Assalamu'alaikum Warahmatullahi.. Adidunsanak Lapau, sekedar maangekkan suasana Lapau di akhia pakan ko, mudah-mudahan bisa dinikmati tulisan ambo mulo-mulo baraja manulih dulu nan mamakai bahaso Induak awak ambo alihbahasakan ka bahaso Indonesia. Sasuai jo beberapo permintaan yang datang. Salamaik mambaco.
SELAT MIE By : Rina Hari Sabtu adalah hari yang kami pilih untuk berangkat menuju Selat yang menjanjikan kenikmatan memancing. Namanya Perairan Selat Mie. Dai perairan ini banyak dipasok ikan, udang, sotong dan gonggong (sejenis siput laut yang hidup di rerumputan karang laut yang agak berlumpur) dalam kondisi hidup untuk Batam dan sekitarnya maupun export S'Pore. Memang nelayan Selat Mi lebih menyukai menjual hasil tangkapan mereka supaya bisa menikmati dollar daripada rupiah yang makin hari makin lusuh saja nilainya. Mulai dari siangnya aku telah mempersiapkan Ayam Penyet kesukaan "My Lovely Husband" juga untuk semua awak boat pancung nantinya. Satu kotak Ayam Penyet, Nasi hangat satu termos beserta beberapa snak dan cemilan. Juga tidak lupa beberapa bungkus Mi Instan. Dalam hal mempersiapkan peralatan dan kelengkapan sebuah ekspedisi memancing kecil-kecilan ini saja, sudah membuat perasaan menyenangkan yang sulit untuk dilukiskan. Entahlah bagaimana dengan Kawan-kawan??...... Setelah semua perlengkapan beres, berangkatlah kami yang terdiri dari ; suamiku (Jawa), suami dari pembantuku (Jawa) dan office boy di kantor suamiku (Kendari, Sulawesi). Si Tekong Pancung orang Melayu Pulau, jadi lengkaplah bahasa yang bakalan riuh rendah diatas kapal nantinya. Ada Si Padang, Si Jawa, Si Kendari dan si Melayu.Walaupun berbeda-beda tapi tetap saja ocehan dan gurauan kami tetap nyambung gak putus-putus. Karena anakku masih kecil dan belum bisa diajak serta makanya kutinggalkan dia bersama Mbaknya yang berdarah Jawa di rumah. Sebenarnya kasihan juga meninggalkan dia di rumah, tapi kawan..diriku juga kasihan dengan Masku. Kan tidak mesti, bila telah memiliki momongan, dia juga harus kehilangan "Strategic Partner"nya ketika melepas hobinya dalam kegiatan memancing di laut seperti yang biasa kami kerjakan sebelumnya di hampir setiap week end-nya. Supaya ada keseimbangan dalam mengisi hari-hari kami yang hampir sibuk selalu. Sehingga aku putuskan untuk ikut pergi menemaninya melepas hobi memancing ke laut ini. Dari arah Sekupang Batam kami melaju menuju pelabuhan Sagulung Batu Aji Batam, karena si Tekong Melayu yang kuceritain tadi telah menunggu kami di pelabuhan kecil itu. Matahari sudah mulai condong ke Barat ketika kami meluncur di perairan kawasan Tanjung Uncang Batam. Sekitar sekilo berlayar di tepian perairan Tanjung Uncang banyak bermunculan pabrik Kapal yang biasa disebut orang-orang disini dengan Tongkang. Air di perairan diseputaran daerah itu menghitam sangat kotor. Barangkali karena limbah oli kotor yang banyak digunakan mereka dalam pembuatan dan penyervisan Kapal-kapal Tongkang diseputaran tempat itu. Dimana kesadaran akan pentingnya Management Environment-nya yang tumpul tidak mengindahkan biota perairan yang rusak oleh Perusahaan-perusahaan disitu. Tapi mau gimana ya Kawan???....Devisa Negara yang bertambah dengan adanya semua itu, ya sudahlah... Untungnya tidak semua perairan di wilayah Kepri ini mereka bikin jadi seperti itu. Yang penting bagi kami waktu itu masih adanya tempat-tempat eksotik untuk melepaskan hobi memancing kami, itu sudah cukup bagi kami. Namun belakangan tempat-tempat itupun semakin berkurang kualitasnya. Selepas dari menyusuri perairan Tanjung Uncang Batam, kami mulai memasuki daerah Pulau Pecong. Kami berhenti dulu disana sekedar untuk bersilaturahmi dengan keluarga si Tekong Pancung. Yang mana istrinya berasal dari Pulau Pecong ini sehingga keluarga mertuanya juga berada di Pulau kecil ini. Memasuki pelantar Pulau Pecong, waktu Maghrib sudah masuk. kami menompang shalat Maghrib disana yang dijama' dengan Isya'. Sempat saya perhatikan Pulau kecil ini boleh dibilang jauh dari mewakili kata sejahtera. Tidak ada satupun kendaraan yang terlihat. Rumah disana rata-rata terbuat dari kayu dengan hiasan kain warna-warni penutup jendelanya. Ketika kami sampai, banyak tetangga-tetangga yang keluar rumah menyapa seolah-olah menyambut kedatangan kami. Herannya lagi, mereka udah pada tau nama kami, ternyata si Tekong Pancung telah mengirimkan pesan kesini tentang kedatangan kami ini. Satu hal yang membuat saya salut adalah seberapapun bentuk rumah mereka akan tetapi bunga-bunga dalam pot yang tersusun rapi di depan rumahnya membuat suasananya jadi indah. Terlebih saya juga penyuka bunga. Di dalam rumah telah berkumpul keluarga si Tekong ini. Ada kakek tua yang sudah sangat tua dan nenek yang juga sama tuanya. Kami merasakan aura kekeluargaan yang tinggi di rumah itu, juga kental terasa bahwa mereka merasa senang menerima kami sebagai tamu, walaupun kami hanya sebentar disana. Sekejab diantaranya terhidang biskuit dan teh manis yang panas. Setelah kami berbagi cerita tentang seputaran memancing dan hasil nelayan mereka, kamipun minta izin untuk melanjutkan perjalanan ke perairan Selat Mi. Melewati pulau-pulau kecil antah berantah dan bakau-bakau yang bersambung tiada putus seakan kerajaan malam bagi penunggunya. Baik yang terlihat maupun yang kasat mata. Meluruskan niat dan minta perlindungan dariNya adalah suatu keharusan selain minta izin ke penunggu daerah itu, terlebih dengan apa yang kami lakukan menyusuri daerah itu di tengah malam itu. Kecepatan mesin kapal tidak dipacu untuk kencang sebab air laut sedang pasang, takut bila baling-baling menyangkut di tiang-tiang kayu yang terbenam oleh tingginya ai pasang. Sebentar-sebentar kami coba juga untuk memancing di daerah itu namun ga ada dapat hasil. Beberapa kali direnggutkan namun hanya putus saja senarnya. Gak ada yang sampai naik ke atas. Kata si Tekong barangkali yang memainkan itu adalah Pari besar atau ikan Jahan (Catfish). Sewaktu pergi lagi di lain waktu memang dapat Pari selebar pintu di tempat itu dan ketika ditimbang beratnya mencapai 40 kg, juga ada ikan Jahan 5 kg. Kami belum begitu tau dimana letaknya lubuk ikan di daerah itu sehingga hasilnya kurang memuaskan. Si Tekong Pancung memang kurang tahu dengan daerah tersebut walaupun sudah beberapa kali me-rawai di situ. Rawai jenis ini untuk hasil ikan-ikan di waktu malam yang berukuan besar berbeda denga rawai untuk ikan-ikan jenis Selar, Kembung, Tamban dan Selikur. Rawai jenis ikan besar ini terbuat dari t ali jemuran sepanjang 100m dan jarak semeter dipasangi senar kasar dengan ujungnya dibuhul bersama sebuah mata kail yang besar. Lingkar lengkungan mata kail ini sebesar teunjuk kita yang dibengkokkan. Biasanya ikan hasil Rawaian ini berjenis Hiu, Pari, Alu-alu ataupun kerapu ukuran besar. Nelayan disini memakai Rawai ini dibulan-bulan tertentu.Ada sebuah keahlian mereka dalam menerka dan menerawang hari yang bagus untuk merawai ini berdasarkan bentuk bulan, kecepatn angin dan arus laut. Jadi bukan Mama Loreng saja yang pake ilmu macam ginian hehe... Ketika tengah malam kira-kira jam 2 dini hari, kami buka perbekalan Ayam Penyet tadi yang sudah dingin sedingin hidung kucing. Namun tetap saja sedap dinikmati disertai gurauan ABK dadakan kapal yang Bhineka Tunggal Ika ini. Begitu selesai makan turunlah hujan rinai. Barulah udara terasa dingin menggigit tulang. Aku langsung mengeluarkan Jas hujanku yang telah kupersiapkan. Setelah kupakai barulah dinginnya berkurang. Yang lainnya menghangatkan badan dengan membuat kopi panas dari air termos yang kubawa dan petikan rokok mereka. Aku lebih suka dengan teh manis panas. Sebentar diantaranya diriku sudah terbuai terlena dan terlelap dibuai angin malam. Boat tetap melaju menuju arah Perairan Selat Mi yang berliku-liku melewati gugusan pulau antah berantah dan bakau yang tiada putus-putusnya. Menjelang subuh tampaklah Sunrise d Timur samar-samar sampai terang, Boat yang dipacu kencang itu rupanya teah mendekati Selat Mi. Pulau di sisi Selat Mi ini adalah Pulau terluar dari gugusan pulau didaerah seputaran Batam menjelang pulau Moro di Karimun sana yang terlihat kecil di seberang laut sana. Selepas dari Selat Mi ini adanya laut lepas yang berarus kuat sehingga gelombangnya besar. Kurang cocok dilewati dengan boat kami pakai ini. Air laut tampak jernih, angin sepoi-sepoi dan arupun tenang membuat mata jadi mengantuk lagi. Di tengah laut yang tenang itu si Tekong Pancung memacu boatnya lumayan kencang supaya cepat sampainya di Pualu di sisi Selat Mi untuk memancing sekaligus ingin bersilaturahmi dengan nelayan sana yang sering mengirimkan ikan ke Batam untuk kami. Di tengah laut yang tenang itu, sunrise sangat cantik membuat ingatan melayang jauh. Ketika itulah tiba-tiba kami semua terlempar dari dalam Boat. Sebelum terelmpar itu sebagian kami ada yang terkantuk-kantuk melamunkan sunrise yang indah itu. Tekong Pancung menyuruh lurus dan Masku menyuruh ke kanan, si Mas suami pembantuku yang baru belajar megang kemudi bingung. Tapi karena si Tekong Pancung lebih berkompeten pikirnya daripada Masku, maka dia tetap lurus tancap gas sehingga terkandas di pulau pasir putiah yang luas ditengah laut itu. Memang permukaan Pulau tidak kelihatan sebab yang paling tinggi tetap terendam air laut setinggi sejengkal dari permukaan laut, sehingga susah untuk terlihat dari jarak jauh, apalagi dalam kecepatan tinggi. Alhamdulillah kami semua selamat tiada ada yang terluka. tersadar dari situasi itu semuanya Istigfar namun sekejab kemudian semuanya tertawa tergelak-gelak mengetawai Sang Kapten Payah alias si Tekong Pancung yang tidak tau kalo di depan matanya ada pulau pasir tersembunyi yang luas itu. namun di dalam hatiku gentar juga, teringat kata-kata orang tua-tua : Lautan sati rantau batuah Manusia hanyalah makhluk lemah yang tiada daya jika Allah tiada berhendak untuk melindungi, kemana tempat untuk berlindung..Astaghfirullah ....Subhanallah... Ketika sunrise mulai memerah terang, kamipun sampai di Pulau disisi Selat Mi dengan perut yang keroncongan. Hampir sama dengan di Pulau Pecong semalam, kamipun disambut hangat di rumah nelayan daerah ini. Bahasa Melayu mereka Kawan... hampir tak bisa disimak dan dimengerti. Saking pol Melayunya hehe.... Apalagi mereka bicaranya cepat-cepat, gak tau jawabnya kami jawab aja sekenanya dengan "Iyye..iyye..iyye bertekanan sama dengan logat mereka itu. Keramahan mereka kalah jauh dengan penduduk di perkotaan, hal yang tidak kita dapatkan bila berada di kota. Kearifan kehidupan di Pulau terpencil yang serba natural, namun tinggi nilai persaudaraannya. Kami diantar ke kamar kecil yang beratap langit dan ada air tawarnya, dimana air tawar adalah hal yang berharga di pulau yang dikelilingi lautan ini.Kebanyakan rumah-rumah kayu disana berdiri diatas tiang-tiang kayu yang selalu terendam air bila pasang telah naik. Setelah selesai sembayang subuh, kami disuguhi Tiwul (ubi rebus yang ditumbuk dicampur gula merah yang ditaburi kelapa parut). Di pasar di kampungku dulunya Mamaku sering membelikan jajanan ini sepulang dari pasar. Perut kamipun kenyang penuh tiwul dan siraman teh panas, langsung berangkat lagi mengejaram ikan arus bagus untuk memancing di pagi yang damai di Selat itu. Tekong pancungpun dialihtugaskan ke Nelayan sana. Air yang jernih beberapa meter ke bawah air terlihat terumbu karangnya dan ikan warna-warni berkeliaran. Tanpa menunggu jeda, kamipun sibuk memulai memancing di pinggiran tubir Karang bawah laut itu. Selang sekejab sudah terdengar sorak-sorai norak kami berhasil menaikkan bermacam-macam ikan karang. seperti Timun, beberapa jenis Kerapu, Amoi, Kakap, Ikan Kuning dan lainnya. Setelah berpindah-pindah di beberapa tempat, box ikan kamipun penuh. kamipun balik ke Pulau disisi Selat Mi itu untuk menjemput ikan hasil jaring Nelayan semalam. Selain bersilaturahmi kamipun juga mau survey tentang kehidupan nelayan dan kondisi hasil tangkapan mereka yang sering dikirimkan ke kami di batam. Sungguh profesi sebagai nelayan tradsional seperti mereka adalah sebuah profesi yang sungguh berat. Apalagi bila telah berhutang jaring atau kapal ke Tengkulak pengepul ikan disana. Setiap hasil yang didapat harus disetorkan ke mereka dengan harga yang telah dipatok dan langsung dipotong cicilan utang mereka yang berbuntut panjang. Sembari menyicil hutang yang dibuat, jaring yang dipakai mulai rusak juga, bukan hutang cepat lunas tapi malah berlipat-lipat. Sementara sang Pengepulpun tidak mengirim ikan-ikan yang fresh dipualu itu ke Batam atau kota terdekat, tapi mengekspornya ke luar negeri yang hanya sejangkauan dari sana. Padahal hidangan laut yang segar begini kan sangat bagus untuk putra-putri daerah kita ini. Mataharipun telah merangkak naik mendekati siang, kamipun pamit untuk pulang. Membawa segudang cerita bekal oleh-oleh dari para nelayan pulau terpencil ini. Lajunya kapal mengiringi beban 2 box fiber ikan yang begitu freshnya. Terngiang-ngiang cerita-cerita horor dari mulut polos mereka tentang pulau pasir yang tak terlihat itu sebagai tempat membenamnya ular yang sangat besar yang akan menghisap siapa saja yang takabur. Bagi kami cerita begini cukup diambil hikmahnya saja tidak perlu diperdebatkan. Sememangnya kita kan ga boleh sombong dan takabur dimanapun Bumi Allah ini dipijak. Dialah yang menguasai segalanya dan sepatutnya kita berselindung kepadaNya dari kejahatan apapun juga. Di kejauhan kami melihat ke arah laut lepas, tampaklah Pulau Moro sangat kecil menanti untuk dikunjungi suatu hari nanti. Sekarang tibalah waktunya untuk pulang, dengan kecepatan maksimum pancungnya dipacu si Tekong karena jalan pulang sudah mulai jelas terbaca olehnya. lepas siang kami telah memasuki perairan Batam di Tanjung Uncang kembali, dan kembali juga merambah air hitam yang kotor tercampur limbah Kapal-kapal Tongkang yang menyemut di perairan kumuh itu. 22jul09batam Publish aslinya 10 Dec '10 direvisi dan diterjemahkan ke B. Indonesia Wassalam' Rina, batam -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
