Sanak Palanta RN yang sangaik ambo hargai. Ambo menemukan sebuah buku dari
perpustakaan pribadi berjudul

*Kenang-kenangan Pangrehpraja Belanda 1920 - 1940.*

*Disunting oleh SL Van der Wal*

Buku terbitan Djambatan bekerja sama dengan KITLV tahun 2001


Banyak pelajaran2 yang dapat kita petik dari tulisan ini mengenai
pelaksanaan ABS-SBK berdasarkan pandangan seorang pemuda Belanda yang
memulai karirnya pada 1932 diumur 18 tahun.

*
*

*Tulisan RC KWANTES, seorang amtenar BB (Binnenlands Bestur) Hindia Belanda
(1932 – 1941) berjudul Tagak Samo Tinggi, Duduak Samo Randah [Bagian I]*



Apakah yang mendorong pemuda usia 17-18 tahun memilih studi Indologi di
Universitas Leiden pada tahun-tahun 1927-1932.untuk pergi ke Hindia
Belanda?, ternyata Daya tarik Timur yang jauh itu sangat kuat bagi pemuda2
Belanda jaman krisis ekonomi yang melanda dunia. Kuliah-kuliah Van
Vollenhoven mengenai hukum adatlah yang sesuai bidang studi mendorong saya
mengajukan *permohonan* kepada *Departemen Pemerintahan Dalam Negeri **Hindia
Belanda (BB) **di Batavia* untuk dapat *ditempatkan* di daerah
Surakarta-Yogyakarta atau di *Sumatra Barat.*



Sejak pertama kali melaksanakan kegiatan dinas, yaitu melakukan perjalanan
menuju tempat dinas yang telah ditentukan, saya sudah belajar bahwa aturan
perundang-undangan biasanya ditafsirkan dan dilaksanakan sesuai dengan
keadaan. Karena percaya akan kewibawaan Sekretaris Keresidenan Medan untuk
menempuh *perjalanan melintasi Sumatra dari Medan ke Padang dengan taksi
ditahun 1932.* Dadi Medan itulah saya bersama istri memulai perjalanan
menuju Sumatra Barat. Berarti ini menyimpang dari peraturan Dinas Perjalanan
yang menganjurkan penggunaan kereta api dan bus (kendaraan dwiguna yang
sebagian untuk mengangkut orang dan sebagian lagi untuk barang). Dalam hal
ini saya masih selalu merasa berterima kasih kepada rekan saya Klaassen atas
sarannya itu.



Sejak meninggalkan kapal di Belawan kami merasa sedang memulai suatu
petualangan besar, yaitu melakukan perjalanan ke tujuan yang tidak dikenal,
di mana sudah menanti lingkungan dan tugas yang juga merupakan tanda tanya
besar.



Sesampai di Padang ternyata tujuan perjalanan saya adalah Sawah Lunto. Kota
itu terletak di dalam lembah berbentuk mangkuk dikelilingi pegunungan. Ia
ada berkat tambang batu bara Ombilin tak jauh dari sana. Informasi lebih
lanjut hampir tidak saya terima dan Kantor Keresidenan. Waktu saya menghadap
Residen Van Heuven sikapnya agak misterius mengenai “masyarakat aneh” yang
menghidupi Sawah Lunto.



Pada perkenalan pertama dengan daerah itu sudah tidak begitu cocok untuk
memberikan kesadaran pada seorang calon amtenar BB bahwa kehadiran
Pemerintahan Dalam Negeri Belanda itu besar artinya dan bahkan mutlak. Masa
perkenalan, atau lebih tepat disebut masa per peloncoan, pada bulan-bulan
pertama itu pun tidak mampu meniadakan kesan saya bahwa studi universitas
merupakan syarat yang agaknya sedikit berlebihan untuk melaksanakan tugas
pemenintahan sehari-hari.



Berkas-berkas yang pada minggu-minggu pertama disodorkan kepada saya untuk
saya baca tidak dapat membantu saya mencegah rasa kantuk menjelang tengah
han. Hanya karena takut tertangkap basah oleh Kon trolir Poutsma yang
seruangan kerja dengan saya, maka saya tidak tidur siang terlalu dini.



Kunjungan-kunjungan singkat bersama Poutsma ke sejumlah nagari bahkan
memberikan kesan kepada saya bahwa Pemerintahan BB di tingkat ini dapat
ditiadakan.



*Nagari adalah desa Minangkabau yang sejak zaman dahulu merupakan satuan
dasar struktur politik Minangkabau, dan baru pada tahun 1918 dikukuhkan
secara Barat sebagai desa praja pribumi*. Penarikan pajak pendapatan yang
selalu menjadi pokok pembicaraan pada kunjungan semacam itu pada tahun-tahun
krisis itu besarnya tidak sampai 50 sen per jiwa. Itu kan dapat diserahkan
kepada kepala desa dan para pembantunya, demikian pikir saya.

Tugas pertama yang setelah waktu sebulan harus saya laksanakan sendiri,
menurut saya pun kurang berhasil memberikan kesan bahwa saya adalah mata
rantai yang bermanfaat dalam hierarki jabatan.


Mudah2an bermanfaat untuk sanak sadonyo *kalau setuju sanak Palanta akan
ambo upload pulo sambungan caritonyo* nan tambah mengesankan.

Salam, Darwin Chalidi, 61 thn, Tangerang Selatan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke