Suryadi dan Dunsanak Palanta RN Menarik bagi saya Artikel Sanak Minang Saisuak #24
Jika saya simak fotonya paling tidak saya bisa membayangkan situasi Muaro Padang pada jaman dulu tentunya Ekosistimnya masih terjaga terutama di Daerah Aliran Sungai Batang (H)Arau ini mulai dari Hulu sampai ke Hilir begitu juga bantaran kiri kanan Sungainya belum diokupasi secara "membabi buta" oleh (tekanan) penduduk tentu dapat dimaklumi jumlah penduduk kota Padang saat itu belum banyak seperti sekarang Jika pemerintahan Hindia Belanda begitu peduli dengan mulut muara ini tentunya Muara Padang ini mempunyai arti yang sangat strategis terutama dalam hiruk pikuk perdagangan yang memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi kapal dijamannya. Muara Padang mempunyai arti yang penting sebagai pelabuhan dalam mengangkut hasil bumi dan rempah2 dari ranah minang ini dibuktikan di kota lama sepanjang batang harau menuju Pondok banyak terdapat gudang2 dengan bangunan yang kokoh tempat penyimpanan hasil bumi sebelum di kapalkan Dalam foto tersebut mesin keruk terlihat sedang bekerja, ini tidak lebih dan tidak kurang tentunya mengeruk pasir dan lumpur dari hulu yang hanyut dan menimbun di mulut muara (sedimentasi) sebuah proses yang alami saja terjadinya. Tentunya agar kapal2 yang berlabuh bisa setiap saat,kapan saja tanpa harus menunggu pasang naik baik ketika bersandar maupun berangkat Kondisi Sekarang Paling tidak dari tahun 2001 sampai awal tahun 2005 saya sangat akrab sekali dengan pelabuhan muara Padang ini. Disinilah saya jika ke Sipora Mentawai berangkat dengan kapal kayu (KMP) secara reguler 2 kali seminggu dari dan ke Padang-Mentawai. Kondisinya seperti yang sanak bilang "ironis" sekali, pengendapan lumpur, sampah terutama plastik sangat luar biasa belum lagi pencemaran perairan sekitar mulai di hulu sampai ke hilir (miuaro) Saking parahnya pengendapan (sedimentasi) di mulut muara memaksa kapal yang "dari dan ke" harus menunggu pasang naik dulu untuk bersandar dan berangkat. Pernah satu kali KMP yang saya tumpangi harus berangkat jam 12 malam karena harus menunggu pasang yang sehrusnya KMP. Berangkat jam 9 malam agar sampai di Sioban Sipora subuh, celakanya lagi pas keluar mulut muara mau masuk perairan laut tiba-tiba KMP ini buang jangkar..apa pasal Ternyata plastik diputar oleh baling2 kapal dan menyekat di porosnya, terpaksa ABK dalam kegelapan malam yang dingin turun menyelam untuk membersihkan plastik yang melilit poros baling2 kapal Telah banyak kita diskusikan di palanta RN ini seputar muara padang dengan pemikiran dan ide2 yang berlian buat PemKot Padang tapi nampaknya apa yang kita diskusikan disini "mati terkubur" saja di alam maya ini. Kalau tidak salah. Saya (kita) pernah berdiskusi seputar muara ini agar ditata lebih baik lagi menjadi kawasan parawisata satu paket dengan Kota Tua dan pantai muara Kapal motor penumpang dan barang antar pulau pindah total ke Teluk Bayur dan Bungus (kita bisa baca di arsip diskusi RN tentang alasan mutlak harus pindah ini) Seperti yang sanak sindir tentang kafe mewah (disinyalir milik urang bagak) di muara Padang ini (yang juga termasuk diskusi di palanta RN ini dulu) memang berselera rendah "kampungan dan norak" ketika muara Padang ini masih saja kotor, carut marut dengan segala permasalahannya, ibaratnya kita memakai sebuah sepatu kulit mewah "branded" mungkin merek Braun Buffel he he tapi berjalan di pasar yang becek dan kumuh sementara yang punya (pakai) sepatu merasa gaya saja Tentu menjadi bergengsi kafe mewah ini jika muara Padangnya bersih dan hanya kapal2 pesiar, sampan2 layar masyarakat yang bersandar di muara ini, tidak ada lagi KMP yang hiruk pikuk dengan muat bongkar barang dalam jumlah yang banyak baik dari segi berat maupun volume yang berpotensi mencemari perairan dan rentan terhadap kecelakaan di laut karena barang yang dimuat dipelabuhan ini seperti "sdipaksakan" dimuat melebihi batas maksimal muatan KMP antar pulau ini, belum lagi pencemaran dari sampah, BBM, Oli dll dari KMP2 ini Tapi begitulah sanak "hidup sarit terpaksa jual kerambil" dalam arti bagi masyarakat banyak yang hidup susah muara Padang telah mendarah daging dari dulu2nya mencari nafkah mulai dari jasa buruh muat bongkar barang, pedagang asongan, rumah makan ampera, menjadi urang bagak dimuara dan tukang palak sampai yang sekedar mengumpulkan recehan seribu dua ribu perak menyambut tali kapal yang dilemparkan ke dermaga untuk ditambatkan. Tapi bagi oknum yang punya otoritas di pelabuhan muara padang ini tentu "hidup senang (tidak sarit)" karena banyak piti masuak yang didapat secara ilegal melalui pungutan liar dengan senjata peraturan untuk "menggertak" Dan bulan suatu hal yang aneh lagi jika ada berita ketika KMP yang bermuatan bagan bangunan seperti semen,besi dll ketika keluar mulut muara lansung karam, ya itu tadi oknum memberikan Surat Izin Berlayar dengan muatan yang berlebih tidak sesuai dengan kapasitas KMP yang telah ditentukan dalam peraturan dan undang2 yang mereka pegang sebagai senjata untuk menggertak sebelum menerima pitih masuk. Ohhh..Muara Padang Riwayatmu dulu dan sekarang Wass-Jepe Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
