Sanak sapalanta yang ambo hormati, Assalamu'alaikumWW,
Pembahasan dengan topik kereta wisata Sumbar bagi saya merupakan wacana yang menarik, karena 'Kereta Wisata Sumbar' merupakan 'perkawinan' dari semangat dan tekad membangkitkan dunia wisata Sumbar dari keterpurukannya, tersedianya sarana & prasarana kereta api peninggalan Belanda dan Republik yang 'idle', serta organisasi PT KAI Divre II yang agak 'gemuk' (overstaffed) dibandingkan dengan operasional rieel mereka sehari-hari. Dari awal semua pihak menyadari sepenuhnya bahwa pengoperasiaan kereta wisata ini dari segi bisnis akan merugi, dengan tidak sebandingnya pemasukan dari penjualan karcis dengan biaya langsung operasional. Tingkat pengisian tempat duduk (occupancy rate) masih sangat rendah. Kondisi awal ini kemudian diatasi dengan asumsi bahwa dengan peningkatan pariwisata dari kabupaten yang diliwati kereta wisata ini, akan timbul 'intangible benefit' berupa kemaslahatan bagi masyarakat setempat, serta adanya peningkatan jumlah penumpang secara bertahap. Musyawarah diadakan dan keputusan diambil : kabupaten yang dilalui kereta wisata akan mensubsidi biaya operasi sampai tercapainya BEP. Disinilah saya kira penyakit pertama khas Indonesia terjadi, yaitu bahwa kalau keputusan penting sudah diambil, maka dia pasti akan berjalan dengan sendirinya. Tidak perlu pemantauan (monitoring), tidak perlu pengendalian (kontrol). Malahan mungkin tidak pula ada 'rencana kerja' yang memadai yang akan dijadikan tolok ukur dalam memantau dan mengendalikan. Apa yang terjadi ? Tampaknya Kabupaten yang diliwati kereta wisata tidak merasakan adanya 'intangible benefit' tadi. PAD mereka tetap 'ngap2an'. PT KAI Divre II tetap pusing 7 keliling dengan biaya rutin mereka yang tidak sebanding dengan pemasukan pengoperasian dan pendapatan lain2 (penyewaan gedung, dll) dan wisatawan berkantung padat yang jadi sasaran tampaknya juga sangat terbatas. PT KAI adalah suatu badan usaha yang tentunya salah satu tujuannya mencari keuntungan. Adakah upaya untuk melangsingkan organisasi guna menyesuaikannya dengan lingkup operasi yang ada (yang sangat terbatas itu) ? Adakah upaya maksimal untuk memanfaatkan secara bisnis yang baik semua asset yang mereka miliki (asset mereka sangat luar biasa nilainya) ? Contohnya kerja sama dengan swasta untuk angkutan barang seperti kata sanak Anzori diatas umpamanya. Sudahkah azas2 bisnis & management yang baik diterapkan di badan usaha milik negara ini (yang biasanya beda dengan swasta murni, ada nggak ada pendapatan toch gaji dibayar terus). Secara teknis, yang paling jelas biaya pemeliharaan rutin dan periodik serta biaya perbaikan dan rekonstruksi konstruksi jalan kereta api tergolong tidak murah. Lapisan ballast (kerikil) secara periodik harus 'dilonggar'kan, inspeksi sarana & prasaran dijalankan secara ketat, baut rel dan jembatan harus dikencangkan secara berkala, dan kelurusan atau kelengkungan rel harus selalu diperiksa dan dikoreksi. Keamanan pada perlintasan dengan jalan raya atau di daerah pemukiman harus diawasi ketat. Bagaimana kalau dalam kondisi minim biaya segalanya ini, kereta api tetap harus dijalankan karena adanya keputusan politis dari gubernur, bupati, atau presiden RI sekalipun, dengan dalih apapun ? Dari waktu ke waktu media mewartakan kecelakaan kereta api diberbagai penjuru dunia dan terutama di negara kita sendiri. Kecelakaan biasanya bersifat fatal. Banyak yang disebabkan 'human error' yang sepele : pintu kereta yang lupa ditutup, sinyal yang tidak kelihatan, 2 kereta bergerak dalam satu jalur lintasan, dll, dll. Banyak aspek teknis dan non teknis harus dikaji ulang, tidak cukup hanya dikomunikasikan. Kesalahan menurut saya bukan hanya sekadar pada laporan keuangan dari pihak PT KAI yang tidak diajukan ke pihak Kabupaten. Menyangkut subsidi, sebagai orang yang bergelimang di dunia bisnis, saya sulit menangkap skenario bahwa kabupaten mensubsidi operasional kereta wisata yang membawa wisatawan, dengan dalih wisatawan juga memberi keuntungan pada kabupaten yang bersangkutan. Wisatawan disubsidi pemda ? Saya dapat memahami kewajiban sosial PT KAI dalam mensubsisi angkutan umum masyarakat golongan bawah. Wisatawan ? Apalagi yang berkantong tebal ? Kesimpulannya bagi saya : kita sebaiknya tidak perlu meradang kalau kereta wisata ini ternyata harus dihentikan dulu karena alasan finansial, yang berpotensi pada pengabaian pemeliharaan dan perbaikan sarana& prasarana, serta bangunan pelengkapnya. Lebih baik memang dilakukan evaluasi secara profesional dan 'business like'. Kestabilan lereng perbukitan Anai (dan lereng2 lainnya di Sumbar) belum meyakinkan keamanannya, kepala jembatan (abutment) perlu diteliti ulang menyangkut kestabilan dan ancaman erosi sungai, ballast di bawah rel rasanya sudah perlu dilonggarkan untuk kelancaran drainase dan peredaman getaran, kelurusan dan radius lengkung rel perlu diperiksa. Semuanya sesuai dengan tradisi kerja di lingkungan kereta api di seluruh dunia yang amat mementingkan faktor keselamatan. Permasalahan dengan komplikasi tinggi seperti ini tampaknya tidak dapat diselesaikan secara sederhana. PT KAI dimana-mana punya masalah finansial. Kereta Parahyangan yang terkenal itu saja harus dihentikan operasionalnya. PT KAI Divre II Sumbar rasa saya posisinya lebih dilematis lagi. Nggak percaya....? hayoo sama2 kita amati nanti....... Maaf & wassalam, Epy Buchari L-67, Ciputat Timur -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
