Assalammualaikum Wr Wb.

Dunsanak Kasadonyo  nan  berbahagia 

Ambo kirimkan artikel  dari Harian Singgalang  hariko  Sabtu , 2 Oktober 2010  
yang barisi tantang tulisan mengenai komentar dari urang-urang tuo  kito 
seperti Bapanda Azwar Anas, Hasan Basri Durin dan Mendagri Gamawan Fauzi  
mengenai KKM. 



Halaman : Singgalang  A-3

Mendagri Minta KKM DitundaAzwar Anas: Tak Zamannya Memaksakan Kehendak!Jakarta, 
Singgalang

Menteri Dalam Negeri, H. Gamawan Fauzi, SH, meminta rencana Gerakan 
Ekonomi dan Budaya Minang (Gebu Minang) untuk menggelar Kongres 
Kebudayaan Minangkabau di Bukittinggi pada akhir Oktober ini, ditunda 
saja sampai adanya kesepakatan dan kesepahaman semua pihak untuk 
menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Kalau kita ingin membicarakan masalah adat, budaya dan masalah lainnya 
tentang kampung halaman, sementara orang kampung sendiri tidak setuju, 
masak kongresnya dilaksanakan juga,” kata Mendagri kepada Singgalang di 
Kemdagri, Jakarta, kemarin.

Mendagri mengaku belum tahu persis masalah apa yang mau dikongreskan 
oleh Gebu Minang tersebut. Tetapi, katanya menegaskan, kalau masyarakat 
di kampung sendiri ada yang tidak setuju, sebaiknya kegiatan itu tidak 
perlu dipaksakan. “Tunda saja, kan tak masalah. Dalam masa itu lakukan 
pendekatan lagi untuk memperoleh kata sepakat. Kalau memang dipandang 
perlu, baru kongres itu digelar,” ujarnya.

Sedianya, petang kemarin, Mendagri dijadwalkan menerima panitia KKM dan 
pengurus Gebu Minang. Sesuai pemberitahuan Ketua Panitia Zulhendri 
melalui SMS, Kamis, disebutkan pada hari Jumat (1/10) kemarin pukul 
15.00 WIB, pihak panitia akan diterima beraudiensi oleh Mendagri. Namun 
menjelang jumatan kemarin, Zulhenri kembali meralat bahwa pertemuan itu 
tidak jadi.

Mendagri sendiri yang ditanya Singgalang tentang rencana pertemuan 
tersebut, mengaku tidak mengetahui adanya jadwal untuk itu. “Selain saya
 memang sibuk, rasanya belum ada penjadwalan. Kalau pun ketemu, saya 
tetap menyarankan hal itu ditunda dulu,” tegasnya.



Bisa Rusak



Senada dengan Mendagri, pituo Minang yang mantan Menko Kesra Azwar Anas 
mengaku tidak mau sato (ikutan) dalam acara tersebut karena dinilai akan
 bisa merusak tatanan yang telah ada. “Bapak tidak mau ikut dan tidak 
mau diikut-ikutkan dalam kegiatan yang sesungguhnya tidak perlu dan 
ujungnya bisa merusak ketentraman orang Minang,” katanya saat dihubungi 
via telepon genggamnya kemarin.



Menurut mantan Gubernur Sumatra Barat itu, masalah adapt dan budaya 
Minang sudah duduk dan final. Tak ada yang perlu diubah-ubah. Yang perlu
 itu adalah penguatan dan aplikasi di lapangan sesuai dengan ajaran adat
 dan budaya Minangkabau tersebut. “Kalau LKAAM dan MUI sudah menolak, 
masak kita masih ngotot juga. Tak perlu lagi wacana sekarang untuk 
mengutak-atik ini dan itu, kita hanya tinggal mendorong aplikasi ABS-SBK
 itu saja,” pungkasnya.



Tentang indikasi nekatnya Gebu Minang untuk menyelenggarakan KKM 
tersebut, Azwar mengaku sangat heran. “Tak zamannya lagi main 
paksa-paksaan. Apa sih maunya? Apa sih latar belakangnya? Kenapa visi 
dan misi mereka tidak dijelaskan kepada kita-kita ini, kepada seluruh 
komponen masyarakat seperti LKAAM, KAN, MUI, Budayawan dan tokoh-tokoh 
Minang di rantau dan di kampung. Setelah visi dan misinya jelas, baru 
kita paiyo-iyokan (disepakati),” tutur Azwar, sembari mengingatkan, 
kalau sesuatu yang dipaksa-paksakan, ujungnya pasti tidak akan selesai. 
“Bisa buncah awak,” tukasnya. --501


Halaman : Singgalang B.16. 

Sumbar Butuh Minangkabau BaruKKM Mesti Dikunyah-kunyah Dulu

Jakarta, Singgalang

Mantan Gubernur Sumatra Barat, H. Hasan Basri Durin Dt. Rangkayo Mulia 
Nan Kuniang berpendapat, rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan 
Minangkabau (KKM) 2010 yang akan digelar Gebu Minang akhir Oktober ini 
di Bukittinggi, sebaiknya di-kunyah-kunyah (dimusyawarahkan) dulu dengan
 berbagai kalangan untuk menyamakan persepsi tentang perlu atau tidaknya
 kongres itu dilaksanakan. 

“Saya sendiri belum tahu dan belum paham untuk apa KKM itu dilaksanakan.
 Apakah untuk mengubah tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau, atau 
untuk membentengi diri dari arus global yang makin menguat?” kata Hasan 
kepada Singgalang di Jakarta, Rabu (29/9) malam, menanggapi pro-kontra 
soal rencana pelaksanaan KKM tersebut.

Sebaiknya, kata mantan Menteri Agraria ini, agar KKM bisa diterima semua
 pihak, perlu dimusyawarahkan lebih dulu dengan berbagai unsure di 
rantau dan di ranah. 

“Kalau ada pihak panitia yang mengatakan pertemuan untuk itu sudah 
belasan kali diselenggarakan, barangkali perlu kita pertanyakan dengan 
siapa dan kalangan mana saja musyawarah itu dilakukan?” tanya Hasan.

Selaku mantan Gubernur Sumatra Barat, Hasan menyadari betul peran 
perantau bagi masyarakat Minang sangatlah besar. Selain bantuan yang 
berifat materil yang mereka berikan, segala sesuatu menyangkut kampung 
halaman selalu melibatkan kalangan perantau. 

Tetapi, kata dia, perantau pun harus paham bahwa atas jasa dan 
penghargaan yang seperti itu bukan berarti perantau dapat pula 
semena-mena mengubah sesuatu yang telah tumbuh dan hidup dalam 
masyarakat Minang pada saat ini.

“Melihat fenomena yang terjadi di kampung halaman tidak bisa hanya 
dilihat dari kacamata perantau saja. Belum tentu hal yang buruk menurut 
perantau, juga tidak elok bagi masyarakat kampung. Karena itu kita perlu
 menyamakan persepsi lebih dahulu,” urai Hasan Basri Durin, sembari 
menambahkan, ia belum mendengar rencana KKM dimusyawarahkan dengan tokoh
 masyarakat rantau secara bersama-sama. Kalau pun ada, mungkin sifatnya 
orang-perorang saja atau dengan kelompok tertentu saja.

Ia menilai, sebelum dibawa ke Ranah Minang, rencana KKM itu semestinya 
dimusyawarahkan dulu di rantau dengan mengundang unsur-unsur terkait di 
Sumatra Barat, seperti LKAAM, MUI, Budayawan, pers dan segala macamnya. 

“Kita beri tahu untuk apa KKM itu diselenggarakan, apa tujuannya, apa 
yang akan diubah,apa yang akan diperbaiki. Ini kan menyangkut 
kepentingan orang banyak dalam masyarakat Minang. Kalau mereka sudah 
paham dan memandang hal itu memang diperlukan, maka KKM bisa kita 
laksanakan,” kata dia.

Hasan sendiri juga keberatan dengan istilah kongres yang sifatnya akan 
mengikat. “Akan ada keputusan-keputusan tertentu yang akan diambil dan 
sifatnya mengikat. Ini jelas bukan pekerjaan gampang. Tak bisa atas 
kehendak orang seorang atau salah satu institusi saja, seperti gebu 
Minang itu,” ujarnya.



Minangkabau Baru

Menanggapi Singgalang atas kondisi masyarakat Minang itu sendiri? Hasan 
mengakui bahwa Minangkabau itu sudah berubah. Sistem kekerabatannya 
sudah bergeser. Peran ninik mamak sudah berkurang dan akan terus 
tergerus sesuai perkembangan zaman dan kodrat manusia itu sendiri yang 
terus berubah.

“Kalau KKM tujuannya, misalnya, untuk mengembalikan system-sistem lama 
sesuai tatanan adat dan budaya Minang, antara lain untuk mengembalikan 
fungsi ninik mamak sebagai pemimpin dalam kaum, saya kira tidak akan 
semudah itu. Kondisi dan situasinya sudah berbeda,” sebutnya.

Menurut Hasan, menata kembali fungsi ninik mamak tidak bisa hanya 
sebatas memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu factor-faktor 
pendukung yang dulu melekat pada seorang kepala kaum. “Sekarang situasi 
sudah berubah, tuntutannya juga berubah,” ujarnya.

Menurut Hasan, dalam arus perubahan yang kian deras ini, tidak mungkin 
untuk membikin dinding bagi membentengi Ranah Minang dari hantaman arus 
golbalisasi. 

Yang diperlukan, adalah bagaimana kita menyiapkan masyarakat Minang 
untuk mampu menghadapi segala tantangan dan mampu pula ambil bagian 
sebagai penduduk dunia internasional itu. 

“Yang kita butuhkan sekarang adalah Minangkabau baru yang siap menjadi 
penduduk dunia internasional. Bukan Minangkabau seperti ala masyarakat 
Baduy yang anti dengan perubahan,” tutur Hasan.

Hasan agak skeptis atas sikap-sikap kelompok-kelompok masyarakat Minang 
yang terlalu mencemaskan Minangkabau tersebut dan berupaya 
mengagung-agungkannya dengan mempertahankan budaya-budaya yang tidak 
cocok lagi dengan zamannya. 

“Kalau cara berpikir kita seperti ini, pantas saja Minang itu akan tertinggal 
dari daerah lain,” tegas Hasan.

Dia menambahkan, dalam menghadapi tantangan global itu, kita tak perlu 
membuat aturan-aturan adat yang ketat, mengajari tata caranya. Bahwa 
sebelum sholat itu wajib mengambil wuduk, baca niat, takbir, rukuk, 
sujud dan segala macamnya itu orang sudah tahu. Yang perlu, ada 
peningkatan pemahamannya. 

“Takbir itu kan mengangkat tangan dengan membaca Allahuakbar. Pahamnya 
dia dengan bacaan itu? Itu yang kita perlukan sekarang. Bukan membuat 
aturan-aturan main baru,” timpalnya.

Untuk meningkatkan pemahaman itu, katanya menambahkan, tidak perlu ada 
kongres-kongres, dengan seminar-seminar saja cukup. “Dulu, untuk 
memperjelas siapa orang minangkabau, cukup dengan pertemuan khusus saja 
di antara pemangku kepentingan bahwa orang Minang itu adalah yang nenek 
moyangnya berasal dari Gunung Merapi dan berkiblat ke Kabah. Selesai. 
Tak ada kongres,” sebut Hasan. (501)







-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke