"Pinera, yang pekan lalu sengaja menunda kunjungan kenegaraan ke Eropa
 untuk menunggu penyelamatan itu, langsung berpidato"

kalau ada yang bilang pemimpin tidak perlu nongkrongin korban, tapi di Cile 
presidennya merasa perlu nongkrongin warganya yang jadi korban.

Ah, iya, mungkin saya kunjungan Sebastian Pinera  ke negara2 itu tidak lah 
sepentingan kunjungan ke Jerman. Atau mungkin saja sang presiden tidak punya 
wakil yang hebat sehingga tidak bisa mendelegasikan tugas ke wakil atau 
pembantunya. Atau mungkin juga, agendanya itu belum dibuat jauh-jauh hari dan 
belum dianggarkan, sebagai mana alasan elite negri ini dalam membuat pembenaran 
atas kunkernya ke LN. Bisa juga, Presiden Cile itu kan berkunjung bukan 
DIUNDANG. Atau mungkin media lokal di sana saja yang lebay, yang kurang 
berimbang, mungkin penundaan ke LN itu karena memang keuangan Cile yang sedang 
tipis, kunjungan ke LN itu bukan dalam rangka investasi tapi sekedar rekreasi 
dan kemungkinan2 lainnya.

Yang pasti, musibah itu terjadi di Cile bukan di negeri ini dan pemimpinnya 
adalah Sebastian Pinera bukan harman, Irawan atau Udin. Kalau yang memimpin 
Cile adalah nama2 spt yang saya sebutkan tadi, berita ttg petambang di Cile jg 
biasa-biasa saja. Dan jika Sebastian Pinera itu adalah elite negeri ini maka 
kisah2 di Cile itu yang mungkin terjadi di negeri ini dan menjadi  buah bibir 
dunia.

Beruntunglah warga Cile yg memiliki Sebastian Pinera.

wassalam,
Harman Irawan St Idris


http://www.businessreview.co.id/kebijakan-bisnis-ekonomi-964.html

 KEBIJAKAN BISNIS & EKONOMI 

                                                 Sang Presiden & Petambang 
Chile Getarkan Dunia 
 
                                                Posted : 17 Oct 2010 | By : 
Sigit | Komentar : 0
                                           (BusinessReview)- PRESIDEN
 Chile Sebastian Pinera tiba-tiba menjadi buah bibir dunia. Sikap empati
 yang diwujudkan dalam aksi penyelamatan itu benar-benar menggetarkan 
dunia. Ia layak dikagumi dan diteladani oleh para pemimpin; di tingkat 
presiden sampai dengan kepala desa sekali pun.

Mengagumkan, 
janjinya tak dia campakkan begitu dia duduk di singgasana kepresidenan. 
Ketika teknisi dan pejabat Chile ragu akan sukses penyelamatan, dia 
mengatakan, ”Kami akan melakukan penyelamatan sejauh yang bisa dilakukan
 manusia.”

Disinilah kita dapat melihat karakter dan kadar kepemimpinan kepala 
Negara. Kantor berita Reuters juga cukup nakal membandingkan Pinera 
dengan mantan Presiden AS George W Bush yang gagal total membangun New 
Orleans saat diterjang topan Katrina pada 2005.
Presiden AS, yang suka berpidato dengan berapi-api ini, dipermalukan 
dengan korban-korban Katrina, yang pada umumnya kulit hitam, sementara 
warga kulit putih menginap nyaman di hotel-hotel. Pinera bahkan 
mempermalukan idolanya sendiri, Obama, yang tercemar akibat ceceran 
minyak di Teluk Mesiko akibat bocornya ladang minyak BP (dulu British 
Petroleum)

Ah, jangan bandingkan Pinera dengan Presiden Pakistan Asif Ali 
Zardari yang memutuskan tetap mempertahankan jadwal kunjungan ke 
Perancis dan Inggris, saat jutaan warganya menjadi korban banjir 
terbesar sepanjang sejarah negara itu
Pinera, yang pekan lalu sengaja menunda kunjungan kenegaraan ke Eropa
 untuk menunggu penyelamatan itu, langsung berpidato. Ia mengucapkan 
syukur kepada Tuhan. Ia memuji daya tahan para petambang dan berharap 
rakyat Cile memiliki semangat dan daya juang seperti petambang.

“Mereka
 akan tetap di hati rakyat. Banyak orang kehilangan harapan dan banyak 
juga yang gigih mengejar harapan mereka. Petambang ini menjadi sumber 
inspirasi. Kisah mereka ini menyatukan negara,” kata Presiden Sebastian,
 yang memutuskan untuk menyelamatkan para petambang dengan biaya berapa 
pun.

Pendekatannya dalam menangani bencana alam, termasuk gempa 
bumi hebat dan kecelakaan tambang bawah tanah, membuat ia dipuji 
rakyatnya. Ia tidak melihat bencana dari kecil atau besarnya jumlah 
korban, tetapi dari sisi kemanusiaan. Sikap peduli dan cara Presiden 
menangani bencana turut memberikan semangat dan daya juang kepada 
korban.

Ke-33 petambang terjebak setelah terowongan penghubung 
runtuh pada 5 Agustus lalu. Pemerintah Cile kemudian melakukan 
pengeboran di tiga tempat yang disebut rencana A, B, dan C. Rencana B 
berhasil pada Sabtu, 9 Oktober, yakni menembus rongga di kedalaman 622 
meter di bawah tanah. 

Di titik itu terdapat sebuah ruang yang 
bisa dicapai oleh para petambang. Kesuksesan itu menggembirakan 
pemerintah, regu penolong, para petambang dan keluarganya.

Derajat Kepemimpinan
Drama
 paling menguras emosi sepanjang awal milenium kedua ini, nyaris menjadi
 pusat perhatian lebih dari satu miliar pasang mata di seluruh dunia. 
Mengalahkan curahan atensi serupa yang dipersembahkan anak manusia saat 
tewasnya Lady Diana serta wafatnya Paus Yohanes Paulus II. 

Menarik
 diberi perhatian lebih karena beberapa pemeran utama dalam drama 
penyelamatan 33 anak manusia tersebut, terpisah disparitas derajat 
sosial yang lebar menganga;
Sebastian Pinera dan Luis Urzua. Yang pertama adalah Presiden Cile 
dan satunya "presiden" para petambang yang terperangkap di kedalaman 700
 meter di bawah tanah.

Tapi, dua-duanya telah didaulat oleh Yang 
Maha Hidup, untuk menjadi contoh monumental tempat kita meneladani dan 
menjadi telaga berair bening tempat kita bisa mengaca diri. 

Beranikah
 kita membayangkan diri kita memimpin anak manusia berjumlah 33 orang, 
di bawah tanah, selama 69 hari, tanpa penerangan, tanpa oksigen yang 
memadai, tanpa bahan makanan yang mencukupi, bahkan pada hari-hari 
pertama, mereka tak lagi memiliki harapan? 

Dengan derajat 
kepemimpinan yang luar biasa, Urzua berani melakukan itu dan 
membangkitkan élan anak buahnya untuk tetap bertahan. Sungguh luar 
biasa. Dalam situasi dan kondisi yang serba kekurangan segalanya itulah,
 karakter kepemimpinan Urzua muncul.
Dialah sosok yang sukses membuat dua sendok potongan ikan tuna, 
separuh roti kering, serta setengah gelas susu untuk setiap 48 jam, 
menjadi pembangkit tubuh-tubuh yang sejatinya sudah terpendam di dalam 
kuburan raksasa itu, menemukan secercah cahaya. 

Pencitraan berdasarkan fakta nurani
Peristiwa
 akbar itu adalah puncak empati kemanusiaan manakala Presiden Republik 
Indonesia dan para pemimpin negeri ini sedang pula mengalami banjir 
bandang di Wasior yang memakan korban jiwa 144 orang.
Kita memang tidak mendengar presiden membatalkan kunjungannya ke 
Belanda karena alasan kemanusiaan. Kita juga tidak mendengar bahwa 
penyebab banjir bandang itu karena pembalakan liar sebagaimana 
disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.
Kita bahkan mendengar polesan laporan Kepala Badan Nasional 
Penanggulangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul 
Maarif, sehingga Presiden SBY membantah banjir dahsyat yang menerjang 
Wasior disebabkan oleh ulah manusia yaitu pembalakan liar.
Faktanya negeri ini dihadapkan bencana alam dan bencana kemanusiaan. 
Besar-kecilnya korban yang tewas merupakan tanggungjawab pemerintah 
sebagai pemangku yang diberi kepercayaan rakyat pada negeri ini.   

Di
 Indonesia, kasus kecelakaan tambang juga sering terjadi. Tragisnya 
hampir semua kecelakaan tambang tersebut membawa korban manusia. Apalagi
 jika penambangan itu dilakukan oleh masyarakat dan ada praktik-praktik 
penambangan liar. 

Sudah banyak sekali peristiwa maut yang 
menimpa pekerja atau masyarakat penambang di negara kita, tapi 
langkah-langkah preventif tampaknya tetap tidak diutamakan. Padahal 
langkah preventif tersebut sangatlah penting, sehingga jika terjadi 
kecelakaan atau musibah; jumlah korbannya dapat diminimalisasi.

Lihatlah
 pada kasus di pertambangan Acatama, Ole itu. Berbagai upaya preventif 
dilakukan, sehingga keamanan dan keselamatan bagi para petambang bisa 
dilakukan semaksimal mungkin. Seluruh langkah dilakukan sejak awal 
melalui perencanaan, perhitungan matang, survei, dan tindakan 
operasional. Jadi tidak asal bor, gali, keruk, dan angkut hasil 
tambangnya.

Memang untuk itu diperlukan pemikiran dan biaya yang 
tidak kecil. Tapi demi keamanan dan keselamatan nyawa manusia, masak 
hal-hal yang sangat penting itu diabaikan. Jangan sampai 
pengalaman-pengalaman pahit yang terjadi di Indonesia akan terus terjadi
 dan terjadi lagi.

Lain di sana, lain di sini. Namun pada 
akhirnya di dunia yang begitu transparan dan real time, kita belajar; 
pencitraan yang abadi adalah pencitraan yang berdasarkan fakta nurani.

Pencitraan
 sejatinya bukanlah sekedar panggung empati untuk menuai simpati. Empati
 adalah sebuah sikap hati bahwa empati masih hidup di bumi ini dan belum
 mati. Mengasah empati, menebar simpati adalah pelajaran harian seorang 
manusia yang memiliki nurani bagi sebuah peradaban. (diolah dari berbagai 
sumber)





      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke