Sementara itu baik dimaklumi juga editorial ini:
Kamis, 14 Oktober 2010
Bersiap Menghadapi Bencana
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1219

Salam,
--MakNgah
--- In [email protected], Zulkarnain Kahar
<kahar_zulkarn...@...> wrote:
>
> Terima kasih Pak Moechtar
> Mungkin kalau Geologist yang ngomong orang baru percaya..
>
> Sudah beberapa kali kita lewatkan di RN ini tak ada satu pun dukun
tukang ramal
> gempa dimuka bumi ini.Tapi kabaa lah. Urang awak yang mayoritas 99.9
persen
> beragama Islam ko masih percaya jo ramal ramalan ko. buktinya termasuk
tukan
> ramal nasib masih laris manis caliaksilah disetiap koran dan majalah
selalu saja
> ada bintang2an
>
> Beribadahlah engkau seaakan akan akan mati esok karena kematian tidak
pernah
> menuggu gempa bumi ditabrak sepeda juga mati .... Bak kecek pak Zul
Tan
> prepare for the worst and hoping for the best itulah hidup...
>
>
> Salam kenal
>
> Zulkarnain Kahar
> Houston TX
>
>
>
>
>
> ________________________________
> From: Herman Moechtar hmoech...@...
> To: [email protected]
> Sent: Wed, October 13, 2010 9:08:13 PM
> Subject: [...@ntau-net] Bencana
>
>
>
> BENCANA, Pengertian dan Pemahamannya
>
>
>
> Apa bencana itu sebenarnya?. Suatu pertanyaan yang jarang terlontarkan
> dikarenakan semua orang telah mengetahui ataupun telah merasakan atau
setidaknya
> mendengar kata-kata tersebut itu !. Yang jelas, bencana adalah suatu
kondisi
> atau keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun, karena disamping
merusak juga
> dapat menghancurkan. Mengenai kerusakan, sudah barang tentu bukan saja
kerugian
> harta benda tapi terkadang dapat menelan korban manusia. Namun yang
lebih
> penting lagi untuk dipertanyakan adalah: kapan timbulnya bencana
tersebut dan
> bagaimana proses terjadinya ?. Sejauh mana aktifitas kegiatan bencana,
serta
> bagaimana mengatasinya ?. Kita menyadari bahwa untuk menjawab
pertanyaan
> tersebut tentu tidak serta merta di jawab secara sederhana, karena
kadang-kadang
> bencana tersebut dapat timbul disamping karena tingkah laku alam
(bencana alam
> murni) juga dari perilaku  manusia.
>
> Kalau kita sebentar melamun dan mendefinisikan arti bencana secara
umum, maka
> seyogianyalah bencana itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok,
yaitu:
> bencana politik, ekonomi/budaya, dan alam. Ironisnya, ketiga bencana
ini dalam
> penanggulangannya kadang-kadang mempunyai kaitan satu sama lainnya.
Sebagai
> contoh, untuk mengatasi bencana alam diperlukan ekonomi/ budaya yang
memadai
> dengan kondisi politik yang stabil tentunya. Mungkinkah suatu negara
yang sedang
> terlanda bencana politik akan mempunyai atau memiliki ekonomi/
kebudayaan yang
> "baik" ?, atau sebaliknya dengan ekonomi/kebudayaan yang
minim, maka sulit
> rasanya secara tuntas dan seksama dilakukan tindakan mengatasi bencana
alam.
> Masalah ini akan terjawab secara rinci dan seksama, seandainya
berbagai pakar
> dari berbagai disiplin ilmu terkait turut mengkajinya. Komplikasi
bencana yang
> disebutkan ini dapat saja terjadi pada negara yang sedang berkecamuk
perang,
> dengan kondisi  kawasan yang rawan bencana alam. Sebagai contoh, dapat
> dibayangkan seandainya negara Jepang apabila tidak didukung oleh
kondisi politik
> dan ekonomi/ budayanya yang memadai dengan keadaan wilayah yang rawan
akan
> bencana alam itu, bagaimana jadinya negara tersebut. Guna
menanggulangi bencana
> alam ini, Jepang telah menyedot anggaran terbesar untuk kepentingan
sektor ini,
> yang digunakan untuk dana penelitian, peramalan hingga pembenahannya.
Oleh
> karena itu, Jepang adalah salah satu negara yang berhasil dalam
menjinakkan dan
> menanggulangi bencana alam. Ini terbukti dengan keberhasilan mereka
yang secara
> optimal dapat menekan kerugian harta benda dan jatuhnya korban manusia
apabila
> negara ini terlanda bencana alam. Dengan demikian, Jepang dengan
kondisi
> daerahnya yang rawan bencana alam, tapi sukses didalam
menanggulanginya karena
> ditunjang oleh kondisi politik yang stabil dan didukung oleh
ekonomi/budaya yang
> memadai. Saya pernah belajar di NRCDP  (National Research Centre for
Disaster
> Prevention) pada th. 1982. Mereka memberi contoh Vietnam sebagai
contoh negara
> yang terkena bencana politik pada tahun 1970an, dan mereka meramalkan
pula bahwa
> pada dekade tahun 1980an bencana politik itu beralih ke Filipina, dan
untungnya
> tenggang waktunya relatif singkat. Saya terkejut, karena mereka juga
meramalkan
> pada dekade 1990an Indonesia akan menggantikan posisi Filipina
tersebut.
> (Silahkan kita jabarkan, apa iya atau tidak kita telah, atau sedang
mengalaminya
> ?). Yang jelas penanggulangan bencana selama ini masih tidak beres,
gak tau
> kenapa ?.
>
> Dari uraian di atas, terlihat bahwasanya didalam membahas bencana
bukanlah suatu
> hal yang mudah. Pembicaraan selanjutnya lebih ditekankan pada
pemahaman
> terhadap bencana alam, yang berkaitan dengan disiplin ilmu kebumian
(geologi),
> meskipun dalam menanggulangi peristiwa tersebut juga melibatkan
berbagai
> disiplin ilmu lainnya, seperti: geofisika, seismologi, teknik sipil,
geografi,
> dan sebagainya.
>
> Apakah bencana alam itu dapat dicegah ?. Suatu kenyataan untuk
mencegahnya
> sampai saat ini sulit dilakukan, karena berkaitan dengan suatu
perjalanan dari
> mekanisme proses bumi yang mau tidak mau harus diterima. Lalu
bagaimana?,
> satu-satunya jalan adalah dengan cara menanggulanginya. Untuk
penanggulangan ini
> diperlukan suatu tindakan pencegahannya. Tindakan pencegahan dalam
arti kata
> untuk mengatasi bencana tersebut. Kebutuhan akan tindakan ini tentunya
> memerlukan suatu koordinasi yang baik dan terpadu dari berbagai pihak
dengan
> melibatkan berbagai disiplin ilmu yang disebutkan di atas. Namun,
langkah awal
> yang baik dalam membahas penanggulangan bencana alam ini, yang harus
dilakukan
> adalah peramalan  terhadap bencana yang akan terjadi. Untuk itu, perlu
adanya
> suatu penelitian, bukan yang dimaksud dengan suatu penelitian yang
dilakukan
> apabila bencana telah terjadi. SAMPAI SAAT INI BELUM ADA SEORANGPUN
YANG MAMPU
> MERMALKAN PERISTIWA TERSEBUT. Memang dari berbagai pihak sering
melontarkan
> siklus gempabumi (200 tahun;ah, 50 tahulah, dsb.nya), juga banjir 5
tahunlah
> dsb.nya. Memang itu suatu siklus, tapi itu hanya ucapan untuk ULTAH
saja, karena
> sudah terjadi sebelumnya bukan hasil meramal dari suatu penelitian
yang
> menyangkut proses perulangan peristiwa tersebut.
>
> Kita sering mendengar, apabila telah terjadi suatu bencana alam di
negeri ini,
> maka berbondong-bondongl ah para pakar ilmu kebumian menelaah dan
mendatangi
> daerah tersebut. Berbagai kupasan dan tanggapan di media masa,
seminar,
> simposium, dan sebagainya terus berlanjut dengan mengeluarkan biaya
yang tidak
> sedikit. Semua itu bukan tidak bermanfaat, namun pada kondisi ini
sebetulnya
> lebih  mengarah pada faktor pembenahan fisik saja, dimana lebih
relevan apabila
> ditangani oleh Departeman Sosial, Departemen Pekerjaan Umum,
Pemerintah Daerah,
> dam instansi terkait lainnya. Bukan pakar kebumian, kecuali hanya
ingin
> mempelajari model bencana tersebut (Jadi gak usah sok repot segala).
Lalu apa
> yang harus diperbuat sedini mungkin?. Lakukanlah penelitian yang benar
dan
> bermanfaat. Cobalah ramalkan kemungkinan akan timbulnya bencana alam
tersebut,
> sehingga apabila bencana itu terjadi tidak menimbulkan banyak korban
manusia dan
> kerugian harta benda yang tinggi. Sebagian besar pakar kebumian
berpendapat
> bahwasanya peristiwa bencana alam itu tidak dapat diramalkan kapan
terjadinya.
> Tapi lebih tepat dikatakan bahwa kita masih belum mampu untuk
meramalkannya.
> Kenapa ?, karena peristiwa bencana alam itu adalah merupakan suatu
rangkaian
> kejadian yang sifatnya teratur secara periodik.
>
>
> Adanya suatu evolusi dinamika bumi secara periodik dan teratur,  salah
satunya
> dapat mengakibatkan terjadinya suatu proses. Proses ini dapat
memberikan suatu
> dampak dari perubahan muka laut, iklim, dan tektonik. Yang terakhir,
lebih
> dikenal sebagai suatu aktifitas dari pergerakan lempeng (plate) yaitu
suatu blok
> kaku (rigid block) daripada kerak bumi dan lapisan atas (upper
mantle). Dalam
> ilmu kebumian konsep pergerakan lempeng (plate tectonics) ini telah
diterima dan
> dikembangkan. Sebagian besar pusat gempa bumi terjadi di sepanjang
ini, dan 80%
> dari seluruh gempa bumi yang timbul berasal dari jalur laut Pasifik.
Indonesia
> merupakan tempat pertemuan dari tiga lempeng utama (megaplates) ,
yaitu lempeng
> Eurasian di utara, lempeng Pasifik di timur, dan lempeng
Indo-Australian di
> selatan. Tumbukan dari ketiga lempeng inilah yang memberikan dampak
terhadap
> timbulnya bencana gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami, yang
menyebabkan
> negara kita sangat rentan terhadap bencana alam ini. Wilayah barat
Sumatera
> adalah  merupakan daerah yang rawan terkena efek tersebut, dan
gempabumi adalah
> salah satu dampak yang terjadi di tempat tersebut.
>
> Lalu bagaimana?. Jelas disini mau tidak mau kita harus melakukan suatu
> penelitian dengan sasaran untuk menjelaskan proses tersebut di masa
lalu hingga
> sekarang, yang selanjutnya kita ramalkan untuk masa mendatang.
Mungkinkah itu?.
> Untuk menjawabnya, para pakar ilmu kebumian harus lebih memfokuskan
dirinya pada
> data geologi yang terjadi selama zaman Kuarter yang menyangkut kurun
waktu ± 2
> juta tahun terakhir, khususnya kala Holosen (masa 10.000 tahun
terakhir).
> Sayangnya kurun waktu Kuarter ini hampir-hampir tidak tersentuh oleh
kaum
> GEOLOGI. Jangan sangka Geologi Kuarter itu kerjaan geologi atau
bagiannya. Itu
> hanya menunjukkan secara kronologis Geologi waktu Kuarter. Wong
literaturnya
> hampir-hampir tidak ada orang geologinya kok. Artinya, peluang buat
ahli
> kebumian untuk mendekati aspek tersebut sangat besar akan tetapi 
harus bekerja
> keras dan filosofi jangan aplikasi.
>
> Untuk keperluan penelitian ini, tentunya dibutuhkan faktor-faktor
kontrol dalam
> merekonstruksi proses tersebut. Faktor kontrol yang dimaksud adalah
meliputi
> tektonik, iklim, perubahan muka laut; yang mana akhir-akhir ini telah
menjadi
> bahan diskusi dan perbincangan oleh berbagai pakar kebumian di seluruh
dunia.
> Apabila kita mampu menelusuri faktor-faktor yang berpengaruh pada
proses
> tersebut, maka kita akan dapat merekonstruksi suatu rangkaian
siklus-siklus
> kejadian dari peristiwa bumi. Dengan mengkalkulasi perkembangan
rangkaian siklus
> itu, selanjutnya diharapkan akan dapat ditafsirkan kemungkinan proses
peristiwa
> bumi mendatang dan dapat meramalkan kemungkinan timbulnya suatu
bencana alam.
> Sebagai contoh, dari data geologi yang teramati selama zaman Kuarter
hingga
> sekarang di suatu daerah, kita telah memiliki suatu rangkaian dari
siklus
> peristiwa bumi yang telah terjadi sebelumnya. Dengan  memperhitungkan
dan
> mengevaluasi proses ini, maka diharapkan dapat
> meramalkannya untuk masa mendatang. Setidak-tidaknya kita mengetahui
rawan
> tidaknya suatu daerah. (Saya sadar, tentu akan banyak menentang
pendapat ini).
>
> Lalu bagaimana caranya?. Lakukanlah suatu penelitian evolusi dinamika
bumi di
> daerah-daerah cekungan Kuarter. Adanya suatu peristiwa bumi bumi dari
waktu ke
> waktu, akan meninggalkan jejak-jejak pada suatu daerah tertentu.
Dimasa lalu
> kontrol tektonik secara global telah banyak diterapkan oleh berbagai
pakar
> kebumian. Perubahan muka laut yang juga merupakan faktor kontrol
peristiwa bumi
> penerapannya telah banyak dikerjakan, namun penelitian ini masih
bersifat global
> untuk masa periode yang panjang dari suatu rangkaian siklus. Selain
itu,
> pergeseran poros bumi akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
Akhir-akhir
> ini berbagai pakar kebumian telah menerima dan mulai melakukan
penelitian dengan
> menguji adanya peralihan suatu  periodik iklim (Milankovitch cycles)
yang
> kisaran waktunya antara 20.000, 40.000, 100.000 dan 400.000 tahun.
Hampir
> 99,99999 % pakar kebumian yang mengutak ngatik konsep ini bukan
berasal dari
> geologi, dan sampai saat ini saya belum melihat teman
> sejawat ahli kebumian memanfaatkannya (termasuk dari Mancanegara) .
Apa ini
> tidak merupakan kesempatan lagi buat kita untuk melakukannya ?.
>
> Selanjutnya, dari perolehan informasi suatu proses peristiwa bumi di
masa lalu
> yang dikaitkan dengan lama waktunya, maka tidak menutup kemungkinan
peramalan
> proses peristiwa bumi di masa akan datang dapat dilakukan. Sebagai
contoh, kita
> telah memperoleh suatu rangkaian siklus tektonik, perubahan muka laut,
dan iklim
> di suatu daerah, maka kelanjutan proses tersebut untuk masa mendatang
dapat
> diramalkan kejadiannya. Saya sudah mencoba melakukan penelitian
tersebut, dan
> beberapa tulisan saya seperti mengenai tektonik Jogya/ Singkarak telah
saya ulas
> berdasarkan  fasa-fasa tektonik yang terjadi sebelumnya.
>
> Sumbangan pemikiran sehubungan dengan pembahasan bencana alam tersebut
di atas
> diharapkan dapat memperoleh tanggapan sekaligus menjadi tantangan bagi
pakar
> kebumian di Indonesia dan juga dari mancanegara. Disamping masih belum
adanya
> publikasi yang membahas secara rinci tentang hal tersebut, juga
prinsip dasar
> para ahli kebumian yang masih dianut hingga sekarang adalah : "
Masa kini adalah
> kunci masa lalu" ( "The present is the key to the past") ,
namun sudah saatnya
> kita berfikir dan mencoba:" Masa kini dan lalu adalah kunci untuk
masa
> mendatang" ( The present and the past are the key to the future).
Kita harus
> memulainya dengan tidak perlu menunggu model atau temuan baru dari
pakar-pakar
> kebumian mancanegara. Sudah barang tentu hal tersebut tidak mudah
dilakukan,
> karena kita dituntut untuk:
>
> Berfikir secara filsafat, karena banyak hal-hal baru yang belum kita
kenal dan
> ketahui  seiring perkembangan ilmu kebumian akhir-akhir ini. Kesegaran
dan
> kepercayaan diri dalam menelaahnya, dengan jauh-jauh membuang pikiran
bahwa
> pakar dari mancanegara mempunyai kemampuan yang lebih baik dari. Ini
penyakit
> kita dan jangan diteruskan. Mereka cuma lebih dulu dari kita
mengetahuinya.
>
> Sarana yang memadai. Ini sangat sulit kita peroleh. Saya bekerja di
Lembaga
> Penelitian tapi selama ini masih kepentingan pribadi dan kelompok yang
menonjol,
> dan kita tidak akan memiliki sarana yang menunjang. Penelitian hanya
digunakan
> sebagai kedok saja dan banyak komedinya.
>
> Mampukah kita?. Dengan keadaan yang kita miliki saat ini, kami
berkeyakinan
> bahwa kita mampu melakukannya. Bukankah kita telah memiliki institusi
yang
> berkaitan dengan kepentingan tersebut, seperti: Pusat Survei Geologi,
Badan
> Meteorologi dan Geofisika, Puslitbang Geoteknologi LIPI, dunia
pendidikan tinggi
> geologi (institut/universit as) dan sebagainya. Pakar-pakar kita harus
> mempunyai kepercayaan diri yang kuat, namun kesegaran juga harus
diperhatikan.
> Kesegaran dalam arti kata untuk bekerja, yang berkaitan dengan bencana
budaya di
> dalamnya.
>
> Kita jangan lupa, bahwa:
>
> Pada hakekatnya teori ilmu kebumian dan genetikanya dari waktu ke
waktu
> mengalami perubahan
>
>
> Munculnya teori atau konsep baru sejalan dengan diketemukannaya
gejala-gejala
> geologi yang baru (akhir 1960an tektonik lermpeng, akhir 1970an
sea-level
> changes, dan akhir 1980an climatic hanges). 3 revolusi kebumian di
dekade
> akhir-akhir ini.
>
> Sejarah menunjukkan bahwa sesuatu yang baru berasal dari gagasan
seorang saja,
> tidak pernah bersumberkan lebih dari seorang. (Ini salah satu yang
dimaksud dari
> tuntutan terhadap PhD ortodox sehubungan dengan sumbangsih mereka
terhadap ilmu
> pengetahuan)
>
> Gagasan baru umumnya berakibat mendasar dalam membuat garis strategi
penelitian
> (jelas sumbangsihnya)
>
> Munculnya gagasan baru, baik atau  buruk, betul atau salah, masih
lebih baik
> daripada tidak sama sekali munculnya gagasan baru. Kayaknya bener
nich.......
>
> Celakanya, gagasan baru dalam waktu yang lama akan mendapat cacian dan
cemoohan
> dari berbagai pihak. Oleh karena itu, berbahagialah kita apabila
gagasan kita
> ditertawakan orang karena harapan sumbangsih kita ke ilmu pengetahuan
terbuka.
>
>
> PENUTUP
>
> Masih tergiang dalam ingatan kita peristiwa bencana gempabumi/ tsunami
Aceh di
> penghujung tahun 2004, gempabumi Jogyakarta pada bulan Mei 2006 yang
diikuti
> oleh laporan terjadinya semburan lumpur Sidoarjo pada 29 Mei 2006,
gempabumi
> Padang 2007, gempabumi Jawa Barat dan Padang 2009. Bukan saja ahli
kebumian tapi
> berbagai pihak telah memahami dan menerima bahwa bencana yang terjadi
di Aceh,
> Padang, Jawa Barat dan Jogyakarta tersebut adalah peristiwa bumi oleh
tektonik
> sebagai bencana alam biasa. Lalu, bagaimana dengan lumpur Lapindo ?.
Suatu
> perdebatan yang panjang khususnya  oleh berbagai pakar kebumian telah
> berlangsung, dan sebagian besar dari mereka telah menyimpulkan bahwa
lumpur
> panas tersebut adalah sebagai mud vulkano, dan menurut mereka ada
tidaknya
> kegiatan pemboran, bencana alam ini memang akan terjadi.
>
>
> Peristiwa keluarnya lumpur panas di Sidoarjo, tentunya tidak terlepas
kaitannya
> terhadap hubungan antara sumber dan pemicu terjadinya proses tersebut.
Kita
> semua dapat menerima bahwa pada perut bumi di Sidoarjo tersebut
terkandung
> material lumpur tersebut. Selanjutnya, bersamaan dengan terjadinya
peristiwa
> tektonik regional dikala itu telah memicu material tersebut keluar
kepermukaan.
> Kenapa demikian ?, hal ini disebabkan karena wilayah Sidoarjo adalah
sebagai
> bagian dari daerah rawan bertektonik aktif. Artinya dengan terjadinya
aktifitas
> tektonik regional itu telah memberi kesempatan kepada sesar/patahan
selaku zona
> lemah dan rekah membuka, hingga menyebabkan material yang belum
terkonsolidasi
> tersebut  keluar. Suatu proses yang lumrah dan sederhana yang sering
terjadi di
> alam. Tektonik regional yang dimaksud adalah berkaitan dengan gempa
Jogyakarta
> dan daerah lainnya di Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan peristiwa
keluarnya
> lumpur panas yang dimaksud secara periodik
> telah terjadi sebelumnya, dan juga akan berlangsung dikemudian hari.
Untuk
> membuktikan hal tersebut, rekonstruksilah peristiwa yang dimaksud dan
salah
> satunya dengan melakukan studi dinamika peristiwa bumi diantaranya
dengan
> melakukan pendekatan studi siklus-stratigrafi/ orbital stratigrafi
(INI SALAH
> SATU ASUMSI SAJA, BOLEH-BOLEH AJA DONG .....). Yang jelas, saya yakin
sampai
> sekarang belum ada kesimpulan yang pasti dan benar dari siapapun.
Karena kita
> tidak memiliki datanya. Dan yang sangat berkepentingan dalam hal ini
adalah ahli
> stratigrafi yang setidak-tidaknya membutuhkan data 12 (dua belas)
titik bor.
>
>
> Seyogianyalah, bencana alam lumpur Sidoarjo ini dapat ditanggulangi 
secara baik
> oleh Pemerintah. Dan Pemerintah tentu mampu melakukannya, karena masa
bencana
> politik yang ditandai oleh turunnya Soekarno dan Soeharto yang diikuti
oleh
> bencana ekonomi/ budaya ketika itu telah kita lalui. Eh....eh.... .
maaf
> kayaknya sih kita masih dalam kondisi bencana politik, karena ekonomi
kita tidak
> menentu kayaknya sih, dan budaya kita sudah morat-marit.
>
>
> Semoga dengan ulasan ringkas ini, kita lebih mengenal pengertian
bencana alam
> untuk ditelaah lebih lanjut di negeri ini. DAN TERAKHIR GAK USAH
PERCAYA DENGAN
> ISU GEMPABUMI DI SUMATERA BARAT.
> Wassalam,
>
> Herman Moechtar



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke