Oh, bagus. Observasi yang bagus. Silakan ditulis. Tulisan anda saja sudah bagus 
di sini, kenapa butuh bantuan saya? Itu membantu reputasi anda :)
 
IJP

--- On Mon, 11/8/10, Armen Zulkarnain <[email protected]> wrote:


From: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Subject: Bls: Bls: [...@ntau-net] IJP: Antara Mentawai dan Bavaria
To: [email protected]
Date: Monday, November 8, 2010, 6:47 AM







Menurut saya kalau ingin pak IJP ingin menulis, ada bahan yang jauh lebih bagus 
dari topik kepergian BA 1 ke Jerman, yaitu hotel khusus prostitusi di kota 
Padang yang kita kenal dengan ranah ABS SBK ini, kebetulan jaraknya tidak jauh 
hanya 115 meter & 250 meter dari pintu masuk gubernuran. 


Untuk observasi saya bisa traktir pak IJP ke hotel terakhir, sebab tarifnya 
tidak terlalu mahal, hanya Rp. 70.000,- Saya yakin ini progress yang sangat 
baik untuk pak IJP pada pemilu 2014 mendatang. Bagaimana? Kalau pak IJP takut 
dengan pengelolanya, saya kira bisa menemani pak IJP selama ekspos berita 
tentang hotel khusus prostitusi itu. salam ta'zim. 


wasalam


AZ - 32 th
Padang  
(yang saya maksud bulan madu adalah BA 1 & 2, saya kira bulan madu tentu bagi 
yang menikah secara politik)




Dari: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 8 November, 2010 18:14:48
Judul: Re: Bls: [...@ntau-net] IJP: Antara Mentawai dan Bavaria






Wa'alaikum salam
 
Saya dekat dg BA-1, BA-2, dan BA-BA yg lain. Emang kenapa? Saya nggak sedang 
bulan madu. Belum ada rencana.
 
 
Ada yang larang nulis ini di palanta? Itu kan permintaan2 yg sudah biasa 
bertahun2. Dan setahu saya tak ada hak moderator menutup atau membuka. Biasa 
saja.
 
IJP


--- On Mon, 11/8/10, Armen Zulkarnain <[email protected]> wrote:


From: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Subject: Bls: [...@ntau-net] IJP: Antara Mentawai dan Bavaria
To: [email protected]
Date: Monday, November 8, 2010, 6:07 AM






Assalammualaikum wr wb


Saya dengar pak Indra J Piliang dikenal dekat dengan BA 2, apakah bulan madu 
sudah selesai? 


wasalam


AZ - 32 th
Padang 
(saya kira thread tentang BA 1 ke Jerman sudah berakhir di palanta ini)





Dari: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
Kepada: Lisi <[email protected]>; [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]
Terkirim: Sen, 8 November, 2010 16:19:06
Judul: [...@ntau-net] IJP: Antara Mentawai dan Bavaria






http://www.indrapiliang.com/2010/11/08/antara-mentawai-dan-bavaria/ 
 
Harian Haluan, 08 November 2010

Antara Mentawai dan Bavaria
Oleh
Indra J Piliang

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional HKTI 2010-2015
 
Terkejut. Itu reaksi yang pertama muncul ketika mengetahui Gubernur Sumatera 
Barat Irwan Prayitno berangkat ke Jerman pada hari ke-7 tsunami Mentawai. Tidak 
ada pemberitahuan sebelumnya. Pers baru menginformasikan setelah Gubernur Irwan 
berangkat atau malah sudah tiba di Jerman. 
 
Penulis sendiri tidak terlalu menyadari, ketika Lukman Alex (Ketua DPD PDI 
Perjuangan Sumbar) menyampaikan lewat twitter tentang kepergian itu. Pesan Alex 
tidak begitu jelas, karena menyitir pertanyaan novelis Akmal Nasery Basral 
tentang PDRI. Alex memplesetkan istilah PDRI itu dengan kabar keberangkatan 
Gubernur Irwan ke Jerman. Baru siang harinya penulis paham, begitu informasi 
kepergian itu menyebar di media online. 
 
Lalu, kabar-kabar itu semakin banyak, termasuk lewat media sosial seperti 
twitter dan facebook. Tentu juga lewat mailing list dan blackberry messanger. 
Dalam waktu cepat, berita itu masuk ke dalam pemberitaan media massa 
elektronik, terutama televisi. Dan lalu berkembang terus ke media cetak. 
 
Gelombang kritikan begitu deras atas kepergian itu. Ironisnya, klarifikasi 
justru datang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merilis kronologis dan 
agenda Gubernur Irwan di Jerman. Herannya, rilis resmi dari Humas Pemda 
Sumbar-pun tidak terbaca. Para menteripun ikut berbicara, mulai dari Menteri 
Dalam Negeri sampai Menteri Sekretaris Kabinet. DPR menimpali. Yang belum 
bicara: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bavaria

Kenapa cerita awal itu penting? Mengingat masalah kepergian Gubernur Irwan ke 
Jerman hadir dari proses, bukan tiba-tiba saja muncul dalam ranah kesadaran 
publik. Seandainya tidak ada tsunami di Mentawai, mungkin orang-orang tak akan 
bertanya kemana gubernur pergi. Kepergian Gubernur Kaltim ke China, misalnya, 
diributin publik mengingat status sebagai tersangka kasus korupsi. Begitu juga 
orang-orang ribut dengan kepergian tersangka pelaku penyuapan anggota DPR RI 
Nunun, istri Adang Dorodjatun, ketika berobat ke Singapura. 
 
Ketika membaca artikel ini, apakah kita tahu siapa saja kepala daerah yang ada 
di tempat? Ataukah siapa saja yang meninggalkan daerahnya, dengan alasan dinas 
luar? Kalaupun diributkan, tentu yang paling dilacak adalah yang pergi ke luar 
negeri. 
 
Mengapa luar negeri? Mengingat luar negeri selalu diasosiasikan sebagai tempat 
yang lebih baik dari Indonesia. Luar negeri menjadi semacam obat si tawar dan 
si dingin untuk masalah apapun di dalam negeri. Tak terkecuali juga sebagai 
tempat istirahat. Padahal, belum tentu luar negeri adalah segalanya. Timor 
Leste dan Papua Nugini juga masuk kategori luar negeri, namun sedikit pejabat 
yang ke sana.
 
Sejauh yang kita tahu, masyarakat ribut dengan luar negeri itu di tengah 
kontroversi menyangkut fasilitas yang dimiliki oleh penyelenggara negara. Untuk 
investasi, misalnya, terlalu mudah pejabat negara menebarkan umpan, di laut 
yang belum tentu ada ikannya. Dan hal ini sama saja dengan studi banding para 
anggota parlemen ke tempat yang belum tentu memberi makna akan kebijakan yang 
hendak dilihat. 
 
Gubernur Irwan diundang oleh Duta Besar RI di Jerman. Bukan oleh investor. 
Investor diundang oleh Pak Dubes di dalam acara seminar. Di sela presentasi 
soal potensi investasi di Sumbar kepada investor Jerman, Gubernur Irwan 
dijadwalkan bertemu dengan Gubernur Negara Bagian Bavaria. Daerah asal Adolf 
Hitler dan disebut sebagai pusat aktivitas ras Arya dalam Perang Dunia Kedua 
itu tentulah menarik dijadikan sebagai sister city dengan Sumatera Barat. Nah, 
siapa yang memberi tawaran sister city itu? Sumbar atau Bavaria? Apa gunanya?
 
Mentawai
Sebetulnya, publik lebih terkejut dengan informasi tentang Mentawai. Kalau 
dilacak pernyataan demi pernyataan Gubernur Irwan, pada Rabu (26 Oktober) pagi 
belum diketahui ada tsunami di Mentawai. Penulis masih ikut konvoi mobil 
Gubernur Irwan dari lampu merah Kampung Apa, Pariaman, menuju Lubuk Basung. 
Seiring dengan informasi lapangan, pernyataan itu mengalami perubahan. 
 
Ketika awal, gelombang protes sempat muncul tentang peringatan tsunami yang 
dicabut oleh pejabat resmi. Mengingat gambar-gambar tsunami Mentawai semakin 
banyak diketahui, protes itupun mengendap. Media lebih tertarik dengan berita 
mutakhir dari lapangan. Angka-angka kematian dirilis. Komunikasi yang semula 
terhambat, mulai terang. Semua bergerak. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga 
masyarakat di seluruh Indonesia dan dunia. 
 
Lalu, mulailah fase tanggap darurat. Korban-korban didata. Sebagian dievakuasi. 
Para relawan berdatangan. Sebagian besar menjerit, mengingat sulitnya medan. 
Sekalipun ada yang langsung naik kapal dari Tanjung Priok, Jakarta, misalnya, 
tetapi mereka mendarat di Sikakap. Segera, Sikakap dipenuhi relawan, wartawan, 
peneliti ataupun orang-orang yang memang menyukai situasi heboh dengan resiko 
besar. 
 
Alat-alat transportasi berseliweran. Informasi simpang-siur. Fungsi Gubernur 
sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, terutama dalam tugas perbantuan, 
langsung aktif. Dengan keadaan ini, gubernur adalah pelaksana dari tugas-tugas 
tanggap darurat. Pemerintah pusat tidak bisa langsung mengambil alih, mengingat 
pemerintah daerah masih aktif. Hal ini berbeda dengan tsunami Aceh, ketika 
gubernurnya sedang menjalani hukuman di penjara. 
 
Lalu, tiba-tiba, belum seminggu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno berangkat ke 
Jerman. Dengan sejumlah alasan, kemudian. Dengan beragam kontroversi, kemudian. 
Dengan waktu yang juga habis mempertentangkannya, kemudian. 
 
Apapun, kita patut berhenti sejenak. Kita fokus ke Mentawai. Lalu bekas-bekas 
bencana di Sumbar tahun lalu. Nanti, ketika keadaan sudah mulai nyaman, baru 
kita bicara. Termasuk soal investasi. Dan juga, negeri Bavaria. Mari...  


-- 



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke