----
Vonis Mati Buat Pahlawan Nuklir Fukushima

"Kami sedang melakukan misi bunuh diri. Kami menerima nasib seperti
menerima vonis mati."

JUM'AT, 18 MARET 2011, 11:26 WIBElin Yunita Kristanti

VIVAnews - Pesan menyedihkan dikirimkan salah seorang pekerja
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi kepada
keluarganya. Bunyinya: "Kami sedang melakukan misi bunuh diri. Kami
menerima nasib ini seperti menerima vonis mati."

Sekitar 200 pekerja PLTN Fukushima yang sering disebut 'Fukushima
Fifty' berupaya me-restartsistem pendingin reaktor. Membagi diri
menjadi empat shift, mereka bekerja bergantian sembari mempertaruhkan
nyawa mereka.

Mereka bekerja di level radiasi yang bisa membunuh dalam seketika,
atau paling tidak menyebabkan penyakit mengerikan di tahun-tahun
mendatang. Para ahli mengatakan, baju pelindung yang dipakai para
pekerja hanya bisa mencegah sedikit kontaminasi.

Grup pekerja ini nekat tetap tinggal di dalam PLTN, meski 700 rekan
mereka lari menyelamatkan diri saat level radiasi naik ke level yang
sangat berbahaya. Identitas mereka tidak diungkap, namun para ahli
menduga mereka adalah teknisi garis depan dan para pemadam kebakaran
yang tahu persis kondisi PLTN.

Diduga kuat mereka para lelaki yang berusia lebih tua dan dengan sadar
memilih jadi sukarelawan karena sudah memiliki anak. Pekerja yang
lebih muda terancam mandul karena tingginya dosis radiasi.

Satu televisi nasional Jepang mewawancarai salah seorang kerabat
pekerja Fukushima. "Saat ini ayahku masih bekerja di pembangkit. Ia
mengatakan, menerima nasibnya, seperti menerima vonis mati," kata dia
seperti dimuat Daily Mail, Jumat, 18 Maret 2011.

Yang lain mengatakan, ayahnya yang sudah berusia 59 tahun jadi
sukarelawan dan memilih tetap tinggal di Fukushima. "Aku dengar dia
merelakan diri meski 1,5 tahun lagi akan memasuki masa pensiun.
Mendengar itu, aku menangis." Padahal, katanya lagi, "Di rumah, Ayah
tidak seperti sosok lelaki yang bisa menangani pekerjaan besar dan
penting. Tapi hari ini aku sangat-sangat bangga. Aku berdoa ia bisa
kembali dengan selamat."

Salah satu gadis yang sedang berharap-harap cemas menanti kabar
ayahnya di Fukushima menceritakan dia tak pernah melihat ibunya
menangis sedemikian hebat. Dalam akun Twitter-nya, dia menulis:
"Orang-orang di reaktor sedang berjuang mengorbankan hidup mereka
untuk melindungi kita semua," kata dia. "Ayah, aku mohon, kembalilah
dengan selamat."

Dari pekerja yang memilih tinggal, lima di antaranya dilaporkan
meninggal dunia, dua hilang, dan 21 lainnya terluka.

Salah seorang pekerja perempuan, Michiko Otsuki, yang mengaku bertugas
saat reaktor nomor dua Fukushima meledak, menceritakan pengalamannya
di Internet. "Saat alarm tsunami berdering kami tak bisa melihat apa
yang terjadi, kami terus bekerja, meski sangat menyadari bahwa itu
bisa berarti mati."

Diceritakan dia, mesin pendingin reaktor yang berada di dekat laut
hancur diterjang tsunami. Semua orang bekerja mati-matian untuk
memperbaikinya. "Melawan rasa lelah dan perut kosong, kami memaksa
diri untuk terus bekerja."

Di tengah ketidakpastian nasib keluarga paska tsunami, dia
menambahkan, para pekerja reaktor nuklir harus mengenyampingkan
perasaan pribadi mereka dan terus bekerja.

Dr. Michio Kaku, seorang ahli teori fisika mengatakan kepada jaringan
televisi ABC bahwa situasi telah memburuk di hari-hari terakhir ini.
"Kita bicara soal para pekerja yang masuk ke reaktor nuklir, mungkin
seperti sedang menjalankan misi bunuh diri."

Michael Friedlander, yang telah bekerja di manajemen krisis reaktor
nuklir serupa di Amerika Serikat menambahkan, selama bekerja, para
pekerja itu boleh jadi hanya dibekali ransum gaya militer dan minum
air dingin untuk bertahan hidup.

"Suasana pasti sangat dingin dan gelap. Anda juga harus memastikan tak
akan mencemari diri sendiri saat makan," kata dia. "Saya memastikan
100 persen, mereka yang sekarang ada di Fukushima benar-benar
berkomitmen untuk membuat reaktor ini jadi aman, sekalipun dengan
risiko nyawa."

Harian The New York Times mengungkapkan para pekerja itu merupakan
kelompok terakhir yang dipertahankan di PLTN Fukushima Daiichi, di
Jepang bagian timur laut. Di tengah gelap, mereka hanya bermodal
senter untuk bergerak. Mereka harus memantau perkembangan terkini,
seperti ledakan hidrogen yang telah terjadi berkali-kali sambil
mencari cara agar perangkat inti PLTN tidak ikut hancur. Sebab, jika
itu terjadi, akibatnya fatal. Zat radioaktif bisa menyebar dalam skala
besar.

Maka, dalam dua hari terakhir, mereka berjuang memompa ratusan galon
air laut setiap menit ke dalam reaktor yang rusak untuk mencegah
lumernya komponen reaktor. (kd)• VIVAnews


-- 
=========== Salam Hormat ==========
Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau | Laki2 | 35 th
http://ephi.lintau.info <- Program Kilat Belajar Bahasa Inggris
www.ephi.web.id |  http://blog.ephi.web.id
www.web1juta.com |  www.pengusaha-online.com
www.e-investasi.com
e-Mail : [email protected]
Handphone  : 08126777956
================================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke