Trimo kasih da Das..
taraso lamak mambaco setiap tulisan yang berkaitan dengan sejarah awak ko.
Alhamdulillah, ditunggu seri brikutnya...


Pada tanggal 28/01/11, Dasriel Noeha <[email protected]> menulis:
> Beres Je, ado babarapo seri lagi,
>
> selamat buat anggota Prahmi nan baralek adiak awak tu Je,
>
> wass, Ta jadul Forahmi
>
> Dasriel
>
> --- Pada Jum, 28/1/11, Aryandi Ilyas <[email protected]> menulis:
>
>> Dari: Aryandi Ilyas <[email protected]>
>> Judul: Re: [R@ntau-Net] carito PPRI
>> Kepada: [email protected]
>> Tanggal: Jumat, 28 Januari, 2011, 2:51 AM
>> Tulisan nan mantap da Das...
>> Samo se seronyo jo tulisan sabalunnyo... Abih satangah
>> galeh kopi susu
>> mambaco "cerpen" sejarah ko... bbrp alinea ambo baco ulang,
>> untuak
>> menghayati nyo... Twi tumbs up....
>> Ditunggu kelanjutannyo da...
>>
>> Pada tanggal 28/01/11, Dasriel Noeha <[email protected]>
>> menulis:
>> > buliah sato lo ciek, maiis walau indak sarancak
>> cerbung Mak Lembang,
>> >
>> >
>> > BEKAS PEMBERONTAK
>> > Ia telah tua kini.
>> > Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
>> > Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang
>> sederhana.
>> > Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya
>> menemaninya di senja
>> > itu.
>> > Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani
>> kopi yang dibuat
>> > sendiri oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi
>> sendiri. Tidak luas tapi
>> > cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa
>> dijual.
>> >
>> > Ia kini hanya hidup berdua saja dengan isterinya.
>> Anak-anaknya tiga orang
>> > perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota
>> lain bersama suami
>> > mereka masing-masing.
>> >
>> > Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan
>> Bukittinggi. Jalan raya
>> > itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur
>> antara truk, bus dan
>> > kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga
>> banyak.
>> >
>> > Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang
>> dituntun oleh dua orang
>> > berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu
>> kempes. Tentara itu
>> > mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh
>> dari rumahnya.
>> >
>> > Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya
>> senja itu. Ia teringat
>> > tentang masa menjadi tentara dulu.
>> >
>> > *
>> >
>> > Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam
>> kenangannya.
>> > Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir
>> padi yang mulai
>> > menguning di sawak belakang rumahnya ikut
>> menghanyutkan kenangan lelaki tua
>> > itu.
>> >
>> > Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
>> > Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan
>> sekolah teknik menengah di
>> > Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah
>> menjalani latihan
>> > militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai
>> bintara bagian
>> > perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro.
>> >
>> > Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh
>> karenanya ia tinggal di
>> > asrama Ganting.
>> > Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep,
>> truck, dan juga
>> > memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.
>> > Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.
>> >
>> > Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah
>> peruntungannya.
>> > Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira
>> angkatan darat dan
>> > beberapa orang tokoh sipil membentuk dan
>> memproklamirkan sebuah pemerintahan
>> > tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah
>> Revolusioner Rakyat Indonesia
>> > (PRRI).
>> >
>> > Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke
>> segenap unit militer di
>> > Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad
>> Husen bahwa semua unit
>> > harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan
>> tekad melawan pemerintah
>> > pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.
>> >
>> > Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar
>> atasannya menasihatinya
>> > supaya tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan
>> untuk memberontak.
>> > Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang
>> pilihan terserah kemauan
>> > masing-masing.
>> >
>> > Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung
>> dengan pasukan PPRI di
>> > Seberang Padang.
>> >
>> > *
>> >
>> > Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun
>> 1958.
>> > Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota
>> Padang.
>> > Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar
>> Udara Tabing.
>> > Terjadi tembak menembak terjadi  disana. Di
>> Tabing pasukan PRRI hanya
>> > berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang
>> memang markasnya di
>> > Air Tawar.
>> > Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya
>> beberapa orang. Karena
>> > seminggu yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji
>> dan Muaro serta
>> > Seberang Padang dan juga sekitar Bungus.
>> >
>> > Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban.
>> > Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara
>> pusat.
>> >
>> > Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara
>> pusat telah mendarat
>> > dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk.
>> > Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang.
>> > Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi.
>> > Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan
>> udara Tabing.
>> >
>> > Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak
>> ada perlawanan dari
>> > PRRI.
>> > Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan
>> besar-besaran dari kapal
>> > angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro.
>> > Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur.
>> > Teluk Bayur juga segera jatuh.
>> >
>> > Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus
>> ke Solok.
>> > Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi
>> perang sebenarnya.
>> > Walaupun ada beberapa pertempuran kecil antara tentara
>> rimba sebutan untuk
>> > tentara PPRI dengan tentara pusat untuk sebutan
>> tentara APRI, namun selalu
>> > PRRI melarikan diri.
>> > Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak
>> oleh tentara pemerintah
>> > Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal
>> dengan Operasi 17
>> > Agustus.
>> >
>> > Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui
>> oleh pasukan Ahmad
>> > Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk
>> menghindari
>> > pertempuran di kota Padang, yang bilamana terjadi akan
>> banyak megorbankan
>> > penduduk sipil.
>> >
>> > Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di
>> belakang Seberang Padang.
>> > Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke
>> Solok. Dan terakhir
>> > mereka menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di
>> sebuah desa yaitu Sumpur.
>> >
>> > *
>> > Sebuah penyerangan.
>> > Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten
>> diadakan rapat darurat
>> > disebuah hutan di seberang Batang Anai.
>> > Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
>> > Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak
>> salah sekitar bulan
>> > Oktober tahun 1958.
>> > Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka
>> gabungan dari pasukan ex
>> > mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil
>> beberapa bekas tentara
>> > Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang
>> terkenal dengan
>> > penembak jitu sewaktu jadi Heiho.
>> >
>> > Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus
>> bergerak ke sebuah titik
>> > di daerah BTT.
>> > Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan
>> mobrig akan berangkat
>> > pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang.
>> > Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu
>> dan merebut senjata
>> > mereka.
>> >
>> > Ia ingat betul malam itu.
>> > Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi
>> Batang Anai dari
>> > Anduring terus mudik ke Lubuak Gadang.
>> > Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka
>> menyeberangi jalan raya menuju
>> > rel kereta api.
>> > Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan
>> rumahnya sekarang.
>> >
>> > Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang
>> Empat.
>> > Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam.
>> Di sini pasukan
>> > istirahat melepas lelah.
>> > Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan
>> perjalanan menuju titik yang
>> > telah ditentukan.
>> > Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat
>> disitu.
>> > Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka.
>> Mereka lalu disebar ke
>> > beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan
>> di seberang bukit
>> > persis di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon
>> Kubang.
>> > Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi
>> utara. Dan pasukan
>> > terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit
>> di tanjakan jalan.
>> >
>> > Ia berada pada pasukan penyapu.
>> >
>> > Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah
>> terdengar deru mesin truk
>> > pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air
>> terjun Lembah Anai.
>> > Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi
>> tembak menembak. PPRI
>> > dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang
>> jalan setelah
>> > berlompatan dari atas truk.
>> > Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan
>> mesin.
>> > Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka
>> akan dihadang ditempat
>> > itu. Puluhan yang menjadi korban.
>> >
>> > Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali
>> bergerak ke arah
>> > Tandikek.
>> > Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos
>> terakhir PRRI sekitar
>> > gunung leter W di atas danau Maninjau.
>> >
>> > Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang
>> anggotanya menunggu
>> > perintah selanjutnya.
>> >
>> > Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat
>> membekas di hatinya.
>> >
>> > *
>> >
>> > Ada seorang pemuda yang merupakan sepupunya di
>> kampung.
>> > Aripin namanya.
>> > Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Ia sudah
>> kelas tiga waktu itu.
>> > Karena terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara
>> sekolah di liburkan.
>> > Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat.
>> > Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa
>> Kandang Ampek.
>> > Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main
>> kartu domino di kedai nasi
>> > Dibawa Untung.
>> > Letnan Bahar Kirai, komandan OPR turun dari jeep. Dia
>> diikuti lima orang
>> > anak buahnya.
>> > Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah
>> mereka ikut pasukan
>> > PPRI. Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda
>> kampung biasa yang kerja
>> > di kedai nasi itu.
>> > Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar
>> STM, menjawab dengan
>> > lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh
>> kami pemberontak.
>> > Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai
>> tersinggung. Ia segera
>> > menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan
>> lari kesudut ruangan.
>> > Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin.
>> Tapi untunglah
>> > senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin
>> waktu itu.
>> >
>> > Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk
>> ikut memberontak.
>> > Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu
>> masih jadi tentara
>> > pulang kerumah ibunya di Kandang Ampek.
>> > Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda
>> Mansur lagi ke kampung
>> > malam ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar
>> untuk lari ijok ke
>> > hutan. Mak Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia
>> menangis menahan anak
>> > laki-laki sulungnya itu.
>> > Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya
>> akibat ditampar komandan
>> > OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.
>> > ”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata
>> Mak Newar mencoba menahan
>> > langkah anak tuanya ini.
>> > ”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu.
>> Awak harus balaskan mak.
>> > Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”,
>> kata Aripin malam itu
>> > kepada ibunya.
>> > ”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi
>> apa-apa dengan waang”, kata
>> > Mak Newar sambil menangis.
>> > ”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu
>> menjaga diri. Lagi pula
>> > awak tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan,
>> maka kita harus
>> > pergi. Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata
>> Aripin dengan mantap.
>> >
>> > Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia
>> mengatakan akan bergabung
>> > dengan PPRI.
>> > Malam itu Aripin ikut dengan uda Mansur ke Tandikek.
>> Dan mereka melapor ke
>> > markas di gunung leter W.
>> >
>> > Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan
>> cara berperang
>> > gerilya.
>> >
>> > Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi
>> di Tanjung Mutiara
>> > dan Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR.
>> > Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang
>> prajurit PPRI yang pemberani.
>> > Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent.
>> >
>> > *
>> > Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai
>> dingin. Pada
>> > bulan-bulan mau memasuki bulan suci ini di kampung itu
>> sering turun hujan.
>> > Malahan hujan turun setelah maghrib sampai tengah
>> malam. Seakan hujan itu
>> > menguji keimanan penduduk desa itu untuk kepatuhan
>> menunaikan shalat tarawih
>> > di mesjid.
>> > Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun
>> pisang menuju mesjid.
>> > Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus
>> disyukuri. Hujan mengairi
>> > sawah yang terhampar luas di sekitar rumah.
>> >
>> > Hujan makin memberi semanagat kenangan itu beruntut
>> lancar keluar dari liku
>> > kenagannya senja itu.
>> > Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa
>> pemberontakan yang ia ikut
>> > berperan didalamnya itu terjadi.
>> > Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di
>> sebuah tempat pos
>> > pengintaian di kaki gunung letter W.
>> > Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang
>> pemuda yang telanjutr sakit
>> > hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa
>> pemberontakan di
>> > Sumatera Barat itu. Karena peristiwa itulah yang
>> melahirkan Organisasi
>> > Perlawanan Rakayt atau OPR bentukan tentara APRI untuk
>> melawan tentara
>> > pemberontak. OPR yang banyak menghabisi orang yang
>> lari keluar dan bergabung
>> > dengan PPRI.
>> >
>> > Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang
>> menyebabkan sebuah dendam
>> > terjadi. Denadan yang telah berkarat di dada Aripin.
>> >
>> > Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin
>> itu adalah kopral
>> > Aripin.
>> > Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas
>> mengintai keberadaan
>> > APRI kalau ada operasi.
>> >
>> > Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan
>> sebuah operasi
>> > pembersihan.
>> > Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah
>> rapat konsolidasi.
>> >
>> > Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan
>> bersahutan di pinggang
>> > bukit dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos
>> pengintai regu Aripin.
>> > Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima
>> belas menit. Kemudian
>> > tembakan berhenti sama sekali.
>> >
>> > Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun
>> hujan lebat sekali di
>> > pinggang bukit itu.
>> > Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi
>> licin.
>> > Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa
>> yang kejadian. Ia
>> > menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut.
>> Senjata Sten ditangannya
>> > siap untuk ditembakkan.
>> > Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis
>> terbakar, dia melihat sesosok
>> > tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air
>> hujan dari tubuh itu.
>> >
>> > Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
>> > Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang
>> sudah cabik-cabik oleh
>> > peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar
>> sekali. Baju cokelat
>> > seragamnya telah compang camping tertembus peluru.
>> Celana hitam selutut yang
>> > jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
>> > Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.
>> >
>> > Kemana temannya yang lain?
>> > Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit
>> dibelakang pondok. Merka
>> > segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit
>> itu dan terus naik
>> > keatas menemui induk pasukan.
>> > Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang
>> sepasukan loreng APRI dengan
>> > tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya
>> Aripin.
>> > Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia
>> akan menuntaskan
>> > dendamnya sore itu.
>> > Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu
>> dengan menembakinya dengan
>> > Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena.
>> Tetapi Aripin dihujani
>> > peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu.
>> > Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak
>> yang telah lunas
>> > membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu.
>> >
>> > Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota
>> untuk memberi
>> > penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang
>> gugur.
>> > Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya
>> dibawah sebuah pohon
>> > lamin tua di bukit itu.
>> > Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet
>> berikut tanggal terjadinya
>> > peristiwa itu.
>> >
>> > Munggu,17 April 1959. Disini dikuburkan kawan kami,
>> Kopral Aripin.
>> >
>> > Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.
>> >
>> >
>> > *
>> >
>> > ”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”,
>> tiba-tiba ia dikejutkan isterinya
>> > yang datang dari dalam rumah.
>> >
>> > Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun
>> lagi.  Upik tahu bahwa melamun
>> > peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi
>> keasikan sendiri bagi
>> > suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan
>> lengkap semua
>> > peristiwa yang dialami selama ijok ke hutan dulu.
>> >
>> > Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
>> > Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu.
>> Masa tatkala ia berjuang
>> > di hutan sebagai seorang pasukan pemberontak.
>> > Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa
>> syarat seluruh
>> > anggota pasukan PPRI yang tersisa.
>> > Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai
>> Geringging tahun 1961.
>> >
>> > Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani
>> setelah itu.
>> > Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di
>> kampung itu.
>> > Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas
>> pemberontak. Upik
>> > menemaninya sampai kini.
>> > Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.
>> >
>> > Kenangan masa pemberontak memang sewaktu-waktu datang
>> menghampirinya.
>> > Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika
>> melihat dua orang
>> > berbaju loreng melintas di depan rumahnya.
>> > Ia mulai beringsut.
>> > Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil
>> wudhu.
>> >
>> > Lalu ia shalat isya.
>> > Sesudah shalat ia berdo’a.
>> > Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama
>> masa pemberontakan.
>> > Untuk Aripin ia berdo’a juga.
>> > Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang
>> sudah keriput.
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >
>> > --
>> > .
>> > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet,
>> dipublikasikan di tempat lain
>> > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
>> > http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> >
>> ===========================================================
>> > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> > - DILARANG:
>> >   1. E-mail besar dari 200KB;
>> >   2. E-mail attachment, tawarkan di
>> sini & kirim melalui jalur pribadi;
>> >   3. One Liner.
>> > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim
>> biodata! Lihat di:
>> > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>> > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm
>> melakukan reply
>> > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply
>> email lama &
>> > mengganti subjeknya.
>> >
>> ===========================================================
>> > Berhenti, bergabung kembali, mengubah
>> konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> > http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> >
>>
>>
>> --
>> Wassalammu'alaikum wr. wb
>> Aryandi, 37th+, ciledug, tangerang
>> Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari
>> Bersinergi, Ayo
>> Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan
>> di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta
>> R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>>   1. E-mail besar dari 200KB;
>>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim
>> melalui jalur pribadi;
>>   3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata!
>> Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan
>> reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply
>> email lama & mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting
>> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>


-- 
Wassalammu'alaikum wr. wb
Aryandi, 37th+, ciledug, tangerang
Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari Bersinergi, Ayo
Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke