Beres Je, ado babarapo seri lagi, selamat buat anggota Prahmi nan baralek adiak awak tu Je,
wass, Ta jadul Forahmi Dasriel --- Pada Jum, 28/1/11, Aryandi Ilyas <[email protected]> menulis: > Dari: Aryandi Ilyas <[email protected]> > Judul: Re: [R@ntau-Net] carito PPRI > Kepada: [email protected] > Tanggal: Jumat, 28 Januari, 2011, 2:51 AM > Tulisan nan mantap da Das... > Samo se seronyo jo tulisan sabalunnyo... Abih satangah > galeh kopi susu > mambaco "cerpen" sejarah ko... bbrp alinea ambo baco ulang, > untuak > menghayati nyo... Twi tumbs up.... > Ditunggu kelanjutannyo da... > > Pada tanggal 28/01/11, Dasriel Noeha <[email protected]> > menulis: > > buliah sato lo ciek, maiis walau indak sarancak > cerbung Mak Lembang, > > > > > > BEKAS PEMBERONTAK > > Ia telah tua kini. > > Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya. > > Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang > sederhana. > > Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya > menemaninya di senja > > itu. > > Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani > kopi yang dibuat > > sendiri oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi > sendiri. Tidak luas tapi > > cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa > dijual. > > > > Ia kini hanya hidup berdua saja dengan isterinya. > Anak-anaknya tiga orang > > perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota > lain bersama suami > > mereka masing-masing. > > > > Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan > Bukittinggi. Jalan raya > > itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur > antara truk, bus dan > > kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga > banyak. > > > > Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang > dituntun oleh dua orang > > berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu > kempes. Tentara itu > > mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh > dari rumahnya. > > > > Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya > senja itu. Ia teringat > > tentang masa menjadi tentara dulu. > > > > * > > > > Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam > kenangannya. > > Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir > padi yang mulai > > menguning di sawak belakang rumahnya ikut > menghanyutkan kenangan lelaki tua > > itu. > > > > Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara. > > Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan > sekolah teknik menengah di > > Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah > menjalani latihan > > militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai > bintara bagian > > perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro. > > > > Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh > karenanya ia tinggal di > > asrama Ganting. > > Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, > truck, dan juga > > memelihara senjata yang ditempatkan di gudang. > > Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua. > > > > Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah > peruntungannya. > > Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira > angkatan darat dan > > beberapa orang tokoh sipil membentuk dan > memproklamirkan sebuah pemerintahan > > tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah > Revolusioner Rakyat Indonesia > > (PRRI). > > > > Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke > segenap unit militer di > > Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad > Husen bahwa semua unit > > harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan > tekad melawan pemerintah > > pusat dan bergabung dengan tentara PRRI. > > > > Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar > atasannya menasihatinya > > supaya tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan > untuk memberontak. > > Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang > pilihan terserah kemauan > > masing-masing. > > > > Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung > dengan pasukan PPRI di > > Seberang Padang. > > > > * > > > > Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun > 1958. > > Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota > Padang. > > Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar > Udara Tabing. > > Terjadi tembak menembak terjadi disana. Di > Tabing pasukan PRRI hanya > > berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang > memang markasnya di > > Air Tawar. > > Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya > beberapa orang. Karena > > seminggu yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji > dan Muaro serta > > Seberang Padang dan juga sekitar Bungus. > > > > Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban. > > Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara > pusat. > > > > Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara > pusat telah mendarat > > dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk. > > Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang. > > Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi. > > Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan > udara Tabing. > > > > Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak > ada perlawanan dari > > PRRI. > > Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan > besar-besaran dari kapal > > angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro. > > Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur. > > Teluk Bayur juga segera jatuh. > > > > Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus > ke Solok. > > Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi > perang sebenarnya. > > Walaupun ada beberapa pertempuran kecil antara tentara > rimba sebutan untuk > > tentara PPRI dengan tentara pusat untuk sebutan > tentara APRI, namun selalu > > PRRI melarikan diri. > > Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak > oleh tentara pemerintah > > Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal > dengan Operasi 17 > > Agustus. > > > > Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui > oleh pasukan Ahmad > > Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk > menghindari > > pertempuran di kota Padang, yang bilamana terjadi akan > banyak megorbankan > > penduduk sipil. > > > > Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di > belakang Seberang Padang. > > Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke > Solok. Dan terakhir > > mereka menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di > sebuah desa yaitu Sumpur. > > > > * > > Sebuah penyerangan. > > Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten > diadakan rapat darurat > > disebuah hutan di seberang Batang Anai. > > Mereka merencanakan sebuah penghadangan. > > Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak > salah sekitar bulan > > Oktober tahun 1958. > > Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka > gabungan dari pasukan ex > > mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil > beberapa bekas tentara > > Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang > terkenal dengan > > penembak jitu sewaktu jadi Heiho. > > > > Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus > bergerak ke sebuah titik > > di daerah BTT. > > Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan > mobrig akan berangkat > > pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang. > > Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu > dan merebut senjata > > mereka. > > > > Ia ingat betul malam itu. > > Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi > Batang Anai dari > > Anduring terus mudik ke Lubuak Gadang. > > Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka > menyeberangi jalan raya menuju > > rel kereta api. > > Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan > rumahnya sekarang. > > > > Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang > Empat. > > Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam. > Di sini pasukan > > istirahat melepas lelah. > > Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan > perjalanan menuju titik yang > > telah ditentukan. > > Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat > disitu. > > Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka. > Mereka lalu disebar ke > > beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan > di seberang bukit > > persis di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon > Kubang. > > Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi > utara. Dan pasukan > > terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit > di tanjakan jalan. > > > > Ia berada pada pasukan penyapu. > > > > Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah > terdengar deru mesin truk > > pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air > terjun Lembah Anai. > > Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi > tembak menembak. PPRI > > dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang > jalan setelah > > berlompatan dari atas truk. > > Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan > mesin. > > Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka > akan dihadang ditempat > > itu. Puluhan yang menjadi korban. > > > > Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali > bergerak ke arah > > Tandikek. > > Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos > terakhir PRRI sekitar > > gunung leter W di atas danau Maninjau. > > > > Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang > anggotanya menunggu > > perintah selanjutnya. > > > > Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat > membekas di hatinya. > > > > * > > > > Ada seorang pemuda yang merupakan sepupunya di > kampung. > > Aripin namanya. > > Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Ia sudah > kelas tiga waktu itu. > > Karena terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara > sekolah di liburkan. > > Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat. > > Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa > Kandang Ampek. > > Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main > kartu domino di kedai nasi > > Dibawa Untung. > > Letnan Bahar Kirai, komandan OPR turun dari jeep. Dia > diikuti lima orang > > anak buahnya. > > Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah > mereka ikut pasukan > > PPRI. Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda > kampung biasa yang kerja > > di kedai nasi itu. > > Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar > STM, menjawab dengan > > lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh > kami pemberontak. > > Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai > tersinggung. Ia segera > > menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan > lari kesudut ruangan. > > Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin. > Tapi untunglah > > senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin > waktu itu. > > > > Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk > ikut memberontak. > > Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu > masih jadi tentara > > pulang kerumah ibunya di Kandang Ampek. > > Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda > Mansur lagi ke kampung > > malam ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar > untuk lari ijok ke > > hutan. Mak Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia > menangis menahan anak > > laki-laki sulungnya itu. > > Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya > akibat ditampar komandan > > OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi. > > ”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata > Mak Newar mencoba menahan > > langkah anak tuanya ini. > > ”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. > Awak harus balaskan mak. > > Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”, > kata Aripin malam itu > > kepada ibunya. > > ”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi > apa-apa dengan waang”, kata > > Mak Newar sambil menangis. > > ”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu > menjaga diri. Lagi pula > > awak tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan, > maka kita harus > > pergi. Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata > Aripin dengan mantap. > > > > Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia > mengatakan akan bergabung > > dengan PPRI. > > Malam itu Aripin ikut dengan uda Mansur ke Tandikek. > Dan mereka melapor ke > > markas di gunung leter W. > > > > Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan > cara berperang > > gerilya. > > > > Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi > di Tanjung Mutiara > > dan Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR. > > Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang > prajurit PPRI yang pemberani. > > Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent. > > > > * > > Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai > dingin. Pada > > bulan-bulan mau memasuki bulan suci ini di kampung itu > sering turun hujan. > > Malahan hujan turun setelah maghrib sampai tengah > malam. Seakan hujan itu > > menguji keimanan penduduk desa itu untuk kepatuhan > menunaikan shalat tarawih > > di mesjid. > > Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun > pisang menuju mesjid. > > Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus > disyukuri. Hujan mengairi > > sawah yang terhampar luas di sekitar rumah. > > > > Hujan makin memberi semanagat kenangan itu beruntut > lancar keluar dari liku > > kenagannya senja itu. > > Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa > pemberontakan yang ia ikut > > berperan didalamnya itu terjadi. > > Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di > sebuah tempat pos > > pengintaian di kaki gunung letter W. > > Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang > pemuda yang telanjutr sakit > > hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa > pemberontakan di > > Sumatera Barat itu. Karena peristiwa itulah yang > melahirkan Organisasi > > Perlawanan Rakayt atau OPR bentukan tentara APRI untuk > melawan tentara > > pemberontak. OPR yang banyak menghabisi orang yang > lari keluar dan bergabung > > dengan PPRI. > > > > Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang > menyebabkan sebuah dendam > > terjadi. Denadan yang telah berkarat di dada Aripin. > > > > Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin > itu adalah kopral > > Aripin. > > Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas > mengintai keberadaan > > APRI kalau ada operasi. > > > > Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan > sebuah operasi > > pembersihan. > > Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah > rapat konsolidasi. > > > > Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan > bersahutan di pinggang > > bukit dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos > pengintai regu Aripin. > > Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima > belas menit. Kemudian > > tembakan berhenti sama sekali. > > > > Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun > hujan lebat sekali di > > pinggang bukit itu. > > Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi > licin. > > Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa > yang kejadian. Ia > > menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut. > Senjata Sten ditangannya > > siap untuk ditembakkan. > > Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis > terbakar, dia melihat sesosok > > tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air > hujan dari tubuh itu. > > > > Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu. > > Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang > sudah cabik-cabik oleh > > peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar > sekali. Baju cokelat > > seragamnya telah compang camping tertembus peluru. > Celana hitam selutut yang > > jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah. > > Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu. > > > > Kemana temannya yang lain? > > Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit > dibelakang pondok. Merka > > segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit > itu dan terus naik > > keatas menemui induk pasukan. > > Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang > sepasukan loreng APRI dengan > > tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya > Aripin. > > Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia > akan menuntaskan > > dendamnya sore itu. > > Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu > dengan menembakinya dengan > > Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena. > Tetapi Aripin dihujani > > peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu. > > Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak > yang telah lunas > > membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu. > > > > Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota > untuk memberi > > penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang > gugur. > > Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya > dibawah sebuah pohon > > lamin tua di bukit itu. > > Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet > berikut tanggal terjadinya > > peristiwa itu. > > > > Munggu,17 April 1959. Disini dikuburkan kawan kami, > Kopral Aripin. > > > > Demikian goresan kenangan itu telah tertulis. > > > > > > * > > > > ”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”, > tiba-tiba ia dikejutkan isterinya > > yang datang dari dalam rumah. > > > > Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun > lagi. Upik tahu bahwa melamun > > peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi > keasikan sendiri bagi > > suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan > lengkap semua > > peristiwa yang dialami selama ijok ke hutan dulu. > > > > Kedatangan Upik membuatnya tersenyum. > > Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu. > Masa tatkala ia berjuang > > di hutan sebagai seorang pasukan pemberontak. > > Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa > syarat seluruh > > anggota pasukan PPRI yang tersisa. > > Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai > Geringging tahun 1961. > > > > Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani > setelah itu. > > Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di > kampung itu. > > Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas > pemberontak. Upik > > menemaninya sampai kini. > > Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya. > > > > Kenangan masa pemberontak memang sewaktu-waktu datang > menghampirinya. > > Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika > melihat dua orang > > berbaju loreng melintas di depan rumahnya. > > Ia mulai beringsut. > > Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil > wudhu. > > > > Lalu ia shalat isya. > > Sesudah shalat ia berdo’a. > > Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama > masa pemberontakan. > > Untuk Aripin ia berdo’a juga. > > Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang > sudah keriput. > > > > > > > > > > > > > > -- > > . > > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, > dipublikasikan di tempat lain > > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > > > =========================================================== > > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > > - DILARANG: > > 1. E-mail besar dari 200KB; > > 2. E-mail attachment, tawarkan di > sini & kirim melalui jalur pribadi; > > 3. One Liner. > > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim > biodata! Lihat di: > > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm > melakukan reply > > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply > email lama & > > mengganti subjeknya. > > > =========================================================== > > Berhenti, bergabung kembali, mengubah > konfigurasi/setting keanggotaan di: > > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > > -- > Wassalammu'alaikum wr. wb > Aryandi, 37th+, ciledug, tangerang > Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahim, Mari > Bersinergi, Ayo > Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan > di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta > R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim > melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! > Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan > reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply > email lama & mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
