Sabtu, 24 Juli 2010 Museum Elly Kasim MAKMUR HENDRIK Siapa yang tidak mengenal Elly Kasim? Tidak hanya di Sumatra Barat, Indonesia juga amat mengenal nama dan kiprahnya. Bahkan namanya juga amat dikenal oleh rakyat di negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam sejak tahun 60-an. Dia adalah penyanyi legendaris Sumatra Barat, yang sekaligus juga penyanyi legendaris Indonesia!
Legendaris yang saat ini masih hidup dan masih tetap tampil tidak hanya di
Indoneisa, tapi (bersama Nazif Basir sang suami) juga tampil di puluhan negara
di dunia. Di puluhan negara tersebut dia menjadi duta kesenian Indonesia,
terutama Minangkabau. Sejak beberapa tahun yang lalu, muncul gagasan untuk
membuat Museum Elly Kasim.
Dari serangkai pembicaran dengan yang patut-patut, mulai dari Mensos (waktu
itu)
Bachtiar Chamsyah dan Menteri Pariwisata I Gde Ardika, Gubernur Zainal Bakar
dan
Gamawan Fauzi, beberapa bupati/walikota, gagasan itu mendapat sambutan dan
dukungan. Semula museum itu akan didirikan di sebidang tanah seluas 300
persegi,
milik almarhum Ibunda Elly Kasim di Tiku, Kabupaten Agam. Lokasinya terletak di
tepi jalan raya Pariaman-Lubuk Basung. Beberapa kali Elly Kasim dan Nazif Basir
serta beberapa orang lainnya bolak-balik Jakarta-Padang-Tiku mendatangi lokasi
ini untuk mematangkan rencana itu.
Namun ketika rencana itu didengar Bupati Aristo Munandar, sang bupati merasa
tersentuh hatinya. Elly Kasim telah mengharumkan nama Minangkabau tidak hanya
di
tataran Indonesia, tapi juga di tatataran mancanegara. “Kita harus membantu
mewujudkan museum yang akan menjadi aset dan kekayan Sumatra Barat sepanjang
zaman itu,” ujar sang bupati.
Aristo lah yang kemudian menambahkan gagasan agar yang dibangun bukan hanya
sebuah museum sekadar tempat pajangan kaset, piringan hitam dan segala
memorabilia yang ada kaitannya dengan perjalanan karir penyanyi legendaris ini,
seperti pelaminan dan baju-baju penganten Minang yang telah dia modifikasi,
tapi
yang harus dibangun adalah sebuah komplek museum yang dilengkapi dengan
mushalla, tempat parkir, kafe, toilet, kios penjualan souvenir dan
makanan/penganan khas anak negeri. Tak ketinggalan sebuah gedung teater mini,
tempat anak negeri bisa menampilkan beragam kesenian rakyat.
Aristo tidak hanya sekadar bicara dan melemparkan usul, namun ucapannya dia
ujudkan dengan membeli sebidang tanah tak berapa jauh dari lokasi kecil di mana
semula museum itu akan dibangun. Areal yang dibeli bupati berukuran lebar 24
meter (mengikuti jalan) dan panjang ke belakang 96 meter (2.304 M2 atau 7,5
kali
lebih besar dari lokasi semula).
Mewakili Pemkab Agam, Bupati Aristo kemudian menghibahkan tanah itu untuk
pembangunan museum. Nazif Basir lalu meminta bantuan seorang arsitek untuk
membuat gambar lengkap di areal yang dihibahkan Pemkab Agam itu sesuai dengan
usul Aristo Munandar.
Dari lima unsur yang diperlukan untuk mewujudkan museum bagi penyanyi
legendaris
itu, tiga sudah terpenuhi. Pertama, benda-benda berupa hasil karya dan yang ada
segala sesuatu yang akan kaitanya dengan Elly Kasim, yang akan mengisi museum
itu. Benda-benda ini sejak jauh hari telah dihimpun satu demi satu oleh Nazif
Basir, termasuk beberapa piringan hitam berisi lagu-lagu Elly Kasim di awal
tahun 60-an yang direkam oleh sebuah perusahan piringan hitam di Singapura.
Kedua, tanah lokasi museum itu akan dibangun sudah teratasi. Yaitu dengan turun
tangannya Bupati Agam Aristo Munandar.
Ketiga, gambar jadi kompleks museum dan segala kelengkapannya sebagaimana
diuraikan di atas. Ini sudah pula selesai dibuat oleh Ir. Syaeful Hadi dari PT
Hakara, konsultan yang juga merancang dan membangun Rumah Puisi Taufiq Ismail
di
Air Angek, Tanah Datar. Tinggal dua unsur terakhir, yaitu badan hukum dan (yang
tersulit adalah) dana!
Untuk badan hukum, sudah dibentuk badan bernama “Elly Kasim Memorabilia
Foundation” yang diketuai Nazif Basir dengan sederet pengurus. Badan yang
disahkan notaris inilah yang akan mencari bantuan dan sumbangan —dari mana dan
siapa pun, yang sah dan tidak mengikat— kemudian menunjuk kontraktor
mengerjakan
komplek museum yang konon akan diberi nama Elly Kasim Memorabilia.
Jika museum ini selesai, dia bisa menjadi matarantai dari sebuah paket yang
ditawarkan kepada wisatawan yang datang ke Sumatra Barat, dari dalam maupun
luar
negeri yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang penyanyi legendaris
tersebut. Dia juga bisa menjadi tempat study anak-anak sekolah, ataupun pusat
penelitian yang ada kaitannya dengan karya, karir dan kehidupan Elly Kasim.
Kembali ke masalah dana pembangunan komplek museum tersebut, yang diperkirakan
berkisar antara Rp4,5 sampai R5,5 miliar. Dalam teori, akan tuntas hanya dalam
setahun anggaran kalau saja tiap kabupaten/kota di Sumatra Barat ikhlas
membantu
Rp500 juta saja, ditambah anggaran Pemprov Sumbar Rp1 miliar. Belum lagi
bantuan
dari pemerintah pusat dan pihak-pihak lain, kalau ada.
Dalam teori pula, museum penyanyi legendaris itu akan rampung paling lambat 36
bulan sejak tulisan ini dipublikasikan!
‘Teori’ ini akan menjadi kenyataan jika semua pihak benar-benar tersentuh
hatinya untuk membantu. Masalahnya, kapan dan siapa yang akan memulai? (*)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
<<inline: --static--intheclouds_b.jpg>>
<<inline: --static--intheclouds_lt.gif>>
