Assalamu'alaikum Ww

Bang Nen , merinding ambo mambaco tulisan abang ko....dan ambo sendiri yakin
untuak Bang Nen kaduo hal tsb bukan masalah yang tidak dapat dipecahkan.

.....InsyaAllah ambo si Z Chaniago yang akan manunggu ....." oi Maninjau -
kami sayang - kami lapang - kami pulang" ....
Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak
Pada 7 Januari 2011 02.20, Zulkarnain Kahar <[email protected]> menulis:

>   Pertanyaan telah menuai jawaban berbagai argumentasi telah bermunculan
> walau akhirnya kembali pada invidual masing masing untuk mematut matut.
> semua alasan adalah benar tak ada  jawaban yang salah karena hidup adalah
> soal pilihan terbaik
>
> Kalau saya lihat diri sendiri sepertinya ada dua hal mendasar yang
> disampaikan beberapa sanak RN.
>
> - culture shock (network, kemudahan )
> - harta Pusaka, kekeluargaan dan tanggung jawab
>
> Saya secara personal saya akan melihat apakah ini juga jadi kendala saya:
>  - culture shock:
> Jawaban saya adalah "Tidak" karena perjalanan hidup telah merlatih diri
> saya untuk cepat beradaptasi dengan linkungan mulai dari yang
> paling extreem  suhu minus 40C/F diujung Alaska sampai teriknya
> panasnya Afrika. Antara gulungan ombak setinggi rumah atau  kesendirian
> dibawah kolong jembatan dengan redup lampu lampu bongkaran. Sepinya kamar
> hotel bintang lima berbagai negara dan sunyinya memetik kopi didusun
> terpencil ogan komering hulu. Nikmatnya keramaian di time square di New York
> serta gundah nya hati mendengar suara klakson di Victoria Island Nigeria.
> Manisnya anggur negeri negeri eropah, Indahya melempar bumerang di Selatan
> Austarlia serta riuhnya kehidupan malam Las Vegas. Pada akhirnya saya harus
> menjawab sebuah pertanyaan pada diri saya sendiri : "*Apa yang kau cari
> (Nen) Zulkarnain Kahar*"
>
>   - harta pusaka, kekeluargaan dan tanggung jawab
> Persepsi saya yang salah. Rumah tempat saya lahir, Ladang, sawah dan parak
>  yang pernah mengisi mulut saya untuk menghentikan tangisan ketika balita
>  kini terlantar tak ada kerabat keluarga terdekat (nan kanduang) yang
> mendiami atau yang mengurus dan ini akan hilang untuk selamanya. Diantara
> keraguan akan tanggung jawab atau menutup mata toh itu bukan hak milik
> saya kata sang  istri yang bukan berasal dari Minang dan anak anak yang juga
> lahir dan besar dirantau juga ikut protes. Mereka benar kalau kalau
> berbicara memakai logika, tapi kehidupan tidak mati dengan logika. Dan bukan
> pula matematika sederhana,  ia lebih rumit dari rumusnya si rambut kribo tak
> jadi.
>
> Hari hari saya berjalan dengan kebimbangan, kadang seolah terdengar kembali
> suara para almarhumah nenek nenek saya. "Dulu rumah ini dibangun oleh
> seorang mamak kami yang merantau  ke betawi, sayang rumah belum selesai tak
>  dia sudah meninggal"  dan sang mamak tak pernah melihat atau  tinggal
> dirumah yang dibiayainya. Sampai kedua nenek2 itu saya gendong ke liang
> kubur sang rumah itu tak pernah selesai bahkan makin lapuk hanya menunggu
> saat saat untuk bersatu dengan tanah. Mamak2 generasi berikutnya sibuk
> bertarung dengan kehidupan masing2 sampai akhir hayatnya.
>
> Kini yang tinggal hanya ada dua laki laki yang lahir dari rumah
> tersebut saya dan adik saya dan diapun sudah membangun kehidupan di rantau.
> Tidak ada saudara perempuan. Kalau boleh menyebut diri sendiri, saya adalah
> mamaknya sang rumah, parak, sawah dan ladang. Inilah dasar alasan saya
> pulang kekampuang di tahun 2006 menebus kembali tanah2 yang tergadai dan
> kini menyelesaikan rumah yang belum selesai. Membenahi  parak yang
> terlantar. Dan ini tidak mudah bila dilakukan dari balik bumi. Sebagai mamak
> angkatan diri sendiri,  saya sudah bertekad penuh selagi saya hidup saya
> akan menjadi satpam dan memastikan tidak satu incipun tanah akan terjual,
> tergadai atau hilang.
>
> Satu satunya perempuan yang lahir dirumah yang saya mamak-i sekarang selain
> ibu saya adalah  etek saya dari lain nenek yang juga sudah berkali kali saya
> bujuk untuk pulang dan menetap dirumah dan akan saya support penuh secara
> financial tapi beliau tidak pernah mau pulang dari rantaunya di Medan. Walau
> akhirnya saya harus membantu juga kehidupannya di rantau setiap bulannya
> karena ada rasa tanggung jawab. Kota Medan telah mamakan banyak korban
> keluarga kami. Tak ada yang mau lagi pulang kalau sudah minum air Simpang
> Limun.
>
> At the end of the day, I wanna go home to be a security guard. Semoga Allah
> SWT mengabulkan niat ku. Gengaman kuat tangan kedua nenek saya di saat saat
> akhir hayatnya yang tanpa kata kata kini seolah bermakna "I trust you".
>
>
> Wassalam, dan terima kasih semua... sampai ketemu di Maninjau  in 2015
>
>
> Zulkarnain Kahar
>
>
> .
>



-- 
Z Chaniago - Palai Rinuak

Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau  .

Sayangi Danau Maninjau -

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke