji di beberapa surau di Sumatera Barat, tahun 1320 Hijriah menyambung
>ke Makkah belajar selama 6,5 tahun pada Syekh Ahmad Kathib. Belum puas,
>tahun 1333 kembali lagi kesitu untuk memperdalam ilmu.
>
>Waktu perang dunia pertama pecah, beliau kembali ke Parabek Bukittinggi dan
>singgah lebih dulu di India. Di Parabek bersama dengan murid-murinya
>membentuk persatuan pelajar Muzakaratul Ikhwan, wadah untuk memperdebatkan
>berbagai masalah.
>
>Wadah ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib School. Pesantren 
>termasyhur ke seantero nusantara. Sistem belajar dari halaqah menjadi sistem
>klasikal, berkelas-kelas. Disamping ilmu pengetahuan agama, diajarkan pula
>bahasa Inggris dan bahasa Belanda, ilmu ukur, aljabar, kopersi dan
>lain-lain. Para guru tidak pakai sarung, disuruh pakai pantalon. jas, dasi
>dan sepatu. Pemerintah Belanda menawarkan sejumlah uang subsidi, namun
>Inyiak Parabek  menolak mentah-mentah.
>
>Syekh Abbas Abdullah (1883-1957)
>
>Dilahirkan, dibesarkan dan mengabdi di negeri sendiri, Padangjapang
>(Suliki), Payakumbuh. Nama negeri tersebut melekat pada kepopuleran nama
>beliau  Inyiak Abbas Padang Japang. Ayah beliau Syekh Abdullah pernah
>terlibat dalam Perang Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Ketika Abbas
>berusia 13 tahun, ikut paman ke Tanah Suci. Usai menunaikan ibadah haji,
>Abbas tidak mau pulang, minta tinggal sendirian, lalu belajar dengan Syekh
>Ahmad Khatib selama delapan tahun. Tahun 1924, sebelum pulang ke tanah air,
>mengembara ke Mesir, Palestina, Libanon, Siria dan Swis di Eropa. Pulang 
>mengangkut buku-buku besar. Di kampung ditugaskan ayahnya jadi guru bantu 
>Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
>
>Haji Agus Salim (1884-1964)
>
>Lahir 8 Oktober 1884 di Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi. Dengan
>nama yang diberikan ayahnya Masyhudul Haq. Negeri ini  penuh melahirkan kaum
>intelektual. Selain H Agus Salim, banyak lagi pemimpin bangsa asal negeri
>ini, seperti Perdana Menteri Pertama RI Sutan Sjahrir, Emil Salim, dan
>lain-lain. Orangtua Inyiak Agus, Sutan Mohammad Salim, seorang Jaksa.
>
>Beliau ulama jenius. Mahasiswa Cornell Uniuversity (Amerika) Harry J Benda
>waktu beliau memberi kuliah disana langsung  mengggelari  Grand Old Man,
>bisa diterjemahkan sebagai Orang Tua Cemerlang. Delapan anak beliau tidak
>pernah masuk sekolah formal, tapi diajar sendiri di rumah. Seorang di
>antaranya Kolonel Islam Salim, pernah jadi atase militer Indonesia di Cina.
>
>Mula masuk sekolah di Europesche Lager School (ELS) Kotogadang dan tamat
>tahun 1898. Terus menyambung ke Hoogere Burger School (HBS) di Jakarta, tapi
>gagal meneruskan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandshe). Kegagalan
>masuk sekolah pamong ini menimbulkan kebenciannya terhadap Pemerintah
>Belanda.  Dendamnya bekerjasama dengan Belanda beliau nyatakan: “Biar makan
>krekel dari pada menerima tawaran bekerkja dengan Belanda.”
>Tapi pada satu kali ibunya memaksa  bekerja di konsulat Belanda di Saudi
>Arabia, maka kesempatan itu dimanfaatkan mendalami agama pada sepupunya
>Syekh Ahmad Khatib, yang lebih dulu  menetap di Masjidil Haram. 
>
>Awal kemerdekaan RI beliau memimpin misi ke beberapa negara Timur Tengah.
>Hasilnya  RI memperoleh pengakuan de jure dari negara-negara tersebut.
>Beliau pernah beberapa kali jadi Menteri Luar Negeri.
>
>Syekh Zainuddin Labay el Yunusy  (1890-1924)
>
>Lahir di Lubuk Mata Kucing, Padangpanjang, 12 Rajab 1308. Labai, panggilan
>terhormat bagi seorang yang alim, sedang Yunusy, nama orangtuanya Yunus.
>dikenal sebagai Tuanku Pandai Sikek, desa asal beliau di kaki gunung
>Singgalang. Beliau anak sulung  pasangan Yunus dan Rafi’ah, sedang adik
>kedua  Rahmah yang kemudian populer dengan nama Sitti Rahmah el Yunusiyah,
>pendiri sekolah Diniyah Puteri Padangpanjang. Zainuddin mendirikan sekolah
>Diniyah School tahun 1916 ketika berusia 26 tahun. 
>
>Nama sekolahnya kombinasi bahasa Arab dan Belanda, untuk memberi gambaran
>ide pembaharuan  Sistem pendidikannya, gandrung  modern. Beliau pun 
>merevolusikan sistem halaqah ke sistem klasikal. Guru tidak pakai sarung
>lagi. berkopiah tarbusy, dan sandal, tapi pakai pantalon, jas, dasi, dan
>bersepatu. Beliau  pun menolak tawaran uang subsidi Pemerintah Belanda.
>
>Syehk Abdul Hamid Hakim (1893-1959)
>
>Beliau kemudian populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Lahir di Sumpu, tepi
>danau Singkarak tahun 1311 H atau 1893 M. Ikut ayah seorang pedagang ke Kota
>Padang. Disini ia masuk Sekolah Dasar (SD) dan setamatnya kembali ke kampung
>belajar tulis-baca Al Quran, lalu melanjutkan dua tahun di Sungayang  belajar
>pada Syekh Mohammad Thaib Umar.
>
>Ketika berusia 16 tahun, belajar ke Maninjau pada Syekh Karim Amarullah.
>Ketika itu tahun 1910, dengan Syekh Amarullah juga, pindah ke Padang, dimana
>orangtuanya  berdagang di kota ini. Waktu Amarullah pindah lagi ke
>Padangpanjang, Hamid tetap ikut. Diangkat jadi guru bantu di masjid Jembatan
>Besi. Sejak itulah beliau dipanggil sebagai Angku Mudo. Ahli fiqih (hukum
>Islam) ini kemudian diangkat jadi Guru Kepala, mengganti Syekh Abdul Karim
>Amarullah karena  doktor ini pindah ke Jakarta.
>
>Pernah seorang reserse bertanya kepada beliau: “Kenapa murid aktif dalam
>dunia politik? Entahlah, saya juga heran. Satu saya ajarkan, empat mereka
>dapat. Saya tak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik,” jawab Angku
>Mudo.
>
>Murid beliau antara lain; Sutan Mansyur, mantan Ketua Pucuk Pimpinan
>Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad mantan Wakil Ketua Parlemen, Buya  Datuk
>Palimo Kayo, ulama/sastrawan besar Hamka, Muchtar Yahya, guru besar IAIN
>Yogya, Ali Hasymi mantan Gubernur Aceh, dan tokoh politik singa betina
>Rasuna Said.
>
>Syeikhah Rahmah el Yunusyiah (1900-1969)
>
>Lahir 26 Oktober 1900. Beliau adalah adik kandung Zainuddin Labay el Yunusy.
>Tahun 1915 mendirikan lembaga pendidikan khusus puteri Diniyah Putri.
>Kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam seperti ikut jejak kakaknya.
>Murid-muridnya datang dari seantero Sumatera Barat. Juga dari provinsi lain,
>bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura. 
>
>Beliau tidak menutup pintu untuk ilmu pengetahuan modern. Disini  tidak
>hanya diajarkan pengetahuan agama, juga keterampilan jahit-menjahit dan
>masak-memasak, sehingga kelak mereka jadi ibu rumah tangga Islami. Tahun
>1955 Rektor Universitas Al Azhar Kairo, pernah mengunjungi Diniyah Puteri.
>Kunjungan ini dapat balasan. Tahun  1956, Rahmah diundang  ke Mesir.
>
>Syekh Zainuddin Hamidy (1907-1957)
>
>Setelah tamat sekolah Governement (Sekolah Dasar lima tahun) di Payakumbuh,
>melanjutkan pendidikan di Madrasah Darul Funuin  Padangjapang, Suliki.
>Beliau murid terpandai di madrasah tersebut. Tahun 1927 lebih kurang lima
>tahun melanjutkan  ke Mahad Islamy  Makkah.  Beliau siswa Indonesia pertama
>disini. Karena pintar, beroleh pula beasiswa.
>
>Tahun 1932, Zainuddin pulang kampung ke Payakumbuh. Dalam usia 25 tahun
>dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai ilmu.  Hafal Al Quran
>(hafizh), ahli hadist, tafsir, tauhid dan fiqih, sehingga beliau dapat
>julukan Angku Mudo. Beliau membuka perguruan Mahad Islamy, nama kenangan
>tempat beliau belajar di Makkah dulu.
>
>Mahad Islamy berkembang dengan pesat. Selain siswanya datang dari berbagai
>negeri di Sumbar, juga banyak  dari Malaysia, dan Riau.  Masyarakat  ringan 
>memberi bantuan wakaf dan beberapa orang sebagai donatur. Namun, sebaliknya
>datang hambatan  pihak pemerintah jajahan.  Cemburu karena sukses. Ada di
>antara gurunya Johar Arifin  dikenakan tidak boleh mengajar. Bila menghadapi
>masalah yang amat sulit, pendapat Zainuddin Hamidy jadi qaulun fashlun (kata
>pemutus).
>
>Syekh Nazaruddin Thaha (1908-1979)
>
>Lahir 4 Maret 1908 di Payakumbuh, putera tertua Syekh Thaha Arsyad. Setelah
>tamat Sekolah Dasar Sambungan, melanjutkan ke Madrasah Sumatra Thawalib
>Darul Funun Padangjapang. Tahun 1926 masuk perguruan tinggi Darul Ulum dan
>Universitas al Azhari Kairo, seangkatan Mahmud Yunus, Muchtar Yahya dan
>lain-lain.
>
>Selama lebih kurang tujuh tahun di Mesir, beliau  aktif di Persatuan Pelajar
>Indonesia-Malaysia (Perpidom), organisasi pergerakan untuk merebut
>kemerdekaan tanah air. Pulangnya sebagian besar putera-putera  Minang tahun
>1930-an, membawa angin segar dunia pendidikan di daerah ini.
>
>Tahun 1946, Nazaruddin Thaha ditunjuk  pertama kali mengepalai Kantor Agama
>Sumatera Tengah, meliputi daerah kerja Sumbar, Jambi dan Riau. Beliau
>membentuk Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah-daerah. Pada waktu itu pulalah
>pengarang buku-buku agama dalam bahasa Arab ini, merancang Undang-undang
>Perkawinan. Buku-buku tersebut antara lain Abthalul Islam, al Mahfuzadzat,
>Fanuttarbiyah, dan lain-lain. (*)
>
>Penulis adalah Wartawan senior tinggal di Padang, Sumatera Barat
>http://padang-today.com/?today=article&id=1279 
>RABU, 15/09/2010 14:03 WIB
>
>
>
>
-- 
>.
>Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
>lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
>- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
>mengganti subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
>keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke