Editorial Media Indonesia, Rabu, 02 Maret 2011 00:01 WIB      18 Komentar

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/02/207126/70/13/Kemacetan-Merak-

ANTREAN truk yang membuahkan kemacetan luar biasa di Pelabuhan Merak,
Banten, kian meneguhkan buruknya pengelolaan infrastruktur di negeri ini.
Buruk karena hal ini terjadi berulang-ulang, tanpa ada solusi yang efektif.

Bukan kali ini saja ribuan truk yang hendak menyeberang dengan kapal roll on
roll off (ro-ro) ke Bakauheni, Lampung, tertumpuk di Pelabuhan Merak.
Penumpukan itu membuat antrean panjang hingga belasan kilometer, bahkan
memakan ruas Jalan Tol Jakarta-Merak.

Penyebabnya sederhana, yakni kurangnya kapal yang dioperasikan. Dari 33
kapal, 4 kapal rusak dan 10 kapal sedang docking. Sisa 19 kapal dan itu pun
yang layak jalan hanya 16-18 kapal.

Dampak kemacetan truk di Merak itu jelas amat besar. Pengusaha angkutan yang
tergabung dalam Organda mengaku rugi hingga Rp1,5 miliar per hari. Asosiasi
Pengusaha Indonesia mencatat kerugian Rp5 miliar hingga Rp10 miliar per
hari.

Celakanya, kemacetan truk di Merak itu tidak terjadi satu-dua hari, tapi
sudah berlangsung lebih dari dua pekan. Jelaslah ada yang tidak beres dalam
pengelolaan pelabuhan. Buktinya, dari 977 pelabuhan umum di Indonesia, baru
24 pelabuhan yang memenuhi standar International Ship and Port Facility
Security Code yang dikeluarkan International Maritime Organization.

Standar pelayanan itu mencakup ketersediaan infrastruktur, kelengkapan
peralatan, kecepatan bongkar muat, kedalaman laut, dan parkir. Pelabuhan
Merak termasuk yang minim fasilitas. Yang menonjol di situ adalah maraknya
pungutan liar. Sopir truk, misalnya, harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah
bila ingin kendaraannya didahulukan ke kapal.

Panjangnya kemacetan itu mestinya kembali mendorong pemerintah untuk
memikirkan solusi yang efektif dan berjangka sangat panjang, yaitu membangun
jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa bagian barat itu dengan Pulau Sumatra
bagian selatan.

Berjangka sangat panjang, bahkan selamanya, karena sekali jembatan itu
dibangun, selamanya dia dapat dimanfaatkan. Tidak seperti kapal yang akan
menjadi tua, rusak, dan tinggal besi tua.

Jika ditilik dari segi ekonomi, jelas lebih besar maslahatnya membangun
jembatan yang menghubungkan Jawa dan Sumatra daripada Jembatan Suramadu yang
menghubungkan Jawa dan Madura.

Oleh karena itu, sebuah keputusan mestinya diambil untuk memastikan
terlaksananya pembangunan jembatan itu tanpa menjadi persoalan siapakah dan
dari partai apakah kelak yang memerintah di negeri ini.

Pembangunan infrastruktur yang strategis jelas memakan waktu dan biaya yang
sangat besar. Sepatutnya pekerjaan sekelas itu menjadi komitmen nasional,
yang dikerjakan sampai tuntas, tanpa direcoki pergantian kekuasaan sebagai
hasil pemilihan umum. Tanpa komitmen seluhur itu, Indonesia justru akan
dirusak demokrasi yang tiap lima tahun sekali membuka kemungkinan terjadinya
pergantian pemerintahan.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke