Alhamdulillah dan tahniah 

"SELAMAT MENGEMBAN TUGAS DA'WAH DENGAN ROMPI BARU KEORMASAN"

Pak MN, mamak 'n dunsanak yang dirahmati Allah
Adalah sebuah berita menggembirakan dengan bangkitnya ruh2 yang diperbaharui 
menghadapi tantangan da'wah yang semakin kompleks ini, kerjasama berbimbing 
tangan sesama aktifis da'wah adalah suatu keniscayaan dari mana pun mereka 
ber-urat ber-akar

Sudah lumayan lama negeri ini terpuruk yang semula Allah SWT limpahkan beragam 
rahmat dan karunia kini mulai menjadi ladang penderitaan, kenyataan pahit ini 
adalah sebentuk azab yang Allah ujikan kepada penduduk negeri ini karena 
mengingkari nikmat2 Allah tersebut

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dg sebuah negeri yang dahulunya aman 
lagi tenteram, rezekinya datang melimpah tapi penduduknya mengingkari, maka 
Allah merasakan kepada mereka kesulitan dan ketakutan  Alquran 16:11

Potret penderitaan negeri ini semakin parah hingga tidak saja bumi tidak lagi 
menyediakan diri sebagai hamparan indah bagi anak negerinya, langitpun enggan 
sebagai naungan menyejukkan bahkan jiwa2 anak negeri ini menjelma sebagai 
pemangsa sesamanya (homo hominilupus)

Namun "Tangan" Allah tidak akan pernah membiarkan hal ini berlangsung  terus 
menerus walau anak negeri ini telah terjebak dengan ketidak berdayaan-nya

Tidak masalah jika DDII masih malu2 menapaki ranah fulitik dan mengkapling diri 
dilahan yang disenanginya dan berbagi tugas saja kita sambil tetap berbimbing 
tangan saling bantu membantu dalam kebaikan

wasalam
abp58




________________________________
Dari: Mochtar Naim <[email protected]>
Kepada: Syuhada Bahri <[email protected]>; Mas'oed ABIDIN 
<[email protected]>; [email protected]; DDII Prov Sumbar 
<[email protected]>; [email protected]; Dr.Saafroedin 
BAHAR 
<[email protected]>; Prof.Dr Emil SALIM <[email protected]>; 
[email protected]; asmun syueib <[email protected]>; Meuthia Suyudi 
<[email protected]>; Resthy Anggreta Sari 
<[email protected]>; [email protected]; nani tolali 
<[email protected]>; Prof Dr Taufik ABDULLAH 
<[email protected]>; 
Taufiq Ismail <[email protected]>; midawati unand 
<[email protected]>; Facebook UPIK KAMALIA 
<[email protected]>; mestika zed <[email protected]>; 
[email protected]; zizie fauzan <[email protected]>; zulhasril nasir 
<[email protected]>; Zulhendri CHANIAGO <[email protected]>; widya dhw 
<[email protected]>; Annisa Qurrota Ayyuni <[email protected]>; Ahmad 
Rifa'i <[email protected]>; [email protected]; Alfitri <[email protected]>; 
alimatul qibtiyah <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; Armen Zulkarnain 
<[email protected]>; anwar abbas <[email protected]>; azlim fitra 
<[email protected]>; dodi indra monash u <[email protected]>; Dr. 
Gusti ASNAN <[email protected]>; M. ABDUH <[email protected]>; Mahyudin Al Mudra 
<[email protected]>; Prof. Dr Azyumardi AZRA <[email protected]>
Cc: Mochtar Naim <[email protected]>
Terkirim: Rab, 29 September, 2010 10:38:34
Judul: [...@ntau-net] DDII MENANTANG KE MASA DEPAN


  
  
DDII MENANTANG KE MASA DEPAN: 
DARI YAYASAN KE ORMAS ISLAM 
  
Sebuah Sumbang-Saran 
  
Mochtar Naim 
  
  
I 
  
B 
AJU yayasan yang dipakai oleh DDII sekarang dalam menantang ke masa depan 
kelihatannya sudah sempit. Perlu ditukar dengan “baju Ormas” seperti yang 
dipakai oleh Muhammadiyah, NU dan organisasi-organisasi dakwah Islam lain yang 
berbaju ormas. Ini juga karena dakwah bil hal maupun bil lisan dan bil qalam 
yang akan digarap oleh DDII ke masa depan sudah harus mencakup spektrum yang 
luas, seluas permasalahan yang ada dan dihadapi oleh masyarakat itu sendiri, 
dan 
seluas wilayah Indonesia ini sendiri dengan pemeluk Islam terbesar di dunia 
yang 
berjumlah di atas 200 juta.  

          Sebagai Ormas, dan dalam tataran aturan main yang ada sekarang di 
NKRI 
ini, bagaimanapun, DDII tentu tidak akan memasuki ranah politik praktis sebagai 
yang dimainkan oleh partai politik manapun, demi adanya pembagian kerja antara 
yang sosial-budaya dan politik. Untuk nuansa yang berbau politik praktis DDII 
bisa menitipkannya kepada partai politik Islam secara kolektif. Sebagai Ormas, 
DDII juga bisa bekerja-sama dengan ormas-ormas lainnya, khususnya dengan 
Muhammadiyah dan NU, sehingga ketiganya bisa menjalin kerjasama “tiga sekawan” 
yang akrab dan mesra. Apalagi antara DDII dan Muhammadiyah beserta NU selama 
ini, tidak pernah terjadi pertikaian, kendati masing-masing jalan 
sendiri-sendiri karena kekhasan-kekhasan  yang ada pada mereka masing-masing. 
     

          DDII dalam melaksanakan tugas dan programnya kelihatannya juga 
memerlukan dukungan penuh dari warga masyarakat dengan menerapkan sistem 
keanggotaan, baik secara aktif maupun passif. Salah satu dari kunci 
keberhasilan 
Muhammadiyah dan NU dalam menjalankan missi dakwahnya dalam berbagai hal, 
selama 
ini, justeru karena mereka mempunyai sistem keanggotaan yang sampai jutaan 
bahkan puluhan juta di seantero Indonesia ini. Dengan penduduk muslim sebanyak 
ini, di tanah air tercinta ini, DDII pun mampu membina jutaan, dan bahkan 
puluhan juta, anggota yang akan menggelindingkan program dan kegiatan apapun, 
sehingga yang bekerja keras itu bukan hanya pengurus Yayasan di pusat dan di 
daerah, tetapi tak kurangnya adalah para  anggota yang jutaan dan puluhan juta 
banyaknya itu. Dengan itu DDII bisa punya tidak hanya belasan, tetapi ratusan 
dan ribuan sekolah dari TK sampai ke universitas, belasan dan ratusan rumah 
sakit, panti asuhan, rumah zakat, dan sekian banyak usaha amal sosial dan 
ekonomi lainnya, di seluruh Indonesia. 

          Dengan nama Natsir: Mohammad Natsir, sebagai guru spiritual dari 
DDII, 
seperti juga dengan nama Ahmad Dahlan di Muhammadiyah, dan Hasyim Asy’ari di 
NU, 
insya Allah, DDII sebagai ormas baru Islam akan mampu menggelindingkan dakwah 
islamiyah di berbagai sektor kehidupan dan di seantaro Indonesia, bahkan juga 
mungkin di dunia Melayu lainnya atau dunia Islam sekalipun, di manapun. 

          Semua ini tentu memerlukan azam dan tekad bulat dari pengurus Yayasan 
yang ada sekarang, yang kemudian dukungan penuh dari penganut setia selama ini. 
Bismillahkanlah kalau memang sudah ada juga niat ke arah itu. Semoga Allah 
melindungi dan meridhai seraya melapangkan jalan ke arah itu, amin. 

  
II 
  
          Dengan baju baru dan lapang sebagai Ormas Islam itu, maka rencana 
perluasan medan perjuangan DDII ke masa depan, juga terbuka sudah, baik di 
bidang pendidikan, ekonomi dan amal sosial, di samping dakwah keagamaan dan 
kebudayaan sekalipun.  

          Khusus di bidang pendidikan, sudah waktunya DDII merancang “Sekolah 
Natsir” dari TK ke SD, SMP, SMA, PT dan Universitas sekalipun, baik yang umum 
maupun yang vokasional-kejuruan, termasuk kejuruan agama sekalipun, di seluruh 
Indonesia. Yang perlu disepakati dan diseragamkan adalah filosofi pendidikannya 
yang khas Natsiriyah, yakni yang integral-terpadu dan kaffah dan menghadap ke 
depan. Artinya pendidikan sebagai bahagian dan batu loncatan dari ibadah, 
sehingga yang menentukan itu bukan lagi corak dan vaknya, tetapi niat serta 
metoda dan epistemologi di samping aksiologi (tujuan pemanfaatan)nya. Orang 
belajar Islam sekalipun, jika niatnya salah, yaitu dengan tujuan menghancurkan, 
seperti yang dilakukan oleh para  orientalis selama ini, ya salah. Sementara 
orang belajar apapun, dalam spektrum ilmu yang begitu luas, dengan niat ibadah, 
adalah ibadah. Termasuk belajar kristologi, perbandingan agama-agama, dsb.  

          Untuk semua ini kita perlu “think tank.”  Kita perlu universitas yang 
jika perlu sebuah “Universitas Islam Internasional Mohammad Natsir” (Mohammad 
Natsir International Islamic University), tempat para sarjana dari berbagai 
negara Islam dan dunia sekalipun untuk memikirkan masalah-masalah besar dan 
mendasar dari ummat di seantero jagad ini dalam menyambut Tamaddun Islam 
“Gelombang Ketiga” yang fajarnya telah mulai menyingsing kembali dengan kita 
memasuki abad ke 15 H/21 M ini. Gelombang pertama dari tamaddun Islam adalah 
tujuh abad pertama dari kelahiran Islam di jazirah Arab  sampai ke puncak 
kejayaannya di abad ke 14 di Baghdad dan Kordoba, untuk kemudian diikuti oleh 
kejatuhannya sampai usai Perang Dunia Kedua di pertengahan abad ke 20, dan yang 
setelah itu untuk juga insya Allah tujuh abad ke depan, tamaddun kejayaan 
kembali Islam. Kita sekarang sudah berada di awal titik balik dari Gelombang 
Ketiga Kejayaan Kembali Islam itu. Dan dalam konteks itu kita menyambut gerakan 
dakwah Natsiriyah dengan baju lapang itu, yang mencakup ruang lingkup kehidupan 
berspektrum luas tadi. 

          Pun juga begitu di bidang amal sosial yang bernuansa ekonomi yang 
lautnya juga nyaris tak bertepi. Bukan mustahil kalau DDII pun juga merancah ke 
bidang perbankan, perdagangan dan industri serta jasa. Yang jelas, sekarangpun 
DDII sudah punya jasa travel walau baru khusus untuk berhaji ke Mekkah. Lihat 
kelompok Yahudi dan Nasrani di seluruh dunia ini; bidang apa yang tak mereka 
masuki, dan kuasai.  Mereka menguasai bidang perbankan, komers dan industri, 
sampai real estat yang bangunan-bangunannya menjulang ke langit tinggi. Mereka 
juga menguasai lalu-lintas perhubungan darat, laut dan udara, dan dunia maya, 
di 
seluruh dunia. Teknologi secanggih apapun adalah juga permainan  mereka dan 
mereka kuasai dan otak-atik. Tamaddun Gelombang Ketiga Islam untuk abad-abad ke 
depan menuntut kita-kita ini untuk juga berbagi dalam menguasai dunia ini. Dan 
DDII dengan semangat integral Natsir ditantang untuk itu. *** 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke