~~."IJP".~~

-----Original Message-----
From: rifky pradana <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 5 Jan 2011 05:32:26 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Politisasi Sepakbola (Ical+Nurdin vs Arifin+Paloh)

Siapa yang tak cinta Timnas Sepakbola Indonesia  ?.  Anda, saya dan kita semua, 
saya kira mencintai Timnas. Antusiasme sebagian besar orang Indonesia dan 
luapan 
penonton di Senayan saat Timnas berlaga di Piala AFF Suzuki adalah salah satu 
bukti, bahwa sebagian besar dari kita mencintai Timnas. Sebagian di antara 
kita, 
mungkin malah bermimpi, Timnas bisa berlaga di Piala Dunia.
 
Tapi menyertai semua semangat dan mimpi itu, ada isu yang tertendang ke gawang 
publik : gonjang-ganjing pelaksanaan Liga Primer Indonesia.  PSSI menganggap 
pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak direstui FIFA, AFC dan tentu 
saja oleh PSSI. 

 
Tendangan selanjutnya adalah teriakan-teriakan, agar Ketua Umum PSSI Nurdin 
Halid mundur dari jabatannya, dan kabar tentang  Irfan Bachdim pemain Persema 
Malang yang konon akan berlaga di Liga Primer.
 
Lalu, benarkah semua tendangan ‘bola’ itu hanya akan berhenti pada persoalan 
Liga Primer, Liga Super, Nurdin dan PSSI, atau itukah arena lain dendam kesumat 
dari Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie ?.
 
 
Faktor Sudharmono dan Ginanjar :


Arifin Panigoro dan Aburizal Bakrie alias Ical adalah dua pengusaha yang tumbuh 
besar sejak Soeharto membentuk Tim Keppres 10, 23 Januari 1980. 

 
Tim itu diketuai oleh mendiang Sudharmono dan Ginanjar Kartasasmita duduk 
sebagai salah satu anggota tim. 

 
Oleh Soeharto pembentukan tim itu dimaksudkan untuk menumbuhkan pengusaha 
pribumi dengan antara lain mengalokasikan sejumlah proyek non departemen 
bernilai di atas Rp 500 juta. Sekretariat Negara di bawah Sudharmono lantas 
ditunjuk sebagai penanggungjawab keberhasilan program tersebut.
 
Lewat tim itulah sejumlah pengusaha muda pribumi kemudian banyak mendapat 
prioritas. Ical, Arifin Jusuf Kalla, Iman Taufik, Fadel Muhammad, dan Agus 
Kartasasmita adalah beberapa pengusaha yang banyak ‘berhubungan’ dengan Tim 
Keppres 10.
 
Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi 
seperti 
hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai pengusaha-pengusaha 
pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu menganggap Sudharmono 
sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada Soeharto dan berada di 
lingkaran 
kekuasaan. 

 
 
Kini, dua dari pengusaha yang disusui oleh Orde Baru itu yakni Ical dan Arifin 
terlibat perseteruan panjang.
 
Arifin adalah salah satu raja minyak yang cukup terkenal terutama sejak 
reformasi dan Ical adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Arifin pemilik 
kerajaan bisnis Grup Medco dan Ical pemilik kerajaan bisnis Grup Bakrie.
 
 
November tahun lalu, Arifin gagal menjual salah satu anak bisnisnya ke 
Pertamina 
karena [terutama] Golkar yang dikendalikan Ical menjegal rencana penjualan itu 
melalui orang-orangnya di Senayan.
 
Tapi itu hanya titik kecil dari perseteruan keduanya. Sebagian orang tahu, 
Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling meradang sejak kedua keluarga 
itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam kasus luapan lumpur Lapindo di 
Sidoarjo, Jawa Timur. 

 
PT Medco E&P Brantas anak perusahaan dari PTMedcoEnergi, dulu memang pernah 
menjadi peserta [participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo.
 
Perusahaan itu mengantongi 32 persen saham di PT Energi Mega Persada Tbk. Nama 
yang disebut terakhir adalah salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan pemilik 
Lapindo Brantas Inc. perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang ditunjuk BP 
Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai Brantas. 

 
Tapi entah kenapa, Medco kemudian menarik diri setelah bencana lumpur itu 
menyebur di Sidoarjo, 29 Mei 2006.
 
Akibat sikap Medco [Arifin] yang seperti itu, Nirwan Bakrie [adik Ical] CEO 
Lapindo Brantas Inc. konon berang. Nirwan bahkan disebut-sebut sempat 
mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh kepada Hilmi Panigoro, adik Arifin. 

 
Sejak itu hubungan dua keluarga pengusaha itu, dikabarkan terus memburuk. 
 
Apalagi hingga sekarang, Grup Bakrie yang harus menanggung sendiri semua risiko 
akibat luapan lumpur Lapindo itu.
 
 
Arifin yang sudah ‘keluar’ dari dunia politik [baca dari PDIP] kemudian seperti 
menyepi. Nyaris tidak ada suaranya, meski dia tentu saja masih ikut 
mengendalikan dari balik layar sejumlah manuver politik.
 
Adapun Ical, terus moncer dan sebagian orang, kini menyebutnya sebagai ‘the 
real 
president’.
 
 
Liga Primer dan Liga Super :


Hubungan dua keluarga pengusaha itu semakin renggang, ketika Sri Mulyani 
Indrawati sering bertabrakan dengan Ical ketika keduanya masih menjadi menteri 
di kabinet pemerintahan SBY-JK. 

 
Sri Mulyani, sejauh ini memang dikenal ‘lebih dekat’ ke Arifin ketimbang 
misalnya ke Ical. 

 
Beberapa keputusan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, antara lain untuk 
kasus 
saham PT Bumi Resources Tbk. awal November 2008, lalu dituding oleh kelompok 
Ical, sebagai bagian dari manuver Arifin. Sebuah tudingan yang niscaya dianggap 
lelucon oleh Arifin dan juga Sri Mulyani.
 
 
Kini, hubungan dua keluarga pengusaha superkaya itu tampak seperti tak bisa 
direkatkan, setelah Arifin dkk. membiayai penyelenggaraan Liga Primer. Hak siar 
kompetisi ini, dikabarkan dikantongi oleh stasiun televisi Indosiar [Grup 
Salim], sementara hak siar Liga Super [tentu saja] dipegang stasiun ANTV [Grup 
Bakrie].
 
Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang dimasudkan 
untuk ‘menantang’ Liga Super yang digelar oleh PSSI. Tak pula ditujukan untuk 
misalnya, memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola memilih arena bertanding 
yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas memilih induk organisasi profesi.
 
Liga Primer seharusnya juga dibaca sebagai ‘mesiu politik’ yang lain dari 
Arifin 
yang diarahkan kepada Ical. Tidakkah Nirwan Bakrie adalah Wakil Ketua Umum PSSI 
?.
 
 
Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis, 
dan 
Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila olahraga 
paling popular di dunia itu. 

 
Keluarga Bakrie [tentu saja melalui kelompok bisnisnya] bahkan dilaporkan telah 
mengakuisisi 20 persen saham klub sepakbola Leicester Inggris. 

 
Keluarga itu, disebut-sebut telah memberikan hadiah Rp 3 miliar kepada pemain 
Timnas. Konon pula, sejumlah pemain sepakbola PSSI telah disekolahkan ke  
Uruguay  dengan dukungan dana sepenunya dari Keluarga Bakrie.
 
 
Bagaimana dengan Nurdin ?. Ketua Umum PSSI itu suatu hari pernah berkata: 
“Keberhasilan Timnas [di ajang AFF] adalah berkat pengorbanan besar keluarga 
Bakrie, terutama Nirwan.”
 
Benar, Nurdin memang orang dekat Keluarga Bakrie. Selain sebagai Ketua Umum 
PSSI, dia dikenal pula sebagai politisi Partai Golkar dan Ketua Dewan Koperasi 
Indonesia  alias Dekopin. 

 
Tahun 2009, dia terpilih sebagai ketua Dekopin menyusul rekonsiliasi 
faksi-faksi 
di organisasi koperasi itu yang difasilitasi oleh Menteri Koperasi dan UKM 
Sjarifuddin Hasan [Partai Demokrat].
 
Dia pula pernah menjadi narapidana kasus korupsi. Nama Nurdin juga 
disebut-sebut 
oleh Hamka Yamdu [salah satu narapidana kasus suap pemilihan Miranda Goeltom 
sebagai deputi senior BI 2004] ikut menerima cek perjalanan sebanyak 10 lembar 
dengan nilai Rp 500 juta. Hamka mengungkapkan keterlibatan Nurdin, ketika dia 
memberikan kesaksisan dalam sidang di Pengadilan Tikipikor, Jakarta , 27 April 
lalu.
 
 
Tiga Serangkai Orang Bakrie :


Nurdin, Nirwan dan Andi Darussalam Tabusalla adalah Tiga Serangkai yang tidak 
terpisahkan di PSSI. Nurdin ketua, Nirwan wakil, dan Andi Direktur Badan Liga 
Indonesia . Orang penting lainnya di PSSI adalah Berhard Limbong [Ketua Induk 
Koperasi Angkatan Darat atau Inkopad] dan Ibnu Munzir [Wakil Ketua Fraksi 
Golkar 
di DPR].
 
September tahun lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi, kalau 
Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18 klub peserta 
Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur 
penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. 

 
“Tolong sampaikan kepada Pak Arifin, silakan kucurkan uang itu ke Escrow 
Account 
masing-masing klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak 
perlu repot-repot membuat kompetisi tandingan,” begitulah kata Andi.
 
 
Sekarang, marilah tengok Liga Primer yang akan dimulai 8 Januari mendatang. 
 
Penyelanggara liga ini dikabarkan juga telah mendekati PT Djarum, produsen 
rokok 
yang dikendalikan oleh Keluarga Hartono [pemilik BCA]. Djarum sejauh ini 
dikenal 
sebagai penyokong utama Liga Super [PSSI] dan disebut-sebut telah menghabiskan 
sekitar US $ 5 juta per tahun untuk kompetesi Liga Super.
 
Sudah ada 19 klub yang akan berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United, Bali 
De 
Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, 
Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United, Medan Chiefs, Medan 
Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real Mataram, Semarang 
United 
dan Tangerang Wolves.
 
 
Pemilik Klub [politik] Sepakbola :


Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT Bentoel 
Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini dikendalikan 
oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P].
 
Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga 
ketua 
Partai Amanat Nasional Jawa Timur. 

 
Semarang United dikendalikan oleh Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara 
Merdeka, kelompok media terbesar di Jawa Tengah. 

 
Lalu PSM Makassar dikuasai oleh Ilham Arief Sirajuddin, Ketua Partai Demokrat 
Sulawesi Selatan.
 
Adapun Arifin, tahun lalu telah mengakuisisi PT Pengelola Persebaya Indonesia, 
pemilik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Jawa Timur tahun lalu. Konon, PT 
Pengelola Persebaya berniat menyediakan Rp75 miliar untuk Persebaya.
 
 
Jadi ke mana sebetulnya olahraga sepakbola Indonesia  akan dibawa oleh [untuk 
sementara] Keluarga Bakrie dan Keluarga Arifin ?. 

 
Mengapa misalnya, mereka tidak memilih arena lain untuk saling menembakkan 
senjata kepentingan politik mereka ketimbang merusak semangat dan antusiasme 
sebagian besar dari orang Indonesia  yang mencintai dan mendukung Timnas ?.
 
 
Benar, olahraga sepakbola di dunia adakalanya tidak bisa dilepaskan dari 
kepentingan politik. 

 
Tapi yang dipertontonkan oleh Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie dalam 
olahraga 
sepakbola Indonesia belakangan ini, sungguh sudah tidak menarik karena yang 
terbaca kemudian adalah mereka hanya meneruskan perseteruan pribadi menjadi 
perseteruan publik.
 
Nafsu dan kepentingan politik mereka, apa boleh harus disebut menjijikkan. 
 
Padahal kalau mereka mau, mereka bisa membesarkan olahraga sepakbola 
bersama-sama. Tanpa kepentingan apapun hingga mimpi sebagian besar dari kita 
untuk menempatkan Timnas di Piala Dunia menjadi kenyataan.
 
*
Politik sepakbola Arifin dan Bakrie
http://politikana.com/baca/2011/01/05/politik-sepakbola-arifin-dan-bakrie.html
http://politik.kompasiana.com/2011/01/05/politik-sepakbola-arifin-dan-bakrie/
***
 
 
 
Beberapa saat pasca berakhirnya AFF Cup 2010, saya senang mengamati pemberitaan 
sepakbola di beberapa media elektronik. Ada yang mencoba ber-evaluasi ria, 
sementara ada yang mencoba menggelorakan semangat nasionalisme – terlepas dari 
hasil yang dipetik.
 
Untuk menghindari kejenuhan pemberitaan, narasumber yang digunakan diperluas. 
Tidak saja datang dari komunitas sepakbola, namun komunitas di luarnya pun 
turut 
diundang. Maka tersebutlah beberapa individu yang biasa fasih berbicara 
politik, 
hukum, dan sebagainya meramaikan jagad dialog publik sepakbola. Saya hanya bisa 
tersenyum simpul. Strategi diversifikasi berita – begitu pikiran dangkal saya.
 
Namun, pemberitaan mulai berkembang ‘panas’ ketika sebuah liga tandingan dari 
yang diorganisasi oleh PSSI diperkenalkan. 

 
Sebuah liga yang – konon katanya mengarahkan klub di dalamnya menjadi 
profesional, menyapih dari pengaruh APBD – diinisiasi oleh sekelompok 
masyarakat 
yang didukung oleh Arifin Panigoro dan konsorsiumnya. LPI atau Liga Primer 
Indonesia namanya.
 
 
PSSI mulai kebakaran jenggot…!
 
Berbagai upaya pun mulai dilakukan untuk menghadangnya. Berbekal UU Sistem 
Keolahragaan Nasional di mana secara jelas mengamanahkan induk olahraga untuk 
berlaku 3 in 1 (regulator, koordinator dan supervisor), PSSI mulai bergerilya 
dan bermanuver.
 
Ancaman degradasi bagi klub sepakbola yang bergabung dengan LPI, pencoretan 
dari 
daftar resmi agen pemain terhadap mereka yang berhubungan dengan klub LPI, 
melaporkan wasit yang memimpin pertandingan ke FIFA, hingga yang paling gres 
diberikan kepada pemain : ancaman tidak dapat memperkuat timnas.
 
Masalah jadi dilematis bagi PSSI. Salah satu pemain yang akan terkena ancaman 
ini justru adalah seorang anak muda yang tergabung dalam program ‘MercuSuar’ 
PSSI berjudul Naturalisasi, yaitu Kim Jeffrey Kurniawan, yang sudah berikrar 
setia ke Persema Malang (salah satu klub yang membelot ke LPI). Yang lain, 
tentu 
saja Sang Selebritis Sepakbola Indonesia , Irfan Bachdim.
 
 
Konflik mulai meluas, aparat keamanan dilibatkan.
 
Stasiun televisi pun serasa mendapatkan bensin baru selepas berita epilog AFF 
Cup 2010 menjadi jenuh. 

 
Salah satu stasiun televisi yang sangat gigih (baca: getol) mengangkat isu ini 
adalah MetroTV. 

 
Beberapa hari belakang bahkan tema dialog yang diangkat memiliki benang merah, 
yaitu ‘Arogansi PSSI’. Berita pagi hingga berita petang tidak luput salah satu 
segmennya mengangkat kekisruhan PSSI vs LPI.
 
 
Adakah yang salah ?.
 
Terlepas dari kekesalan pribadi dengan pengurus teras PSSI atas segala kelakuan 
yang nir-prestasi, namun saya tidak sanggup menahan diri untuk sedikit berpikir 
‘nakal’ melihat sudut pandang yang coba diangkat oleh MetroTV dalam memotret 
fenomena ini.
 
 
Adaapa sehingga MetroTV begitu semangat menggosok berita ini ?.
 
Sebelum menarik kesimpulan, saya tergelitik untuk melakukan sedikit komparasi 
pemberitaan di stasiun lainnya. Yang sempat saya jadikan benchmark adalah 
TVOne, 
RCTI, dan SCTV. 

 
Patut dicatat, saya hanya mampu mengamati pada saat segmen beritanya saja. 
Kendala waktu membuat saya tidak mampu meneropong segmen infotainment atau 
dialog-dialog yang diselenggarakan di waktu kerja. Saya juga hanya masyarakat 
awam yang pandir dalam melakukan analisa media. Jadi, jika analisa ini dianggap 
dangkal dan banyak bolongnya, mohon koreksinya sahaja.
 
Hasilnya ?. Harus saya akui ada kecenderungan pemberitaan yang berat sebelah 
dilakukan oleh MetroTV dalam menyikapi kasus ini. 

 
Jika diperbolehkan, ijinkan saya menggunakan pemberitaan MetroTV ada dalam kubu 
ekstrem keras. Ekstrem karena sangat kentara keberpihakan stasiun televisi yang 
bersangkutan.
 
MetroTV selalu menggunakan pengamat yang sama – sementara pembicara panelnya 
biasa divariasikan. Istri saya bahkan sempat nyeletuk pagi ini dengan dua kata. 
“Dia lagi ?”. Lalu mengangkat tema yang sama, diulang-ulang, dan diberikan 
penekanan pada ‘Arogansi PSSI’. 

 
Sementara stasiun lain cenderung netral. Meski mengkritik keras kebijakan PSSI 
dalam memperlakukan LPI, namun - sekali lagi dalam perspektif pribadi – masih 
dalam kadar yang wajar dan cenderung tidak bombastis.
 
 
Adaapa gerangan ?.
 
Ah, saya tidak mampu menghindari pemikiran nakal bahwa upaya memanaskan kisruh 
ini sebenarnya adalah menjaga ‘bara api’ dalam sekam atas ‘rivalitas’ antara 
dua 
tokoh elit politik nasional, yaitu Aburizal Bakrie (Ical) dan Surya Paloh.
 
Ical sangat dekat dengan Ketum PSSI yang pada kondisi yang sama merupakan kader 
loyal Partai Golkar. Bahkan menurut pengakuan yang meluncur sendiri dari mulut 
sang Ketum, Ical adalah penyumbang terbesar PSSI sehingga PSSI mampu 
beroperasional sehari-hari. 

 
Sementara Surya Paloh adalah mantan pesaing Ical sebagai Ketua Umum PG, yang 
kemudian tersingkir dari kepengurusan dan mendirikan OMS bernama Nasional 
Demokrat. Dan beliau adalah pemilik MetroTV.
 
Investasi jangka panjang 2014 ?. Sangat mungkin terjadi !.
 
Saya tidak akan menutup kemungkinan bahwa pemberitaan yang dilakukan adalah 
upaya menggiring opini masyarakat Indonesia –yang sempat terkonsentrasi pada 
sepakbola nasiona – menjadi agenda isu politik praktis 2014. 

 
Upaya dekapitalisasi dari calon pesaing harus sesegera mungkin dilakukan dari 
saat ini. Mumpung medan  peperangan masih cukup jauh, dan tools (baca: media) 
masih bisa dimanfaatkan secara sempurna. Tentu media merupakan alat propaganda 
yang paling efektif di era modern saat ini.
 
Mengapa saya tertarik menulis ini ?. Terus terang, saya jengah dengan upaya 
mengaitkan sepakbola, dan olahraga pada umumnya, dengan agenda-agenda politik 
praktis (suara dan kekuasaan semata). Sementara esensi penting, yaitu membangun 
dan memajukan olahraga menjadi terlewatkan.
 
2011, Indonesia  memiliki beberapa agenda internasional. Di SEA Games sepakbola 
ditargetkan meraih emas yang terahkir digenggam tahun 1991. 

 
Kita juga masih terus memupuk mimpi membawa pulang tropi kejuaraan Thomas dan 
Uber Cup. Bahkan Sudirman Cup sudah lama tidak mampir ke kampung halamannya 
semenjak pertama diselenggarakan tahun 1989. 

 
Maka, berhentilah mencampur-adukkan agenda bangsa dengan agenda politik praktis.
 
Entah apa yang terjadi jika kisruh PSSI vs LPI –atau lebih tepatnya ISL vs LPI– 
di media terus berlanjut. 

 
Bisa jadi klimaksnya adalah menjelang 2014, ketika medan perang itu semakin 
terbuka. Dan siapa kawan, siapa lawan sudah terindentifikasi dengan jelas. 

 
Jika ini terjadi, saya hanya bisa berkata keinginan banyak masyarakat Indonesia 
 
melihat olahraga berprestasi di tingkat dunia hanyalah mimpi di siang bolong !. 
 
Semoga tidak
 
*
AdaIcal vs Surya Paloh di Balik Kisruh PSSI Vs LPI….??
http://politik.kompasiana.com/2011/01/05/ada-ical-vs-surya-paloh-di-balik-kisruh-pssi-vs-lpi%E2%80%A6/

***


      

[Non-text portions of this message have been removed]


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke