"Engkau dari MULO mana tadinya?" "Dari MULO Padang." "Eh, pantaslah!"

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
659.id.html

Pertanyaan itu singkat tapi terasa meleceh-kan. Hal itu selalu dita-nyakan
meneer Belanda di sekolah saat bercakap dalam bahasa Belanda dengan Mohammad
Natsir. Karena terkesan mengejek, anak muda itu menyimpan kesumat.

Meski sama-sama dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), kemampuan
bahasa Belanda Natsir tak sefasih teman-teman dari Jawa. Bahasa Belanda
Natsir tak parah-parah amat: menulis dia oke, tapi kalau bercakap-cakap, dia
tak lancar. Sekolah Natsir di Padang memang memakai bahasa Indonesia sebagai
pengantar.

Padahal, layaknya -sekolah -Hin-dia Belanda di masa itu, hampir- semuanya
berbahasa pengantar Belanda. Begitupun di Algemene Middelbare School (AMS)
di Bandung. Pada 1927, saat Natsir masuk sekolah ini, AMS, sekolah menengah
umum-setingkat sekolah menengah atas sekarang- tergolong sekolah elite dan
mahal.

Berdiri pertama kali pada 1919, AMS diperuntukkan bagi lulusan MULO yang
ingin melanjutkan sekolah tapi tak mungkin ditampung di Hogere -Burger
School, yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda, Eropa, atau elite
pribumi. Sekolah ini hanya ada di Jawa. Dan hanya anak orang berpangkat
tinggi yang bisa masuk.

Natsir termasuk yang beruntung. Nilai-nilainya tergolong bagus, sehingga
anak pensiunan juru tulis ini mendapat beasiswa Rp 30 masuk AMS Afdeling
A-II. Jurusan ini hanya diberikan di AMS Bandung, khusus studi sastra dan
humaniora Barat. "Sekolah itu satu-satunya yang memberi pelajaran bahasa
Latin, kebudayaan, dan filsafat Yunani," kata Tisna, 86 tahun, warga Jalan
Cihapit, Bandung. Tisna masuk AMS pada 1939.

Di Bandung, Natsir tinggal di rumah eteknya, Latifah, di -Jalan Cihapit.
Jalan itu tak -berapa jauh dari sekolahnya di Beliton Straat-sekarang Jalan
Belitung. Cukup 15 menit saja berjalan kaki lewat jalan besar.

Tiga bulan pertama di AMS adalah ujian berat bagi Natsir. Sadar selalu
diejek karena tak fasih bercakap Belanda, ia melecut diri. Tiap sore, dia
belajar bahasa Latin. Selepas magrib, ia melanjutkan pelajaran sekolah.
Nyaris tak ada hari libur.

Tiap hari, selepas sekolah, ia membenamkan diri di perpustakaan Gedung Sate
untuk melahap buku-buku di bibliotek. Targetnya: satu buku satu minggu.
Beberapa bagian dibacanya keras-keras di rumah. Ia juga memberanikan diri
terus-menerus bercakap bahasa Belanda.

Di saat kemampuan bercakapnya bertambah, ia ikut lomba deklamasi bahasa
Belanda yang digelar sekolah pada akhir tahun. Mengambil satu syair karangan
Multatuli berjudul "De Bandjir", ia berlatih dengan kawannya, Bachtiar
Effendy. Kawannya satu kampung yang duduk di kelas IV-B (khusus eksakta) ini
berbahasa Belanda dengan baik. Dia juga dikenal pandai berdeklamasi.

Saat hari lomba tiba, Natsir se-ngaja memakai baju adat Minang. Sepuluh
menit berdeklamasi, tepuk tangan riuh menyambut. Di mukanya tampak Meneer
gurunya. Tetap dengan senyum dan tepuk tangan sinis.

Natsir mendapat juara I lomba itu. Hadiahnya buku karang-an Westenenk, Waar
Mensen Tigger Buren Ziyn (Manusia dan Harimau Hidup Sejiran). Natsir puas
karena sudah membayar kesumatnya. "Setidaknya nama MULO Padang yang selama
ini diejek sudah tertebus," tulis Natsir dalam suratnya kepada anak-anaknya,
50 tahun lampau.

Meski begitu, hati Natsir masih sedikit "panas" jika melihat gurunya itu. Di
kelas V-A (kelas II sekolah menengah atas), ia bertemu lagi dengan si
Meneer. Kali ini ia mengajar ilmu bumi ekonomi. Di tengah pelajaran ia suka
menyindir pergerakan politik kaum nasionalis. Maklum, siswa AMS pada tahun
itu, 1927-1929, suka ikut bicara soal politik. Dan si Meneer tak suka.

Suatu kali, Meneer memberikan pelajaran pengaruh penanaman tebu dan pabrik
gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Ia menyuruh muridnya menulis makalah. Butuh
dua pekan bagi Natsir untuk menyelesaikan tugas paper-nya itu. Tiap hari ia
membenam-kan diri di perpustakaan Gedung Sate, mencari literatur tentang
pabrik gula itu. Dikumpulkannya jurnal terbitan kaum pergerak-an. Juga
notula perdebatan dalam Volksraad-semacam Dewan Perwakilan Rakyat.

Pada harinya, Natsir mempresentasikan analisisnya di muka kelas. Ia
menyodorkan bukti bahwa tidaklah benar Jawa menerima keuntungan dari pabrik
gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yang untung, kata dia, tetap saja kaum
kapital dan pejabat bupati yang memaksa rakyat menyewakan tanahnya kepada
pabrik dengan harga rendah.

Empat puluh menit menyampaikan analisisnya dengan bahasa Belanda yang rapi,
seluruh kelas sunyi-senyap. Natsir melirik gurunya. Meneer itu diam. Natsir
puas.

Hidup dalam didikan sekolah Belanda, Natsir melek terhadap dam-pak buruk
penjajahan. Jiwa perlawanannya menyala-nyala.- Ketertarikannya pada politik
mulai- bertumbuh. Apalagi, beberapa bulan sebelumnya, ia bertemu dengan A.
Hassan, pria keturunan India asal Singapura yang kemudian menjadi ahli agama
di organisasi Persatuan Islam. Kepada Hassanlah, Natsir datang menimba
agama, me-nulis, dan berdiskusi.

Masa-masa itu Natsir juga memasuki Jong Islamiten Bond (JIB) cabang Bandung.
JIB didirikan Haji Agus Salim dengan Wiwoho Purbohadijoyo. Di situlah awal
perkenalan Natsir dengan Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dan Kasman
Singodimedjo, yang belakangan menjadi tokoh politik Masyumi, partai yang
didirikannya. Di sana juga ia mengenal Nur Nahar, pe-rempuan yang kelak
menjadi istrinya. Natsir menjadi Wakil Ketua JIB Bandung pada 1928-1932.

Sebagai aktivis politik, Natsir juga rajin berinteraksi dengan -tokoh
pergerakan waktu itu. Ia pun mendengarkan pidato Soe-karno. Juga pada rapat
umum Partai Nasional Indonesia yang diselenggarakan 17 Oktober 1929 di
gedung bioskop Oranje-Casino, Bandung. Saat itu, Soekarno dengan sengaja
mengundang para pemimpin organisasi Islam yang ada di Bandung.

Namun Natsir tak sepaham dengan Soekarno soal cara memandang Islam. Ia
memilih berjuang dengan caranya, menulis di majalah bulanan Pembela Islam
yang tersebar ke seluruh Indonesia. Oplahnya 2.000 eksemplar. Cukup banyak
untuk ukuran masa itu.

Amien Rais, yang bergaul lama dengan Natsir, mengatakan Natsir muda
sesungguhnya seorang kutu buku. Ia melahap buku-buku filsafat Barat, baik
kuno maupun modern. Ia membaca buku sejarah, sastra, dan rajin meng-ikuti
berita internasional dari berbagai jurnal.

Natsir juga merajang habis karya-karya Snouck -Hurgronje di perpustakaan, di
antaranya Nether-land en de Islam, buku yang memaparkan strategi Hurgronje
dalam menghadapi Islam. Buku ini membuat Natsir bertekad melawan Belanda
melalui pendidikan.

Jika sedang tak membaca atau sekolah, sesekali Natsir menonton bioskop.
Kadang ia bervakansi ke Jaarbeurs-pasar malam yang digelar setahun sekali di
Bandung. Di awal kedatangannya di Bandung, saban Sabtu, Natsir pergi
berjalan kaki ke kota. Ia biasanya mampir makan sate di Kedai Madrawi di
depan kantor polisi. Lalu berkeliling sebentar di alun-alun dan Pasar Baru.
Setelah puas, pulanglah ia ke Cihapit dengan berjalan kaki. Kali ini ia
memutar lewat Hotel Homan. Di trotoar di depan hotel itu, ia menunggu orkes
Hotel Homan yang selalu memainkan Beethoven tiap Sabtu petang. Lalu ia
pulang sambil merindukan biolanya yang tertinggal di kampung. 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke