Sayang sekali sekolah tsb. kalau diserahkan kepada pemerintah. Sekolah ko lah 
bajalan rancak dan menghasilkan tenaga ahli perminyakan. Cost Recovery yaitu 
sebelum hasil tsb. dibagi. Untuak rakyat nan badarai sabatuanyo indak masaalah 
sabab kalau pitih tu ditangan pemerintah awak lah tahu samo tahu sajo. Bundo 
tak 
mengikuti benar berita dulu waktu bundo masih aktif daerah Pusaka dan Zamrud 
hasilnya sekitar 60,000 bbl. Kabanyo kini hanyp 20,000. Mohon maaf kalau 
beritako salah. Tolong dikoreksi Elthaf dan Madahar.
 Hayatun Nismah Rumzy 




________________________________
From: Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, November 16, 2010 1:31:38 PM
Subject: [...@ntau-net] OOT - Pakai Cost Recovery, Poltek Caltex Sebaiknya 
Diambil 
Alih Pemprov Riau


Dunsanak Sadonyo.
 
Nan ambo lewakan ko OOT, karano bukan baminang-minang, dan juga bukan 
menyangkut 
Sumbar, tapi nagari jiran awak. Dan mungkin iko buliah juo jadi referensi kok 
iyo jadi urang manggali minyak di kampuang awak.
 
Ambo ndak ba a tau ujuang carito ko nantiny. 
 
Tadi ini setidaknya bisa jadi pembelajaran juga bagi kita semua bahwa kadang2 
kito “maangguak-angguak kagum” jo kebaikan hati perusahaan2 gadang, baik untuk 
lingkungan sekitarnya, maupun untuk pegawai2nya. Kadang2, untuak perusahaan 
tertentu, itu sabananyo “pitih awak juo”
 
Riri
48/L/bekasi
 
http://www.detiknews.com/read/2010/11/15/223538/1495045/10/pakai-cost-recovery-poltek-caltex-sebaiknya-diambil-alih-pemprov-riau

 
Senin, 15/11/2010 22:35 WIB
Pakai Cost Recovery, Poltek Caltex Sebaiknya Diambil Alih Pemprov Riau  
Chaidir Anwar Tanjung – detikNews
 
Pekanbaru - Politeknik Caltex Riau (PCR) mulai diwacanakan untuk diambilalih 
Pemprov Riau. Ini sehubungan dana pembangunannya PCR yang menelan dana sekitar 
USD 5 Juta yang merupakan uang negara lewat dana cost recovery.

“Nama Caltex yang tertera itu seakan merupakan bentuk sumbangan utuh dari 
perusahaan minyak asal Amerika itu. Padahal faktanya, pembangunan PCR 
menggunakan dana cost recovery yang artinya tetap negara yang membayarnya. 
Kalau 
begitu, sebaiknya nama Caltex dihapus saja atau diambil alih pemerintah 
daerah,” 
kata Anggota DPR RI asal Riau, Lukman Edy dalam perbincangan dengan detikcom, 
Senin (15/11/2010) di Pekanbaru.

Menurut mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertingal (PDT) ini, di zaman serba 
keterbukaan ini, sebaiknya pemerintah juga transparan soal pembangunan PCR yang 
notabenenya menggunakan uang negara. Hanya saja memang, dana awal pembangunan 
awalnya kampus yang berada di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru itu menggunakan dana 
PT Caltex Pacific Indonesia yang kini berganti nama Chevron Pacific Indonesia. 
Yang selanjutnya secara berangsur pemerintah menggantinya kembali.

“Namun yang jelas dana pembangunan itu masuk dalam cost recovery, artinya 
sumbangan Caltex untuk kampus itu paling banter hanya 10 persen. Selebihnya 
uang 
rakyat. Penggantian nama PCR sebaiknya segara diwacanakan masyarakat dan 
pemerintah di Riau,” kata Lukman Edy.

Sementara itu, di tempat terpisah pengamat Migas, Luluk Harijanto kepada 
detikcom menyebut, boleh saja PCR diambil pemerintah daerah. Karena memang era 
pembangunan kampus tersebut dulunya dibangun lewat program community 
development 
(CD) yang masuk dalam cost recovery. Dengan demikian maka 90 persen seluruh 
dana 
pembangunan kampus PCR merupakan uang negara alias uang rayat.

“Yang menjadi persoalan, apakah Pemprov Riau memiliki dana untuk kelangsungan 
jalannya kampus tersebut. Sebab, kalau dikelola Pemprov Riau, secara otomatis 
PT 
Chevron Pacific Indonesia tidak lagi menanggung dana kegiatan kampus tersebut,” 
kata Luluk mantan Kepala BP Migas Sumbagut itu.

Selain soal dana pembangunannya, Luluk masih mempertanyakan soal pendanaan 
kampus PCR tersebut. Karena selama ini segala keperluan dana kampus seperti, 
gaji dosen serta dana operasional seluruhnya masih didanai PT Chevron.

“Maka timbul pertanyaan lagi, apakah dana pengelolaan kampus itu masih masuk 
dalam program CD? Apabila pengelolaan PCR masih menggunakan program CD yang 
notabenenya menjadi cost recovey, maka hal itu akan bertentangan dengan aturan 
baru soal batasan cost recovey. Kalau memang menggunakan dana CD, maka saluran 
dana untuk operasional PCR patut diaudit,” kata Luluk Harijanto.-- 

.
* 


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke