hehehe, pak Andiko yang baik, 3 tahun terakhir ini usaha ternak sapi di ranah minang, sedikit menurun. Ada beberapa faktor seperti menurunnya harga jual & permintaan. Hal ini disebabkan "kalangan pengusaha kelas kakap" sudah mulai melirik sektor ini. Selain itu, pola usaha ternak di nagari-nagari umumnya masih dalam bentuk perseorangan (bukan berbentuk gapoktan/kelompok tani) sehingga untuk pengadaan pakan cukup sulit sebab harus berjuang sendiri. Terlebih lagi, peternak masih mengandalkan cara-cara lama seperti mencari rumput liar sebagai pakan serta teknik penggembalaan.
Apabila dilakukan dalam bentuk usaha tani dalam gapoktan/kelompok tani, kandang sapi simental ini bisa disatukan (seperti di IV Angkek - Agam). Selain itu gapoktan bisa membeli ampas tahu dalam jumlah banyak untuk setiap kali pembelian, sehingga harga pembelian lebih murah & biaya transportasi bisa ditekan lebih minim (tantu bali tongkong jo eceran jauh babeda). Selain itu, dengan gapoktan, petani bisa bersama-sama membuat "hyase", yang berasal dari jerami padi sebagai pakan ternak dalam jumlah besar (sebab panen padi biasanya dalam 1 ha menghasilkan padi 5 ton & jerami 20 ton) yang sisa bisa dikembalikan pada lahan persawahan untuk penggemburan kembali. Usaha tani dengan 1 kandang, selain efesien, juga mendatangkan keuntungan lain, dengan lokasi yang sama, pengumpulan kotoran sapi bisa lebih mudah sehingga bisa dialihkan menjadi energi tergantikan seperti biogas untuk keperluan memasak (bahan bakar) & energi listrik. Apabila gas metana yang dihasilkan sudah habis, sisa kotoran bisa dikembalikan pada lahan yang saat ini memang digalakan pertanian organik. Dengan begitu penggunaan pupuk an organik seperti Urea, ZK, TSP & NPK bisa ditekan seminim mungkin, berhubung mahal & langka dipasaran. Mengenai mengapa harus ke Pekanbaru? perlu kita ketahui Basrizal Koto saat ini mengembangkan pertenakan sapi terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki bibit melimpah, dengan pendekatan "membangun nagari, harga yang didapat bisa diperoleh semurah mungkin & tentunya seragam. Apabila kita membeli di "pasa taranak" tentu stock nya kurang & harga bervariasi. Ini memperngauhi biaya transportasi & waktu. Apabila kita berbicara tentang sapi Simental, yang berasal dari Switzerland & Selandia Baru, petani harus menanam rumput gajah, sebab untuk sapi jenis ini memiliki kebutuhan pakan yang tinggi. Selain rumput bisa digunakan ampas tahu, ampas ubi kayu (limbah tapioka), bungkil kelapa, bungkil jagung, tanaman jagung yang sudah dipanen, hyase. Sekedar informasi, untuk pertumbuhan normal, sapi Simental pada usia 4 tahun rata-rata bobotnya 800-1000 kg, dengan hasil karkas 60 %. Apabila kita menghitung 800 kg x 60 % x 45.000/kg = Rp. 21.600.000,-. Hitungan ini belum termasuk kulit, tulang & darah sapi yang bisa dijadikan tepung tulang & tepung darah untuk bahan baku pembuatan pakan ternak ayam potong. Bagi bundo-bundo tentu tahu harga pasar daging sapi saat ini adalah Rp. 60.000,- /kg, saya hanya menghitung harga jual sebesar Rp. 45.000,-/kg Mungkinkah kita membantu Nagari - Nagari di ranah minang? Saya hanya punya tenaga, waktu & sedikit pemikiran, tentunya ini masih belum cukup. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin. wasalam AZ - 32 th Padang (membangun nagari menuju masyarakat madani >> bertahan terhadap arus kapitalisme). ________________________________ Dari: andiko <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jum, 15 Oktober, 2010 21:09:49 Judul: Re: Bls: [...@ntau-net] Kok sayang ka padi, siangi rumpuik ... " (saya punya angan-angan, suatu hari nanti saya sedang duduk di dalam truck Colt Diesel 125 PS sedang menuju Pekanbaru menjemput pedet (bibit sapi) simmental di peternakan Basrizal Koto untuk dibawa ke Nagari-Nagari sebagai bantuan kredit lunak untuk gapoktan/kelompok tani, amin ya Rabbal alamin)." Tulisan dia ateh ambo kutib dari tulisan pak Armen. Pertanyaannyo, baa kok jauah bana ka Pakanbaru manjapuik bibit, apokah indak ado di Padang Mangateh-Mungo, di BPT-HMT Padang Mangateh ? Salam andiko ----- Original Message ----- From: "Armen Zulkarnain" <[email protected]> To: [email protected] Cc: "Saafroedin Bahar" <[email protected]>, "Mochtar Naim" <[email protected]> Sent: Friday, October 15, 2010 7:42:41 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta Subject: Bls: [...@ntau-net] Kok sayang ka padi, siangi rumpuik ... Assalamualaikum wr wb Tarimo kasih Mak Ngah ateh linknyo. Kabatulan ambo sadang mengkoleksi link-link sarupo iko. Ado babaropo point nan bisa diambiak : - Gapoktan/LKMA Nan Dihati Lasi IV Angkek & LKMA Prima Tani Baso - Masril Koto, pendiri LKMA Prima Tani Baso dan konsultan perusahaan Belanda serta nominasi peraih Danamon Award (semoga pak Masril Koto ini ada email atau akun facebooknya) - Masril Koto >> petani tidak bisa mengakses modal langsung ke bank, karena itu harus ada lembaga lain (ini yang disebut pendampingan/assesment) - D ana perdagangan umum dari dana titipan masyarakat (saya yakin ini dana masyarakat nagari & para perantau) - D ana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan ( PUAP) (dana dari Pemerintah Daerah) - D imulai dari ketulusan hati (insya Allah banyak kalangan perantau yang memiliki ketulusan hati, seperti di palanta RN ini, sedikit gombal tentu tidak mengapa hehehe) - Alangkah baiknya hal ini bisa dilakukan pada nagari-nagari yang lain (di Sumbar terdapat 625 Nagari, tentunya bisa bekerjasama lewat Persatuan Wali Nagari di 11 Kabupaten) Wasalam AZ - 32 th ( Tan Nyinyia soal Nagari) Padang (saya punya angan-angan, suatu hari nanti saya sedang duduk di dalam truck Colt Diesel 125 PS sedang menuju Pekanbaru menjemput pedet (bibit sapi) simmental di peternakan Basrizal Koto untuk dibawa ke Nagari-Nagari sebagai bantuan kredit lunak untuk gapoktan/kelompok tani, amin ya Rabbal alamin). Dari: sjamsir_sjarif <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jum, 15 Oktober, 2010 19:17:59 Judul: [...@ntau-net] Kok sayang ka padi, siangi rumpuik ... Kamis, 14 Oktober 2010 KELOMPOK TANI KELOLA RP300 JUTA Petani Pasanehan Maju Selangkah Trisno Edward AGAM — Kini, petani di Pasanehan, Lasi, Kecamatan Canduang, Agam, mulai nyaman. Mereka punya simpanan Rp350 juta. Jika ada keperluan mendadak bisa dipinjam. Bahkan, mereka mulai memikirkan `hidup nyaman di hari tua' Di mata mereka, petani tidak akan dapat berkembang tanpa membangun kemandirian dengan kebersamaan. Untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran, petani harus mandiri dan tidak selalu tergantung kepada pihak lain terutama dalam akses modal. Prinsip atau motto tersebut menjadi pegangan dan landasan bagi Gabungan Kelompok Tani/ Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis "Nan Dihati" di Jorong Pasanehan. dst caliak di Harian Singgalang: http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1234 Dari Jauah di subarang lauik kito ucapkan Selamat Kito ka Rang Kampuang nan mudah-mudahan tatap Rukun dan Damai Kok sayang ka padi, siangi rumpuik. Padi masak, jaguang maupiah... Salam, --MakNgah Sjamsir Sjarif Di Tapi Riak nan Badabua Santa Cruz, Calaifornia -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
