Raso bernostalgia ambo Pak Armen. Pagi-pagi biasonyo kami minum Niro nan baru 
turun dari batang anau di Padang Mangateh Nagari Mungo tu. Ambo pernah bolak 
baliak kasinan sekitar 7-8 tahun nan lalu. Sambia duduak di lapau, bacaliak 
pulo penduduk nan lalu lalang pai ka sawah, kaladang atau sadang manjujuang 
rumpuik untuak jawi nan inyo gapuakkan. Kok malam, yo sabana dingin Padang 
Mangateh itu, bakaluak badan dek manahan dingin disinan.

Anak nagari bagian Padang mangateh itu manjadikan usaho bataranak Jawi sebagai 
satu usaha andalan. Salain itu juo sebagai usaha untuak manabuang, untuak 
masuak sikola anak, untuak biaya pambuek rumah dan untuak mamparalekkan anak. 
Di Payokumbuah itu juo dulu ado urang gaek kawan ambo nan punyo jawi 100 ikua. 
Tapi dari nan saratuih itu, hanyo duo ikua nan ado di rumahnyo untuak pamenan. 
Sisonyo di paduokan ka urang kampuang nan membutuhkan. Jadi konsep liau ko, 
bausaho sambia manolong urang kampuang.

Salam

andiko
----- Original Message -----
From: "Armen Zulkarnain" <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: "Saafroedin Bahar" <[email protected]>, "Mochtar Naim" 
<[email protected]>
Sent: Friday, October 15, 2010 9:57:02 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: Bls: Bls: [...@ntau-net] Kok sayang ka padi, siangi rumpuik ...





hehehe, pak Andiko yang baik, 3 tahun terakhir ini usaha ternak sapi di ranah 
minang, sedikit menurun. Ada beberapa faktor seperti menurunnya harga jual & 
permintaan. Hal ini disebabkan "kalangan pengusaha kelas kakap" sudah mulai 
melirik sektor ini. Selain itu, pola usaha ternak di nagari-nagari umumnya 
masih dalam bentuk perseorangan (bukan berbentuk gapoktan/kelompok tani) 
sehingga untuk pengadaan pakan cukup sulit sebab harus berjuang sendiri. 
Terlebih lagi, peternak masih mengandalkan cara-cara lama seperti mencari 
rumput liar sebagai pakan serta teknik penggembalaan. 


Apabila dilakukan dalam bentuk usaha tani dalam gapoktan/kelompok tani, kandang 
sapi simental ini bisa disatukan (seperti di IV Angkek - Agam). Selain itu 
gapoktan bisa membeli ampas tahu dalam jumlah banyak untuk setiap kali 
pembelian, sehingga harga pembelian lebih murah & biaya transportasi bisa 
ditekan lebih minim (tantu bali tongkong jo eceran jauh babeda). Selain itu, 
dengan gapoktan, petani bisa bersama-sama membuat "hyase", yang berasal dari 
jerami padi sebagai pakan ternak dalam jumlah besar (sebab panen padi biasanya 
dalam 1 ha menghasilkan padi 5 ton & jerami 20 ton) yang sisa bisa dikembalikan 
pada lahan persawahan untuk penggemburan kembali. 


Usaha tani dengan 1 kandang, selain efesien, juga mendatangkan keuntungan lain, 
dengan lokasi yang sama, pengumpulan kotoran sapi bisa lebih mudah sehingga 
bisa dialihkan menjadi energi tergantikan seperti biogas untuk keperluan 
memasak (bahan bakar) & energi listrik. Apabila gas metana yang dihasilkan 
sudah habis, sisa kotoran bisa dikembalikan pada lahan yang saat ini memang 
digalakan pertanian organik. Dengan begitu penggunaan pupuk an organik seperti 
Urea, ZK, TSP & NPK bisa ditekan seminim mungkin, berhubung mahal & langka 
dipasaran. 


Mengenai mengapa harus ke Pekanbaru? perlu kita ketahui Basrizal Koto saat ini 
mengembangkan pertenakan sapi terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki bibit 
melimpah, dengan pendekatan "membangun nagari, harga yang didapat bisa 
diperoleh semurah mungkin & tentunya seragam. Apabila kita membeli di "pasa 
taranak" tentu stock nya kurang & harga bervariasi. Ini memperngauhi biaya 
transportasi & waktu. 
Apabila kita berbicara tentang sapi Simental, yang berasal dari Switzerland & 
Selandia Baru, petani harus menanam rumput gajah, sebab untuk sapi jenis ini 
memiliki kebutuhan pakan yang tinggi. Selain rumput bisa digunakan ampas tahu, 
ampas ubi kayu (limbah tapioka), bungkil kelapa, bungkil jagung, tanaman jagung 
yang sudah dipanen, hyase. Sekedar informasi, untuk pertumbuhan normal, sapi 
Simental pada usia 4 tahun rata-rata bobotnya 800-1000 kg, dengan hasil karkas 
60 %. Apabila kita menghitung 800 kg x 60 % x 45.000/kg = Rp. 21.600.000,-. 
Hitungan ini belum termasuk kulit, tulang & darah sapi yang bisa dijadikan 
tepung tulang & tepung darah untuk bahan baku pembuatan pakan ternak ayam 
potong. Bagi bundo-bundo tentu tahu harga pasar daging sapi saat ini adalah Rp. 
60.000,- /kg, saya hanya menghitung harga jual sebesar Rp. 45.000,-/kg 


Mungkinkah kita membantu Nagari - Nagari di ranah minang? Saya hanya punya 
tenaga, waktu & sedikit pemikiran, tentunya ini masih belum cukup. Semoga 
bermanfaat, amin ya Rabbal alamin. 


wasalam 


AZ - 32 th 
Padang (membangun nagari menuju masyarakat madani >> bertahan terhadap arus 
kapitalisme). 




-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke