buliah sato lo ciek, maiis walau indak sarancak cerbung Mak Lembang,

BEKAS PEMBERONTAK
Ia telah tua kini.
Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang sederhana. 
Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya menemaninya di senja itu.
Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani kopi yang dibuat sendiri 
oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi sendiri. Tidak luas tapi cukup buat 
kebutuhan sendiri dan sebagian bisa dijual.

Ia kini hanya hidup berdua saja dengan isterinya. Anak-anaknya tiga orang 
perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota lain bersama suami mereka 
masing-masing.

Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan Bukittinggi. Jalan raya itu 
selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur antara truk, bus dan 
kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga banyak.

Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang dituntun oleh dua orang 
berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu kempes. Tentara itu mendorong 
sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh dari rumahnya.

Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya senja itu. Ia teringat 
tentang masa menjadi tentara dulu.

*

Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam kenangannya.
Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir padi yang mulai menguning 
di sawak belakang rumahnya ikut menghanyutkan kenangan lelaki tua itu.

Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan sekolah teknik menengah di 
Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah menjalani latihan militer 
selama empat bulan dia ditempatkan sebagai bintara bagian perbengkelan dan 
peralatan Angkatan Darat di Muaro.

Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh karenanya ia tinggal di asrama 
Ganting.
Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, truck, dan juga 
memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.
Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.

Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah peruntungannya.
Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira angkatan darat dan 
beberapa orang tokoh sipil membentuk dan memproklamirkan sebuah pemerintahan 
tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke segenap unit militer di 
Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad Husen bahwa semua unit 
harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan tekad melawan pemerintah 
pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.

Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar atasannya menasihatinya supaya 
tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan untuk memberontak.
Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang pilihan terserah kemauan 
masing-masing.

Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung dengan pasukan PPRI di 
Seberang Padang.

*

Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun 1958.
Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota Padang.
Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar Udara Tabing.
Terjadi tembak menembak terjadi  disana. Di Tabing pasukan PRRI hanya 
berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang memang markasnya di Air 
Tawar.
Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya beberapa orang. Karena seminggu 
yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji dan Muaro serta Seberang Padang 
dan juga sekitar Bungus.

Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban.
Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara pusat.

Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara pusat telah mendarat 
dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk.
Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang.
Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi.
Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan udara Tabing.

Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak ada perlawanan dari PRRI.
Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan besar-besaran dari kapal 
angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro.
Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur.
Teluk Bayur juga segera jatuh.

Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus ke Solok.
Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi perang sebenarnya. Walaupun 
ada beberapa pertempuran kecil antara tentara rimba sebutan untuk tentara PPRI 
dengan tentara pusat untuk sebutan tentara APRI, namun selalu PRRI melarikan 
diri.
Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak oleh tentara pemerintah 
Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal dengan Operasi 17 Agustus.

Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui oleh pasukan Ahmad 
Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk menghindari pertempuran 
di kota Padang, yang bilamana terjadi akan banyak megorbankan penduduk sipil.

Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di belakang Seberang Padang. 
Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke Solok. Dan terakhir mereka 
menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di sebuah desa yaitu Sumpur.

*
Sebuah penyerangan.
Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten diadakan rapat darurat disebuah 
hutan di seberang Batang Anai.
Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak salah sekitar bulan 
Oktober tahun 1958.
Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka gabungan dari pasukan ex 
mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil beberapa bekas tentara 
Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang terkenal dengan penembak 
jitu sewaktu jadi Heiho.

Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus bergerak ke sebuah titik di 
daerah BTT.
Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan mobrig akan berangkat 
pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang.
Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu dan merebut senjata mereka.

Ia ingat betul malam itu.
Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi Batang Anai dari Anduring 
terus mudik ke Lubuak Gadang.
Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka menyeberangi jalan raya menuju 
rel kereta api.
Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan rumahnya sekarang. 

Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang Empat.
Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam. Di sini pasukan istirahat 
melepas lelah.
Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju titik yang telah 
ditentukan.
Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat disitu.
Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka. Mereka lalu disebar ke 
beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan di seberang bukit persis 
di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon Kubang.
Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi utara. Dan pasukan 
terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit di tanjakan jalan.

Ia berada pada pasukan penyapu.

Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah terdengar deru mesin truk 
pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air terjun Lembah Anai.
Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi tembak menembak. PPRI 
dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang jalan setelah 
berlompatan dari atas truk.
Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan mesin.
Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka akan dihadang ditempat 
itu. Puluhan yang menjadi korban.

Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali bergerak ke arah Tandikek.
Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos terakhir PRRI sekitar gunung 
leter W di atas danau Maninjau.

Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang anggotanya menunggu 
perintah selanjutnya.

Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat membekas di hatinya.

*

Ada seorang pemuda yang merupakan sepupunya di kampung.
Aripin namanya.
Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Ia sudah kelas tiga waktu itu. Karena 
terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara sekolah di liburkan.
Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat.
Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa Kandang Ampek.
Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main kartu domino di kedai nasi 
Dibawa Untung.
Letnan Bahar Kirai, komandan OPR turun dari jeep. Dia diikuti lima orang anak 
buahnya.
Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah mereka ikut pasukan PPRI. 
Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda kampung biasa yang kerja di kedai 
nasi itu.
Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar STM, menjawab dengan 
lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh kami pemberontak.
Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai tersinggung. Ia segera 
menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan lari kesudut ruangan. 
Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin. Tapi untunglah senjatanya 
ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin waktu itu.

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu masih jadi tentara pulang 
kerumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam 
ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar untuk lari ijok ke hutan. Mak 
Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia menangis menahan anak laki-laki 
sulungnya itu.
Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya akibat ditampar komandan OPR 
tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.
”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata Mak Newar mencoba menahan 
langkah anak tuanya ini.
”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. Awak harus balaskan mak. Indak 
sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”, kata Aripin malam itu kepada 
ibunya.
”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi apa-apa dengan waang”, kata Mak 
Newar sambil menangis.
”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu menjaga diri. Lagi pula awak 
tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan, maka kita harus pergi. 
Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata Aripin dengan mantap.

Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia mengatakan akan bergabung dengan 
PPRI.
Malam itu Aripin ikut dengan uda Mansur ke Tandikek. Dan mereka melapor ke 
markas di gunung leter W.

Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan cara berperang gerilya.

Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi di Tanjung Mutiara dan 
Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR.
Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang prajurit PPRI yang pemberani.
Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent.  

*
Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai dingin. Pada bulan-bulan 
mau memasuki bulan suci ini di kampung itu sering turun hujan. Malahan hujan 
turun setelah maghrib sampai tengah malam. Seakan hujan itu menguji keimanan 
penduduk desa itu untuk kepatuhan menunaikan shalat tarawih di mesjid.
Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun pisang menuju mesjid. 
Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus disyukuri. Hujan mengairi sawah 
yang terhampar luas di sekitar rumah.

Hujan makin memberi semanagat kenangan itu beruntut lancar keluar dari liku 
kenagannya senja itu.
Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa pemberontakan yang ia ikut 
berperan didalamnya itu terjadi.
Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di sebuah tempat pos pengintaian 
di kaki gunung letter W. 
Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang pemuda yang telanjutr sakit 
hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa pemberontakan di Sumatera 
Barat itu. Karena peristiwa itulah yang melahirkan Organisasi Perlawanan Rakayt 
atau OPR bentukan tentara APRI untuk melawan tentara pemberontak. OPR yang 
banyak menghabisi orang yang lari keluar dan bergabung dengan PPRI.

Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang menyebabkan sebuah dendam 
terjadi. Denadan yang telah berkarat di dada Aripin.

Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin itu adalah kopral Aripin.
Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas mengintai keberadaan APRI 
kalau ada operasi.

Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan sebuah operasi pembersihan.
Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah rapat konsolidasi.

Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan bersahutan di pinggang bukit 
dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos pengintai regu Aripin.
Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima belas menit. Kemudian 
tembakan berhenti sama sekali.

Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun hujan lebat sekali di 
pinggang bukit itu.
Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi licin.
Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa yang kejadian. Ia 
menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut. Senjata Sten ditangannya siap 
untuk ditembakkan.
Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis terbakar, dia melihat sesosok 
tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air hujan dari tubuh itu.

Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang sudah cabik-cabik oleh 
peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar sekali. Baju cokelat 
seragamnya telah compang camping tertembus peluru. Celana hitam selutut yang 
jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.

Kemana temannya yang lain?
Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit dibelakang pondok. Merka 
segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit itu dan terus naik 
keatas menemui induk pasukan.
Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang sepasukan loreng APRI dengan 
tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya Aripin.
Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia akan menuntaskan dendamnya 
sore itu.
Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu dengan menembakinya dengan 
Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena. Tetapi Aripin dihujani 
peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu.
Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak yang telah lunas 
membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu.

Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota untuk memberi 
penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang gugur.
Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya dibawah sebuah pohon lamin 
tua di bukit itu.
Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet berikut tanggal terjadinya 
peristiwa itu. 

Munggu,17 April 1959. Disini dikuburkan kawan kami, Kopral Aripin.

Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.


*

”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”, tiba-tiba ia dikejutkan isterinya 
yang datang dari dalam rumah.

Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun lagi.  Upik tahu bahwa melamun 
peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi keasikan sendiri bagi 
suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan lengkap semua peristiwa 
yang dialami selama ijok ke hutan dulu.

Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu. Masa tatkala ia berjuang di 
hutan sebagai seorang pasukan pemberontak.
Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa syarat seluruh anggota 
pasukan PPRI yang tersisa.
Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai Geringging tahun 1961.

Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani setelah itu.
Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di kampung itu.
Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas pemberontak. Upik menemaninya 
sampai kini.
Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.

Kenangan masa pemberontak memang sewaktu-waktu datang menghampirinya.
Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika melihat dua orang berbaju 
loreng melintas di depan rumahnya.
Ia mulai beringsut.
Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil wudhu.

Lalu ia shalat isya.
Sesudah shalat ia berdo’a.
Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama masa pemberontakan.
Untuk Aripin ia berdo’a juga.
Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang sudah keriput.






-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke