Terima kasih Pak Moechtar
Mungkin kalau Geologist yang ngomong orang baru percaya..

Sudah beberapa kali kita lewatkan di RN ini tak ada satu pun dukun tukang ramal 
gempa dimuka bumi ini.Tapi kabaa lah. Urang awak yang mayoritas 99.9 persen 
beragama Islam ko masih percaya jo ramal ramalan ko. buktinya termasuk tukan 
ramal nasib masih laris manis caliaksilah disetiap koran dan majalah selalu 
saja 
ada bintang2an

Beribadahlah engkau seaakan akan akan mati esok karena kematian tidak pernah 
menuggu gempa bumi ditabrak sepeda juga mati .... Bak kecek pak Zul Tan
prepare for the worst and hoping for the best itulah hidup...

 
Salam kenal 

Zulkarnain Kahar
Houston TX





________________________________
From: Herman Moechtar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, October 13, 2010 9:08:13 PM
Subject: [...@ntau-net] Bencana


 
BENCANA, Pengertian dan Pemahamannya

 
 
Apa bencana itu sebenarnya?. Suatu pertanyaan yang jarang terlontarkan 
dikarenakan semua orang telah mengetahui ataupun telah merasakan atau 
setidaknya 
mendengar kata-kata tersebut itu !. Yang jelas, bencana adalah suatu kondisi 
atau keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun, karena disamping merusak juga 
dapat menghancurkan. Mengenai kerusakan, sudah barang tentu bukan saja kerugian 
harta benda tapi terkadang dapat menelan korban manusia. Namun yang lebih 
penting lagi untuk dipertanyakan adalah: kapan timbulnya bencana tersebut dan 
bagaimana proses terjadinya ?. Sejauh mana aktifitas kegiatan bencana, serta 
bagaimana mengatasinya ?. Kita menyadari bahwa untuk menjawab pertanyaan 
tersebut tentu tidak serta merta di jawab secara sederhana, karena 
kadang-kadang 
bencana tersebut dapat timbul disamping karena tingkah laku alam (bencana alam 
murni) juga dari perilaku  manusia.

Kalau kita sebentar melamun dan mendefinisikan arti bencana secara umum, maka 
seyogianyalah bencana itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: 
bencana politik, ekonomi/budaya, dan alam. Ironisnya, ketiga bencana ini dalam 
penanggulangannya kadang-kadang mempunyai kaitan satu sama lainnya. Sebagai 
contoh, untuk mengatasi bencana alam diperlukan ekonomi/ budaya yang memadai 
dengan kondisi politik yang stabil tentunya. Mungkinkah suatu negara yang 
sedang 
terlanda bencana politik akan mempunyai atau memiliki ekonomi/ kebudayaan yang 
“baik” ?, atau sebaliknya dengan ekonomi/kebudayaan yang minim, maka sulit 
rasanya secara tuntas dan seksama dilakukan tindakan mengatasi bencana alam. 
Masalah ini akan terjawab secara rinci dan seksama, seandainya berbagai pakar 
dari berbagai disiplin ilmu terkait turut mengkajinya. Komplikasi bencana yang 
disebutkan ini dapat saja terjadi pada negara yang sedang berkecamuk perang, 
dengan kondisi  kawasan yang rawan bencana alam. Sebagai contoh, dapat 
dibayangkan seandainya negara Jepang apabila tidak didukung oleh kondisi 
politik 
dan ekonomi/ budayanya yang memadai dengan keadaan wilayah yang rawan akan 
bencana alam itu, bagaimana jadinya negara tersebut. Guna menanggulangi bencana 
alam ini, Jepang telah menyedot anggaran terbesar untuk kepentingan sektor ini, 
yang digunakan untuk dana penelitian, peramalan hingga pembenahannya. Oleh 
karena itu, Jepang adalah salah satu negara yang berhasil dalam menjinakkan dan 
menanggulangi bencana alam. Ini terbukti dengan keberhasilan mereka yang secara 
optimal dapat menekan kerugian harta benda dan jatuhnya korban manusia apabila 
negara ini terlanda bencana alam. Dengan demikian, Jepang dengan kondisi 
daerahnya yang rawan bencana alam, tapi sukses didalam menanggulanginya karena 
ditunjang oleh kondisi politik yang stabil dan didukung oleh ekonomi/budaya 
yang 
memadai. Saya pernah belajar di NRCDP  (National Research Centre for Disaster 
Prevention) pada th. 1982. Mereka memberi contoh Vietnam sebagai contoh negara 
yang terkena bencana politik pada tahun 1970an, dan mereka meramalkan pula 
bahwa 
pada dekade tahun 1980an bencana politik itu beralih ke Filipina, dan untungnya 
tenggang waktunya relatif singkat. Saya terkejut, karena mereka juga meramalkan 
pada dekade 1990an Indonesia akan menggantikan posisi Filipina tersebut. 
(Silahkan kita jabarkan, apa iya atau tidak kita telah, atau sedang 
mengalaminya 
?). Yang jelas penanggulangan bencana selama ini masih tidak beres, gak tau 
kenapa ?.

Dari uraian di atas, terlihat bahwasanya didalam membahas bencana bukanlah 
suatu 
hal yang mudah. Pembicaraan selanjutnya lebih ditekankan pada pemahaman  
terhadap bencana alam, yang berkaitan dengan disiplin ilmu kebumian (geologi), 
meskipun dalam menanggulangi peristiwa tersebut juga melibatkan berbagai 
disiplin ilmu lainnya, seperti: geofisika, seismologi, teknik sipil, geografi, 
dan sebagainya.

Apakah bencana alam itu dapat dicegah ?. Suatu kenyataan untuk mencegahnya 
sampai saat ini sulit dilakukan, karena berkaitan dengan suatu perjalanan dari 
mekanisme proses bumi yang mau tidak mau harus diterima. Lalu bagaimana?, 
satu-satunya jalan adalah dengan cara menanggulanginya. Untuk penanggulangan 
ini 
diperlukan suatu tindakan pencegahannya. Tindakan pencegahan dalam arti kata 
untuk mengatasi bencana tersebut. Kebutuhan akan tindakan ini tentunya 
memerlukan suatu koordinasi yang baik dan terpadu dari berbagai pihak dengan 
melibatkan berbagai disiplin ilmu yang disebutkan di atas. Namun, langkah awal 
yang baik dalam membahas penanggulangan bencana alam ini, yang harus dilakukan 
adalah peramalan  terhadap bencana yang akan terjadi. Untuk itu, perlu adanya 
suatu penelitian, bukan yang dimaksud dengan suatu penelitian yang dilakukan 
apabila bencana telah terjadi. SAMPAI SAAT INI BELUM ADA SEORANGPUN YANG MAMPU 
MERMALKAN PERISTIWA TERSEBUT. Memang dari berbagai pihak sering melontarkan 
siklus gempabumi (200 tahun;ah, 50 tahulah, dsb.nya), juga banjir 5 tahunlah 
dsb.nya. Memang itu suatu siklus, tapi itu hanya ucapan untuk ULTAH saja, 
karena 
sudah terjadi sebelumnya bukan hasil meramal dari suatu penelitian yang 
menyangkut proses perulangan peristiwa tersebut.

Kita sering mendengar, apabila telah terjadi suatu bencana alam di negeri ini, 
maka berbondong-bondongl ah para pakar ilmu kebumian menelaah dan mendatangi 
daerah tersebut. Berbagai kupasan dan tanggapan di media masa, seminar, 
simposium, dan sebagainya terus berlanjut dengan mengeluarkan biaya yang tidak 
sedikit. Semua itu bukan tidak bermanfaat, namun pada kondisi ini sebetulnya 
lebih  mengarah pada faktor pembenahan fisik saja, dimana lebih relevan apabila 
ditangani oleh Departeman Sosial, Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Daerah, 
dam instansi terkait lainnya. Bukan pakar kebumian, kecuali hanya ingin 
mempelajari model bencana tersebut (Jadi gak usah sok repot segala). Lalu apa 
yang harus diperbuat sedini mungkin?. Lakukanlah penelitian yang benar dan 
bermanfaat. Cobalah ramalkan kemungkinan akan timbulnya bencana alam tersebut, 
sehingga apabila bencana itu terjadi tidak menimbulkan banyak korban manusia 
dan 
kerugian harta benda yang tinggi. Sebagian besar pakar kebumian berpendapat 
bahwasanya peristiwa bencana alam itu tidak dapat diramalkan kapan terjadinya. 
Tapi lebih tepat dikatakan bahwa kita masih belum mampu untuk meramalkannya. 
Kenapa ?, karena peristiwa bencana alam itu adalah merupakan suatu rangkaian 
kejadian yang sifatnya teratur secara periodik. 


Adanya suatu evolusi dinamika bumi secara periodik dan teratur,  salah satunya 
dapat mengakibatkan terjadinya suatu proses. Proses ini dapat memberikan suatu 
dampak dari perubahan muka laut, iklim, dan tektonik. Yang terakhir, lebih 
dikenal sebagai suatu aktifitas dari pergerakan lempeng (plate) yaitu suatu 
blok 
kaku (rigid block) daripada kerak bumi dan lapisan atas (upper mantle). Dalam 
ilmu kebumian konsep pergerakan lempeng (plate tectonics) ini telah diterima 
dan 
dikembangkan. Sebagian besar pusat gempa bumi terjadi di sepanjang ini, dan 80% 
dari seluruh gempa bumi yang timbul berasal dari jalur laut Pasifik. Indonesia 
merupakan tempat pertemuan dari tiga lempeng utama (megaplates) , yaitu lempeng 
Eurasian di utara, lempeng Pasifik di timur, dan lempeng Indo-Australian di 
selatan. Tumbukan dari ketiga lempeng inilah yang memberikan dampak terhadap 
timbulnya bencana gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami, yang menyebabkan 
negara kita sangat rentan terhadap bencana alam ini. Wilayah barat Sumatera 
adalah  merupakan daerah yang rawan terkena efek tersebut, dan gempabumi adalah 
salah satu dampak yang terjadi di tempat tersebut.

Lalu bagaimana?. Jelas disini mau tidak mau kita harus melakukan suatu 
penelitian dengan sasaran untuk menjelaskan proses tersebut di masa lalu hingga 
sekarang, yang selanjutnya kita ramalkan untuk masa mendatang. Mungkinkah itu?. 
Untuk menjawabnya, para pakar ilmu kebumian harus lebih memfokuskan dirinya 
pada 
data geologi yang terjadi selama zaman Kuarter yang menyangkut kurun waktu ± 2 
juta tahun terakhir, khususnya kala Holosen (masa 10.000 tahun terakhir). 
Sayangnya kurun waktu Kuarter ini hampir-hampir tidak tersentuh oleh kaum 
GEOLOGI. Jangan sangka Geologi Kuarter itu kerjaan geologi atau bagiannya. Itu 
hanya menunjukkan secara kronologis Geologi waktu Kuarter. Wong literaturnya 
hampir-hampir tidak ada orang geologinya kok. Artinya, peluang buat ahli 
kebumian untuk mendekati aspek tersebut sangat besar akan tetapi  harus bekerja 
keras dan filosofi jangan aplikasi.

Untuk keperluan penelitian ini, tentunya dibutuhkan faktor-faktor kontrol dalam 
merekonstruksi proses tersebut. Faktor kontrol yang dimaksud adalah meliputi 
tektonik, iklim, perubahan muka laut; yang mana akhir-akhir ini telah menjadi 
bahan diskusi dan perbincangan oleh berbagai pakar kebumian di seluruh dunia. 
Apabila kita mampu menelusuri faktor-faktor yang berpengaruh pada proses 
tersebut, maka kita akan dapat merekonstruksi suatu rangkaian siklus-siklus 
kejadian dari peristiwa bumi. Dengan mengkalkulasi perkembangan rangkaian 
siklus 
itu, selanjutnya diharapkan akan dapat ditafsirkan kemungkinan proses peristiwa 
bumi mendatang dan dapat meramalkan kemungkinan timbulnya suatu bencana alam. 
Sebagai contoh, dari data geologi yang teramati selama zaman Kuarter hingga 
sekarang di suatu daerah, kita telah memiliki suatu rangkaian dari siklus 
peristiwa bumi yang telah terjadi sebelumnya. Dengan  memperhitungkan dan 
mengevaluasi proses ini, maka diharapkan dapat
meramalkannya untuk masa mendatang. Setidak-tidaknya kita mengetahui rawan 
tidaknya suatu daerah. (Saya sadar, tentu akan banyak menentang pendapat ini).

Lalu bagaimana caranya?. Lakukanlah suatu penelitian evolusi dinamika bumi di 
daerah-daerah cekungan Kuarter. Adanya suatu peristiwa bumi bumi dari waktu ke 
waktu, akan meninggalkan jejak-jejak pada suatu daerah tertentu. Dimasa lalu 
kontrol tektonik secara global telah banyak diterapkan oleh berbagai pakar 
kebumian. Perubahan muka laut yang juga merupakan faktor kontrol peristiwa bumi 
penerapannya telah banyak dikerjakan, namun penelitian ini masih bersifat 
global 
untuk masa periode yang panjang dari suatu rangkaian siklus. Selain itu, 
pergeseran poros bumi akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Akhir-akhir 
ini berbagai pakar kebumian telah menerima dan mulai melakukan penelitian 
dengan 
menguji adanya peralihan suatu  periodik iklim (Milankovitch cycles) yang 
kisaran waktunya antara 20.000, 40.000, 100.000 dan 400.000 tahun. Hampir 
99,99999 % pakar kebumian yang mengutak ngatik konsep ini bukan berasal dari 
geologi, dan sampai saat ini saya belum melihat teman
sejawat ahli kebumian memanfaatkannya (termasuk dari Mancanegara) . Apa ini 
tidak merupakan kesempatan lagi buat kita untuk melakukannya ?.

Selanjutnya, dari perolehan informasi suatu proses peristiwa bumi di masa lalu 
yang dikaitkan dengan lama waktunya, maka tidak menutup kemungkinan peramalan 
proses peristiwa bumi di masa akan datang dapat dilakukan. Sebagai contoh, kita 
telah memperoleh suatu rangkaian siklus tektonik, perubahan muka laut, dan 
iklim 
di suatu daerah, maka kelanjutan proses tersebut untuk masa mendatang dapat 
diramalkan kejadiannya. Saya sudah mencoba melakukan penelitian tersebut, dan 
beberapa tulisan saya seperti mengenai tektonik Jogya/ Singkarak telah saya 
ulas 
berdasarkan  fasa-fasa tektonik yang terjadi sebelumnya.

Sumbangan pemikiran sehubungan dengan pembahasan bencana alam tersebut di atas 
diharapkan dapat memperoleh tanggapan sekaligus menjadi tantangan bagi pakar 
kebumian di Indonesia dan juga dari mancanegara. Disamping masih belum adanya 
publikasi yang membahas secara rinci tentang hal tersebut, juga prinsip dasar 
para ahli kebumian yang masih dianut hingga sekarang adalah : “ Masa kini 
adalah 
kunci masa lalu” ( “The present is the key to the past”) , namun sudah saatnya 
kita berfikir dan mencoba:” Masa kini dan lalu adalah kunci untuk masa 
mendatang” ( The present and the past are the key to the future). Kita harus 
memulainya dengan tidak perlu menunggu model atau temuan baru dari pakar-pakar 
kebumian mancanegara. Sudah barang tentu hal tersebut tidak mudah dilakukan, 
karena kita dituntut untuk:

Berfikir secara filsafat, karena banyak hal-hal baru yang belum kita kenal dan 
ketahui  seiring perkembangan ilmu kebumian akhir-akhir ini. Kesegaran dan 
kepercayaan diri dalam menelaahnya, dengan jauh-jauh membuang pikiran bahwa 
pakar dari mancanegara mempunyai kemampuan yang lebih baik dari. Ini penyakit 
kita dan jangan diteruskan. Mereka cuma lebih dulu dari kita mengetahuinya. 

Sarana yang memadai. Ini sangat sulit kita peroleh. Saya bekerja di Lembaga 
Penelitian tapi selama ini masih kepentingan pribadi dan kelompok yang 
menonjol, 
dan kita tidak akan memiliki sarana yang menunjang. Penelitian hanya digunakan 
sebagai kedok saja dan banyak komedinya.

Mampukah kita?. Dengan keadaan yang kita miliki saat ini, kami berkeyakinan 
bahwa kita mampu melakukannya. Bukankah kita telah memiliki institusi yang 
berkaitan dengan kepentingan tersebut, seperti: Pusat Survei Geologi, Badan 
Meteorologi dan Geofisika, Puslitbang Geoteknologi LIPI, dunia pendidikan 
tinggi 
geologi (institut/universit as) dan sebagainya. Pakar-pakar kita harus  
mempunyai kepercayaan diri yang kuat, namun kesegaran juga harus diperhatikan. 
Kesegaran dalam arti kata untuk bekerja, yang berkaitan dengan bencana budaya 
di 
dalamnya.

Kita jangan lupa, bahwa:

Pada hakekatnya teori ilmu kebumian dan genetikanya dari waktu ke waktu 
mengalami perubahan 


Munculnya teori atau konsep baru sejalan dengan diketemukannaya gejala-gejala 
geologi yang baru (akhir 1960an tektonik lermpeng, akhir 1970an sea-level 
changes, dan akhir 1980an climatic hanges). 3 revolusi kebumian di dekade 
akhir-akhir ini.

Sejarah menunjukkan bahwa sesuatu yang baru berasal dari gagasan seorang saja, 
tidak pernah bersumberkan lebih dari seorang. (Ini salah satu yang dimaksud 
dari 
tuntutan terhadap PhD ortodox sehubungan dengan sumbangsih mereka terhadap ilmu 
pengetahuan)

Gagasan baru umumnya berakibat mendasar dalam membuat garis strategi penelitian 
(jelas sumbangsihnya)

Munculnya gagasan baru, baik atau  buruk, betul atau salah, masih lebih baik 
daripada tidak sama sekali munculnya gagasan baru. Kayaknya bener nich.......

Celakanya, gagasan baru dalam waktu yang lama akan mendapat cacian dan cemoohan 
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, berbahagialah kita apabila gagasan kita 
ditertawakan orang karena harapan sumbangsih kita ke ilmu pengetahuan terbuka. 


PENUTUP

Masih tergiang dalam ingatan kita peristiwa bencana gempabumi/ tsunami Aceh di 
penghujung tahun 2004, gempabumi Jogyakarta pada bulan Mei 2006 yang diikuti 
oleh laporan terjadinya semburan lumpur Sidoarjo pada 29 Mei 2006, gempabumi 
Padang 2007, gempabumi Jawa Barat dan Padang 2009. Bukan saja ahli kebumian 
tapi 
berbagai pihak telah memahami dan menerima bahwa bencana yang terjadi di Aceh, 
Padang, Jawa Barat dan Jogyakarta tersebut adalah peristiwa bumi oleh tektonik 
sebagai bencana alam biasa. Lalu, bagaimana dengan lumpur Lapindo ?. Suatu 
perdebatan yang panjang khususnya  oleh berbagai pakar kebumian telah 
berlangsung, dan sebagian besar dari mereka telah menyimpulkan bahwa lumpur 
panas tersebut adalah sebagai mud vulkano, dan menurut mereka ada tidaknya 
kegiatan pemboran, bencana alam ini memang akan terjadi. 


Peristiwa keluarnya lumpur panas di Sidoarjo, tentunya tidak terlepas kaitannya 
terhadap hubungan antara sumber dan pemicu terjadinya proses tersebut. Kita 
semua dapat menerima bahwa pada perut bumi di Sidoarjo tersebut terkandung 
material lumpur tersebut. Selanjutnya, bersamaan dengan terjadinya peristiwa 
tektonik regional dikala itu telah memicu material tersebut keluar kepermukaan. 
Kenapa demikian ?, hal ini disebabkan karena wilayah Sidoarjo adalah sebagai 
bagian dari daerah rawan bertektonik aktif. Artinya dengan terjadinya aktifitas 
tektonik regional itu telah memberi kesempatan kepada sesar/patahan selaku zona 
lemah dan rekah membuka, hingga menyebabkan material yang belum terkonsolidasi 
tersebut  keluar. Suatu proses yang lumrah dan sederhana yang sering terjadi di 
alam. Tektonik regional yang dimaksud adalah berkaitan dengan gempa Jogyakarta 
dan daerah lainnya di Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan peristiwa keluarnya 
lumpur panas yang dimaksud secara periodik
telah terjadi sebelumnya, dan juga akan berlangsung dikemudian hari. Untuk 
membuktikan hal tersebut, rekonstruksilah peristiwa yang dimaksud dan salah 
satunya dengan melakukan studi dinamika peristiwa bumi diantaranya dengan 
melakukan pendekatan studi siklus-stratigrafi/ orbital stratigrafi (INI SALAH 
SATU ASUMSI SAJA, BOLEH-BOLEH AJA DONG .....). Yang jelas, saya yakin sampai 
sekarang belum ada kesimpulan yang pasti dan benar dari siapapun. Karena kita 
tidak memiliki datanya. Dan yang sangat berkepentingan dalam hal ini adalah 
ahli 
stratigrafi yang setidak-tidaknya membutuhkan data 12 (dua belas) titik bor. 


Seyogianyalah, bencana alam lumpur Sidoarjo ini dapat ditanggulangi  secara 
baik 
oleh Pemerintah. Dan Pemerintah tentu mampu melakukannya, karena masa bencana 
politik yang ditandai oleh turunnya Soekarno dan Soeharto yang diikuti oleh 
bencana ekonomi/ budaya ketika itu telah kita lalui. Eh....eh.... . maaf 
kayaknya sih kita masih dalam kondisi bencana politik, karena ekonomi kita 
tidak 
menentu kayaknya sih, dan budaya kita sudah morat-marit. 


Semoga dengan ulasan ringkas ini, kita lebih mengenal pengertian bencana alam 
untuk ditelaah lebih lanjut di negeri ini. DAN TERAKHIR GAK USAH PERCAYA DENGAN 
ISU GEMPABUMI DI SUMATERA BARAT.
Wassalam,

Herman Moechtar

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke