Walaupun iko OOT, tapi ambo menikmati. Terjemahannya bagus. On 11/13/10, Anzori <[email protected]> wrote: > Pidato Lengkap Presiden AS di Kampus UI > > Detik News – Jakarta -Presiden AS Barack Obama telah menyihir para undangan > yang hadir di Balairung, Kampus Universitas Indonesia (UI) pada Rabu > (10/11/2010) lalu. Histeria dan tepuk tangan terus mengiringi pidato Obama > sekitar 30 menit itu. > > Berikut pidato lengkap Obama yang telah diterjemahkan oleh Kedubes Amerika > Serikat (AS) sesuai rilis yang diterima detikcom, Jumat (12/11/2010). > > Terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih untuk anda > semua. Selamat Pagi. (tepuk tangan). Sungguh menggembirakan berada di > sini, > di Universitas Indonesia. Kepada para dosen, staf dan mahasiswa, dan > kepada > Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, terima kabih banyak atas keramahtamahan anda. > (tepuk tangan) > Assalamualaikum dan salam sejahtera. Terima kasih untuk sambutan luar > biasa > ini. Terima kasih kepada rakyat Jakarta dan terima kasih kepada rakyat > Indonesia. > Pulang kampung nih. (tepuk tangan). Saya sangat gembira kembali berada di > Indonesia dan bahwa Michelle sempat menemani saya. Kami menghadapi beberapa > pembatalan tahun ini, tetapi saya bertekad untuk mengunjungi negara yang > punya > arti sedemikian besarnya untuk saya. Sayangnya, ini merupakan kunjungan > yang > relatif singkat, tetapi saya berharap bisa datang kembali setahun dari > sekarang, saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur. (tepuk tangan) > Sebelum saya lanjutkan, saya ingin menyampaikan bahwa pikiran dan doa kami > bersama warga Indonesia yang terserang tsunami dan letusan gunung berapi > baru-baru ini – khususnya mereka yang kehilangan sanak saudara yang mereka > cintai dan mereka yang kehilangan tempat tinggal. Dan saya ingin anda semua > mengetahui, seperti biasanya, Amerika Serikat mendampingi Indonesia dalam > menanggapi bencana alam ini dan kami gembira bisa membantu sesuai > kebutuhan. > Ketika tetangga membantu tetangga lainnya dan keluarga menampung mereka > yang > kehilangan tempat tinggal, saya tahu bahwa kekuatan dan keuletan rakyat > Indonesia akan membuat anda mampu mengatasinya sekali lagi. > > Baiklah saya mulai dengan sebuah pernyataan sederhana: Indonesia bagian > dari > diri saya. (tepuk tangan). Saya pertama kali datang ke negara ini ketika > ibu > saya menikah dengan seorang Indonesia bernama Lolo Soetoro. Dan sebagai > anak > muda, saya — sebagai anak muda saya datang ke dunia yang berbeda. Tetapi > rakyat Indonesia secara cepat membuat saya merasa seperti di rumah sendiri. > Jakarta – kini, Jakarta sangat berbeda waktu itu. Kota ini memiliki > bangunan-bangunan yang tingginya hanya beberapa tingkat. Ini tahun 1967, > ’68 – > kebanyakan dari anda belum lahir waktu itu (tawa). Hotel Indonesia > merupakan > salah satu dari sedikit gedung tinggi, dan hanya ada satu pusat belanja > yang > baru dan dinamakan Sarinah. Cuman itu. (tepuk tangan). Becak dan bemo, > itulah > kendaraan untuk bepergian. Kendaraan ini lebih banyak dari mobil waktu > itu. > Dan tak ada jalan raya lebar seperti sekarang. Kebanyakan berlanjut dengan > jalan yang tidak diaspal dan kampung. > > Lalu kami pindah ke Menteng Dalam, di mana – (tepuk tangan) – hai, apakah > ada > yang dari Menteng Dalam di sini. (tepuk tangan). Dan kami tinggal di > sebuah > rumah kecil. Kami punya pohon mangga di depannya. Dan saya jatuh cinta > kepada > Indonesia ketika bermain layang-layang, berlari di sepanjang sawah, > menangkap > capung dan membeli sate dan bakso dari penjaja di jalan. Sate! (tawa). > Saya > ingat itu. Bakso! (tawa). Tetapi yang paling saya ingat adalah > orang-orangnya > – laki-laki dan perempuan tua yang menyambut kami dengan senyuman; > anak-anak > membuat seorang asing merasa bagai seorang tetangga; dan para sahabat dan > guru > yang membantu saya belajar mengenal negara ini. > Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa dan rakyat yang > berasal dari banyak wilayah dan kelompok etnis, waktu yang saya lewatkan di > sini membantu saya menghargai kemanusiaan bersama dari semua rakyat. Dan > meskipun ayah tiri saya, sebagaimana kebanyakan orang Indonesia, dibesarkan > sebagai Muslim, ia secara kuat berpendapat bahwa semua agama haruslah > dihormati. Dan lewat cara ini — (tepuk tangan) — lewat cara ini, ia > mencerminkan semangat toleransi keagamaan yang juga terbetik dalam UUD > Indonesia, dan hal itu tetap merupakan ciri-ciri menentukan dan mengilhami > dari > negara ini. (tepuk tangan). > Saya tinggal di sini selama empat tahun - suatu masa yang membantu > membentuk > masa kanak-kanak saya; suatu masa yang menyaksikan kelahiran adik perempuan > saya yang cantik, Maya; dan suatu masa yang meninggalkan kesan sedemikian > mendalamnya pada diri ibu saya sehingga ia selalu kembali ke Indonesia > selama > dua puluh tahun untuk tinggal, bekerja dan melakukan perjalanan – > memperjuangkan cita-citanya untuk menciptakan peluang di desa-desa > Indonesia, > khususnya untuk para perempuan dan gadis. Dan saya merasa begitu dihormati > – > (tepuk tangan) – Saya merasa begitu dihormati ketika tadi malam Presiden > Yudhoyono pada acara makan malam memberi sebuah hadiah penghormatan atas > nama > ibu saya, memberi pengakuan atas karyanya. Dan ia pasti akan sangat > bangga, > karena ibu saya merasakan kedekatan dengan Indonesia dan rakyatnya > sepanjang > hidupnya. – (tepuk tangan). > Begitu banyak yang telah berubah dalam empat dekade sejak saya naik pesawat > untuk kembali ke Hawaii. Kalau anda tanya saya – atau teman sekelas yang > kenal > dengan saya waktu itu – saya rasa tak seorang pun dari kami bisa > mengantisipasi > bahwa suatu hari saya kembali ke Jakarta sebagai Presiden Amerika Serikat. > (tepuk tangan). Dan hanya sedikit yang bisa mengantisipasi kisah Indonesia > yang > luar biasa dalam empat dekade terakhir ini. > > Jakarta yang saya pernah kenal kini tumbuh menjadi sebuah kota padat dengan > penduduk hampir sepuluh juta, dengan pencakar langit yang membuat Hotel > Indonesia tampak kecil, serta pusat-pusat budaya dan perdagangan yang > hidup. > Sementara teman-teman Indonesia saya dan saya dulu berlari-lari di sawah > ditemani kerbau dan kambing – (tawa) –, sebuah generasi Indonesia yang baru > kini terhubung dengan dunia – lewat telepon genggam dan jaringan sosial. > Dan > sementara Indonesia sebagai sebuah negara muda memusatkan perhatian ke > dalam, > Indonesia yang kini tumbuh memainkan peranan kunci di Asia Pasifik dan > ekonomi > global. – (tepuk tangan). > Perubahan ini juga meliputi politik. Ketika ayah tiri saya masih anak-anak, > ia > menyaksikan ayah dan kakaknya harus meninggalkan rumah mereka untuk > berjuang > dan gugur demi kemerdekaan Indonesia. Saya gembira berada di sini pada Hari > Pahlawan guna menghormati begitu banyak orang Indonesia yang mengorbankan > nyawa > mereka untuk negara besar ini. (tepuk tangan). > > Ketika saya pindah ke Jakarta, waktu itu 1967, suatu masa yang menyusul > penderitaan dan konflik besar di bagian-bagian tertentu dari negara ini. > Meskipun ayah tiri saya berdinas di Militer, kekerasan dan pembunuhan > selama > masa pergolakan politik itu tidak saya ketahui karena hal itu tidak > dibicarakan > oleh keluarga dan teman-teman Indonesia saya. Dalam rumah saya, sebagaimana > di > banyak rumah lainnya di seluruh Indonesia, hal ini merupakan kehadiran yang > tidak terlihat. Indonesia memiliki kemerdekaan, tetapi acapkali mereka > takut > untuk membicarakan isu-isunya. > Dalam tahun-tahun sesudah itu, Indonesia telah meniti jalannya sendiri > lewat > transformasi demokratis yang luar biasa – dari pemerintahan tangan besi ke > pemerintahan dari rakyat. Dalam tahun-tahun terakhir, dunia menyaksikan > dengan > harapan dan ketakjuban, ketika rakyat Indonesia merangkul peralihan > kekuasaan > secara damai dan memilih langsung para pemimpin mereka. Dan sebagaimana > demokrasi anda dilambangkan oleh Presiden dan parlemen anda yang terpilih, > demokrasi anda berkesinambungan dan diperkuat lewat pengecekan dan > keseimbangan > dari sistem demokrasi itu: sebuah masyarakat madani yang dinamis; > partai-partai > politik dan serikat-serikat; sebuah media yang hidup dan warganegara yang > terlibat serta memastikan bahwa – di Indonesia – tidak mungkin akan ada > kembali ke masa lalu. > > Namun sementara tempat tinggal masa muda saya ini telah mengalami begitu > banyak > perubahan, hal-hal yang membuat saya mencintai Indonesia — semangat > toleransi > yang tertulis dalam UUD anda; dan dilambangkan dengan mesjid-mesjid, > gereja-gereja dan kuil-kuil anda, yang berdiri berdampingan satu sama > lainnya; > semangat yang tercermin dalam diri rakyat anda – masih terus hidup. (tepuk > tangan). Bhineka Tunggal Ika – persatuan dalam keragaman. (tepuk tangan). > > Ini merupakan dasar dari contoh Indonesia kepada dunia dan inilah mengapa > Indonesia akan memainkan peranan sedemikian pentingnya dalam abad ke 21. > > Jadi hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai sahabat, juga sebagai > Presiden > yang mengusahakan sebuah kemitraan yang dalam dan langgeng di antara kedua > negara kita. (tepuk tangan). Karena sebagai negara yang besar dan > beragam; > sebagai tetangga pada kedua tepian Pasifik dan terutama sebagai demokrasi > — > Amerika Serikat dan Indonesia sama-sama terikat oleh kepentingan dan > nilai-nilai bersama. > > Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya mengumumkan sebuah Kemitraan > Komprehensif > yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Kami meningkatkan hubungan > antara kedua pemerintahan di berbagai bidang, dan – juga sama pentingnya – > kami > meningkatkan hubungan di kalangan rakyat kita. Ini merupakan kemitraan yang > setara, berakar pada kepentingan bersama dan saling menghormati. > > Dengan sisa waktu hari ini, saya ingin membahas mengapa kisah yang saya > baru > ceritakan — kisah Indonesia sejak masa-masa saya tinggal di sini – > sedemikian > pentingnya untuk Amerika Serikat dan dunia. Saya fokuskan pada tiga bidang > yang > saling terkait dan mendasar bagi kemajuan manusia – pembangunan, demokrasi > dan > agama. > > Pertama, persahabatan antara Amerika Serikat dan Indonesia bisa memajukan > kepentingan bersama kita dalam pembangunan. > > Ketika saya pindah ke Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan di > mana > kemakmuran keluarga di Chicago dan Jakarta akan terkait. Tetapi > ekonomi-ekonomi > kita sekarang global, dan penduduk Indonesia telah mengalami baik potensi > maupun ancaman dari globalisasi: dari goncangan akibat krisis financial > Asia > pada tahun 90an sampai ke jutaan penduduk yang berhasil keluar dari > kemiskinan. > Itu berarti – dan kita belajar dari krisis ekonomi baru-baru ini – kita > punya > taruhan dalam sukses masing-masing. > > Amerika punya taruhan dalam Indonesia yang tumbuh, dengan kemakmuran yang > terbagi secara luas dikalangan rakyat Indonesia – karena sebuah kelas > menengah > yang meningkat disini berarti pasar baru bagi barang-barang kami, > sebagaimana > Amerika menjadi pasar untuk barang-barang anda. Jadi kami melakukan lebih > banyak investasi di Indonesia, ekspor kami tumbuh hampir 50 persen dan kami > membuka pintu untuk orang Amerika dan Indonesia guna berbisnis satu sama > lainnya. > > Amerika punya taruhan dalam sebuah Indonesia yang memainkan perannya yang > tepat > dalam membentuk ekonomi global. Lewat sudah masa-masa di mana tujuh atau > delapan negara secara bersama-sama menentukan arah dari pasar global. > Itulah > sebabnya G-20 kini menjadi pusat kerjasama ekonomi internasional, sehingga > ekonomi yang baru muncul seperti Indonesia punya suara yang lebih besar dan > menanggung tanggung jawab lebih besar. Dan lewat kepemimpinannya dalam > kelompok > anti-korupsi G-20, Indonesia harus memimpin di panggung dunia serta menjadi > panutan dalam merangkul transparansi dan akuntabilitas. (tepuk tangan). > Amerika memiliki taruhan dalam sebuah Indonesia yang memperjuangkan > pembangunan > berkesinambungan, karena cara kita tumbuh akan menentukan kualitas > kehidupan > kita dan kesehatan planet kita. Itulah sebabnya kami mengembangkan > teknologi > energi bersih yang bisa menggerakkan industri dan melestarikan sumber daya > alam > Indonesia yang berharga – dan Amerika menyambut gembira kepemimpinan negara > anda dalam usaha global untuk memerangi perubahan iklim. > > Di atas segala-galanya, Amerika punya taruhan dalam sukses rakyat > Indonesia. Di > bawah kepala-kepala berita harian, kita harus membangun jembatan antara > rakyat > kita karena kita memiliki keamanan dan kemakmuran masa depan secara > bersama. > Itulah sebenarnya yang sedang kita lakukan – lewat peningkatan kerjasama > diantara ilmuwan dan peneliti kita dan dengan bekerja bersama-sama untuk > memupuk kewirausahaan. Dan saya khususnya gembira bahwa kita berkomitmen > untuk > melipatgandakan jumlah pertukaran mahasiswa Amerika dan Indonesia yang akan > belajar di negara kita masing-masing – (tepuk tangan). Kami ingin lebih > banyak > mahasiswa Indonesia di sekolah-sekolah kami, dan lebih banyak mahasiswa > Amerika > datang belajar di negara ini (tepuk tangan). Kami ingin memupuk hubungan > baru > dan saling pengertian yang lebih mendalam diantara warga muda dalam abad > yang > masih muda ini. > Ini semuanya merupakan isu-isu yang benar-benar bermakna dalam kehidupan > sehari-hari kita. Pembangunan, pada akhirnya, tidak sekadar berkaitan > dengan > tingkat pertumbuhan serta angka-angka dalam sebuah neraca. Pembangunan > berkenaan dengan seorang anak yang bisa belajar ketrampilan yang > dibutuhkannya > dalam dunia yang sedang berubah. Pembangunan berkenaan dengan sebuah ide > bagus > yang diberi peluang untuk tumbuh menjadi sebuah bisnis dan tidak dicekik > oleh > korupsi. Pembangunan berkenaan dengan kekuatan-kekuatan yang telah berhasil > mentransformasi Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi, perdagangan, > aliran > manusia dan barang – yang diterjemahkan kedalam sebuah kehidupan yang lebih > baik untuk semua warga Indonesia, untuk semua manusia, sebuah kehidupan > yang > ditandai oleh harga diri dan kesempatan. > Pembangunan seperti ini tidak bisa dipisahkan dari peran demokrasi. > Saat ini kita kadang kala mendengar bahwa demokrasi menghalangi kemajuan > ekonomi. Ini bukan argumen baru. Khususnya di saat perubahan dan > ketidakpastian > ekonomi, sebagian pihak akan mengatakan bahwa lebih mudah untuk mengambil > jalan > pintas menuju pembangunan dengan menukar hak azasi manusia dengan kekuasaan > negara. Tetapi itu bukan yang saya lihat dari kunjungan saya ke India, dan > itu > bukan pula yang saya lihat di sini di Indonesia. Pencapaian-pencapaian anda > menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling memperkuat satu sama > lain. > > Seperti demokrasi mana pun, anda pernah mengalami langkah mundur dalam > perjalanan anda. Amerika juga tidak berbeda. Konstitusi kami sendiri > menyebutkan upaya untuk membentuk ‘sebuah persatuan yang lebih sempurna’, > dan > itu adalah perjalanan yang telah kami tempuh sejak itu. Kami mengalami > Perang > Saudara dan kami berjuang untuk memperluas hak-hak bagi semua warga negara > kami. Tapi upaya ini pula yang telah membuat kami lebih kuat dan lebih > makmur, > selagi juga menjadi masyarakat yang lebih adil dan bebas. > > Seperti negara-negara lain yang pernah dijajah pemerintah kolonial di abad > lalu, Indonesia telah berjuang dan berkorban demi hak untuk menentukan > nasib > sendiri. Inilah makna Hari Pahlawan – sebuah Indonesia yang merupakan milik > warga Indonesia. Tapi anda juga pada akhirnya memutuskan bahwa kebebasan > tidak > berarti menggantikan tangan besi pemerintah kolonial dengan tangan besi > sendiri. > > Tentu saja demokrasi itu tidaklah rapi. Tidak semua orang menyukai hasil > setiap > pemilihan. Anda mengalami kemajuan dan kemunduran. Tetapi perjalanan yang > anda > tempuh ini tetap layak, dan lebih dari sekadar mengisi kotak suara dalam > pemilihan. Perlu ada lembaga kuat untuk mengawasi kekuasaan - konsentrasi > kekuasaan. Perlu ada pasar-pasar terbuka guna memungkinkan > individu-individu > untuk maju. Perlu ada pers bebas dan sistem keadilan yang independen untuk > menghapus penyalahgunaan dan ekses, serta untuk menagih akuntabilitas. > Perlu > ada masyarakat yang terbuka dan warga negara yang aktif untuk menolak > ketimpangan dan ketidakadilan. > Ini adalah kekuatan-kekuatan yang akan memajukan Indonesia. Dan akan harus > ada > penolakan terhadap toleransi pada korupsi yang menghalangi kesempatan; juga > komitmen terhadap transparansi yang memberi setiap warga Indonesia > kepentingan > dalam pemerintahan; dan keyakinan bahwa kebebasan rakyat Indonesia - yang > telah diperjuangkan rakyat Indonesia adalah hal yang mempersatukan negara > besar > ini. > > Itulah pesan dari rakyat Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis > ini – > mulai dari mereka yang bertarung dalam Perang Surabaya tepat 55 tahun lalu > hari > ini hingga para mahasiswa yang berdemo secara damai untuk demokrasi di > tahun > 1990-an; juga para pemimpin yang telah merangkul transisi kekuasaan secara > damai di abad yang masih muda ini. Karena pada akhirnya, hak warga > negaralah > yang akan menyatukan Nusantara yang luar biasa dan menjangkau dari Sabang > hingga Merauke ini – sebuah ketetapan hati – (tepuk tangan) – sebuah > ketetapan > hati agar setiap anak yang lahir di negara ini akan diperlakukan sama, > terlepas > dari asal-usulnya apakah dari Jawa atau Aceh; dari Bali atau Papua. (Tepuk > tangan). Bahwa semua orang Indonesia memiliki hak yang sama. > > Upaya tersebut terlihat pula dari contoh yang kini ditunjukkan Indonesia di > luar negeri. Indonesia mengambil inisiatif untuk mendirikan Forum Demokrasi > Bali, sebuah forum terbuka bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dan > praktik terbaik untuk memupuk demokrasi. Indonesia juga telah berada di > garda > depan dalam upaya menuntut perhatian lebih banyak terhadap HAM di ASEAN. > Negara-negara di Asia Tenggara harus memiliki hak untuk menentukan nasib > sendiri, dan Amerika Serikat sangat mendukung hak tersebut. Tetapi rakyat > Asia > Tenggara juga harus memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Dan > itu > sebabnya kami mengutuk pemilihan di Burma baru-baru ini yang tidak bebas > dan > adil. Itu sebabnya kami mendukung masyarakat madani anda yang kuat untuk > bekerja sama dengan rekan setara anda di seluruh kawasan ini. Karena tidak > ada > alasan mengapa rasa hormat terhadap HAM harus berhenti di perbatasan sebuah > negara. > > Bergandengan tangan, inilah makna pembangunan dan demokrasi, bahwa > nilai-nilai > tertentu bersifat universal. Kemakmuran tanpa kebebasan adalah bentuk lain > kemiskinan. Karena ada aspirasi yang dirasakan umat manusia – kebebasan > untuk > mengetahui bahwa pemimpin anda bertanggung jawab kepada anda, dan bahwa > anda > tidak akan dipenjara karena ketidaksepakatan dengan mereka; kesempatan > untuk > mendapatkan pendidikan dan untuk dapat bekerja dengan martabat; kebebasan > untuk > beribadah tanpa rasa takut atau pembatasan. > > Itu adalah nilai-nilai universal yang harus dipraktikkan di mana pun. > Sekarang, > agama adalah topik terakhir yang ingin saya bicarakan hari ini, dan – > seperti > demokrasi dan pembangunan – agama adalah unsur fundamental dalam kisah > Indonesia. > > Seperti negara-negara Asia lain yang saya kunjungi dalam perjalanan ini, > Indonesia sangat spiritual – tempat di mana orang menyanjung Tuhan dengan > banyak cara berbeda. Bersamaan dengan keragaman yang kaya raya ini, > Indonesia > juga memiliki populasi Muslim terbesar – sebuah fakta yang saya temui > sebagai > anak kecil ketika saya mendengar panggilan untuk shalat di seluruh Jakarta. > > Seperti halnya individu tidak hanya didefinisikan oleh kepercayaannya, > Indonesia juga tidak hanya didefinisikan oleh populasi Muslimnya. Tapi kita > juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Muslim telah > tercerai berai selama bertahun-tahun. Sebagai Presiden, saya menjadikan > upaya > memperbaiki hubungan ini sebagai prioritas. (Tepuk tangan). Sebagai bagian > upaya tersebut, saya pergi ke Kairo bulan Juni lalu dan saya menyerukan > sebuah > awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim di seluruh dunia – yaitu awal > yang > membentuk jalan bagi kita untuk mengatasi perbedaan antara kita. > > Waktu itu saya mengatakan, dan saya mengulanginya sekarang, bahwa tidak ada > satu pidato tunggal yang dapat menghilangkan rasa tidak percaya yang > terpupuk > selama bertahun-tahun. Tapi saya yakin waktu itu, dan saya juga yakin hari > ini, bahwa kita punya pilihan. Kita dapat memilih untuk dicirikan oleh > perbedaan-perbedaan kita, lalu menyerah kepada semua masa depan penuh > kecurigaan dan rasa tidak percaya. Atau kita dapat memilih untuk bekerja > keras > mencari persamaan, dan membuat komitmen untuk terus mengejar kemajuan. Dan > saya > dapat menjanjikan kepada anda – bahwa kemunduran apapun yang timbul, > Amerika > Serikat berkomitmen terhadap kemajuan manusia. Itu adalah kami. Itu yang > sudah > kami lakukan. Dan itu yang akan kami kerjakan. (Tepuk tangan). > > Sekarang, kami tahu betul isu-isu yang telah menimbulkan ketegangan selama > bertahun-tahun – dan ini adalah isu-isu yang telah saya ungkapkan di Kairo. > Selama 17 bulan terakhir setelah penyampaian pidato tersebut, kita telah > mencapai kemajuan, tapi kita masih punya banyak pekerjaan yang harus > dilakukan. > > Warga negara sipil di Amerika, Indonesia, dan di seluruh dunia masih > menjadi > target ekstremisme keras. Saya telah perjelas bahwa Amerika bukan, dan > tidak > akan pernah, berperang dengan Islam. Tetapi kita semua harus bekerja sama > untuk > mengalahkan al Qaida dan sekutu-sekutunya, yang tidak berhak mengaku > sebagai > pemimpin agama mana pun – dan sudah pasti bukan pemimpin agama dunia yang > besar > seperti Islam. Tapi mereka yang ingin membangun tidak boleh mengalah kepada > teroris yang ingin merusak. Dan ini bukan tugas Amerika semata. Di sini di > Indonesia, anda bahkan telah mencapai kemajuan dengan menangkapi ekstremis > dan > memerangi kekerasan. > > Di Afghanistan, kami terus bekerja sama dengan sebuah koalisi negara-negara > untuk membangun kapasitas pemerintah Afghanistan guna mengamankan masa > depan > mereka. Kepentingan bersama kami adalah membangun perdamaian di sebuah > daerah > yang hancur akibat perang – perdamaian yang tidak memberikan tempat > berlindung > bagi kaum ekstremis keras, dan yang memberi harapan bagi rakyat > Afghanistan. > > Sementara itu, kami juga telah mencapai kemajuan dalam salah satu komitmen > utama kami – yaitu upaya untuk mengakhiri perang di Irak. Hampir seratus > ribu > tentara Amerika kini telah meninggalkan Irak, di masa kepresidenan saya. > (Tepuk > tangan). Rakyat Irak mengemban tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. > Dan > kami akan terus mendukung Irak dalam upaya mereka membentuk pemerintah yang > inklusif, dan kami akan memulangkan semua tentara kami. > > Di Timur Tengah, kami telah menghadapi awal buruk dan kemunduran, tapi kami > tidak menyerah dalam memperjuangkan perdamaian. Rakyat Israel dan Palestina > telah memulai kembali pembicaraan langsung antar mereka, tapi > hambatan-hambatan > besar masih ada. Jangan ada ilusi bahwa perdamaian dan keamanan akan datang > dengan mudah. Tapi jangan ada keraguan: Amerika akan berupaya penuh untuk > mencapai hasil yang adil, dan ini adalah kepentingan semua pihak yang > terlibat > – dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dalam damai dan > keamanan. Itu adalah tujuan kami. (Tepuk tangan). > > Taruhannya tinggi dalam memecahkan semua isu ini. Karena dunia kita semakin > kecil dan sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita juga > menciptakan > peluang dan kekayaan yang besar, kekuatan-kekuatan tersebut juga > memberdayakan > mereka yang berniat menghambat kemajuan. Satu bom di sebuah pasar dapat > menghancurkan maraknya perdagangan harian. Satu kabar angin yang dibisikkan > dapat menutupi kebenaran, dan memicu kekerasan antar masyarakat yang > sebelumnya > hidup bersama dalam damai. Di masa perubahan cepat dan perbenturan budaya > ini, > apa yang kita miliki bersama sebagai umat manusia terkadang bisa hilang. > Tapi saya percaya bahwa sejarah Amerika dan Indonesia bisa memberi kita > harapan. Ini adalah kisah yang tertulis dalam moto nasional kita. Di > Amerika, > moto kami adalah E pluribus unum – dari banyak, muncul satu. Bhinneka > Tunggal > Ika – persatuan dalam keragaman. (Tepuk tangan). Kita adalah dua negara > yang > telah menempuh jalur berbeda. Tetapi kedua negara kita menunjukkan bahwa > ratusan juta yang memiliki keyakinan berbeda dapat dipersatukan dalam > kebebasan > di bawah satu bendera. Dan kita kini sedang membangun berdasarkan > kemanusiaan > bersama ini – melalui orang-orang muda yang akan belajar di sekolah-sekolah > di > kedua negara kita; melalui para wirausahawan yang memperkuat ikatan yang > dapat > membawa kemakmuran yang lebih besar; dan melalui penerimaan kita atas > nilai-nilai demokrasi yang mendasar dan aspirasi umat manusia. > > Sebelum saya datang ke sini, saya mengunjungi masjid Istiqlal – sebuah > tempat > ibadah yang dulu masih dibangun ketika saya tinggal di Jakarta. Saya > mengagumi > menaranya yang tinggi, kubahnya yang besar, dan ruang dalamnya yang > menyambut > pengunjung. Tapi nama dan sejarahnya juga mewakili apa yang menjadikan > Indonesia besar. Istiqlal berarti kemerdekaan, dan konstruksinya sebagian > adalah kesaksian dari perjuangan negara ini untuk mendapat kebebasan. > Selain > itu, rumah ibadah bagi ribuan umat Muslim dirancang oleh seorang arsitek > Kristen. (Tepuk tangan). > Itulah jiwa Indonesia. Itulah pesan dari falsafah inklusif Indonesia, > Pancasila. (Tepuk tangan). Di seluruh nusantara yang menyimpan sejumlah > ciptaan > Tuhan yang paling indah, muncul pulau-pulau di atas samudera yang dinamai > untuk > kebebasan, dan rakyat yang memilih cara beribadah kepada Tuhan sesuai > keinginan > mereka. Islam berkembang, demikian pula agama-agama lain. Pembangunan > diperkuat > oleh kemunculan demokrasi. Tradisi lama bertahan, meski negara bergerak > maju > sebagai kekuatan yang menanjak. > > Itu bukan berarti Indonesia tidak memiliki cacat. Tidak ada satupun negara > yang > sempurna. Tapi di sini kita dapat menemukan kemampuan untuk menjembatani > perbedaan ras dan kawasan dan agama – melalui kemampuan untuk melihat diri > anda > sendiri dalam semua individu. Sebagai seorang anak berketurunan banyak ras > dan > datang kemari dari negeri jauh, saya menemukan semangat ini dalam sambutan > yang > saya terima ketika pindah kesini: Selamat Datang. Sebagai seorang Kristen > yang > mengunjungi masjid dalam lawatan ini, saya menemukannya dalam kata-kata > seorang > pemimpin yang ditanyai mengenai kunjungan saya ini dan ia mengatakan > “Muslim > juga diizinkan mengunjungi gereja. Kita semua adalah umat Tuhan.” > Percikan kebijakan itu hidup dalam diri kita semua. Kita tidak dapat > mengalah > pada keraguan atau sikap sinis atau keputusasaan. Kisah Indonesia dan > Amerika > harus membuat kita optimis, karena menunjukkan kepada kita bahwa sejarah > berada > di sisi kemajuan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; > dan > bahwa rakyat dunia ini dapat hidup bersama dalam damai. Semoga kedua negara > kita dengan bekerja bersama, dengan keyakinan dan ketetapan hati, berbagi > kebenaran ini dengan semua umat manusia. > > Sebagai penutup, saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia: terima > kasih. Terima kasih. Assalamu’alaikum. Thank you. > Zorion_Anas > *55yo > http://minangmaimbau.blogspot.com > http://zorionanas.blogspot.com > [email protected], [email protected], [email protected] > Cel./HP No. :081384611336, 085811646566 > Country code +62 > > > > > ________________________________ > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. >
-- Sent from my mobile device Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta, sekarang Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
