Nakan Tan Mancayo sarato Sanak sa Palanta Dulu ketika bertugas di bertugas di IBRD NSSWSSP (1985 - 1988), Sulut masih terdiri 4 kabupaten yaitu Kepulauan Sangihe dan Talaud, Minahasa, Bolaang Mongondow dan Gorontalo serta 2 kotamadya, masing-masing Manado dan Gorontalo. Bitung masih berbentuk kota administratif.
Jalan darat Manado - Gorontalo yang merupakan ruas jalan Trans Sulawesi itu, terutama di jalur Inobonto (persimpangan ke Kotamobagu) - Bintauna kondisinya parah sekali. Selain jalan belum beraspal, jembatan belum ada yang dibangun, sehingga setiap meliwati sungai kendaraan harus turun ke sungai, sementara penumpang berjalan dengan menggunakan jembatan darurat. Kalau hujan lebat yang menyebabkan permukaan sungai naik, kendaraan harus menunggu---kadang-kadang berhari-hari--- sampai permukaan sungai turun kembali sehingga dapat dilewati kendaraan kembali. Manado - Gorontalo via udara dihubungkan tiap hari oleh Bouraq dengan menggunakan pesawat HS 100 bermesin turboprop ganda rute Manado-Jakarta pp via Palu dan Balikpapan yang transit di Djalaludin serta Merpati rute Manado-Gorontalo p.p. dengan menggunakan pesawat CASA. Di Tim Studi NSS-WSSP hanya ada dua financial analyst/socio economist (nasional); satu untuk Sulut, yaitu saya, yang berkantor di Manado dan rekan saya Zuftian, urang awak juga untuk Sulsel yang berkantor di Makassar. Di Makassar juga seorang expatriate Jun Bonilla dari SGV Filipina (sebelum merger dengan Arthur Anderson), yang man-personnya hanya total 9 bulan. Saya pun akhirnya ditarik ke Makassar dengan wilayah kerja Sulut dan Sulsel dan berkali-kali mondar mandir Makassar-Manado . Saya tidak pernah lupa bagaimana beratnya badan untuk bangun dari tempat duduk dan kaki untuk turun dari angga di Hasanudin dari pesawat DC-9 Garuda rute Manado-Makassar-Jakarta yang saya tumpangi setiap selesai bertugas di Manado :). Tugas saya pertama ke lapangan di Sulut ialah bepergian ke ibu-ibu kota kabupaten dan kota-kota proyek yang termasuk kategori BNA guna mempersiapkan household income survey serta menggumpulkan data keuangan PDAM-PDAM terkait. Dalam bertugas ke lapangan saya hampir selalu melakukannya sendirian. Saya tidak bisa ikut Tim Engineering (TL dan geodesi) karena lingkup dan jadwal sangat berbeda. Kunjungan ke Kota Gorontalo saya lakukan dalam satu trip dengan kunjungan ke Kotamobagu, ibu kota Kab Bolaang Mongondow dan Limboto ibu kota Kab Gorontalo yang seperti kita ketahui sekarang sudah menjadi provinsi tersendiri. Perjalanan itu saya lakukan pada bulan Oktober. Jadi sudah mulai musim hujan. "Otak Padang" saya :) lalu berfikir, jika saya menggunakan jip yang disediakan kantor, jip plus sopirnya bisa jadi beban atau menghambat langkah saya kalau hari hujan dan air sungai yang harus dilewati naik. Akhirnya saya memutuskan berangkat naik kendaraan umum dan pulang naik pesawat. Untuk bepergian ke kota-kota proyek di sekitar ibu-ibu kota kabupaten saya akan meminjam mobil PDAM setempat, dengan memberi uang bensin tentu saja. Jalur Manado - Kotamobagu dilalui dengan lancar, karena jalannya relatif bagus dan sungai yang yang dilewati dekat Amurang ada jembatannya. Masalah timbul setelah pekerjaan saya di Kotamobagu dan sekitarnya selesai, karena kendaraan umum yang menghubungkan Kotamobagu - Gorontalo secara langsung belum ada. Yang ada hanya sampai Bolaang Itang, itu pun tidak tiap hari. Saya tidak ada pilihan lain dan berharap di Bolaang Itang bisa ikut travel Manado - Gorontalo yang lewat di sana tengah malam. Alhamdulillah perjalanan Kotamobagu - Bolaang Itang lancar saja, karena sungai-sungai yang dilewati permukaan airnya masih cukup rendah. Ketika menunggu di sebuah rumah makan di Bolaang Itang, ada truk Departemen Transmigrasi menuju Gorontalo yang sopir dan keneknya mampir untuk makan . Tidak mau berspekulasi, yakni jika ternyata tidak ada tempat duduk kosong di mobil travel Manado - Gorontalo yang sedang saya tunggu-tunggu, saya akhirnya minta dan diperkenankan ikut truk itu ke Gorontalo. Sebelum melewati Bintauna kami melewati sebuah sungai yang cukup lebar dengan menggunakan pelayangan yang dikayuh pakai tangan. Sesudah itu kami masih meliwati sebuah sungai besar yang nyaris kering dengan jembatan darurat yang hanya cukup aman dilewati mobil-mobil kecil. Saya cukup ngeper juga ketika Pak Sopir mencoba menyogok petugas agar mobilnya bisa meliwati jembatan darurat, namun ditolak mentah-mentah, sehingga mau tidak mau Pak Sopir terpaksa membawa truknya turun ke dasar sungai yang cukup terjal itu dan kemudian naik kembali. Setelah itu perjalanan lancar-lancar saja. Kami tiba dan saya turun di Limboto jam 4 dini hari, setelah memberikan uang rokok kepada Pak Sopir dan keneknya tentu saja . Dari Limboto ke Kota Gorontalo saya diantar mobil PDAM. dari Gorontalo saya bepergian ke a rah barat sampai Tilamuta. Sekian sekelumit perjalanan Manado-Gorontalo yang saya alami sekitar 25 tahun yang lalu, salah satu dari puluhan, atau mungkin ratusan perjalanan ke berbagai pelosok tanah air, sejak menjadi anak buah pakar teknik lingkungan Prof Dr Ir H Soetiman (Alm) di Divisi TL ENCONA Engineering tahun 1984, yang sebelum krismon merupakan salah satu dari tiga biro konsultan engineering terbesar di Indonesia. Hanya 6 dari 33 provinsi di Indonesia yang belum pernah saya singgahi karena pekerjaan. 25 provinsi ketika bekerja di ENCONA dan 3 sisanya sewaktu bergabung dengan USAID PERFORM. Semua kesulitan dan ancaman marabahaya yang saya hadapi dalam perjalanan ketika itu---termasuk ketika saya memilih naik kapal motor kayu dari Lirung, kota kecamatan di pulau kecil yang terletak dekat ujung Selatan pulau Talud ke Tahuna di pulau Sangihe di musim barat--- sudah menjadi kenangan indah belaka. Yang selalu menjadi 'mimpi buruk' saya adalah kerusakan lingkungan karena keserakahan manusia---yang jumlahnya tidak banyak---tetapi dampak perbuatannya sangat besar, seperti penderitaan sungai-sungai besar di Kalimantan: Kapuas, Barito dan Mahakam penebangan hutan produksi yang dilakukan secara tidak semena-semena oleh pemegang HPH yang berkong-kalingkong dengan penguasa korup. Sungai Kapuas, sumber air baku PDAM Kota Pontianak, bahkan terintrusi air laut sampai ke intake IPA utama PDAM di jalan Imam Bonjol pada kemarau panjang tahun 1991, sehingga IPA tersebut tidak dapat berproduksi yang menyebabkan kota tersebut mengalami krisis air bersih dengan segala akibatnya. Saya dan Prof Sutiman berada di sana ketika itu sebagai tamu PDAM. Karena itu kepala saya cepat berasap mendengar hutan lindung ditebangi seperti yang tercermin pada puisi yang saya tulis dalam tahun 2000 dam wonorejo akan menelan jutaan kubik air untuk apa dibangun kalau hutan-hutan terus ditebang Tapi apalah awak ini Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+) Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/131829;_ylc=X3oDMTJzdGV2MGc zBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzMTg yOQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMjkxMDQ4MTMy> Re: [...@ntau-net] Gorontalo (+ Danau Limboto dan Maninjau) Posted by: "andi ko" <mailto:[email protected]?subject=%20re%3a%20%5br%40ntau-net%5d%20goronta lo%20%28%2B%20Danau%20Limboto%20dan%20Maninjau%29> [email protected] Mon Nov 29, 2010 12:12 am (PST) Mamak Darwin Jo Sanak Palanta Ambo tulih jawaban iko kutiko sadang kongkow-kongkow jo anggota DPRD jo beberapa perwakilan pemda di Gorontalo. Sebagai sebuah propinsi baru, banyak perubahan yang terjadi dan akan terjadi, salah satu nan penting adolo diturunkannyo status kawasan konservasi untuak kebutuhan tambang ameh, marasailah taman nasional Bokani Nani Watabone. Salamo ampek ari ko ambo mandapek kesempatan mantraining mereka untuak paham teknis Legislative Drafting (Penyusunan Perda). Besar keinginan kabupaten-kabupaten baru untuak paham berbagai isu legal, lingkungan jo sumberdaya alam. ///// Oh yo mak, bukaklah curito ukatu mamak bajalan, jo apo pulo urang maso itu masuak Gorontalo. Apo naiak kapa dari Bitung ? Kalau nak mancaliak fotonyo ado di <http://www.facebook.com/album.php?aid=99630&id=1378658278&l=9354553e1c> http://www.facebook.com/album.php?aid=99630&id=1378658278&l=9354553e1c Salam andiko Pada 29 November 2010 11.29, Darwin Bahar < <mailto:dbahar%40indo.net.id> [email protected]> menulis: -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
