Assalamualikum wr wb Perlu saya jelaskan, saat ini di Sumbar tidak ada perusahaan besar. Sehingga keinginan mendapatkan bantuan pendanaan pembangunan toilet umum dari perusahaan-perusahaan untuk kawasan wisata tidak bisa dilakukan. Untuk berharap dari Pemda provinsi ataupun kabupaten tentunya akan lebih sulit lagi, sebab pendanaan ini yang menjadi permasalahannya. Lagi pula apabila ada pembangunan dari pemda, sifatnya selalu proyek yang selalu ada mark up disana-sini, toilet dengan biaya Rp. 10 jt bisa membengkak menjadi Rp. 50jt.
Selain itu, permasalahannya bukan pada pembangunan toilet, namun siapa yang selanjutnya mengelola toilet umum tersebut, sebab perlu maintenance berkala & petugas yang setiap saat membersihkannya. Tentunya tidak bisa pula dilakukan pengangkatan tenaga honorer pengelola toilet umum. Berapa harus digaji dan lain sebagainya. Kelemahan mendasar dari pengelolaan kawasan tourism di Sumbar terletak pada siapa yang mengelola. Sebab ada hukum tidak tertulis bahwa kawasan ini adalah ulayat nagari, dimana seharusnya dikelola oleh pemerintahan nagari bersama masyarakatnya. Syukur kalau kepala dinas terkait berasal dari nagari tersebut yang biasanya memiliki perhatian pada kampung halaman & komunikasi yang rutin (baik formal maupun informal) dengan pemerintahan nagari & masyarakat nagari. Sebagai birokrat, tentu tidak selamanya bertugas di pos yang sama, sebab selalu ada penyegaran yang disebut dengan istilah mutasi. Mari kita lihat sebagai contoh pengelolaan kawasan wisata Danau Dibawah yang berada di wilayah nagari Simpang Tanjuang Nan Tujuh & nagari Kampuang Baru Dalam kec. Danau Kembar kab. Solok. Petugasnya hanya datang 2 kali seminggu, itupun hanya "mancaliak-caliak sajo", sebab ybs tidak bermukim di lokasi, melainkan bermukim di kota Solok. Jangan berharap melihat fasilitas toilet umum yang bersih disini, sebab tempatnya berdampingan dengan dapur, itupun harus membayar dengan retribusi Rp. 1.000,-. Terlintas dalam pemikiran saya, mengapa pemda kab. Solok tidak menyerahkan saja seluruh pengelolaan kawasan ini kepada pemerintahan nagari, sehingga bisa dikelola bersama-sama dengan KAN, pemuda nagari & seluruh masyarakat nagari. Sebab, dengan demikian tentu ada rasa memiliki oleh masyarakat setempat. Apabila masyarakat nagari tidak memiliki pengetahuan dalam mengelola pariwisata, bisa dilakukan pendampingan dalam pelatihan-pelatihan dilapangan secara berkala. Dengan begitu, pemerintahan nagari mendapatkan sumber pemasukan yang baru, pemuda nagari mendapatkan pekerjaan & masyarakat bisa berniaga di kawasan wisata yang penataannya dimusyawarahkan bersama oleh jajaran Bamus/BPRN, KAN & pemerintahan nagari. Sudah barang tentu, untuk membangun toilet umum yang berada diatas tanah ulayat nagari dirunsingkan bersama oleh seluruh pemuka masyarakat nagari. Biasanya, di minangkabau seluruh pembiayaan dilakukan secara bersama-sama, seperti halnya juga membangun balairung adat, kantor pemerintahan nagari, surau & masjid nagari, sebab ini adalah fasilitas umum di nagari. Kendalanya adalah, banyak dari masyarakat nagari (termasuk perantau) yang suka saling "tunggu-menunggu" untuk membangun fasilitas ini. Padahal, dibandingkan mesjid, balairung ataupun kantor pemerintahan, toilet umum bisa mendatangkan pemasukan dengan adanya retribusi kebersihan. Saya kira semua wisatawan memahami hal ini, sebab dibanyak lokasi toilet umum memang mengutip retribusi. Kondisi yang saling tunggu menunggu inilah yang bisa dialihkan dengan mencari pendanaan dari lembaga keuangan, seperti Bank BRI, BNI Syariah ataupun BPR yang ada di banyak wilayah di Ranah Minang. Tentunya, karena kredit ini tidak menggunakan agunan (seperti halnya yang saya terima 3 tahun terakhir) diperlukan surat menyurat yang ditandatangani oleh pemerintahan nagari, camat, KAN & BAMUS/BPRN. Dengan demikian, lembagaan keuangan mendapatkan keuntungan, pemerintahan nagari memiliki fasilitas toilet umum yang baik, masyarakat nagari bisa mengelola pariwisatanya dan pariwisata Sumbar bisa selangkah lebih maju (tanpa proyek yang sering di mark up). Tentunya sebuah ide selalu ada pendapat "pematahnya" dengan alasan apakah sanggup pemerintahan nagari membayar angsuran setiap bulannya kepada lembaga keuangan? Dari kredit Rp. 10 jt, pemerintahan nagari diharuskan mencicil paling tidak sebesar Rp.920.000, per bulan. Berapa betul hasil dari retribusi setiap harinya dari 1 unit toilet umum? Apabila saya diminta untuk membantu pemerintahan nagari membangun toilet umum ini, saya akan minta pak wali nagari membuat pembukuanya setiap hari & mempublikasikan hasil pemungutan retribusi setiap bulannya. Apabila kurang dari besar jumlah angsuran, tentunya masyarakat rantau akan mengetahui hal ini, bara nan kurang bara nan balabiah. Sepanjang yang saya tahu, orang minang itu punya rasa malu sebagai salah satu khaanah budayanya. Mereka tidak mau orang minang yang lain tahu bahwa pemerintahan nagarinya tidak sanggup mencicil angsuran kredit pembangunan toilet umum. Kabara bana pitih Rp. 920.000,- sabulan sakali. Kok takumpuaan satiok bulan retribusi agak Rp. 600.000,- indak kamungkin indak ado nan amuah manukuak Rp. 320.000 lai? Iyo padiah bana urang nagari mantun, nan ka rancak kampuang inyo juo. Pabilo batamu dima sajo, batanyo awak "Dima kampuang mamak?". Kampuang ambo di nagari A". "Ondeh... nagari nan manunggak bayia angsuran toilet umum tu yo??... hehehe wasalam AZ/lk/32 th Padang Saya melihat permasalahannya lebih kepada proyek dari pada mengelola pariwisata sesuai dengan kemampuan, perhatian & waktu yang dimiliki. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
