DDII MENANTANG KE MASA DEPAN:
DARI YAYASAN KE ORMAS ISLAM
 
Sebuah Sumbang-Saran
 
Mochtar Naim
 
 
I
 





B
AJU yayasan yang dipakai oleh DDII sekarang dalam menantang ke masa depan 
kelihatannya sudah sempit. Perlu ditukar dengan “baju Ormas” seperti yang 
dipakai oleh Muhammadiyah, NU dan organisasi-organisasi dakwah Islam lain yang 
berbaju ormas. Ini juga karena dakwah bil hal maupun bil lisan dan bil qalam 
yang akan digarap oleh DDII ke masa depan sudah harus mencakup spektrum yang 
luas, seluas permasalahan yang ada dan dihadapi oleh masyarakat itu sendiri, 
dan seluas wilayah Indonesia ini sendiri dengan pemeluk Islam terbesar di dunia 
yang berjumlah di atas 200 juta. 
          Sebagai Ormas, dan dalam tataran aturan main yang ada sekarang di 
NKRI ini, bagaimanapun, DDII tentu tidak akan memasuki ranah politik praktis 
sebagai yang dimainkan oleh partai politik manapun, demi adanya pembagian kerja 
antara yang sosial-budaya dan politik. Untuk nuansa yang berbau politik praktis 
DDII bisa menitipkannya kepada partai politik Islam secara kolektif. Sebagai 
Ormas, DDII juga bisa bekerja-sama dengan ormas-ormas lainnya, khususnya dengan 
Muhammadiyah dan NU, sehingga ketiganya bisa menjalin kerjasama “tiga sekawan” 
yang akrab dan mesra. Apalagi antara DDII dan Muhammadiyah beserta NU selama 
ini, tidak pernah terjadi pertikaian, kendati masing-masing jalan 
sendiri-sendiri karena kekhasan-kekhasan yang ada pada mereka masing-masing.    
 
          DDII dalam melaksanakan tugas dan programnya kelihatannya juga 
memerlukan dukungan penuh dari warga masyarakat dengan menerapkan sistem 
keanggotaan, baik secara aktif maupun passif. Salah satu dari kunci 
keberhasilan Muhammadiyah dan NU dalam menjalankan missi dakwahnya dalam 
berbagai hal, selama ini, justeru karena mereka mempunyai sistem keanggotaan 
yang sampai jutaan bahkan puluhan juta di seantero Indonesia ini. Dengan 
penduduk muslim sebanyak ini, di tanah air tercinta ini, DDII pun mampu membina 
jutaan, dan bahkan puluhan juta, anggota yang akan menggelindingkan program dan 
kegiatan apapun, sehingga yang bekerja keras itu bukan hanya pengurus Yayasan 
di pusat dan di daerah, tetapi tak kurangnya adalah para anggota yang jutaan 
dan puluhan juta banyaknya itu. Dengan itu DDII bisa punya tidak hanya belasan, 
tetapi ratusan dan ribuan sekolah dari TK sampai ke universitas, belasan dan 
ratusan rumah sakit, panti asuhan, rumah zakat,
 dan sekian banyak usaha amal sosial dan ekonomi lainnya, di seluruh Indonesia.
          Dengan nama Natsir: Mohammad Natsir, sebagai guru spiritual dari 
DDII, seperti juga dengan nama Ahmad Dahlan di Muhammadiyah, dan Hasyim Asy’ari 
di NU, insya Allah, DDII sebagai ormas baru Islam akan mampu menggelindingkan 
dakwah islamiyah di berbagai sektor kehidupan dan di seantaro Indonesia, bahkan 
juga mungkin di dunia Melayu lainnya atau dunia Islam sekalipun, di manapun.
          Semua ini tentu memerlukan azam dan tekad bulat dari pengurus Yayasan 
yang ada sekarang, yang kemudian dukungan penuh dari penganut setia selama ini. 
Bismillahkanlah kalau memang sudah ada juga niat ke arah itu. Semoga Allah 
melindungi dan meridhai seraya melapangkan jalan ke arah itu, amin.
 
II
 
          Dengan baju baru dan lapang sebagai Ormas Islam itu, maka rencana 
perluasan medan perjuangan DDII ke masa depan, juga terbuka sudah, baik di 
bidang pendidikan, ekonomi dan amal sosial, di samping dakwah keagamaan dan 
kebudayaan sekalipun. 
          Khusus di bidang pendidikan, sudah waktunya DDII merancang “Sekolah 
Natsir” dari TK ke SD, SMP, SMA, PT dan Universitas sekalipun, baik yang umum 
maupun yang vokasional-kejuruan, termasuk kejuruan agama sekalipun, di seluruh 
Indonesia. Yang perlu disepakati dan diseragamkan adalah filosofi pendidikannya 
yang khas Natsiriyah, yakni yang integral-terpadu dan kaffah dan menghadap ke 
depan. Artinya pendidikan sebagai bahagian dan batu loncatan dari ibadah, 
sehingga yang menentukan itu bukan lagi corak dan vaknya, tetapi niat serta 
metoda dan epistemologi di samping aksiologi (tujuan pemanfaatan)nya. Orang 
belajar Islam sekalipun, jika niatnya salah, yaitu dengan tujuan menghancurkan, 
seperti yang dilakukan oleh para orientalis selama ini, ya salah. Sementara 
orang belajar apapun, dalam spektrum ilmu yang begitu luas, dengan niat ibadah, 
adalah ibadah. Termasuk belajar kristologi, perbandingan agama-agama, dsb. 
          Untuk semua ini kita perlu “think tank.”  Kita perlu universitas yang 
jika perlu sebuah “Universitas Islam Internasional Mohammad Natsir” (Mohammad 
Natsir International Islamic University), tempat para sarjana dari berbagai 
negara Islam dan dunia sekalipun untuk memikirkan masalah-masalah besar dan 
mendasar dari ummat di seantero jagad ini dalam menyambut Tamaddun Islam 
“Gelombang Ketiga” yang fajarnya telah mulai menyingsing kembali dengan kita 
memasuki abad ke 15 H/21 M ini. Gelombang pertama dari tamaddun Islam adalah 
tujuh abad pertama dari kelahiran Islam di jazirah Arab sampai ke puncak 
kejayaannya di abad ke 14 di Baghdad dan Kordoba, untuk kemudian diikuti oleh 
kejatuhannya sampai usai Perang Dunia Kedua di pertengahan abad ke 20, dan yang 
setelah itu untuk juga insya Allah tujuh abad ke depan, tamaddun kejayaan 
kembali Islam. Kita sekarang sudah berada di awal titik balik dari Gelombang 
Ketiga Kejayaan Kembali
 Islam itu. Dan dalam konteks itu kita menyambut gerakan dakwah Natsiriyah 
dengan baju lapang itu, yang mencakup ruang lingkup kehidupan berspektrum luas 
tadi.
          Pun juga begitu di bidang amal sosial yang bernuansa ekonomi yang 
lautnya juga nyaris tak bertepi. Bukan mustahil kalau DDII pun juga merancah ke 
bidang perbankan, perdagangan dan industri serta jasa. Yang jelas, sekarangpun 
DDII sudah punya jasa travel walau baru khusus untuk berhaji ke Mekkah. Lihat 
kelompok Yahudi dan Nasrani di seluruh dunia ini; bidang apa yang tak mereka 
masuki, dan kuasai.  Mereka menguasai bidang perbankan, komers dan industri, 
sampai real estat yang bangunan-bangunannya menjulang ke langit tinggi. Mereka 
juga menguasai lalu-lintas perhubungan darat, laut dan udara, dan dunia maya, 
di seluruh dunia. Teknologi secanggih apapun adalah juga permainan mereka dan 
mereka kuasai dan otak-atik. Tamaddun Gelombang Ketiga Islam untuk abad-abad ke 
depan menuntut kita-kita ini untuk juga berbagi dalam menguasai dunia ini. Dan 
DDII dengan semangat integral Natsir ditantang untuk itu. ***


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke