Assalamualaikum wr wb

Saya berikan sedikit tambahan mengenai armada bus ini. Bus antar kota antar 
provinsi (AKAP) yang berasal dari Sumatera Utara & Aceh memang tetap konsisten 
di jalur Sumatera, berbeda dengan bus AKAP dari Sumbar 
(ANS/NPM/APD/ABS/Transport/Sinar Riau/Merah Sari) mengalami banyak kemunduran. 
Hal ini disebab banyak faktor yang antara lain (1) mulai dengan dibukanya jalur 
lintas timur Pekanbaru yang dahulunya seluruh bus AKP tujuan Sumut/Aceh - 
Jakarta selalu melewati Bukittinggi awal tahun 80-an.

Selain itu, (2) karakteristik masyarakat Sumbar yang cenderung meminta 
pelayanan 
& kualitas bus yang sangat prima dalam pelayanan menjadikan kendala terus 
beroperasinya armada bus-bus ukuran besar ini, sebab masyarakat lebih memilih 
armada travel yang "antar jemput" ke alamat walau biaya transportasinya jauh 
lebih mahal. Mengenai teknologi, bus-bus dari Aceh sejak lama menggunakan 
armada 
yang lux sebagaimana ANS, namun kemajuannya saling berbanding terbalik.  

(3) Budaya kerja & konsistensi pelayanan, dimana bus-bus armada dari Sumbar 
memang kalah jauh dengan armada dari Sumut. Salah satu contoh adalah line 
trayek 
Medan - Bengkulu yang melewati wilayah Pesisir Selatan/Muko-Muko yang selalu 
konsisten dilayani ALS 2 trip sehari, padahal asumsinya ini daerah langang.

(4) Perekonomian ranah & rantau yang cenderung semakin menurun sejak krisis 
moneter 1998, dimana armada-armada bus ini melayani rute pedagang & anak rantau 
kembali ke kampung halaman. Khusus dimasa lalu Bukittinggi merupakan salah satu 
pusat grosir di pulau Sumatera, yang saat ini posisinya lambat namun pasti 
digantikan oleh Medan, Pekanbaru & Palembang. Selain itu, beberapa tahun yang 
lalu bus-bus ukuran 3/4 (22-25 seat) dari ranah minang masih menjangkau pelosok 
wilayah Riau - Jambi sambil membawa barang dagangan dari wilayah Sumbar, namun 
saat ini pedagang-pedagang dari nagari-nagari ini semakin sulit berkompetisi.   
      

Memang ada bus dari urang awak yang tetap konsisten, namun sebagai catatan 
manajemen perusahaan bus-bus tersebut tidak berada Sumbar, namun berada di luar 
Sumbar. Kita sebut saja Family Raya (Jambi), Yoanda Prima (Palembang), Putra 
Raflesia (Bengkulu), Gumarang Jaya (Lampung) dan lain sebagainya.

Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.


wasalam

AZ - 32 th
Padang
               


________________________________
Dari: Darwin Chalidi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 28 Januari, 2011 09:16:05
Judul: Re: [R@ntau-Net] Bus : Raja jalanan di Jawa

Sanak Anzori, sangat menarik membicarakan perusahaan Transportasi di Jawa.
Mereka sudah dikelola oleh generasi ke tiga yang kebanyakan lulusan 
sekolah-sekolah bisnis dari negara maju, namakan saja apakah Harvard, MIT, NUS 
dll.
Pendekatan mereka sudah berobah sekali dalam menggeluti dunia bisnis 
transportasi, hampir sama dengan model Air Asia. Biaya murah fasilitas wah. 
Silahkan baca buku Air Asia.
Maka kalau kita lihat Dwi Sri yang menjadi pemain BUS besar di Jawa. Sama juga 
dengan Blue Bird di pertaxian. Maka mereka sudah menggunakan seluruh sumber 
daya 
untuk "Customer Focus Management" dan itu harus memanfaat infrastruktur IT.
Dengan kepastian waktu berangkat dan menggunakan IT, mereka melakukan seluruh 
daya untuk effisiensi. Waktu untuk mengisi bensin saja sudah diukur jam 
kedatangannya dan lokasinya sudah ditentukan Jangan Lupa seluruh armada sudah 
terkoneksi ke GPS dan dapat dilihat dari kantor pusat pengelola. Informasi dari 
pompa bensin online secara langsung ke pusat komputer mereka sudah 
terintegrasi. 
Penumpang yang pindah sudah juga diprogram oleh sistim mereka.
Maka betul juga kata2 para ahli, kalau pengusaha Minang tidak berobah akan 
digulung oleh kemajuan zaman.
Mudah2an secercah info yang mereka lakukan ini dapat menjadi pembelajaran bagi 
kita semua.
Darwin Chalidi, Tangerang Selatan.


2011/1/28 Anzori <[email protected]>

Di Pulau Jawa yang menjadi raja jalanan adalah bus dan truk. Industri 
transportasi bis kota sangat marak dan menjadi semakin berkembang di Pulau 
Jawa. 
Sebut saja bus Prima Jasa, Dewi Sri, Budiman, Kurnia jaya, Efisiensi, Dedy 
Jaya, 
Laju Prima, Anugrah,  tidak akan habis disebut satu persatu. Ditambah Damri 
milik BUMN. Malah ada perusahaan bus yang punya armada ribuan bus, seperti Dewi 
Sri milik keluarga Bupati Tegal. Semuanya berlomba memberikan pelayanan bus AC 
dan non AC serta Patas (cepat terbatas). Yang mengagumkan, bus tadi berangkat 
ke 
antar kota tepat waktu dengan sedikit atau banyak penumpang, tidak perlu tunggu 
penuh baru berangkat. Bus dengan armada besar punya tempat istrahat sendiri dan 
melalukan sistem transit sesama mereka, tanpa harus bayar lagi untuk  tujuan 
kota yang sama tapi terminal akhir yang berbeda.Misalnya yang ingin ke Pulo 
Gadung dari Pekalongan, bila naik bis tujuan Grogol bisa pindah ke bis 
Purwokerto Grogol di tempat peristirahatan.
>
>
>Berbeda dengan industri transpotasi bus di Sumatera yang semakin menciut, 
>seperti ALS, ANS, NPM dsb. Mereka bertransformasi ke bus-bus ukuran kecil 
>menengah, tidak lagi pakai Mercedes , tapi menggunakan Isuzu Elf. Banyak yang 
>bangkrut karena tidak sanggup lagi bayar bunga bank atau kalah bersaing dengan 
>alat transportasi lain. Di Sumatera Barat zaman 70 dan 80-an nama ANS, NPM, 
>APD, 
>Sinar Riau adalah primadona bus antar kota, sekarang kebanyakan menjadi loyo, 
>karena tidak bisa bersaing dengantiket murah pesawat terbang. Namun di Jawa 
>perusahaan bus antar kota tetap jaya, karena merupakan alternatif transportasi 
>murah. Kalau dari Jakarta ke Yogya naik pesawat dan kereta pasti harus 
>mengeluarkan biaya yang tinggi. Tapi kalau naik bis  langsung biayanya sama 
>dengan kereta. Kalau pindah kota justru lebih murah. Mau ke Yogya dengan tiket 
>murah, naik Prima Jasa AC ke Tasikmalaya 40.000 rupiah ganti dengan bus 
>Budiman 
>Patas AC ke Yogya 60.000 rupiah, total cost menjadi Rp. 100.000, lebih murah 
>dari naik kereta 160 ribu. Jadwal keberangkatan pun gampang di cek lewat 
>internet. Mungkin karena itu industri transportasi bus antar kota jadi marak, 
>walaupun belum tentu meguntungkan. Tapi paling tidak masyarakat terbantu, 
>perusahaan jalan raya toll jelas untung, pendapatan pajak dan asuransi 
>bertambah, industri rakyat berkembang dan kemacetan semakin mmenjadi-jadi.
> Zorion_Anas 
>*55yo
>http://minangmaimbau.blogspot.com
>http://zorionanas.blogspot.com
>[email protected], [email protected], [email protected] 
>Cel./HP No.  :081384611336, 085811646566
>Country code +62

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke